Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 141


__ADS_3

"Kita tangguhkan sementara kasus ini, sampai Marissa melahirkan. Setidaknya psikisnya juga lebih siap saat hukumannya telah di tetapkan nantinya." Ucap Rama tanpa mengalihkan pandangannya pada sang asiaten.


"Baik, Pak. Akan segera saya urus semuanya." Ucap Pak Darmawan.


Rama kembali meletakkan ponselnya di atas meja. Laki-laki itu terlihat menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Semoga saja keputusan ini tepat." Lirih Rama, namun masih terdengar jelas di telinga Ivan. Asisten itu mengangguk. Semoga saja keputusan yang rama ambil memang benar, dan sudah tepat.


Rama meraih cangkir minumannya, dan mulai menyeruput isinya perlahan. Sekilas, ia menatap ke arah Ivan.


"Kita sudah hampir satu jam di sini, Pak. Jadi minuman anda pastilah sudah dingin." Ucap Ivan seolah tau apa yang akan Rama tanyakan.


Rama melirik jam di pergelangan tangannya. Benar saja, hampir satu jam mereka berdiam di sini. Pantas saja kopi yang tadi dipesannya sudah dingin sepenuhnya.


***


Rama kembali ke kamar Hasna, setelah menandatangani berkas yang Ivan bawakan. Asistennya itu langsung pamit pulang setelah pekerjaannya selesai. Mengantarkan berkas serta menemani Rama.


"Dari mana kamu, Nak?" Tanya Pak Andi, saat Rama menutup kembali pintu kamar Hasna.


"Rama ada sedikit urusan, Pa." Jawab Rama.


"Boleh Papa bicara sebentar sama kamu?" Rama sedikit mengernyit heran, tapi ia menganggukkan kepalanya.


Pak Andi bangkit dari duduknya menuju ke arah pintu dan mengajak Rama keluar ruangan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Rama mengekori sang ayah hingga ke arah balkon.


"Papa mau bicara apa? Kok sepertinya serius sekali?" Tanya Rama saat mereka telah berdiri berhadapan.


"Masalah kecelakaan Hasna." Rama menegakkan tubuhnya saat Pak Andi mengucapkan kalimat itu.


"Papa sudah tau, jika kecelakaan yang di alami Hasna bukan pure kecelakaan. Tapi..." Pak Andi membalikkan badannya menghadap ke arah luar rumah sakit, menikmati pemandangan malam dengan lagitnya yang pekat.


"Paman Danu sudah menyelidiki semuanya. Bahkan kasus yang sebentar lagi akan bergulir di pengadilan." Lanjut Pak Andi.


"Kamu jangan salah paham, paman Danu menyelidikinya karena Papa yang memintanya. Papa merasakan ada kejanggalan dengan kecelakaan Hasna. Dan Ivan pun, Papa rasa dia juga tidak tau jika ayahnya telah mengetahui permasalahan yang ia tangani."


Rama berniat merahasiakan kasus ini dari keluarganya, terlebih pada Hasna. Bukan karena apa, Rama hanya ingin keluarganya yang lain hanya fokus untuk kesembuhan Hasna. Masalah Marissa biarlah dirinya juga Ivan yang menangani. Tapi sepertinya asisten pribadi ayahnya itu telah mengantongi seluruh informasi tentang kecelakaan yang dialami oleh Hasna.


"Menurut Papa, sebaiknya kamu pikirkan matang-matang saat mengambil keputusan. Jangan gegabah. Bagaimanapun Marissa juga berhak mendapatkan kesempatan, terlebih dia pernah menjadi bagian Blue Diamond." Ucap Pak Andi.


"Rama sudah mengambil keputusan, Pa. Untuk sementara, Rama akan menangguhkan penahanan terhadap Marissa, sampai ia melahirkan nanti. Dan setelahnya, proses hukum akan dia jalani. Rama hanya ingin memberikan pelajaran dan efek jera pada perempuan itu." Ucap Rama.


"Ya, semoga saja keputusan kamu tepat." Pak Andi menepuk pelan pundak Rama beberapa kali.


***


Tok, tok, tok

__ADS_1


Suara ketukan terdengar beberapa kali. Tomi yang baru saja selesai membantu Marissa sarapan, segera membukakan pintu.


Jantung Tomi berdetak sedikit kencang saat melihat siapa yang tengah bertamu pagi ini.


"Selamat pagi."


"Pagi, Pak." Tomi mengangguk sopan pada tamunya.


Dua orang berseragam polisi tengah berdiri tegap dihadapannya.


"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" Tanya Tomi. Laki-laki itu nampak gelisah dengan kedatangan dua aparat kepolisian itu.


"Kedatangan kami kemari ingin menyampaikan ini sama bapak." Salah satu dari mereka menyerahkan sebuah amplop, yang entah apa isinya kepada Tomi.


Dengan tangan sedikit bergetar, Tomi menerima amplop itu. Perlahan laki-laki itu mulai membuka lembaran yang ada di dalamnya.


"Ini maksudnya apa, Pak?" Tanya Tomi menatap kedua lelaki di hadapannya bergantian.


"Ini surat penangguhan penahanan atas nama saudari Marissa." Ucap laki-laki berseragam itu.


"Maksudnya bagaimana, Pak?" Tomi berusaha memperjelas apa yang baru saja ia dengar.


"Pihak pelapor menangguhkan penahanan pada saudari Marissa. Mereka memberikan rentang waktu sampai pihak terlapor melahirkan dan melewati masa nifasnya." Terang polisi.


Samar-samar senyuman itu mulai terbit di tengah keterkejutannya. Apakah itu artinya permintaannya pada Rama kemarin dikabulkan?


"Kalau Bapak masih ragu, silahkan Bapak baca sendiri suratnya." Ucap polisi itu.


Dengan sangat seksama, Tomi membaca surat yang baru saja ia terima dari polisi. Dan benar saja, dalam surat itu memang menyatakan jika Rama menangguhkan penahanan Marissa hingga perempuan itu melewati masa nifasnya.


"Alhamdulillah." Lirihnya.


"Terima kasih banyak, Pak. Terima kasih." Ucap Tomi sembari menjabat tangan kedua polisi itu secara bergantian.


"Sama-sama, Pak. Kalau begitu, kami permisi." Pamit polisi itu.


Tomi menatap kepergian dua aparat kepolisian itu hingga hilang di belokan. Senyuman kembali merekah menghiasi kedua sudut bibirnya. Gegas ia kembali masuk ke dalam kamar Marissa, dan menghampiri istrinya itu.


"Sa, lo mendapatkan keringanan." Ucap Tomi. Marissa mengernyit heran, keringanan apa yang suaminya itu maksudkan?


"Keringanan?" Tomi mengangguk cepat.


"Ya. Rama Suryanata menangguhkan penahanan lo sampai anak kita lahir. Bahkan sampai lo melewati masa nifas." Jelas Tomi antusias.


"Ini surat pernyataannya yang baru saja dikirimkan oleh polisi." Tomi menyerahkan sepucuk surat yang baru ia terima kepada Marissa.


Perempuan itu membaca isi surat dari kepolisian itu. Tanpa sadar air matanya luruh begitu saja.

__ADS_1


"Sa?" Tomi terlihat bingung dengan ekspresi yang ditunjukkan Marissa.


Tanpa aba-aba, Marissa menghambur kedalam pelukan Tomi. Bahkan pelukannya terasa begitu erat. Ragu-ragu Tomi mengangkat kedua tangannya, mengusap lembut punggung istrinya.


"Gue bakalan tetap dipenjara." Terdengar isakan kecil dalam dekapan Tomi.


"Gue nggak mau, Tom. Gue nggak mau." Isakan itu terdengar semakin kencang.


Tomi kembali mengusap puncak kepala Marissa hingga ke punggung perempuan itu. Berusaha memberikan ketenangan kepada Marissa.


"Lo tenang dulu, Sa. Kita akan cari jalan keluarnya sama-sama." Ucap Tomi. Laki-laki itu melonggarkan pelukan Marissa. Menangkup kedua pipi perempuan yang telah ia nikahi itu. Mengusap lembut kedua pipi yang basah akan air mata.


"Kita akan cari jalan keluarnya sama-sama." Ucap Tomi dengan menatap lekat manik yang berkaca-kaca itu. Perlahan Marissa mengangguk.


Setidaknya untuk saat ini hingga beberap bulan kedepan, ia bisa tenang tanpa di datangi oleh polisi lagi.


"Sekarang, lo fokus dulu buat kesembuhan lo." Marissa kembali mengangguk.


Sesaat keduanya terdiam, hingga Marissa kembali membuka suara.


"Tomi?" Lirihnya, membuat Tomi kembali fokus pada Marissa.


"Ya?"


"Hasna?"


"Hasna?" Tomi bahkan tidak mengenal nama yang Marissa sebutkan.


"Perempuan itu."


"Istri Rama Suryanata?" Sepertinya memang perempuan itu yang Marissa maksudkan. Marissa mengangguk.


"Istri Rama sempat kritis, dan sekarang tengah koma." Ucap Tomi, membuat kedua netra Marissa membulat sempurna.


"Koma?"


"Ya."


"Tapi...dia...hamil." Lirih Marissa dengan bibir yang bergetar.


"Jadi lo tau kalau istri Rama tengah hamil?" Marissa mengangguk pelan.


Ternyata Tomi salah menduga. Ia berpikir jika Marissa tidak mengetahui jika istri Rama sedang mengandung. Ternyata Marissa mengetahuinya. Tindakan ini yang sangat Tomi sayangkan. Marissa dengan sengaja berniat mencelakakan perempuan hamil. Tapi justru perempuan itu memberikan kesempatan kepada Marissa untuk selamat, dan Hasna mengalami koma. Pantas saja jika Rama kemarin bersikukuh untuk tetap memperkarakan kejadian ini pada pihak berwajib.


"Semoga lo bisa menyadari kesalahan lo, Sa. Kesempatan tidak akan datang untuk yang kedua kalinya. Semoga lo bisa memanfaatkan kemurahan hati Rama dengan sangat baik."


***

__ADS_1


__ADS_2