Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 160


__ADS_3

Salah satu hal yang selalu Rama tunggu adalah ketika menemani Hasna kontrol kandungan. Karena ia bisa melihat wajah sang buah hati walaupun sebatas gambar hitam putih. Juga mendengarkan detak jantung yang berirama dan selalu membuatnya terharu.


"Posisi janinnya sudah bagus. Kepala sudah di bawah dan mulai turun. Bu Hasna bisa banyakin gerak seperti mengepel lantai dengan jongkok agar bayi segera masuk panggul. Selain itu, bisa membantu membuka jalan lahir yang ada di panggul juga." Ucap dokter.


"Selain mengepel, Dok?" Rama sepertinya keberatan saat dokter menyarankan agar Hasna mengepel lantai. Rumahnya cukup besar, dan ia tidak setega itu membiarkan istrinya mengepel dengan jongkok seperti saran dokter, walaupun bagus menjelang persalinan.


"Sujud. Banyakin sujud juga sangat dianjurkan untuk wanita hamil. Karena gerakan sujud bisa melatih otot dasar panggul dan membuatnya semakin rileks." Papar Dokter. Kalau saran yang ini Rama sangat setuju, karena sudah biasa Hasna lakukan. Dan bukan pekerjaan fisik yang berat seperti mengepel lantai.


"Lamain juga sujudnya. Karena bisa membantu memperkuat kaki dan pinggul lebih lentur. Selain itu bisa membenarkan posisi bayi yang akan di lahirkan, juga melatih pernapasan saat melahirkan." Jelas Dokter.


"Satu lagi, sering-seringlah berhubungan suami istri menjelang persalinan." Saran Dokter yang satu ini membuat keduanya saling berpandangan seolah banyak pertanyaan yang memenuhi kepala mereka.


"Maksudnya, Dok?" Tanya Rama.


"Ya, sering-seringlah Pak Rama dan Bu Hasna melakukan hubungan suami istri. Karena bisa membantu proses persalinannya nanti." Ucap Dokter.


"Tapi, Dok, apa tidak berbahaya?" Tanya Rama.


"Tidak sama sekali, justru sangat dianjurkan." Ucap Dokter dengan tersenyum hangat.


"Melakukan hubungan suami istri menjelang persalinan sangat dianjurkan, karena dapat membantu kontraksi secara alami. Akan tetapi perlu diperhatikan juga, jika hubungan intim pada usia kehamilan tua tetap harus dilakukan dengan hati-hati. Tidak boleh di samakan seperti saat membuatnya." Dokter perempuan itu kembali tersenyum, membuat Rama dan Hasna kembali saling berpandangan.


"Dulu waktu mengusahakan, pastinya Pak Rama semangat 45, bukan? Nah, kalau usia kehamilan tua seperti saat ini, harus di lakukan dengan pelan-pelan dan penuh kelembutan. Agar ibu juga merasakan rileks dan nyaman. Apalagi perut yang semakin besar, pastinya sering merasa tidak nyaman, bukan?" Kalau ini Hasna setuju, setiap kali ia akan tidur, ia pasti kesulitan mencari posisi yang nyaman dengan perutnya yang semakin besar.


"Kalau saya perhatikan, pasti bapak dan ibu melewatkannya?" Tebak Dokter. Karena saat Dokter menjelaskan, baik Rama maupun Hasna terlihat bingung.


"Iya, Dok. Jujur saja, saya merasa khawatir jika melakukannya. Apalagi perut istri saya semakin besar. Saya takut menyakiti keduanya." Aku Rama.


"Rata-rata, jika pasangan yang menantikan kelahiran buah hati pertamanya selalu berpikiran demikian. Dengan alasan yang sama pula, takut menyakiti, khawatir pendarahan dan sebagainya. Padahal, sangat dianjurkan. Tapi, dengan catatan semuanya harus dengan berhati-hati. Yang terpenting sama-sama merasakan kepuasan juga."


Pipi Hasna serasa panas mendengar penjelasan Dokter. Meskipun sama-sama perempuan, tapi Hasna rasa pembicaraan mereka terlalu intim.


"Masih ada waktu sekitar tiga minggu menjelang persalinan, bisa sering-sering dipraktekkan. Nanti setelah lahiran kan, Pak Rama harus puasa selama kurang lebih empat puluh hari." Lanjut Dokter. Mendengar puasa selama empat puluh hari membuat rama membolakan matanya.


"Empat puluh hari, Dok?" Tanya Rama memastikan.


"Iya, masa nifas terjadi dalam rentang waktu empat puluh sampai enam puluh hari. Dan selama itu pula, tidak dianjurkan untuk melakukan suami istri. Karena selama masa nifas, seorang ibu sedang melakukan pemulihan rahim juga jalan lahir pasca persalinan." Ucap Dokter.


Rama sampai menahan nafas, karena rasa terkejutnya. Bukan karena masalah ia tidak bisa menghabiskan malam bersama sang istri, karena ia pun paham jika selama haid juga nifas, tidak diperbolehkan melakukan hal demikian karena agama pun melarangnya. Tapi menahan untuk tidak menyentuh Hasna selama empat puluh hari? Ia tidak tahu jika akan selama itu. Selama kehamilan sang istri saja ia mati-matian menahannya. Berharap setelah persalinan ia bisa lebih leluasa. Tapi kalau harus di minta untuk menunggu selama itu, lebih baik ia menuruti saran Dokter. Mumpung masih ada waktu tiga minggu lagi.

__ADS_1


***


"Sepertinya tidak ada salahnya mengikuti saran dari Dokter." Ucap Rama saat keduanya masih berada di ruang farmasi untuk menebus vitamin.


"Saran? Oh, banyakin ngepel lantai, sama sujud?" Ucap Hasna. Perempuan itu ingat apa yang dokter sarankan kepadanya.


"Bukan. Selain itu." Hasna mengerutkan keningnya, mencoba mengingat saran Dokter selain yang disebutkannya barusan.


"Making love, Sayang." Bisik Rama tepat di telinga Hasna.


Kedua mata Hasna membulat sempurna. Kenapa tiba-tiba bulu-bulu halusnya meremang mendengar kalimat yang Rama ucapkan?


"Gimana?" Hasna tertunduk dengan wajah yang merona.


"Mulai nanti malam, bisa kan, Sayang?"


Satu cubitan Hasna hadiahkan di pinggang Rama.


"Mas, ini tempat umum loh." Lirihnya, dengan mata yang menatap sekeliling dengan awas, seolah memastikan jika tidak ada yang mendengarkan percakapan mereka.


"Kenapa emangnya? Memang orang-orang tahu apa yang sedang kita bicarakan?" Ucap Rama cuek.


"Mau, kan?" Rama menaik turunkan alisnya.


"Maaasss..."


"Jangan merengek seperti itu, nanti mereka tahu." Ucap Rama yang membuat Hasna mengerucutkan bibirnya.


Drrrtt... drrrtt... drrrtt...


Rama merogoh ponsel di saku celananya. Satu panggilan masuk dari Pak Darmawan, pengacara pribadinya.


"Sebentar ya, Sayang. Aku angkat telepon dulu." Ucap Rama, lantas menjauh dari Hasna.


Hasna hanya memperhatikan sang suami yang tengah menelepon, entah dengan siapa sampai ia menjauh darinya. Jika hanya masalah pekerjaan, Rama pasti akan menerima telepon dan berbicara walau berada di dekatnya.


***


Hasna mencari keberadaan Rama yang tadinya menerima telepon tak jauh darinya. Ia mencari di tempat semula, tapi tak menemukan sang suami di sana. Hasna pun keluar dan memindai sekeliling di luar ruang farmasi, dan menemukan Rama berdiri tak jauh dari sana.

__ADS_1


Hasna menghampiri Rama dengan langkah perlahan. Samar-samar ia mendengar percakapan suaminya via telepon walau hanya sepihak. Entah dari siapa.


"Baiklah, saya akan datang di persidangan Marissa besok lusa. Tolong kirimkan saja jadwalnya." Ucap Rama.


Klotak


Sekantong vitamin yang baru saja Hasna tebus terjatuh dari genggaman saat mendengar ucapan Rama. Dengan jelas ia mendengar saat suaminya itu mengatakan akan datang di persidangan Marissa. Apa itu artinya perempuan itu berada di penjara? Karena apa? Lalu apa hubungannya dengan Rama?


Dengan tangan bergetar Hasna meraih pundak Rama yang tengah berdiri membelakanginya.


"Baiklah, Pak Darma, pastikan saja supaya_"


"Mas?" Panggil Hasna.


Rama menoleh ke belakang sebelum meneruskan ucapannya. Betapa terkejutnya saat mendapati sang istri tengah berdiri tepat di belakangnya.


"Ee...Pak Darma, nanti saya hubungi lagi." Rama memutuskan sambungan teleponnya dan tersenyum kepada sang istri.


"Vitaminnya, sudah?" Tanya Rama dengan senyuman yang tersemat di bibirnya.


"Persidangan Marissa besok lusa. Apa maksudnya, Mas?" Bahkan Hasna tak menjawab pertanyaan yang Rama ajukan.


Rama menghirup nafas panjang mendengar ucapan Hasna. Rupanya istrinya itu mendengarkan percakapannya dengan Pak Darmawan. Laki-laki itu kembali mengulas senyuman, berusaha tetap tenang di hadapan sang istri.


"Sebaiknya kita pulang." Rama berusaha mengalihkan fokus istrinya.


"Jawab aku, Mas. Apa maksud dari persidangan Marissa?" Hasna menekan semua perkataannya, seolah menuntut jawaban dari Rama.


Rama melihat kantong plastik berisikan botol vitamin di dekat kaki Hasna. Pasti itu milik istrinya yang tak sengaja terjatuh saat perempuan itu mendengarkan ucapannya melalui sambungan telepon. Rama pun mengambilnya.


"Sebaiknya kita pulang, kamu butuh istirahat." Rama mengusap lembut pipi Hasna. Namun pemilik mata teduh itu tak sedikitpun mengalihkan pandangannya.


"Mas, jawab aku." Ucap Hasna penuh penekanan.


Rama membuang pandangannya ke sembarang arah. Sepertinya Hasna tidak akan bisa dialihkan pikirannya.


"Sebaiknya kita bicarakan ini di rumah." Ucap Rama selembut mungkin. Berharap ia pun bisa mengendalikan dirinya.


***

__ADS_1


__ADS_2