Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 143


__ADS_3

Tok, tok, tok


Suara ketukan pintu terdengar beberapa kali. Siapa yang bertamu di jam segini? Jam besuk hampir selesai, tersisa tinggal dua puluh menit saja.


"Sebentar ya, Sayang." Hasna hanya mengangguk.


Rama segera beranjak dan membukakan pintu.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam. Kevin?" Rama memindai sekeliling.


"Mencari siapa?" Kevin mengikuti arah pandangan Rama.


"Sendirian?"


"Ya, kebetulan aku baru saja ada kerjaan di luar kota. Karena searah, aku putuskan untuk mampir sebentar." Ucap Kevin.


"Ya, kamu benar. Waktu kamu hanya sebentar di sini. Kerena jam besuk akan segera berakhir." Ucap Rama. Kevin melirik jam di pergelangan tangannya.


"Ya, sepertinya begitu." Kekeh Kevin.


"Ya sudah, masuklah." Rama sedikit menggeser posisinya agar Kevin bisa masuk.


"Bagaimana kondisi Hasna? Apa sudah ada tanda-tanda jika dia akan sadar?" Tanya Kevin pada Rama yang menutup pintu kamar.


"Alhamdulillah, Hasna sudah sadar."


"Benarkah?" Kevin menoleh ke arah ranjang Hasna, dan benar saja, perempuan itu tengah duduk bersandar pada ranjang yang yang sedikit di tinggikan posisinya di bagian punggung hingga kepala.


"Sejak kapan?" Kevin kembali menatap ke arah Rama.


"Sejak seminggu yang lalu."


"Kenapa kamu tidak mengabari ku?"


"Maaf, kami benar-benar lupa." Ucap Rama.


"Assalamu'alaikum, Hasna." Ucap Kevin yang berjalan mendekat ke arah ranjang yang ditempati oleh Hasna.


"Wa'alaikumussalam, Mas...Kevin." Ucap Hasna yang memandang ke arah Kevin juga Rama bergantian.


Hasna sedikit terkejut dengan kedatangan Kevin. Apalagi laki-laki itu terlihat akrab dengan suaminya. Malah tadi ia sempat berpikir jika yang datang adalah Ivan.


"Sayang, saat kamu kecelakaan kemarin, kami sempat panik karena stok darah di rumah sakit menipis. Dan alhamdulilah Kevin bersedia mendonorkan darahnya untuk kamu. Kami benar-benar kaget, karena tiba-tiba saja ada orang asing yang dengan suka rela mendonorkan darahnya. Tapi ternyata kalian berteman. Kamu beruntung sekali memiliki teman sebaik dia." Rama menepuk pundak Kevin beberapa kali.


Teman? Jadi? Hasna memaksakan senyumannya.


"Terima kasih." Ucap Hasna.


"Sama-sama, Hasna." Kevin tersenyum hangat pada Hasna.


"Oh iya, bagaimana keadaan kamu?" Tanya Kevin.


"Alhamdulillah, sudah lebih baik." Ucap Hasna.

__ADS_1


"Lalu keponakanku?" Hasna menoleh pada Rama yang berdiri di sampingnya.


"Alhamdulillah, dia juga baik." Jawab Hasna.


"Anak kami anak yang kuat, setangguh ibunya." Rama mengusap puncak kepala Hasna dengan lembut.


Dapat Kevin lihat, bagaimana perlakuan Rama pada Hasna. Tatapan itu, terlihat begitu memuja, tatapan penuh cinta.


"Ehemmm...apa kalian lupa jika masih ada orang lain di sini?" Ucap Kevin.


"Maaf, kami sering lupa." Kekeh Rama.


"Segeralah menikah, agar kamu bisa menikmati indahnya pacaran dengan istri tercinta. Tanpa dosa, penuh pahala. Seperti kami berdua." Ucap Rama.


"Ya, ya, ya." Kevin memutar bola matanya dengan malas mendengar ledekan Rama. Andai saja dia tau.


Tok, tok, tok


"Ada tamu lain sepertinya." Ucap Kevin.


"Bukan, sepertinya dokter visit. Sebentar."


Rama beranjak untuk membukakan pintu.


"Aku senang bisa melihat kamu kembali sehat." Ucap Kevin.


"Terima kasih."


"Selamat malam, Bu Hasna." Sapa Dokter.


"Bagaimana keadaannya Bu hasna?" Tanya Dokter.


"Alhamdulillah, sudah lebih baik, Dok." Hasna mempersilahkan perawat memeriksa tekanan darahnya.


"Apa masih merasa pusing?"


"Alhamdulillah, sudah berkurang, Dok. Tidak seperti di awal saya sadar."


Dokter menganggukkan kepalanya mendengar jawaban Hasna. Lalu memeriksa kondisi perempuan itu.


Rama mengajak Ivan untuk duduk di sofa, agar Dokter lebih leluasa memeriksa luka Hasna.


"Sus, tolong ditutup saja tirainya." Pinta Rama sebelum mengajak Kevin menjauh dari tempat Hasna.


"Baik, Pak." Perawat menutup tirai yang melingkari ranjang Hasna.


Dokter dan perawat yang menangani Hasna semenjak masuk rumah sakit, paham sekali bagaimana Rama memperlakukan istrinya. Bahkan mereka masih mengingat saat Rama meminta kain untuk menutup bagian kepala istrinya pasca operasi. Dan sekarang, hal yang sama ia lakukan saat ada tamu laki-laki di ruangan itu.


"Kenapa di tutup?" Tanya Kevin dengan polosnya.


"Luka Hasna ada di kepala, jadi Dokter akan memeriksa bagian kepalanya. Otomatis penutup kepalanya akan di buka."


"Lalu?"


"Aurat." Jawab Rama singkat.

__ADS_1


"Tapi kan Dokternya laki-laki."


"Ada dalam kondisi tertentu boleh membuka aurat untuk pengobatan, tapi dengan memperhatikan batasan-batasan yang di perbolehkan oleh agama. Tidak langsung di buka begitu saja. Hanya di perlihatkan bagian yang terdapat lukanya saja, dan tidak selain itu." Jelas Rama.


"Lalu saat operasi kemarin?" Tanya Kevin penasaran.


"Saat itu kami pasrah dari mana datangnya pertolongan Allah. Dan ternyata, dokter yang menangani Hasna dokter laki-laki. Kamu tahu? Pasca operasi dan saat Hasna akan dipindahkan ruangan, aku sempat meminta kain penutup untuk menutup bagian kepala Hasna sebelum brangkarnya di dorong keluar dari ruang operasi." Rama tersenyum mengingat kejadian itu. Dimana semua yang berada bersamanya terheran dengan permintaannya.


"Masih sempat berpikir demikian?" Heran Kevin. Aneh saja, disaat genting seperti itu, Rama justru meminta hal yang terdengar konyol.


"Hasna istriku, hidupnya menjadi tanggunganku. Termasuk auratnya. Semua akan menjadi tanggung jawabku kelak dihadapan Allah." Jawab Rama.


Kevin bungkam, tidak bisa berkata-kata. Mungkin inilah yang membuat Hasna jatuh cinta kepada Rama. Pemahamannya tentang agama sangat jauh di atasnya. Mungkin jika mereka bertukar posisi, ia tidak akan berpikir sejauh itu. Dan bukankah perempuan setipe Hasna lebih senang mencari pasangan yang demikian?


"Pantas jika Hasna lebih memilih kamu?" Gumam Kevin.


"Bagaimana?" Tanya Rama yang mendengar samar-samar ucapan Kevin walau tidak begitu jelas.


"Eee...maksudnya, pemahaman kamu tentang agama sangat luar biasa." Ucap Kevin mengalihkan fokus Rama. Rama tersenyum dan menggeleng mendengarnya.


"Tidak, kamu salah. Aku juga orang yang awam seperti kebanyakan lelaki di luar sana. Mengenal pacaran, pelukan, kissing, dan hal-hal yang dilakukan pasangan muda pada umumnya. Tapi karena Hasna, aku menjadi laki-laki yang lebih baik dari diriku sebelumnya. Jujur saja, aku tidak sealim seperti yang kamu duga. Aku hanya belajar untuk memperbaiki diriku yang buruk di masa lalu. Dan itu semua, berkat Hasna. Istriku." Tanpa sadar, ucapan Rama yang memuji istrinya membuat Kevin merasa menjadi lelaki yang bodoh. Tidak bergerak lebih cepat untuk mendapatkan perempuan seistimewa Hasna.


Segera Kevin buang jauh-jauh pikiran itu. Bagaimanapun Hasna telah menemukan jodohnya. Terlebih perempuan itu sangat bahagia dengan laki-laki seperti Rama. Sekarang cukup baginya untuk mengharapkan, akan ada seorang perempuan yang istimewa yang telah Allah persiapkan untuknya. Yang akan menjadi jodoh dunia akhiratnya.


Tak lama, tirai di sibakkan kembali oleh perawat. Rupanya sesi pemeriksaan telah usai.


"Bagaimana, Dok?" Tanya Rama saat dokter selesai memeriksa Hasna.


"Alhamdulillah, semuanya baik-baik saja. Lukanya juga sudah mengering. Jahitannya pun tidak ada masalah. Sepertinya proses penyembuhan Bu Hasna akan lebih cepat. Semangat istri anda luar biasa untuk sembuh Pak Rama." Ucap dokter.


Senyuman terukir sempurna, tak hanya di wajah Rama, tapi juga Kevin.


"Terima kasih banyak, Dokter." Ucap Rama.


"Sama-sama, Pak Rama. Semua bukan hanya karena kami, para tenaga medis. Tapi juga berkat dukungan keluarga juga semangat yang luar biasa dari Bu Hasna." Ucap dokter.


"Oh iya, sebaiknya Bu Hasna beristirahat." Ucap dokter seraya tersenyum ke arah Rama juga Kevin. Kedua laki-laki itu saling berpandangan.


"Baik, Dok."


"Kami permisi." Dokter dan perawat pun keluar dari kamar Hasna.


"Haaahhh...sebaiknya aku pulang, sebelum security rumah sakit menyeret paksa dan melemparkanku keluar dari sini." Ucap Kevin yang membuat Rama tertawa.


"Ya, sebaiknya seperti itu, karena aku pun ingin segera menemani istriku untuk beristirahat." Ucap Rama.


"Baiklah, aku pamit." Ucap Kevin, laki-laki itu mendekat ke arah Hasna.


"Hasna, aku pamit. Semoga cepat sembuh. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Rama mengantarkan Kevin hingga di depan lift, kemudian kembali lagi ke kamar istrinya.


***

__ADS_1


__ADS_2