
Tahun ini ulang tahun Papa dirayakan di rumah saja dengan acara makan malam. Keluarga Papa rata-rata ada di luar kota. Sedangkan keluarga Mama sudah tidak ada, karena Mama anak tunggal. Pun tak mengundang kolega dan rekan bisnis seperti tahun-tahun sebelumnya. Mereka hanya ingin merayakan dengan keluarga dekat saja.
Hasna dan Rama datang lebih awal, dengan membawakan red velvet favorit keluarga Suryanata dan beberapa pastry lainnya sebagai buah tangan.
"Pak Hadi, minta tolong semuanya dibawa ke dalam, ya." Pinta Rama pada security keluarga Suryanata.
"Siap, Den." Pak Hadi menurunkan semua bawaan putra majikannya itu dan membawanya ke dalam.
Rama menggamit tangan kanan Hasna dan mengajaknya masuk ke dalam, membuat Hasna membulatkan netranya dengan sempurna.
"Kenapa kamu selalu melotot saat saya gandeng? Bukankah ini hal wajar yang dilakukan setiap pasangan?" Ucap Rama yang tetap melangkahkan kakinya di ikuti Hasna disamping kanannya.
Hasna tak menjawab dan tetap berjalan di sisi suaminya. Bergandengan tangan memanglah wajar, tapi ia belum terbiasa jika di hadapan orang lain.
"Assalamu'alaikum." Ucap Rama saat sampai di ruang keluarga.
"Wa'alaikumussalam." Jawab mereka yang ada di sana.
Fokus mereka teralihkan bukan karena kehadiran mereka, tapi lebih pada genggaman tangan keduanya. Hal yang baru pertama kali mereka saksikan setelah pernikahan Rama.
"Ci_."
Bu Diana reflek membekap mulut anak perempuannya. Jangan sampai momen kedekatan sang putra dengan menantunya kacau gara-gara ledekan putri tengilnya.
"Akhirnya kalian datang juga." Pak Andi menghampiri keduanya.
"Selamat ulang tahun, Pa. Semoga usia Papa semakin berkah. Selalu diberi kesehatan, juga semakin bahagia." Hasna mencium tangan Papa mertua.
"Semoga Papa suka." Hasna mengangsurkan sebuah paper bag pada Papa mertua.
"Terima kasih, Sayang. Terima kasih do'anya, terima kasih juga kadonya. Maaf Papa jadi merepotkan." Ucap Pak Andi. Mengusap lembut puncak kepala Hasna.
"Selamat ulang tahun, Pa. Semoga Papa diberikan panjang umur dan kesehatan. Supaya ada yang mengingatkan Rama, jika Rama melakukan kesalahan." Ucap Rama.
Pak Andi memeluk putra sulungnya dan menepuk pelan punggung Rama.
"Terima kasih, Nak. Semoga kalian juga dilimpahkan kebahagian." Ucap Pak Andi.
"Maaf, Rama tidak membawakan apa-apa sebagai kado."
"Nggak papa, nggak usah kado, ya kan, Pa? Cukup kasih kami cucu saja. Itu kado yang sangat luar biasa dan istimewa buat Papa." Sahut Bu Diana.
"Tahun depan, insyaallah ya, Pa, sudah ada yang manggil Oma sama opa." Lanjut Bu Diana.
"Aamiin... tahun depan Nay bakal ada yang manggil Aunty." Nayla menambahkan dengan senyuman sumringah.
Hasna tertunduk malu mendengarnya. Rama mengusap tengkuknya untuk mengurai kecanggungan. Sungguh perkataan Mamanya barusan membuat keduanya salah tingkah.
***
Pak Hadi meletakkan bawaan Hasna di meja makan dan Mbok Sumi memindahkannya ke piring-piring.
"Banyak sekali, Sayang?" Tanya Bu Diana.
"Sengaja, Ma. Buat yang lainnya juga."
Hasna mengambil dua buah kotak berisikan kue dan memberikannya pada Pak Hadi
"Pak, tolong dibagiin sama yang lainnya ya." Pak Hadi menerimanya dengan mata berbinar.
"Makasih banyak, Non." Sungguh baik sekali semua majikannya itu.
"Oh iya Pak, sebentar lagi ada katering yang akan datang, tolong langsung diarahkan ke masjid ya." Ucap Hasna.
Bu Diana menoleh ke arah putranya, seolah sedang bertanya. Rama menggeleng pelan karena tidak tahu menahu soal katering itu.
"Siap, Non. Saya permisi kalau begitu." Pak Hadi berlalu dengan dua kotak kue ditangannya.
"Maaf, Sayang. Kamu lagi ada acara di masjid?" Tanya Bu Diana.
"Tidak, Ma. Hanya ingin berbagi saja. Semoga berkah ya, Ma." Hasna tersenyum ke arah Mama mertua.
Satu lagi hal yang bisa membuat Rama kagum akan pribadi istrinya. Perempuan yang ia nikahi sangatlah sederhana, namun istrinya tumbuh ditengah limpahan kasih sayang. Yang menjadikan perempuan itu sosok yang memiliki tingkat kepedulian yang tinggi.
__ADS_1
***
Seluruh anggota dan para pekerja keluarga Suryanata tengah menikmati makan malam. Untuk malam ini, ART yang biasanya melayani di meja makan, dipersilahkan untuk menikmati makan malam juga di paviliun yang terletak di belakang rumah utama.
Sengaja Hasna meminta tempat kateringnya untuk menyediakan makan malam untuk seluruh pekerja di rumah mertuanya. Ia hanya ingin berbagi, terlebih ada acara syukuran hari kelahiran Papa mertua. Ia ingin banyak yang mendo'akan kebaikan untuk Papa mertua juga seluruh keluarganya.
"Harusnya, Mama yang nyediain makanan buat jamuan makan malam. Malah kamu yang repot-repot nyiapin semuanya." Ucap Bu Diana tak enak hati.
Bagaimana tidak, saat datang Hasna hanya membawa beberapa kotak berisi kue. Tapi setelahnya, mobil katering berdatangan. Satu mobil langsung menuju masjid sesuai permintaan Hasna. Dan satu lagi ke rumah.
"Hasna kan anak Mama juga, jadi boleh dong Hasna yang nyediain juga." Ucap Hasna. Seperti biasa, perempuan itu selalu tersenyum saat bicara.
"Enak banget sih jadi Kak Rama. Istrinya pinter masak, enak-enak lagi. Jago bikin kue juga." Puji Nayla.
Rama tersenyum ke arah istrinya. Benar sekali kata Nayla, semua masakan buatan Hasna tak pernah gagal saat menyapa lidahnya.
"Ajarin dong, Mbak." Pinta gadis itu setengah merengek manja.
"Siapin saja waktunya." Jawab Hasna.
Mereka kembali menikmati makan malam. Hasna hanya mengambil satu piring makanan, untuknya, juga Rama.
"Kak, gimana rasanya tiap hari disuapin sama istri? Sepiring berdua pula." Goda Nayla. Mulai lagi mode jahilnya.
Hasna sekilas memperhatikan ekspresi suaminya. Sepertinya laki-laki itu tak menghiraukan ucapan adiknya.
"Dulu aja kalau sakit, nggak bakalan mau tuh yang namanya suap-suapan. Baru aja bawain makanan, udah disuruh bawa keluar lagi. Apalagi kalau bubur, suruh buang tuh. Sambil bilang gini, aku itu cuma demam ya, bukan sakit parah. Sambil melotot pula. Sakit aja, galak bener." Rupanya Nayla begitu menghayati saat menirukan gaya sang Kakak.
"Tapi sekarang, sweeeeettt banget."
Rama hanya mendengus mendengar ocehan Nayla. Hasna hanya tersenyum mendengarnya.
"Oh iya, Mbak, Kak Rama tuh paling nggak suka kalau join makanan. Tapi sepertinya sekarang udah enggak lagi. Buktinya makan sepiring berdua." Hasna reflek menoleh ke arah Rama.
Apakah benar begitu, suaminya tidak menyukai hal yang seperti Nayla katakan? Jika ia, berarti ia melakukan kesalahan sekarang.
Kemarin mereka berbagi makanan dalam satu piring, dan sekarang Hasna melakukan hal yang sama. Tapi justru hal ini tidak disukai suaminya.
Hasna menundukkan pandangannya. Ia merasa tidak enak sekarang. Rama menyadari perubahan di wajah istrinya. Pasti gara-gara ucapan Nayla barusan.
"Tentu." Hasna mengambilkan lagi sup iga untuk suaminya. Dan menyuapkan makanan untuk Rama.
"Kamu kapan ngantor lagi?" Tanya pak Andi.
"Sepertinya Minggu depan." Jawab Rama setelah menelan makanannya.
"Butuh sopir? Biar nanti Pak Yanto Papa suruh antar jemput kamu untuk sementara." Tawar Pak Andi.
"Sepertinya tidak perlu, Pa. Ada Hasna yang bisa antar jemput Mas Rama. Kebetulan kita searah." Sahut Hasna. Sejenak perempuan itu menoleh pada Rama, meminta persetujuan. Rama meresponnya dengan senyuman.
"Sweet bangeeettt." Sahut Nayla, membuat Hasna tersenyum malu.
"Oh iya, gimana usaha kamu, Nak. Papa dengar kalau kamu mau buka cabang baru. Memang usaha yang mana?"
Rama menoleh pada istrinya. Dari raut wajahnya seolah menyimpan banyak tanya. Buka cabang baru? Usaha yang mana? Apa saja yang tidak diketahuinya tentang perempuan yang berstatus sebagai istrinya itu.
"Alhamdulillah, Pa. Untuk waktu dekat ini, Hasna mau buka tempat katering dulu. Baru setelah itu toko kuenya. Karena rukonya juga masih tahap renovasi." Papar Hasna.
Rama hanya menjadi pendengar disini. Mungkin hanya dia yang tidak tau menahu soal usaha istrinya. Yang dia tahu Hasna adalah wanita pekerja. Itu saja.
"Bagus itu, selagi ada peluang, manfaatkan dengan baik." Respon Papa mertua.
"Kalau resto, masih belum kepikiran nambah cabang?" Papa kembali bertanya.
"Insyaallah setelah toko kuenya rampung. Kebetulan ada teman yang menawarkan lahan yang cukup strategis di pusat kota. Hasna masih belum sempat meninjau lokasi, karena kebetulan ada di luar kota juga. Lagi pula urusan Hasna di sini itu jauh lebih penting."
Hasna menoleh pada Rama yang terlihat syok mendengar penuturan darinya. Perempuan itu tersenyum hangat.
"Doakan semuanya lancar ya, Pa, Ma." Ucap Hasna.
"Pasti, Nak." Jawab pak Andi yang diangguki oleh Bu Diana.
"Jangan bilang, Kak Rama nggak tau pekerjaan Mbak Hasna." Sergah Nayla to the point pada Kakaknya.
__ADS_1
"Kok mukanya kaget gitu?" Lanjut Nayla.
Benar sekali tebakan Nayla, ia tak tahu apa-apa soal ini. Bahkan jika hari ini Papanya tak menanyakan perihal ini kepada istrinya langsung dihadapannya, mungkin selamanya dia tidak akan pernah mengetahuinya.
***
Mama meminta Hasna juga Rama untuk menginap malam ini. Mereka tidak bisa menolak, karena mereka juga jarang berkunjung. Apalagi pasca kecelakaan yang menimpa Rama.
Setelah membantu Rama mengganti pakaiannya, kini keduanya tengah duduk di kursi balkon kamar Rama. Mereka menikmati langit malam yang cerah, dengan di temani dua cangkir coklat hangat favorit Hasna.
"Maaf, aku tidak membuatkan kopi untuk mas Rama." Hasna ingin mengurangi kebiasaan suaminya.
Beberapa tahun belakangan Rama gemar sekali meminum kopi, semenjak ia gila kerja. Bahkan tak terhitung berapa kali dalam sehari.
"Tidak apa-apa." Rama memaksakan senyuman di wajahnya.
Hasna mengambil cangkir miliknya dan menyesapnya perlahan. Sungguh nikmat, apalagi udara malam mulai terasa dingin.
"Kenapa kamu tidak pernah bercerita sama saya?" Tanya Rama datar.
Hasna menghentikan niatannya yang akan kembali menikmati coklat hangat di cangkirnya. Perempuan itu mengernyit heran. Bercerita tentang apa maksudnya.
"Cerita? Tentang apa?" Hasna justru bertanya.
"Tentang usaha kamu, pekerjaan kamu, apa saja yang tidak saya tau tentang kamu." Nada bicara Rama terdengar dingin.
Hasna meletakkan cangkir di tangannya, dan tersenyum pada suaminya.
"Mas Rama marah?"
"Menurut kamu?"
"Aku pikir, Mas Rama tidak tertarik dengan pekerjaanku." Rama menoleh dengan tatapan tak suka.
"Pada saat awal kita menikah, aku pernah meminta izin pada Mas Rama untuk bekerja, bukan?"
Ya, Rama ingat itu. Bahkan ia mengatakan bahwa ia tidak peduli dengan apa yang dilakukan istrinya.
"Dan hanya saya yang tidak tau?" Sergah Rama.
Hasna kembali tersenyum.
"Papa, Mama, juga Nayla tau karena sebelum kita menikah, almarhum Kakek pernah bercerita sama mereka. Hasna pikir Mas Rama sudah tau. Makanya saat aku minta izin waktu itu, Mas Rama tak kebaratan."
Rama memejamkan matanya sejenak. Waktu itu, bukan karena dirinya tak keberatan dengan pekerjaan istrinya, tapi lebih kepada tak pernah ingin tau apapun tentang Hasna. Bahkan tak pernah ingin ikut campur kehidupan perempuan itu.
"Jadi, atasan kamu?" Rama ingin memastikan.
Hasna tersenyum tanpa jawaban. Perempuan itu sedikit mendekat pada Rama. Mengusap lembut pundak suaminya.
"Tidak akan ada yang namanya atasan jika tidak ada tim yang bekerja dengan solid. Aku sudah menganggap mereka semua seperti saudara. Tak ada atasan atau bawahan. Mereka semuanya sama di mata aku. Karena kamu satu tim." Ucapnya lembut.
"Usaha yang aku jalankan, tak akan pernah ada apa-apanya jika tanpa adanya kerja keras dari mereka semua. Kebetulan aku yang memiliki modal, tapi kan mereka yang punya skill. Mereka selalu membuat inovasi dari resep-resep yang pernah aku coba sebelumnya. Dan alhamdulilah bisa diterima konsumen dengan baik." Lanjut Hasna.
Sifat Hasna berbanding terbalik dengannya. Jika dirinya merasa memiliki kendali penuh pada perusahaannya, tapi tidak dengan Hasna. Perempuan itu memposisikan dirinya hanya sebagai pemilik modal usaha. Bukan pemilik kekuasaan penuh atas usaha yang dijalankannya.
Apa yang telah dicapai saat ini, Hasna mengatas namakan sebagai kerja keras timnya, bukan karena kepiawaian dirinya sebagai leader. Bahkan pegawainya bebas berinovasi dengan resep darinya.
"Jadi laporan yang kamu kerjakan kemarin? Itu semua omset dari usaha kamu?" Rama masih tidak percaya jika sebesar itu penghasilan istrinya.
"Itu laporan dari tempat katering." Rama tak percaya jika sebesar itu perolehannya.
"Lalu? Toko kue dan restoran kamu?" Rama masih berusaha memastikan.
"Belum selesai aku kerjakan, masih tahap memeriksa laporan. Belum sempat bikin pembukuan." Kekeh Hasna.
"Saya merasa insecure kalau begini." Sesal Rama.
"Kenapa mesti insecure?"
"Karena uang yang pernah saya kasih sama kamu, tidak ada apa-apanya." Ungkap Rama.
Seberapa banyak lagi penghasilan istrinya itu, bahkan mungkin lebih besar penghasilan Hasna ketimbang dirinya.
__ADS_1
Rasanya sulit dipercaya. Perempuan sepolos dan sesederhana Hasna, ternyata seorang pebisnis handal.
Ternyata banyak sekali hal yang tak ia ketahui tentang istrinya. Istrinya tak sepolos itu.