
Tidak akan ada yang bisa menolak takdir. Semua sudah di tetapkan oleh Allah. Begitu pula dengan Hasna, perempuan itu pasrah dengan kondisi yang di alaminya saat ini. Hamil dalam keadaan koma. Hasna tidak tau sampai kapan semuanya akan berakhir. Tapi dia ingin sekali mengakhirinya.
Setiap hari, hampir setiap saat Rama mengajaknya berbicara, tanpa bisa ia memberikan responnya. Seperti saat ini, Rama kembali mengajaknya bercengkrama, seolah tengah mengajaknya berbicara di kala ia sedang sehat.
Hasna menyimak dengan baik setiap perkataan Rama. Hasna bisa menyimak aktivitas yang Rama lakukan, dari suara yang ditimbulkan oleh lelaki itu. Seperti saat ini, laki-laki itu tengah menerima telepon dari seseorang.
Sentuhan kembali Hasna rasakan di kening juga perutnya.
"Mas, aku ingin segera pulih. Aku juga ingin mengusap calon bayi kita yang ada di dalam perutku."
***
Mungkin keadaan Hasna memanglah koma, namun pendengarannya masih berfungsi dengan baik. Seperti saat ini, saat Kevin mengajaknya berbicara. Apa saja yang laki-laki itu katakan, Hasna bisa menyimaknya dengan baik.
"Maafkan aku jika terlalu banyak bicara. Maafkan juga, jika aku terlalu lancang. Tapi hanya ini yang bisa aku lakukan. Jujur aku sangat lega sudah mengatakan ini semua sama kamu. Do'akan aku, Hasna. Do'akan agar aku bisa sedikit demi sedikit mengikis rasa ini untuk kamu." Ucap Kevin dengan mata yang basah.
Kevin merasakan usapan lembut di bahunya. Gegas laki-laki itu mengusap sisa air mata yang menggenang. Perlahan ia membalikkan badannya, berusaha kembali mengontrol emosinya.
"Ta...Tante?"
Kevin sungguh terkejut dengan kehadiran Bu Diana. Apakah ia terlalu fokus pada Hasna, hingga membuatnya tidak menyadari kedatangan orang lain di kamar Hasna? Kevin sekilas menoleh ke arah sofa, tapi Bu Rosita tak berada di tempat.
Bu Diana menatap lurus pemuda di hadapannya, membuat Kevin menelan ludahnya yang terasa tercekat di tenggorokan. Sejak kapan ibu kandung Rama itu berada di belakangnya? Apa itu artinya, Bu Diana mendengar semuanya?
"Tante sudah lama?" Kevin berusaha mengurai kecanggungan yang terjadi di antara mereka.
"Baru saja." Ucap Bu Diana dengan tatapan yang tak beralih sama sekali.
Kevin meraih tangan kanan Bu Diana untuk di ciumnya. Lantas laki-laki itu tersenyum hangat.
Tangan Bu Diana terulur mengusap lembut pipi Kevin, membuat lelaki itu sedikit terkejut.
"Kamu laki-laki yang baik. Tidak sepantasnya kamu masih memiliki rasa pada perempuan bersuami. Kamu berhak memperoleh perempuan yang lebih baik dari Hasna. Dengan kamu mengikhlaskan kebahagiaan Hasna. Tante harap, kamu mendapatkan kebahagiaan kamu juga, Nak. Semoga kamu mendapatkan perempuan yang jauh lebih baik dari Hasna." Bu Diana tersenyum hangat pada Kevin yang masih menunjukkan raut bingung.
"Wah, rupanya aku bakalan punya satu saingan lagi, nih." Bu Diana menurunkan tangannya dari wajah Kevin. Keduanya reflek menoleh pada arah sumber suara. Rama, laki-laki itu berjalan mendekat pada mereka.
Kevin menegang saat Rama mengatakan, punya satu saingan. Apa maksudnya, Rama juga mendengar apa yang ia ucapkan pada Hasna? Sungguh membuat jantung Kevin berdetak lebih kencang.
"Apa kamu tau? Semenjak menikah, aku sudah seperti anak tiri di keluargaku. Sedangkan Hasna, menjadi anak kesayangan mereka." Kevin membuang nafasnya dengan sangat lega. Ternyata bukan saingan seperti yang ia pikirkan.
"Bahkan hampir setiap kami bertemu, mereka selalu memberikan ceramah gratisnya padaku. Sedangkan dengan Hasna, mereka begitu menyayanginya. Posisiku tergeser sudah." Kevin menarik sudut bibirnya membentuk lengkungan.
"Dan sekarang, Mama menemukan satu lagi anak kesayangannya. Oke, aku pasrah jika harus di keluarkan dari hak ahli waris nantinya." Kekeh Rama, membuat Kevin ikut tersenyum mendengarnya.
Tanpa mereka sadari, Hasna mulai menunjukkan responnya. Jari telunjuk Hasna mulai bergerak.
Cklek
Bu Rosita muncul dari balik pintu. Pantas saja Kevin tak melihat ibunya di kamar ini. Ternyata beliau dari luar.
"Bu Diana?" Bu Rosita menghampiri Bu Diana dan saling berjabat tangan.
"Sudah lama?" Tanya Bu Rosita.
__ADS_1
"Baru saja." Ucap Bu Diana.
"Mama dari mana?" Tanya Kevin.
"Mama terima telepon. Oh ya, kita pulang yuk sekarang. Mama udah di tunggu sama temen di rumah." Ucap Bu Rosita. Kevin mengangguk.
"Maaf ya, Bu, kami pamit dulu." Bu Rosita berpamitan kepada Bu Diana.
"Semoga Hasna cepat sadar, ya." Ucap Bu Rosita pada Rama.
"Terima kasih, Tante."
"Tante, Rama, aku pamit dulu." Kevin mencium punggung tangan Bu Diana dan menjabat tangan Rama.
"Semoga Hasna cepat pulih." Ucap Kevin tulus.
"Aamiin, makasih banyak. Hati-hati."
"Assalamu'alaikum." Ucap Kevin.
"Wa'alaikumussalam."
Kevin membukakan pintu untuk ibunya, namun...
Brukkk
Byuurrr
"Astaga, sori." Pekik Nayla. Pasalnya gadis itu menumpahkan segelas kopi di baju Kevin.
"Ya ampun, maaf banget. Aku nggak sengaja." Ucap Nayla dengan tangan yang masih berusaha membersihkan baju Kevin dengan tisu.
Rama dan Bu Diana segera beranjak dan menghampiri Nayla dan Kevin yang terdengar meributkan sesuatu.
"Udah, nggak papa. Saya bisa bersihkan sendiri." Kevin menghentikan gerakan tangan Nayla dengan memegangnya.
"Kevin? Nay?" Rama memperhatikan keduanya bergantian.
Baik Kevin maupun Nayla, keduanya saling tatap dan beralih melihat ke arah Rama.
"Aku bisa sendiri." Kevin melepaskan tangan Nayla, dan tersenyum pada gadis itu.
"Nay?" Ucap Bu Diana.
"Nay nggak sengaja, Ma."
"Sebaiknya ,kamu gantilah pakaian dulu. Ada baju bersih yang belum aku pakai. Kamu bisa memakainya." Ucap Rama.
"Nggak perlu, Rama. Terima kasih banyak." Tolak Kevin.
"Sebaiknya ganti dulu, Nak Kevin. Apalagi bekas kopi. Pasti panas itu tadi." Sahut Bu Diana.
Kevin menoleh pada Mamanya, seolah meminta persetujuan, Bu Rosita memberikan anggukan tanda setuju.
__ADS_1
"Baiklah."
Kevin kembali masuk ke dalam untuk mengganti pakaiannya. Tak berselang lama, laki-laki itu keluar dengan menggunakan pakaian milik Rama. Beruntungnya mereka memiliki postur tubuh yang hampir sama, jadi pakaian itu pas saat Kevin kenakan.
"Kalau begitu kami pamit." Ucap Kevin dengan membawa pakaian kotornya.
"Kemarikan bajumu." Rama merebut baju yang Kevin pegang.
"Tidak perlu, Rama." Kevin hendak mengambil bajunya kembali.
"Nggak papa, Mas. Biar Nay bersihkan dulu." Nayla menyambar baju Kevin yang Rama pegang.
"Sebenarnya kalian tidak perlu repot seperti itu." Ucap Kevin merasa tidak enak.
"Nggak papa, Mas. Nay yang salah. Sekali lagi maaf, ya." Ucap Nayla.
"Iya, nggak apa-apa." Ucap Kevin.
"Ya sudah kalau begitu, kami pamit dulu. Assalamu'alaikum." Ucap Bu Rosita.
"Wa'alaikumussalam."
***
Nayla memasukkan pakaian kotor Kevin ke dalam paperbag. Dan menyimpannya di atas meja.
"Nay, Mama minta tolong dong." Ucap Bu Diana.
"Tolong beliin Mama minuman hangat, sekalian buat Kakak kamu." Nayla menghembuskan nafasnya dengan kasar. Bahkan baru saja gadis itu kembali dari antrian panjang di kantin, sekarang di minta untuk mengantri sekali lagi.
"Tapi, Ma..." Raut wajah Nayla menunjukkan penolakan atas permintaan ibunya.
"Please." Mohon Bu Diana.
"Huft." Nayla menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Iya, iya." Akhirnya garis itu pun beranjak dan keluar kamar.
"Bentar, Nay mau ke toilet dulu." Nayla meletakkan tas selempang kecilnya di atas meja, dan beranjak ke kamar mandi.
"Mamaaa.... Kak Ramaaa...." Pekiknya.
"Nayla, pelankan suara kamu. Hasna butuh ketenangan." Peringat Rama. Laki-laki itu beranjak menghampiri adik perempuannya. Begitu pula Bu Diana.
Pandangan Nayla bahkan tak beralih sama sekali pada Hasna.
"Ada apa sih, Nay? Kebiasaan deh kamu." Tegur Bu Diana.
"I...itu..." Nayla menunjuk ke arah Hasna. Semuanya fokus pada perempuan yang tengah berbaring itu.
Hasna mulai menunjukkan reaksi. Jari tangan kanannya mulai menunjukkan pergerakan.
"Hasna? Sayang?" Rama segera mendekat pada ranjang istrinya.
__ADS_1
Perlahan kelopak mata itu bergerak. Dengan cepat Rama menekan tombol yang ada di sebelah ranjang Hasna.
***