Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 175


__ADS_3

Jarum jam masih menunjukkan pukul sembilan lewat empat puluh lima menit. Itu artinya Rama lima belas menit lebih cepat tiba di kantor. Karena biasanya laki-laki itu datang tepat pukul sepuluh, atau paling lambat setengah sebelas siang.


"Selamat pagi, Pak." Sapa Tania dengan sedikit membungkukkan badannya.


"Pagi."


Rama segera berlalu masuk ke dalam ruangannya. Namun belum juga satu menit, ia sudah muncul kembali dari balik pintu.


"Tania."


"Iya, Pak?" Sekretaris itu reflek berdiri.


"Apa Ivan ada di ruangannya?"


"Tidak, Pak. Pak Ivan belum kembali dari ruang meeting."


Rama memang memberikan wewenang kepada Ivan untuk memimpin rapat, yang seluruh materinya sudah mereka bahas sebelumnya.


"Jka nanti selesai meeting, tolong sampaikan pada Ivan, kalau saya tunggu di ruangan."


"Baik, Pak." Lantas Rama segera masuk kembali ke dalam ruangannya.


Tak berselang lama, Ivan kembali dari ruang meeting.


"Ivan." Panggil Tania yang membuat laki-laki itu urung membuka pintu ruangannya.


"Ada apa?"


"Ditunggu Pak Rama di dalam."


"Udah datang?"


"Baru, sepuluh menit yang lalu." Ivan melirik jam di tangannya, lima belas menit lebih cepat di banding biasanya.


"Oke, makasih." Ivan segera menuju ruangan Rama yang berada tepat di depan ruang kerjanya.


Tok...tok...tok...


"Masuk." Langsung terdengar sahutan dari dalam.


Ivan segera masuk ke dalam dan mendapati Rama yang tengah serius memeriksa laporan. Bahkan Ivan menunggu atasannya itu selama sepuluh menit untuk buka suara.


"Saya sudah memeriksa laporannya semalam. Dan semuanya sesuai dengan kesepakatan kita di awal." Ucap Rama pada Ivan yang duduk berseberangan dengannya.


"Tidak ada yang perlu di revisi, Pak?"


"Saya rasa tidak perlu. Semua sudah sesuai."


Sejenak keduanya sama-sama terdiam. Hingga Rama kembali membuka suaranya.

__ADS_1


"Ivan, saya butuh bantuan kamu." Ucap Rama serius.


"Silahkan, Pak. Saya akan melakukan yang terbaik semampu saya."


"Saya ingin mencabut tuntutan atas kasus Marissa." Ucap Rama.


Ivan sedikit terkejut saat mendengarnya. Bahkan laki-laki itu sedikit memiringkan kepalanya, berusaha fokus agar tidak salah mendengar apa yang Rama katakan padanya.


"Mencabut tuntutan Marissa, Pak?" Ivan masih mencoba memastikan jika apa yang ia dengar tidaklah salah.


"Iya." Rama mengangguk kecil.


"Maaf, Pak. Tapi kenapa bapak tiba-tiba saja ingin mencabut tuntutannya? Maaf maksud saya, apa alasan Pak Rama melakukannya?" Tanya Ivan hati-hati.


Rama membuang nafasnya kasar, kemudian bersandar di kursi kebesarannya.


"Semua karena istri saya." Ucap Rama. Pandangan lelaki itu terlihat menerawang jauh.


"Bu Hasna? Tapi bukankah Pak Rama sempat menolak permintaan Bu Hasna waktu sidang itu?"


"Ya, kamu benar. Bahkan kami bertengkar karena permintaannya." Ivan sejenak menahan nafas saat Rama mengatakan hal itu kepadanya.


"Saya melihat betapa dekatnya istri saya dengan anak kami. Bagaimana Reyn yang begitu nyaman dalam pelukan ibunya. Dan saya rasa, apa yang menjadi alasan istri saya waktu itu memanglah benar. Seorang anak akan selalu merasakan kenyamanan dalam pelukan ibunya. Dan ini yang menjadi pertimbangan saya." Rama menatap lurus asisten yang duduk berhadapan dengannya.


"Yang bersalah di sini Marissa, bukan anaknya."


Ivan terdiam sejenak, berusaha mencerna apa yang Rama maksudkan.


"Iya. Saya akan memberikan kesempatan padanya. Bukan karena belas kasihan, tapi karena seorang anak yang berhak mendapatkan kasih sayang ibunya." Ivan mengangguk mengerti.


"Baik, Pak. Nanti akan saya urus bersama Pak Darmawan." Rama mengangguk pelan.


Mendampingi Hasna mengurus buah hatinya hampir sebulan lamanya, membuat Rama tiba-tiba memikirkan nasib bayi Marissa. Bayi Marissa, bukan perempuan itu.


Melihat betapa nyenyaknya Reyn tidur dalam dekapan Hasna, juga saat bayi mungil itu bermanja pada ibunya. Saat istrinya membangun kedekatan dengan putranya melalui k giatan meng-ASI-hi. Atau bahkan saat dirinya menggantikan Hasna menjaga Reyn dengan memberikan ASIP yang selalu istrinya sediakan. Lalu bagaimana dengan bayi Marissa? Bagaimana anak sekecil itu dipisahkan secara paksa dengan ibunya? Bahkan tidak pernah sekalipun perempuan itu melihat wajah bayi yang dilahirkannya.


Suami Marissa benar-benar memenuhi janjinya. Menyerahkan Marissa sepenuhnya pada kepolisian setelah melahirkan, dan membawa anak mereka pergi jauh.


Rama rasa sudah cukup memberikan Marissa pelajaran. Hampir enam bulan perempuan itu menjalani hukumannya. Dan selama itu pula yang terlihat hanya teman perempuannya saja yang selalu mengunjunginya.


Drrrtt... drrrtt... drrrtt...


"Sebentar." Rama mengangkat panggilan nomor rumah orang tuanya.


"Assalamu'alaikum, Den. Maaf mengganggu waktu kerja Aden."


"Wa'alaikumussalam. Ya?"


"Anu, ini ada pihak dealer kirim mobil, Den."

__ADS_1


"Mobil?" Rama menatap ke arah Ivan dengan tatapan penuh tanya.


"Tapi saya tidak membeli mobil baru."


"Maaf, Den, tapi nama dan alamat penerima memang benar atas nama Rama Suryanata." Rama menggaruk keningnya yang tiba-tiba terasa gatal.


"Emmm, ya sudah. Saya akan segera pulang." Rama mematikan sambungan teleponnya.


"Ada masalah, Pak?" Tanya Ivan yang melihat raut bingung di wajah Rama.


"Ada orang dealer mengirimkan mobil, nama penerimanya atas nama saya. Tapi saya tidak membeli mobil baru." Ucap Rama.


"Sebaiknya Pak Rama cek dulu, untuk memastikan kebenarannya." Usul Ivan.


"Ya, kamu benar. Kamu ikut saya, setelah ini kita akan langsung ke kantor Pak Darmawan."


Rama gegas meninggalkan ruangannya dengan diikuti Ivan di belakangnya. Tania reflek berdiri saat mendengar pintu ruangan atasannya dibuka dari dalam.


"Tania, tolong kosongkan jadwal saya. Saya ada pekerjaan di luar."


"Baik, Pak." Rama pun segera berlalu, menyisakan Ivan yang berjalan mengikutinya.


"Ivan tunggu." Tania mencekal lengan sepupunya.


"Pak Bos dapat kiriman mobil dari orang misterius." Ucap Ivan, seolah paham apa yang akan sepupunya tanyakan. Tania hanya mengangguk dengan bibir yang membulat. Baru saja sampai kantor, belum juga satu jam, sudah kembali.


***


Mobil yang Ivan kemudikan memasuki gerbang kediaman Suryanata. Di sana Rama sudah di sambut oleh Pak Hadi sekuriti kediaman orang tuanya yang membukakan pintu untuknya. Dan hal yang pertama menyita perhatiannya adalah satu unit mobil sport berwarna merah yang terparkir tepat di depan pintu garasi. Sebuah mobil yang harganya menyentuh angka tiga milyar.


Rama segera menghampiri dua laki-laki yang telah menunggunya sebagai petugas dari dealer itu.


"Maaf, ini yang namanya Pak Rama Suryanata." Ucap Pak Hadi pada salah seorang laki-laki petugas dealer.


"Dengan saudara Rama Suryanata?" Tanya laki-laki itu.


"Iya, saya sendiri." Mereka saling berjabatan tangan.


"Maaf, kami mengirimkan satu unit mobil atas nama saudara Rama Suryanata dengan alamat jl. xx." Laki-laki itu menyebutkan alamat lengkap kediaman Suryanata.


"Iya, nama dan alamat memang sesuai, tapi maaf, saya tidak merasa membeli mobil baru. Mungkin ada kesalahan." Ucap Rama.


"Sepertinya tidak, Pak. Kami mengirimkan sesuai dengan pesanan. Silahkan cek dulu kelengkapannya." Laki-laki itu memberikan sebuah map berisikan surat-surat kendaraan, tanda terima juga kelengkapan lainnya.


Dengan kening yang berkerut, Rama membacanya dengan sangat teliti surat-surat kelengkapan dalam map yang baru ia terima. Benar, tidak ada kesalahan. Bahkan pembayarannya pun telah di lunasi. Tapi bagaimana bisa barang di kirimkan, sedangkan ia tidak membelinya.


"Maaf, bisa katakan pada saya, siapa pemesan mobil ini? Jujur saja, saya tidak bisa menerimanya." Tanya Rama.


"Pemesan atas nama saudara Kevin Wirayudha."

__ADS_1


***


__ADS_2