Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 150


__ADS_3

Hampir satu bulan Rama menjalankan aktivitasnya tanpa drama. Emosinya yang stabil, membuat Ivan juga Tania bisa bernafas lega. Pekerjaan pun bisa terselesaikan dengan baik.


Untung saja mood swing Rama tidak kambuh saat rapat penting dengan petinggi perusahaan tadi pagi. Kalau tidak, bisa-bisa hanya akan ada ceramah berkepanjangan selama meeting berlangsung.


Semua sudah kembali kondusif. Tidak ada lagi drama kultum pagi. Aroma ruangan yang membuat sakit kepala. Juga air minum yang terasa hambar.


Rama yang tengah berdiskusi bersama Ivan tentang planning project, seketika kehilangan fokus saat ponselnya berbunyi berulang kali. Laki-laki itu sengaja mengabaikannya, karena tiga hari lagi, materi akan segera di presentasikan di depan klien.


"Pak, apa sebaiknya tidak di angkat dulu? Mungkin ada yang penting." Ucap Ivan, saat ponsel Rama berhenti berdering untuk yang ketiga kalinya.


"Biarkan saja, tetap fokus pada pekerjaan." Ucap Rama tanpa mengalihkan pandangannya sama sekali. Laki-laki itu benar-benar berkonsentrasi penuh dengan pekerjaannya.


Benda pipih itu kembali berdering, namun sang pemilik sepertinya menulikan pendengarannya. Ivan menghembuskan nafasnya dengan kasar. Bagaimana bisa tetap fokus, jika berkali-kali mendengarkan suara ponsel Rama yang berdering? Rama pun tetap bergeming di tempatnya tanpa ada keinginan untuk mengangkat panggilan.


Panggilan sudah kesepuluh kalinya. Tapi Rama tetap mengabaikan ponsel yang ia letakkan di mejanya kerjanya, sedangkan ia tengah berdiskusi dengan Ivan di sofa.


"Pak, maaf, ada panggilan masuk. Saya izin untuk mengangkatnya." Ucap Ivan saat ada sebuah panggilan masuk di ponselnya. Rama hanya melirik sekilas pada asistennya itu. Sedetik kemudian, laki-laki itu mengangguk.


"Ha_"


"Kak Ivan, kak Rama kemana sih? Dari tadi di teleponin nggak bisa-bisa." Ivan sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya. Suara Nayla benar-benar membuat gendang telinganya hampir pecah.


"Pak Rama sedang bekerja_"


"Siapa juga yang bilang kalau Kak Rama lagi remidi. Nggak usah Kak Ivan jelasin juga Nay udah tau kalau Kak Rama lagi kerja." Ivan menggaruk pelipisnya tanpa sebab. Setelah drama Rama usai, kini ganti ia harus mendengarkan nyanyian merdu dari Nayla.


Nayla tak mendengar jawaban Ivan, hanya hembusan nafas yang terdengar begitu panjang yang berulang ia dengar dari seberang telepon.


"Kak Ivan? Kak Ivan masih di sana, kan? Jangan bilang kalau Nay ditinggal ke kamar mandi. Kak? Kak I_"


Ivan mendengus kesal, bisa-bisanya Nayla berpikiran jika ia meninggalkan panggilan untuk ke kemar mandi. Ivan tidak habis pikir dengan pemikiran aneh Nayla. Lama-lama ingin sekali rasanya menggeplak kepala gadis itu dengan balon berisikan air. Sekalian biar kepalanya dingin.


"Nay, pelankan suaramu. Ini kantor. Ada apa?" Lebih baik menanyakan apa yang menjadi tujuan gadis itu meneleponnya. Tidak ada waktu untuk berbasa-basi.


"Maaf, Pak Ivan. Ini Hasna." Ivan sedikit terkejut, lantaran ganti suara lembut Hasna menyapa pendengarannya.


"Bu Hasna?"


Rama menghentikan gerakan jemerinya di atas keyboard. Dan mengalihkan fokusnya dari layar benda lipat miliknya pada sang asisten yang menyebut nama istrinya.


"Iya, Bu?"


Ivan terkejut saat ponselnya telah diambil alih oleh Rama.


"Iya, sayang? Kenapa telepon di hape Ivan, bukan di nomor aku?" Protes Rama. Tatapan laki-laki itu seakan tengah menguliti asistennya hidup-hidup. Seolah Ivan adalah sebuah ancaman baginya. Hanya karena sang istri lebih memilih menghubungi Ivan, ketimbang dirinya.

__ADS_1


"Mas, aku udah telepon kamu lebih dari sepuluh kali, ya. Tapi nggak ada tuh Mas Rama jawab." Ganti Rama yang terkena protes dari sang istri.


Jadi panggilan yang sedari tadi ia abaikan itu dari Hasna? Segera ia meraih ponsel miliknya, dan memeriksa riwayat panggilan. Dan benar saja, semua panggilan dari Hasna. Rama meraup kasar wajahnya. Jangan sampai perempuan itu merajuk, bisa gawat nasibnya malam ini. Karena selama kehamilan, Hasna sangatlah manja dan mudah merajuk walaupun sebentar.


"Maaf, sayang. Ponselnya tertinggal di meja kerja." Rama menatap Ivan, seolah mengancam, jangan sampai Hasna tau jika ia sengaja mengabaikan panggilan.


"Emm...ada apa?" Tanya Rama lembut.


Ivan sungguh ingin sekali menjewer telinga atasannya itu. Sikapnya begitu manis dan terkesan lebay di matanya. Tidak cocok sekali dengan karakternya selama ini yang cenderung berkharisma dan terkesan garang. Andaikan bisa, ingin rasanya Ivan tertawa sekeras mungkin, menertawakan sikap Rama yang terkesan manis seperti kelinci jika berhadapan dengan Hasna.


"Mas, jadi jemput kita, nggak? Kita udah nunggu hampir satu jam loh. Kalau Mas Rama sibuk, kita naik taksi online aja." Rama menepuk keningnya. Bagaimana ia melupakan jika ia telah berjanji akan menjemput Hasna setelah istri dan adiknya belanja.


Rama melihat jam tangan di pergelangan kirinya. Benar saja sudah lewat satu jam dari waktu yang di janjikan.


"Baiklah, tunggu sebentar. Setengah jam lagi, aku sampai di sana."


"Tidak perlu, kami pulang naik taksi saja. Aku sudah terlalu capek nungguin Mas Rama." Ucap Hasna pada akhirnya. Perempuan itu benar-benar merasa lelah, apalagi dengan kondisinya yang tengah hamil. Bukan karena merajuk, tapi ia benar-benar lelah.


"Kamu marah?" Rama seketika merasa was-was.


"Tidak, aku benar-benar capek, Mas."


"Baiklah, hati-hati ya, Sayang." Lebih baik ia mengalah saat ini.


"Iya, Mas. Assalamu'alaikum."


Rama menatap ponsel yang cahayanya perlahan meredup di tangannya. Ia benar-benar menyesal. Pekerjaannya hari ini benar-benar menyita perhatiannya, sampai-sampai ia melupakan janji untuk menjemput Hasna.


"Kenapa kamu tidak mengingatkan saya, Ivan?" Ucapnya datar tanpa mengalihkan pandangannya ke arah Ivan.


"Iya, Pak?"


Ivan sedikit terkejut mendengarnya. Mengingatkan? Tentang hal apa? Apakah ia melupakan jika Rama meminta untuk diingatkan tentang suatu hal padanya?


"Sudah terlambat." Ivan semakin mengerutkan keningnya. Benar-benar tidak memahami apa yang Rama maksudkan.


"Pak, maaf. Itu...ponsel saya." Ucap Ivan saat Rama hendak memasukkan ponsel miliknya ke dalam saku celana. Rama mendengus kesal.


"Saya tidak tertarik dengan ponsel milikmu, Ivan." Gerutunya, lalu menyerahkan benda pipih itu pada sang asisten.


***


"Hasna sudah pulang?" Tanya Rama pada Mbak Marni, saat pintu baru saja di buka.


"Sudah, Mas. Mbak Hasna ada di kamar." Ucap Mbak Marni.

__ADS_1


Gegas Rama menuju kamar mereka yang ada di bawah. Perasaan bersalah muncul saat mendapati sang istri terlelap, bahkan masih mengenakan pakaian lengkap. Perempuan itu benar-benar lelah rupanya.


Rama melepaskan jas yang masih melekat di tubuhnya, kemudian mendekat ke arah Hasna yang tidur dengan damainya. Diusapnya perlahan pipi yang selalu merona itu.


"Sayang, bangunlah. Sebentar lagi masuk waktu maghrib. Tidak baik." Ucap Rama.


Hasna merasakan ada yang mengusap-usap pipinya, sehingga tidurnya merasa terusik.


"Mas Rama?" Lirihnya.


Rama tersenyum, juga merasa bersalah mendapati sang istri telah terjaga.


"Bangunlah, sebentar lagi maghrib." Hasna perlahan duduk, berusaha mengusir rasa kantuk yang masih setia menari-nari di kedua matanya.


"Maafkan aku." Rama memijit lembut kaki Hasna. Berusaha sedikit mengurangi rasa capek yang istrinya rasakan.


"Nggak papa, Mas." Hasna menarik kakinya.


"Kenapa? Kamu marah?" Tanya Rama.


"Tidak, hanya saja aku merasa tidak sopan jika Mas Rama memijat kakiku."


"Tidak, Sayang. Kemarikan kakimu." Pinta Rama. Hasna menggeleng.


"Aku pengen mandi."


Rama menarik sudut bibirnya. Sepertinya ada kesempatan yang bagus. Ia akan memanfaatkannya dengan baik kali ini. Lagi pula, Hasna sudah dinyatakan sembuh total oleh Dokter.


"Aku juga akan mandi." Ucap Rama.


"Kalau begitu, Mas Rama duluan."


"Kenapa tidak bersama?" Ucapan Rama membuat desiran halus pada hati Hasna.


"Selama kita menikah, kita tidak pernah melakukannya, bukan?" Hasna jadi salah tingkah sendiri.


"Sebaiknya aku duluan." Hasna hendak turun dari ranjang, namun Rama menahannya.


"Kenapa?"


"Tidak." Roma merah sudah menghiasi kedua pipi Hasna, dan Rama menyukai itu.


"Kalau begitu, ayo." Hasna menggigit bibirnya, kenapa serasa dadanya hampir meledak?


"Ini Sunnah, Sayang." Rama memberikan senyuman termanisnya untuk Hasna.

__ADS_1


***


__ADS_2