Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 65


__ADS_3

Sesuai janjinya semalam, Hasna membantu Rama untuk mencukur jambang yang membuatnya di bully Papa dan Mama semalam. Hasna mengoleskan krim sebelum mencukur bulu-bulu halus itu. Sentuhan itu membuat Rama memejamkan matanya.


"Apa jarak usia kita terlalu jauh sebagai pasangan?" Hasna menghentikan gerakan tangannya.


Mata itu kembali terbuka. Rama menatap wajah cantik di hadapannya kini. Hasna memang cantik alami. Wajahnya yang imut membuatnya terlihat beberapa tahun lebih muda, bahkan jika seandainya ia memakai seragam sekolah, masih pantas-pantas saja.


"Mas Rama kenapa sih, kok jadi sensi amat?" Hasna kembali meratakan krim di sekitar pipi suaminya.


Rama membuang nafas kasar. Bagaimana dirinya tidak merasa sensi, jika yang mengatakan itu adalah orang tuanya. Dimana-mana yang namanya anak pasti akan terlihat cantik dan tampan di mata orang tuanya.


"Kok tiba-tiba aku jadi insecure gini sama kamu." Lirihnya.


Hasna membuang nafasnya kasar. Kenapa Rama tiba-tiba jadi tidak percaya diri begini?


"Kamu malu nggak kalau aku ajakin jalan?" Tanya Rama lagi.


"Enggak. Kenapa harus malu?" Hasna menautkan ke dua alisnya.


"Kamu terlihat masih seperti abege. Papa benar, walaupun kamu setahun lebih tua dari Nayla, tapi kamu terlihat lebih muda dari usia kamu." Ucap Rama.


"Trus, Mas Rama malu nggak jalan sama aku?" Hasna mengembalikan pertanyaan itu pada Rama.


"Enggak lah." Jawabnya cepat.


"Berarti sama dong, aku juga nggak perlu malu kalau jalan sama Mas Rama." Kata Hasna.


"Itu beda, Hasna. Aku jalan sama kamu nggak bakalan malu, soalnya kamu masih muda, cantik lagi." Dengus Rama.


"Ya apa bedanya sama aku?"


"Ya jelas beda lah, kamu cantik, masih muda, sedangkan aku?"


Hmmm rupanya suaminya kini tengah merajuk. Hasna harus mencari kata-kata yang pas untuk bicara dengan Rama. Jangan sampai nanti ucapannya memperparah situasi.


"Mas, kamu tau nggak, kriteria mencari pasangan menurut agama kita?" Tanya Hasna. Rama tak menjawab tapi tetap memperhatikan istrinya.


"Ada empat kriteria. Yang pertama lihatlah parasnya. Kedua, lihat hartanya. Ketiga, lihat nasab atau garis keturunannya. Dan keempat, lihat agamanya." Rama membuang nafas kasar saat Hasna menyebutkan kriteria pertama ada pada wajah. Jika seandainya yang pertama adalah harta, maka dia bisa bernafas lega.


Hasna mengamati perubahan di wajah suaminya. Lantas perempuan itu tersenyum.


"Jadi maksudnya gini, saat kita merasa cocok dengan seseorang, pasti kita lihat parasnya. Apakah cantik, tampan, atau justru jelek? Karena siapapun yang akan menjadi pasangan kita, harus bisa menyejukkan mata saat memandangnya. Tapi, itu tidak bisa dijadikan patokan utama, karena kecantikan atau ketampanan akan memudar termakan usia." Rama mulai mencerna perkataan istrinya.


"Saat kriteria pertama tidak bisa dijadikan patokan, maka kita lihat kriteria kedua, yaitu hartanya. Kita hidup di dunia ini perlu bekal harta, jadi sebisa mungkin kita cari pasangan yang bisa memberikan kita kecukupan materi. Pasti kita tidak mau dong jika kita hidup kekurangan? Tapi, itu juga tidak bisa kita jadikan patokan. Karena harta hanya titipan dari Allah. Harta itu akan menjadi berkah jika bisa kita belanjakan dalam hal kebajikan, dan bisa mendatangkan bencana jika kita tidak bijak menggunakannya." Rama masih diam menyimak ucapan Hasna.


"Saat kedua kriteria tadi tidak bisa menjadi landasan utama, kita masih punya opsi ketiga, garis keturunannya. Pastinya kita punya harapan besar jika pasangan kita nantinya akan memiliki nasab yang jelas, nasab yang baik. Sehingga bisa mengangkat derajat dan kehormatan kita kelak dan tentunya akan memperoleh keturunan yang baik pula. Tapi, tidak semua keturunan orang Sholih akan ikut menjadi Sholih. Contohnya putra nabi Nuh, beliau salah seorang nabi yang taat pada Tuhannya, tapi putra beliau begitu durhaka. Bukan hanya kepada ayahnya, tapi juga kepada Tuhannya."


"Dan opsi terakhir, agamanya. Jika kita memilih pasangan berdasarkan agamanya, ketakwaannya, keimanannya, Insyaallah kebaikan dunia akhirat ada dalam genggaman kita. Dengan pasangan yang memiliki keimanan dan ketaqwaan, kita akan saling mengingatkan dalam kebajikan."


"Jadi, dari keempat kriteria tadi maka yang harus kita jadikan patokan adalah agamanya. Jika seandainya kita mendapatkan pasangan yang baik agamanya, cantik atau tampan, kaya, juga baik keturunannya. Maka tiga yang terakhir setelah agama merupakan bonus buat kita." Hasna tersenyum manis.


"Berarti aku termasuk laki-laki yang sangat beruntung." Ucap Rama menatap wajah teduh istrinya.


"Aku beruntung karena aku memperistri perempuan yang baik agamanya, cantik parasnya, hartanya..." Rama mengangkat kedua bahunya.


"Juga aku sangat yakin jika berasal dari keturunan orang yang Sholih." Rama mengusap lembut pipi Hasna dengan punggung tangannya. Pipi perempuan itu bersemu merah.


Berhasil, sepertinya Rama mulai menghilangkan rasa kesalnya sejak semalam, gara-gara Papa dan Mama mertuanya.


"Jadi kesimpulannya, ganteng ataupun cantik itu relatif. Nggak perlu kita nunjukin sama semua orang kecantikan juga ketampanan kita serta kehebohannya. Banyak perempuan cantik di luaran sana, bahkan lebih cantik dari aku. Tapi buktinya Mas Rama mau meneruskan pernikahan ini, bukan? Padahal Mas Rama bisa dengan mudah melepaskan aku waktu itu, apalagi pernikahan kita statusnya masih siri."


"Itu dulu, sekarang pernikahan kita udah sah di mata hukum." Sahut Rama.


"Iya aku tau. Maksud aku kecantikan perempuan di luar sana jauh di atas aku. Apalagi circle pertemanan kamu, jelas banyak dong perempuan cantiknya. Pakaian seksinya, dandanannya, ya...pokoknya memanjakan mata lah." Hasna mengamati ekspresi Rama sejenak.


"Coba bandingin sama aku, pasti nggak akan ada apa-apanya. Mas Rama tau sendiri kan kalau aku perempuan yang jarang dandan, bahkan hampir tidak pernah. Karena aku memang nggak bisa sih." Kekehnya.


"Dan itu harusnya bikin Mas Rama malu kalau jalan sama aku. Secara karyawan perempuan Mas Rama selalu berpakaian rapi, wangi, berpenampilan sempurna dari ujung kaki sampai ujung rambut. Sedangkan aku, baju yang aku pakai kebanyakan model simpel, baju rumahan, kerudung juga kebanyakan polos. Sepatu juga flat, bukan hak tinggi seperti mereka. Tapi buktinya, Mas Rama masih mau jalan sama aku." Perempuan itu tertawa kecil.

__ADS_1


"Karena bagi aku, kamu perempuan yang cantik." Lirih Rama, senyuman terbit di kedua sudut bibirnya.


"Apa yang membuat Mas Rama mengatakan jika aku cantik?"


"Apa ya?" Rama nampak berpikir.


"Selain wajah." Sahut Hasna.


"Kepribadian kamu, sifat kamu, kelemah lembutan kamu, itu yang membuat kamu terlihat cantik di mata aku." Hasna tersipu mendengarnya.


"Jadi masih banyak yang harus kita lihat untuk menentukan penampilan seseorang. Tergantung dari sudut pandang mana kita menilainya." Ucap perempuan itu lembut.


"Kalau menurut aku, secara visual, Mas Rama itu ganteng, banget malah. Hanya saja_"


"Tua?" Sinis Rama. Mulai sensi lagi sepertinya.


"Dengerin dulu, kebiasaan deh. Mas Rama itu ganteng, hanya saja jarang senyum, makanya kelihatan...tua." Lirih Hasna di ujung kalimatnya. Rama mendengus sebal.


"Coba deh senyum." Pinta Hasna. Rama justru terlihat masam.


"Senyuuum...cheese..." Hasna menarik bibirnya membentuk lengkungan sempurna.


"Mas...senyum." pinta Hasna sekali lagi.


Rama hanya tersenyum sekilas, seperti sedang terpaksa.


"Ya udah kalau nggak mau senyum, aku mau cuci mata dulu sama Nayla." Ucap Hasna.


Perempuan itu akan beranjak, namun Rama segera menariknya Hasna ke pangkuan. Jika menyangkut cuci mata dan Nayla, artinya status sudah mulai siaga satu. Adiknya itu tidak bisa diandalkan kalau masalah cuci mata.


"Maksud kamu apa cuci mata?" Sewot Rama.


"Y...ya...cu...cuci mata." Nyali Hasna menciut melihat tatapan Rama seolah menguliti dirinya hidup-hidup.


"Cuci mata kan biar mata jadi seger. Lihat yang bening-bening." Rama memicingkan mata mendengar penuturan Hasna.


"Coba ulang lagi. Kamu ngomong apa barusan?" Rama mendengar rupanya.


"Cuci mata?"


"Bukan, setelahnya."


"Bening?"


"Setelahnya."


"Apa? Aku nggak ngomong apa-apa." Elak Hasna.


"Bohongin suami, dosa nggak?" Waduh, pakai bawa-bawa status segala. Bikin tidak bisa berkutik saja.


Perlahan Hasna mengangguk.


"Bagus, itu kamu ngerti." Hasna sedikit memaksakan senyumannya.


"Trus, ngomong apa barusan?" Todong Rama.


"Di rumah..."


"Di rumah?" Tuntut Rama.


"Di rumah..." Rama menaikkan sebelah alisnya, menunggu ucapan Hasna selanjutnya.


"Mas Rama senyum dong." Mulai merayu dia. Hasna menangkup kedua pipi Rama yang masih penuh dengan krim cukur.


"Senyuuum..." Pinta hasna dengan suara manja.


Sial sekali, pertahanan Rama akhirnya runtuh juga, gara-gara suara rengekan Hasna yang terdengar manja di telinganya. Rama menarik sudut bibirnya membentuk lengkungan tipis.

__ADS_1


"Lebih lebar Dong, Maass..." Suara Hasna sudah terdengar tak terkontrol di telinganya.


Rama mendekatkan wajahnya, tapi cepat-cepat Hasna bangkit dari pangkuannya.


"Aku bantu beresin ini dulu, ya?" Hasna sudah mencium radar bahaya rupanya.


Gegas ia mengambil alat cukur dan menyelesaikan misinya pagi ini. Sebelum sarapan, Rama harus sudah terlihat "lebih muda".


***


Hari ini Rama akan ke kantor sebelum jam makan siang, ia masih ingin menghabiskan waktu dengan Hasna sebelum ke kantor nantinya.


"Berangkat nanti, dari sini apa kita pulang dulu?" Tanya Hasna saat membantu Rama berpakaian.


Sebenarnya untuk aktivitas ringan Rama sudah diperbolehkan dan mampu. Tapi entah kenapa, ia senang jika diperlukan demikian oleh istrinya. Di bantu melepas dan memakaikan pakaiannya, membuatnya bisa menikmati kecantikan istrinya.


"Dari sini saja. Nanti jam sembilan kamu bantu bersiap." Hasna mengangguk seperti biasa.


Keduanya berjalan beriringan menuruni anak tangga. Nayla, orang pertama yang menyadari penampilan baru sang Kakak.


"Ma." Nayla menunjuk arah tangga dengan isyarat dagunya.


Bu Diana mengikuti arah yang di maksud Nayla. Kedua netranya membulat dengan mulut yang sedikit terbuka.


"Ma, kontrol dikit napa, udah melotot, mangap pula." Lirih Nayla. Bu Diana tersadar dan reflek menepuk punggung Nayla.


"Nggak sopan kamu." Nayla hanya nyengir.


"Selamat pagi, Ma." Sapa Rama.


Rama meraih pinggang Hasna, menariknya lebih mendekat padanya. Dan seperti biasa, perempuan itu selalu terkejut dengan perlakuan tiba-tiba suaminya. Rama hanya ingin menunjukkan pada deterjen di rumahnya, jika ia masih pantas jika di sandingkan dengan Hasna.


"Mas, Mas, boleh minta foto nggak? Eh, udah punya pacar belum?" Goda Nayla.


Tidak menjawab, justru jeweran Rama hadiahkan pada adik tengilnya itu.


"Aww... Aduh...sakit..." Nayla memukul-mukul kecil tangan Rama.


"Oh...jadi gini kelakuan kamu kalau ketemu cowok? Belajar centil rupanya." Ucap Rama.


"Mamaaa... Kak Rama." Rengek Nayla.


"Rama..." Tegur Mama.


"Mas." Ucap Hasna dengan suara yang lembut.


Rama melepaskan tangannya dari telinga Nayla. Gadis itu terlihat menghembuskan nafas lega. Mama menyadari satu hal, jika sekarang kelemahan putranya terletak pada istrinya. Hasna bisa mengendalikan Rama.


***


"Maaf Pak Ivan, apa hari ini Pak Rama tidak ke kantor lagi?" Tanya Marissa.


Pasalnya sedari pagi, dirinya tidak melihat keberadaan Rama. Bahkan hampir seminggu ini. Jika hari ini, Rama tidak ke kantor juga, itu tandanya ia akan menunggu hingga hari Senin.


"Kenapa memangnya?" Tanya Ivan.


"E...tidak, hanya saja saya...saya mau menyerahkan laporan pada beliau." Marissa mencoba memberikan alasan.


"Laporan?" Ivan menautkan kedua alisnya.


"I...iya, laporan yang waktu pak Ivan menemani Pak Rama keluar kota beberapa waktu lalu." Sepertinya itu alasan yang tepat.


"Oh...sini sama saya saja. Nanti akan saya sampaikan pada beliau." Pinta Ivan.


Kalau Ivan memintanya, maka besar kemungkinan ia tidak bisa bertemu dengan Rama. Tidak, Marissa tidak bisa membiarkannya. Ia harus bisa mendekati Rama bagaimanapun caranya.


***

__ADS_1


__ADS_2