Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 92


__ADS_3

"Sumpah, salad ini bener-bener seger banget. Makanya gue selalu nagih kalau lo bawain buat gue." Ucap Marissa di tengah kunyahannya. Bahkan saus mayonaise yang bercampur dengan susu itu banyak menempel di sekitar bibirnya.


"Oh, ya? kalau gitu habiskan, biar ponakan gue makin sehat." Ucap Siska.


Dan dengan lahapnya Marissa menghabiskan salad yang Siska bawakan untuknya.


Siska membuka sebotol minuman yang tadi di belinya. Perempuan itu diam-diam memperhatikan sahabatnya yang masih dengan lahapnya menghabiskan salad yang tinggal setengah.


Marissa meletakkan salad yang hanya tinggal beberapa sendok saja. Perempuan itu merasa sedikit pusing. Marissa mengambil selembar tisu untuk membersihkan bekas makanan yang menempel di sekitar mulutnya.


"Sa, lo kenapa?" Tanya Siska yang kembali meletakkan minumannya di atas meja makan.


"Nggak tau gue. Tiba-tiba aja, kepala gue rasanya pusing." Marissa memijit pelan pelipisnya.


"Gue ambilin minum, ya." Tawar Siska ya g dijawab anggukan oleh Marissa.


Siska menyodorkan segelas air putih pada Marissa. Perempuan itu langsung meminumnya hingga tandas.


"Lo kecapekan kali, Sa. Ibu hamil kan nggak boleh terlalu capek, atau terlalu stress." Ucap Siska.


"Iya kali, ya. Akhir-akhir ini gue mikirin soal anak dalam kandungan gue. Rama udah tau semuanya, dan tidak mau mengakui anak ini. Gue nggak mau nantinya jika gue melahirkan anak tanpa ayah." Wajah perempuan itu berubah sendu.


"Sa, gue hanya memberikan saran sama lo. Andaikan lo nggak menerimanya juga nggak apa-apa. Tapi gue rasa, ini satu-satunya cara untuk_"


"Gue udah katakan berkali-kali sama, lo. Gue nggak akan pernah sudi menerima Tomi sebagai bapak dari anak ini." Ucap Marissa dengan emosi.


"Sa, dengerin dulu. Maksud gue, lo bisa nerima Tomi untuk beberapa waktu sampai anak ini lahir. Baru setelah itu, terserah sama lo. Lo maunya gimana. Lo nggak mau kan, kalau seandainya anak ini tidak memiliki kejelasan status saat lahir nanti?" Siska masih berusaha meyakinkan Marissa. Berharap sahabat karibnya itu bisa melupakan Rama.


"Ya Tuhan, ampuni hamba. Bukan bermaksud hamba meminta Marissa untuk mempermainkan ikatan suci pernikahan. Tapi hanya ini satu-satunya cara yang terlintas di pikiran hamba. Jika seandainya Marissa menerima Tomi, semoga Marisa bisa menerima ayah kandung dari bayinya itu seiring dengan waktu. Dan melupakan Rama yang sudah jelas berstatus sebagai suami perempuan lain."


"Maksud, lo?"


"Ma..maksud gue, lo hanya butuh menikah dengan Tomi untuk beberapa saat saja. Hingga anak ini lahir. Terserah ko nantinya. Lo mau nikah secara sirih atau tercatat di catatan sipil, itu terserah lo. Hanya sampai lo lahiran." Ucap Siska.


Nampaknya Marissa sedang mempertimbangkan saran dari sahabat baiknya itu.


"Ntar deh, gue pikir-pikir dulu. Gue nggak bisa tiba-tiba menerima Tomi begitu saja. Gue akan berusaha meluluhkan hati Rama dulu." Rupanya Marissa masih bersikukuh dengan pendiriannya.


Siska memaksakan senyuman saat mendengar penuturan Marissa. Di matanya, Marissa sungguh bodoh menyia-nyiakan laki-laki yang benar-benar tulus menerimanya, demi mengejar laki-laki yang sudah dengan jelas menolaknya.


Marissa kembali memijit kepalanya yang kembali berdenyut.


"Sebaiknya lo istirahat. Gue anter ke kamar, ya." Marissa mengangguk setuju.


Siska membantu Marissa untuk berdiri dan mengantarkannya ke kamar.


"Lo istirahat, gue temenin di depan." Marissa hanya mengangguk kecil.


"Sis, tanggal pernikahan Rama bukannya hari ini, ya?" Tanya Marissa pada Siska yang telah berada diambang pintu.


"Gue nggak tau, Sa. Karena kebetulan yang menghadiri hanya Bos gue beserta asistennya doang." Marissa mengangguk kecil dan membulatkan bibirnya.

__ADS_1


"Udah lo istirahat. Gue keluar dulu."


Siska pun keluar dan menutup pintu kamar Marissa. Perempuan berambut sebahu itu mengetikkan pesan untuk Tomi.


~Tom, lo nggak pengen jengukin calon anak lo? Jika iya, gue tunggu di rumah Marissa sekarang.~ Siska.


Tak lama, pesan chatnya sudah berubah centang biru. Tandanya sudah terbaca oleh Tomi. Bahkan laki-laki itu tengah mengetikkan balasan untuk pesannya.


~Maksud, lo?~ tomi.


~Gue udah mencampurkan obat tidur pada makanan Marissa. Sebentar lagi, dia pasti sudah tertidur pulas.~ Siska.


~Obat tidur? Lo jangan gila. Itu bisa membahayakan anak gue.~ Tomi.


~Lo tenang aja. Gue udah konsultasikan sebelumnya sama dokter. Dan obatnya pun dokter kandungan Marissa sendiri yang memberikannya. Jadi gue rasa semuanya aman.~ Siska.


~Syukurlah kalau begitu.~ Tomi.


~Tapi beneran aman, kan?~ Tomi.


~Aman, gue bilang kalau Marissa sering insomnia selama kehamilan. Jadi dokter memberikan dosis yang sesuai dengan kebutuhan.~ Siska.


~Oke, tunggu gue. Gue segera ke sana.~ Tomi.


~Cie aura calon ayah, yang selalu mengkhawatirkan anak dalam kandungan istrinya.~ Siska.


~Ups...maksud gue, calon. Kalau Marissa mau.~ Siska. Pesannya kali ini disertai dengan sederet emotikon tertawa lebar.


~Gue nggak pernah berharap Marissa mau menerima gue. Gue hanya menginginkan hak asuh anak dalam kandungan Marissa. Karena itu darah daging gue." Tomi.


Siska kembali memeriksa kondisi Marissa di dalam kamar. Dan seperti dugaannya, perempuan hamil itu tengah terlelap sekarang.


***


Tok, tok, tok


Siska segera beranjak dan menuju pintu depan. Ternyata Tomi. Laki-laki itu sampai lima belas menit lebih cepat dari biasanya.


"Masuk." Siska kembali menutup pintu.


"Marissa ada di kamarnya." Tomi hanya mengangguk dan langsung menuju ke kamar Marissa.


Memasuki ruangan yang sama membuat Tomi merasa Dejavu dengan kejadian empat bulan yang lalu. Dimana ia dan Marissa melakukan hal yang tidak semestinya mereka lakukan. Dan buah dari kesalahan itu, kini Marissa tengah mengandung benihnya.


Tomi berjalan mendekati Marissa yang tengah terlelap dengan damainya. Wajah cantik itu terlihat tenang. Tomi memperhatikan jika tubuh Marissa semakin berisi. Dan Tomi harap semoga anak dalam kandungannya semakin sehat.


Tanpa sadar laki-laki itu menarik kedua sudut bibirnya. Tomi perlahan duduk di tepi ranjang, menjaga agar jangan sampai menimbulkan gerakan yang dapat mengganggu Marissa nantinya.


Di tatapnya perut Marissa yang sudah terlihat membuncit itu. Dengan posisi berbaring seperti ini gundukan perut perempuan itu nampak jelas. Tangan Tomi terulur dengan bergetar menyentuh perut Marissa. Diusapnya perlahan, seolah tengah membelai bayi yang tengah tertidur lelap.


"Sayang, ini Papa, Nak. Kamu sehat ya disana. Jangan nakal, kasihan nanti Mama kamu." Ucapnya dengan tangan yang terus membelai perut itu.

__ADS_1


"Do'akan Papa, semoga Papa selalu bisa mendampingi kamu, sampai kamu dewasa." Tak terasa lelehan bening itu menerobos paksa dari kedua sudut matanya.


Cukup lama tangan itu berdiam di atas perut Marissa yang masih terlelap. Sesekali dicium dan diusapnya lembut.


"Sayang, jangan buat Mama sedih ya. Kamu anak kuat. Kamu anak Papa yang hebat. Kamu...kamu..." Tomi tak kuasa membendung air matanya.


Perasaannya kini bercampur aduk. Bahagia, sedih juga kecewa. Disudut hatinya yang paling dalam, Tomi masih berharap bisa membesarkan anaknya bersama Marissa kelak. Ia bahkan sudah tidak mempedulikan cinta lagi untuknya. Tapi kasih sayang kedua orang tua untuk calon anaknya.


Tangan Tomi masih setia berada diatas perut Marissa. Laki-laki itu meletakkan kepalanya di tepi ranjang. Sesekali ia mengusap lembut perut buncit Marissa. Tanpa ia duga sebelumnya, tangannya merasakan kedutan kecil di tangannya.


Reflek Tomi mengangkat kepalanya dan tersenyum melihat tangannya.


"Apa kamu yang melakukannya, Nak?" Tomi tersenyum di tengah tangis bahagianya.


"Sehatlah selalu di dalam sana, Papa akan sangat merindukan, dan menantikan kehadiranmu, Nak." Tomi kembali mengusap dan mencium lembut perut itu, sebelum akhirnya ia keluar meninggalkan Marissa seorang diri di kamar.


Tomi kembali menutup pintu kamar dan menghampiri Siska yang tengah menonton televisi sembari menikmati camilan. Laki-laki itu menghempaskan tubuhnya tepat di hadapan sahabatnya semasa kuliah itu.


"Udah?" Siska mengalihkan pandangannya dari televisi pada Tomi.


"Udah. Makasih banyak ya, Sis. Lo udah ngasih gue kesempatan untuk bertemu anak gue. Gue nggak tau lagi gimana...gue ngungkapin perasaan gue saat ini. Gue bener-bener bahagia banget. Gue seneng bisa menyentuh calon anak gue yang masih berada di kandungan Marissa." Kembali, bulir bening itu menerobos paksa di kedua sudut mata Tomi.


Netra Siska ikut mengembun menyaksikan Tomi yang menitikkan air mata. Selama delapan tahun mengenal Tomi, baru kali ini Siska menyaksikan laki-laki itu meneteskan air mata. Dan Siska yakin bukan air mata kesedihan, melainkan air mata kebahagiaan.


"Gue udah nggak sabar, pengen gendong dia dengan kedua tangan gue." Tomi menengadahkan kedua tangannya dengan bergetar.


"Lo tau, tadi gue ngerasain semacam kedutan dari perut Marissa. Apa itu tendangan anak gue?" Siska mengangguk membenarkan ucapan Tomi.


"Ya, lo benar. Kontrol kemarin, gue yang nemenin. Dokter bilang, di usia kehamilan Marissa yang hampir delapan belas minggu, udah mulai terasa kedutan-kedutan. Dan kemungkinan itu gerakan anak lo." Jelas Siska.


Tomi meraup wajahnya, berusaha menyingkirkan air mata yang kembali menetes, namun tidak bisa. Buliran-buliran bening itu tetap memaksa untuk keluar. Seumur hidupnya, ia tidak pernah merasakan hal sebahagia ini. Tomi berharap, semoga ia bisa mendapatkan kesempatan lagi untuk bisa membelai calon buah hatinya.


Cukup lama keduanya terdiam, hingga Siska kembali membuka suaranya.


"Tom, mafin gue, ya?" Tomi mengerutkan keningnya.


"Buat?"


"Emmm... Lo taukan kalau gue nggak pernah suka dengan tindakan Marissa?" Tomi mengangguk, karena laki-laki itu tau bagaimana Siska menentang perbuatan nekat Marissa.


"Gue sempet nyaranin, kalau lo dan Marissa sebaiknya, menikah." Lirih Siska di ujung kalimatnya. Tomi menghembuskan nafas cepat mendengarnya. Laki-laki itu tau jawaban apa yang telah Marissa berikan pada perempuan di hadapannya kali ini.


"Gue bilang, kalau kalian harus menikah untuk memperoleh status yang jelas atas anak kalian. Dan...gue nyaranin, buat nikah sementara sama lo. Sampai anak ini lahir." Ucap Siska merasa bersalah.


Tomi memijit pelipisnya yang terasa berdenyut. Menikah sementara sampai anak mereka lahir? Itu bukan ide yang baik, karena bagaimanapun anak mereka butuh sosok orang tua yang lengkap untuk mendampingi tumbuh kembangnya. Dan lagi, walaupun Tomi bukan orang yang paham akan agama, namun laki-laki itu tak pernah berniat untuk mempermainkan pernikahan.


"Lo jangan salah paham dulu. Gue hanya berharap Marissa akan benar-benar menerima dan mencintai lo seiring berjalannya waktu. Gue sayang sama Marissa, gue nggak pengen sampai dia salah jalan lagi." Ungkap Siska.


Seperti yang mereka tahu, Marissa hidup seorang diri di kota ini. Ibunya meninggal sejak dirinya duduk di bangku menengah pertama. Dan ayahnya meninggal sesaat setelah ia menamatkan pendidikan sarjananya. Marissa memiliki seorang kakak perempuan yang telah menikah dan hidup di kota lain bersama keluarga suaminya. Dan sudah lama mereka sudah tidak pernah berkomunikasi lagi.


"Lo tau, Sis? Bahkan gue sudah tidak mengharapkan Marissa kembali mencintai gue. Kini harapan terbesar gue hanya anak dalam kandungan Marissa. Gue ingin mengambil alih hak asuh atas anak itu setelah dilahirkan nantinya. Karena gue tau, Marissa tidak akan pernah mau untuk merawat anak gue. Dia mempertahankan kandungannya hanya untuk menjebak Rama. Makanya gue minta bantuan sama lo, supaya lo bisa mengawasi setiap gerak-geriknya agar tidak membahayakan kandungannya." Ucap Tomi.

__ADS_1


Siska membenarkan semua ucapan Tomi, kerena bukan hanya dirinya, laki-laki itu yang menginginkan agar Marissa mempertahankan kandungannya.


***


__ADS_2