
Hasna menggeliat, serasa ada yang mengusik tidurnya. Merasakan hawa dingin menjalari kedua pipinya. Perlahan ia membuka matanya. Raut tampan dengan seulas senyuman menyambut Hasna yang baru terjaga. Kedua tangannya menangkup pipi istrinya. Rama, laki-laki itu tersenyum menatap wajah cantik istrinya.
"Sebentar lagi shubuh. Mandi dulu gih." Ucapnya lembut. Diusapnya surai hitam yang sedikit berantakan itu.
Hasna memposisikan dirinya untuk duduk. Tapi ada sesuatu yang membuatnya merasa tidak nyaman. Hasna sedikit mendesis dan mengerutkan keningnya saat merasakan rasa ngilu yang bercampur dengan perih.
"Kenapa? Masih sakit ya?" Tanya Rama lembut.
"Sedikit, tapi nggak apa-apa. Ntar juga baikan." Jawab Hasna. Perempuan itu duduk dengan rasa yang tidak nyaman.
"Mau aku bantu?" Tawar Rama. Biasanya Hasna lah yang menawarkan bantuan untuk dirinya.
"Aku sudah menyiapkan air untuk kamu mandi. Berendamlah, agar kamu merasa rileks."
Kedua pipi Hasna merona. Seketika ia mengingat momen antara dirinya dengan Rama semalam. Bagaimana perlakuan Rama, sentuhannya, juga kata-kata manis yang suaminya bisikkan semalam. Masih dapat ia ingat dengan jelas. Kini ia telah menjadi seorang istri seutuhnya bagi sang suami.
Hasna merapatkan selimut yang menutupi tubuhnya. Perlahan ia menurunkan kakinya. Namun rasa tidak nyaman itu kembali datang. Hasna meringis menahan nyeri di bawah sana.
"Maafkan aku." Rama merasa bersalah seolah telah menyakiti istrinya.
Laki-laki itu kembali mengangkat tubuh istrinya. Membawanya ke kamar mandi dan diturunkan perlahan di bathtub yang telah terisi penuh dengan air juga sabun aromaterapi. Hanya menciumnya sudah membuat Hasna merasa rileks.
Rama menarik lilitan selimut yang di genggam erat oleh Hasna. Membuat perempuan itu sedikit terkejut dan mendongakkan wajahnya pada sang suami.
"Kenapa ditarik?" Protes Hasna.
"Kamu mau mandi dengan memakai selimut setebal itu?" Tanya Rama. Hasna menggeleng.
"Mas Rama keluar dulu. Aku mau mandi." Ucap Hasna.
"Kenapa harus keluar? Aku mau membantu kamu mandi. Biar cepet, bentar lagi adzan." Kilah Rama.
"Nggak mau ah, aku malu." Hasna menundukkan wajahnya.
"Kenapa harus malu? Aku sudah melihat semuanya semalam. Bahkan aku sudah merasakan di setiap inchinya." Ucap Rama dengan nada yang sensual.
Hasna memukul lengan Rama. Kenapa harus membahas hal itu lagi. Bikin salah tingkah saja.
"Udah pergi dulu, aku mau mandi. Keburu adzan loh." Hasna mendorong pelan lengan Rama.
"Oke, iya, aku keluar."
Rama pun akhirnya keluar. Rama menyiapkan tempat mereka untuk sholat. Sambil menunggu adzan dan istrinya selesai mandi, Rama mengambil ponselnya di atas nakas.
Rama tertegun saat mendapati seprei di tempat Hasna tidur meninggalkan bercak merah seperti darah. Senyuman terbit di wajah tampannya, saat mengingat kejadian semalam.
Tak lama kemudian terdengar pintu kamar mandi yang terbuka. Hasna nampak lebih segar. Kenapa perempuan itu terlihat begitu memikat saat hanya mengenakan bathrobe juga handuk yang melilit rambut basahnya.
"Mas Rama udah ambil wudhu?" Tanya Hasna.
__ADS_1
Tak menjawab, justru lelaki itu mendekat ke arahnya. Rama membelai pipi Hasna yang terasa dingin dengan punggung tangannya. Manik pekat itu tertuju pada bibir ceri sang istri.
"Mas, wudhuku jadi batal, kan." Cicit Hasna.
"Mas?" Hasna mundur selangkah.
"Kamu cantik sekali, Sayang." Lirih Rama. Pipi Hasna merona saat Rama memanggilnya dengan sebutan Sayang.
"Mas sudah adzan loh."
Hasna segera berbalik dan kembali masuk ke kamar mandi untuk mengulang wudhunya. Adzan sudah berkumandang jangan sampai ia ikut terbuai cumbuan suaminya. Jika tidak, shubuhnya akan terlewat nanti.
***
Ivan mendengus kesal saat menerima telepon dari atasannya pagi-pagi buta. Rama mengatakan tidak akan ke kantor hari ini. Bosnya bilang jika ada masalah yang urgent dan harus segera diselesaikannya. Entah apa itu, yang jelas, Rama sudah mengganggu waktu istirahatnya.
Mau tidak mau ia harus berangkat lebih pagi, mengingat sekretaris Rama masih dalam masa cuti.
"Pagi, Pak Ivan." Sapa seorang pegawai di lobi.
"Pagi, Vita." Balas Ivan.
"Pak Ivan, maaf. Ada titipan untuk Pak Rama dari mbak Marissa." Vita menyerahkan sebuah amplop coklat kepada Ivan.
"Apa ini?" Ivan membolak-balikkan amplop di tangannya.
"Saya juga kurang tau, Pak. Mbak Marissa tidak mengatakan apapun tentang amplop itu. Hanya bilang suruh sampaikan pada Pak Rama, setelah itu Mbak Marissa langsung pergi." Ucap Vita.
Ivan membawa amplop itu bersamanya. Meletakkannya di meja ruang kerja Rama. Ivan merasa ada yang aneh dengan Marissa. Rekannya itu mengajukan cuti dadakan. Lalu menitipkan amplop yang entah apa isinya untuk di serahkan kepada Rama. Padahal ia bisa menyerahkan secara langsung, bukan?
***
Kafe atau tempat makan di jam makan siang seperti ini selalu terlihat penuh. Banyak pekerja menghabiskan jam makan siangnya di luar untuk sekedar melepas penat dengan tumpukan pekerjaan.
Seorang perempuan berambut sebahu tengah menghubungi seseorang via telepon.
"Gue udah nyampek, mau di pesenin sekalian?" Ucap perempuan itu.
"Boleh, lima belas menit lagi gue nyampek. Biar langsung bisa makan, laper banget gue." Jawab seseorang dari seberang sana.
"Oke, take care." Sambungan pun terputus.
Hampir dua puluh menit, menu yang di pesan akhirnya datang juga.
"Silahkan, selamat menikmati." Ucap pramusaji.
"Makasih."
Sekali lagi, perempuan itu melirik jam di ponselnya, sudah lebih dari waktu yang dijanjikan, namun yang di tunggu tak kunjung datang. Perempuan itu mengedarkan pandangannya, menyapu sekeliling restoran. Namun yang di cari tak kunjung menampakkan diri.
__ADS_1
Satu tepukan di bahu, membuat perempuan itu menoleh.
"Sorry, telat." Ucap laki-laki itu
Tomi, laki-laki itu membuat janji bertemu dengan Siska. Keduanya mencoba mencari jalan keluar untuk masalah Marissa. Terutama masalah bayi dalam kandungannya.
"Duduk dulu, deh. Kita makan, sambil ngobrol santai." Ucap Siska. Tomi mengambil posisi berhadapan dengan Siska.
"Masih inget aja lo, makanan kesukaan gue." Ucap Tomi saat melihat makanan yang tersaji di hadapannya.
"Basi lo, makan dulu gih."
Keduanya menikmati makan siang mereka. Perut sudah cukup lapar dan sudah saatnya untuk diisi.
"Gue udah menyelidiki siapa Bos Marissa." Ucap Tomi disela suapannya.
"Trus?"
"Namanya Rama Suryanata. Dia laki-laki lajang." Siska menganggukkan kepalanya.
"Orang suruhan gue pernah ngeliat Marissa juga Rama masuk ke sebuah hotel. Awalnya mereka di restoran hotel, tapi tiba-tiba saja Rama tidak sadarkan diri, dan...dibawa ke kamar yang sudah di booking sebelumnya. Gue nggak tau, apa yang udah Marissa lakuin di dalam sana. Tapi gue yakin kalau ini adalah salah satu upaya Marissa mendapatkan Rama. Dengan cara menjebaknya." Ucap Tomi panjang lebar.
Siska menelan makanan yang tersisa di mulutnya, lalu membasahi tenggorokan yang terasa sulit untuk menelan makanan.
"Gila, gue nggak nyangka kalau Marissa bisa senekat itu." Siska menggelengkan kepalanya.
Perempuan itu tidak habis pikir dengan apa yang sahabatnya lakukan. Hanya demi mendapatkan laki-laki yang di incarnya, Marissa sungguh nekat melakukan hal yang menjatuhkan harga dirinya.
"Trus, gimana dong? Gue rasa kalau udah kayak gini, mau tidak mau Rama pasti mengikuti alur permainan Marissa. Jujur, gue kasihan banget sama si Rama." Siska menatap lurus laki-laki di hadapannya itu.
"Kalau seandainya, dia memiliki hubungan dengan seorang perempuan, kekasih misalnya, lalu bagaimana perasaan perempuan itu? Nyesek sendiri gue mikirinnya." Tiba-tiba saja selera makan Siska menghilang, padahal sebelumnya perutnya terasa keroncongan.
"Tapi menurut informasi, Rama masih single. Dan dia tidak memiliki hubungan apapun dengan perempuan manapun. Itu yang bikin gue sedikit lega. Setidaknya Marissa mendapatkan laki-laki yang tidak memiliki ikatan." Ucap Tomi. Siska menautkan kedua alisnya. Sepertinya perempuan itu tidaklah setuju dengan ucapan Tomi.
"Bagaimanapun status Rama, laki-laki itu tidak pantas menanggung sesuatu yang tidak pernah ia lakukan. Ini nggak adil namanya. Rama juga berhak bahagia dengan perempuan yang dicintainya." Sungut Siska.
"Emang kedengarannya ini nggak adil buat Rama. Tapi nyawa janin dalam kandungan Marissa jauh lebih penting. Setidaknya, Marissa tidak akan berbuat nekat untuk menggugurkan calon anak gue." Ucap Tomi. Raut wajah yang putus asa ditunjukkannya.
Bagaimana tidak? Tomi sudah bersedia merawat dan membesarkan janin dalam kandungan Marissa saat lahir nanti seorang diri. Bahkan ia tidak akan memaksa Marissa agar mau menikah dengannya, karena pada kenyataannya perempuan itu tidak mengharapkan dirinya.
"Anak itu berhak hidup. Dia nggak berdosa. Jangan karena kesalahan yang gue dan Marissa lakuin, anak yang tidak berdosa menanggung akibatnya." Raut wajah Tomi berubah sendu.
Siska menghirup nafas panjang. Apa yang dikatakan Tomi memang benar adanya. Anak dalam kandungan Marissa berhak mendapatkan kehidupan yang layak. Ia hadir dari kesalahan orang tuanya. Tidak adil baginya jika ia ikut menanggung dosa yang dilakukan kedua orang tuanya juga. Anak itu tidak pernah memilih di rahim siapa ia dititipkan. Di rahim perempuan yang penuh kasih sayangkah, atau justru di rahim perempuan yang penuh dengan keegoisan seperti halnya Marissa.
"Ya, semoga saja akan ada keajaiban, supaya masalah ini Segera menemukan titik terang. Jangan sampai ada orang lain yang ikut terseret lagi nantinya." Ucap Siska penuh harap.
Semoga akan ada hal yang dapat membuat Marissa mengurungkan niatnya. Siska harap Marissa bisa menerima Tomi. Laki-laki itu adalah ayah biologis anak dalam kandungannya. Agar Rama tidak perlu mempertanggung jawabkan perbuatan yang tidak pernah dilakukannya.
Semoga saja Marissa cepat menyadari kesalahannya. Dan melupakan ambisinya untuk mendapatkan pengakuan Rama untuk anak dalam kandungannya.
__ADS_1
***