
Kedua tangan Marissa saling meremas dalam tautan. Bahkan keringat dingin menjalari seluruh tubuhnya. Marissa lebih memilih membuang pandangannya ke sembarang arah, tidak seperti beberapa menit yang lalu, pandangannya hanya fokus kepada Rama.
"Bagaimana menurut kamu, nama apa yang pantas saya berikan untuk calon anak, yang konon katanya anak saya? Apa kamu ada ide?" Ucap Rama santai. Mengejek lebih tepatnya.
"Mommy?" Rama tersenyum sinis.
"Manis sekali. Bahkan kamu sudah menyiapkan panggilan semanis itu."
Marissa seakan tidak memiliki nyali sama sekali. Berbanding terbalik dengan beberapa saat yang lalu. Bahkan dengan lantangnya ia meneriakkan jika anak dalam kandungannya adalah darah daging Rama.
"Sangat saya sayangkan sikap kamu yang seperti ini Marissa. Saya mengenal kamu sebagai seorang perempuan yang cerdas. Tapi tindakan kamu kali ini, tidak mencerminkan kecerdasanmu sama sekali."
"Saya tidak tau apa yang kamu pikirkan sebelum meminta pertanggung jawaban dari saya. Saya_"
"Karena aku mencintai kamu, Rama." Tukas Marissa setengah berteriak.
Rama menggelengkan kepalanya. Bibirnya menyunggingkan senyuman remeh.
"Aku mencintai kamu sejak awal aku bekerja di sini. Aku berusaha profesional saat bekerja, agar aku mendapatkan posisi sekretaris pribadi kamu. Aku ingin selalu dekat dengan kamu. Aku ingin menjadi bagian dari hidup kamu. Aku ingin selamanya sama kamu." Ucap Marissa lantang, bahkan kini wajahnya kembali basah oleh air mata.
"Itu bukan cinta Marissa, itu obsesi." Ucap Rama.
"Ya, aku terobsesi sama kamu. Aku ingin memiliki kamu selamanya. Aku_"
"Memiliki seseorang dengan cara yang begitu murahan? Bahkan kamu mengorbankan harga dirimu untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan." Sahut Rama.
"Aku melakukan ini semua demi kamu." Teriak Marissa.
"Demi saya? Keuntungan apa yang akan saya dapatkan? Bahkan kamu telah berusaha untuk menghancurkan pernikahan saya." Marissa menatap Rama dengan penuh tanya.
Pernikahan? Pernikahan apa maksud Rama? Bahkan status Rama masih sama, single. Lalu pernikahan yang mana yang Rama maksudkan?
"Pernikahan?" Marissa memastikan jika pendengarannya salah.
"Ya, kamu telah membuat istri saya salah paham dengan kejadian ini. Kamu akan menjadi penyebab kehancuran pernikahan kami. Dan sebelum itu terjadi, lebih baik kamu pergi. Jangan sampai hal buruk menimpa anak dalam kandungan kamu, karena keegoisan ibunya."
Marissa menggelengkan kepalanya seolah tidak percaya dengan kata-kata Rama. Pernikahan. Istri. Bahkan lebih dari setengah hari mereka menghabiskan waktu bersama di kantor. Sangat tidak mungkin jika Rama menikah ia tidak mengetahuinya.
"Saya sarankan, agar kamu memberi tahu ayah biologis dari anak dalam kandungan kamu. Dia lebih berhak mengakuinya dibanding saya."
"Dia sudah mati." Teriaknya histeris.
Benarkah demikian? Jadi Marissa mencarinya hanya untuk menutupi aibnya dengan seseorang yang telah tiada. Sungguh picik sekali pikiran perempuan itu.
"Itu sudah menjadi konsekuensi yang harus kamu tanggung atas perbuatan yang kamu lakukan. Itu pilihan hidup yang kamu pilih. Dan jangan pernah melibatkan saya dalam masalah kamu. Karena saya tidak pernah memiliki perasaan sama kamu. Justru mulai hari di mana saya tersadar di kamar hotel waktu itu, saya sangat membenci kamu. Bahkan seumur hidup, saya tidak mau lagi melihat wajah kamu. Itu akan mengingatkan saya dengan kejadian yang membuat harga diri saya sebagai seorang suami ternodai." Rama sedikit merasa lega telah mengatakan apa yang selama hampir satu bulan ini mengganggu pikirannya.
"Jadi saya mohon dengan baik-baik, kamu segera angkat kaki dari hadapan saya. Sebelum saya bertindak di luar batas kesabaran saya." Ucap Rama penuh penekanan.
Marissa tetap pada posisinya, bahkan tak berniat untuk pergi dari hadapan Rama. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini.
"Saya minta kamu keluar sekarang juga, keluar!!!" Dengan begitu lantangnya Rama mengusir perempuan itu. Bahkan kedua matanya memerah menahan luapan emosi yang menguasai dirinya.
Sudah hilang rasa simpatinya terhadap perempuan seperti Marissa. Jika dibiarkan, akan menjadikan duri dalam pernikahannya bersama Hasna.
***
Bruk
Ivan sedikit terhuyung ke belakang, saat ada seseorang yang menabrak dirinya dengan cukup keras.
"Maaf."
"Marissa?"
Dua kali Ivan bertemu dengan perempuan yang keluar dari kantor dengan mata yang basah. Tadi Hasna, sekarang Marissa. Ada apa dengan mereka berdua? Apa jangan-jangan ada hubungannya dengan Rama? Apa kedua perempuan itu tengah memperebutkan Bosnya? Kalau Marissa, masih ada kemungkinan. Tapi kalau Hasna, apa mungkin, mengingat mereka masih ada hubungan kerabat?
Ivan hanya menatap kepergian Marissa yang terlihat tergesa. Laki-laki itu kembali melanjutkan niatnya untuk ke ruangannya di lantai tujuh.
Bruk
Asisten muda itu kembali terhuyung ke belakang, manakala seseorang kembali menabrak bahunya cukup keras, saat baru keluar dari lift.
__ADS_1
"Maaf."
"Pak Rama?"
"Ivan maafkan saya."
"Tidak apa-apa, Pak."
"Apa kamu melihat istri saya?" Ivan membolakan matanya dengan sempurna.
Istri? Sejak kapan atasannya itu beristri? Bahkan hampir semua tentang Rama, ia mengetahuinya. Lalu, istri? Apa ada yang terlewatkan tentang Rama yang ia tidak ketahui?
"Istri, Pak?" Ivan memastikan jika pendengarannya tidak terganggu.
"Hasna." Ralat Rama.
Belum tuntas rasa penasarannya tentang istri atasannya itu, justru kini nama perempuan yang ia kagumi menjadi objek pembicaraan mereka.
"Apa kamu lihat Hasna?" Pertanyaan Rama membuatnya kembali mendapatkan kesadarannya.
"Aa...Mbak Hasna ya, Pak?"
"Iya, Hasna. Apa kamu melihatnya?" Terlihat kepanikan yang begitu kentara di wajah Rama.
"Tadi, saya bertemu di parkiran depan, Pak. Lalu Mbak Hasna masuk mobil, dan pergi." Jawab Ivan.
Rama mengusap kasar wajahnya. Lalu beralih menatap Ivan.
"Tolong kosongkan jadwal saya." Setelah mengatakan itu Rama segera menghilang di balik pintu lift.
"I...iya, Pak."
Ivan berjalan menyusuri koridor lantai tujuh dengan langkah gontai. Hari ini benar-benar penuh kejutan baginya. Rama, atasannya itu telah menikah. Entah sejak kapan. Lalu Marissa yang keluar dari kantor dengan penampilan yang cukup berantakan, dengan wajah penuh air mata. Dan Hasna, perempuan yang ia kagumi, tiba-tiba disebut sebagai istri oleh Rama. Benar-benar fakta yang....ah...bahkan ia sendiri bingung untuk menyebutkan istilah yang tepat.
"Ivan?" Ivan menghentikan langkahnya saat mendengar panggilan dari Tania.
"Ya?"
"Mau ke ruangan." Jawab Ivan sekenanya.
"Ruangan?" Ivan mengangguk.
"Ruangan kamu di sebelah sana." Tunjuk Tania. Ivan menepuk keningnya. Kenapa ia menjadi linglung begini.
"Ada apa?" Tanya Tania. Wanita itu melihat sepupunya seperti orang yang nampak kebingungan.
"Hari apa sih sekarang?" Tania mengernyit heran.
"Hari rabu, kenapa? Ada jadwal pak Rama yang kamu lewatkan?" Ivan menggeleng, dan mengambil posisi duduk di hadapan Tania.
"Lalu?"
"Sekarang bukan hari ulang tahunku kan?" Tania menggeleng, ulang tahun Ivan sudah lewat dua bulan yang lalu.
"Hari ini sungguh banyak kejutan."
Ivan menceritakan apa yang ia alami barusan. Seolah masih tidak percaya dengan apa yang ia ketahui beberapa saat lalu.
"Lalu salahnya dimana?"
"Aku bekerja pada Pak Rama sejak perusahaan ini dirintis, dan hal sebesar ini bahkan aku baru mengetahuinya."
"Kenapa kamu memusingkan hal yang bukan menjadi urusan kamu. Itu urusan mereka, cukup kita tahu tanpa harus mencampurinya." Ucap Tania bijak.
"Aku tidak ada urusan dengan masalah Pak Rama. Tapi masalah Mbak Hasna?" Ada nada tidak rela dalam kalimatnya barusan.
"Pak Rama memperkenalkan Mbak Hasna padaku sebagai kerabat jauh Pak Andi. Tapi nyatanya dia istri Pak Rama." Suara Ivan terdengar lesu.
"Jangan bilang kamu ada perasaan sama Mbak Hasna." Terka Tania.
"Perasaan cinta memang belum, masih sebatas rasa mengagumi. Sejak awal pertemuan kami, aku sudah jatuh hati pada Mbak Hasna." Ungkap Ivan, Tania menghirup nafas dalam.
__ADS_1
"Ya, aku akui jika Mbak Hasna pribadi yang menyenangkan. Bahkan dia tadi rela menunggu Pak Rama. Dan dia tidak menyebutkan jika dia istri Pak Rama. Padahal sebagai seorang istri pimpinan, dia berhak loh langsung masuk ruangan suaminya, tapi itu tidak dilakukannya. Bahkan aku menemaninya cukup lama, hingga jam makan siangku terlewat hampir tiga puluh menit." Tania mengingat kejadian beberapa jam yang lalu bersama Hasna.
"Berbeda dengan perempuan yang datang sebelum Mbak Hasna. Eh, sopan nggak sih panggil istrinya atasan dengan sebutan Mbak? Kok kesannya nggak sopan." Tanya Tania.
"Terserah, yang penting nggak dosa." Jawab Ivan acuh.
"Biasa aja kali, sensi amat. Lagi PMS ya, Pak." Reflek Ivan menghadiahkan tatapan tajam pada sepupunya itu.
"Canda kali, Pak. Jadi pengen traktir makan mie ayam yang deket kampus."
"Mau, ntar pulang kantor, ya." Ucap Ivan dengan seulas senyuman.
Hmmm...dasar.
***
Bu Diana tengah merapikan boks-boks berisikan undangan pernikahan Rama. Sebagian sudah dikirim. Dan sebagian lagi akan diambil untuk dikirimkan sesuai alamat penerima.
Wanita paruh baya itu duduk manis di kursi teras sembari menunggu seseorang untuk mengambil boks-boks itu. Bu Diana nampak mengerutkan keningnya saat mobil yang tadi mengantarkan Hasna sudah kembali. Padahal rencananya sampai sore nanti.
"Assalamu'alaikum, Ma."
"Wa'alaikumussalam. Ada apa, Sayang? Kok sudah kembali?" Tanya Mama.
"Eemm...Hasna ada urusan mendadak, Ma. Hasna langsung pamit ya?" Hasna hendak meraih tangan Mama, tapi dering ponsel membuat Hasna mengurungkan niatnya.
"Assalamu'alaikum. Ya, Rama."
Hasna nampak gelisah mendengar nama suaminya di sebut oleh Mama mertua. Tanpa pikir panjang, perempuan itu segera berpamitan walau tanpa mencium punggung tangan Mama terlebih dahulu.
"Ma, Hasna pergi dulu ya." Ucap Hasna. Perempuan itu segera pergi meninggalkan Mama dengan wajah heran.
"Ma, ada Hasna disana?" Tanya Rama tidak sabar, karena tanpa sengaja mendengar suara istrinya dari sambungan telepon.
"Iya, baru aja datang, tapi langsung pamit pergi. Katanya ada urusan penting."
"Cegah Hasna, Ma. Cegah Hasna." Terdengar suara Rama yang panik di telinga Mama.
"Ada apa, Rama?" Mama ikut panik karenanya.
"Cegah Hasna, Ma." Ulang Rama dengan suara sedikit meninggi.
"Pak Hadi tolong hentikan Hasna." Teriak Mama pada sekuriti.
Hanya selisih beberapa detik saja, nona muda Suryanata itu telah pergi dengan menggunakan taksi online.
"Ada apa Rama?" Mama sudah terlihat panik.
"Ceritanya panjang, ini hanya salah paham, Ma."
"Maaf, Bu. Non Hasna sudah pergi." Terdengar suara Pak Hadi, sepertinya habis berlari. Nafasnya terdengar ngos-ngosan.
"Kok bisa?" Tanya Mama.
"Non Hasna keburu naik taksi online, Bu." Jawab Pak Hadi.
"Halo Rama? Rama?"
Sambungan terputus tanpa adanya jawaban. Raut wajah Mama mertua sudah sangat cemas entah apa yang terjadi diantara putra dan menantunya itu. Tapi satu hal yang beliau tangkap dari kedatangan Hasna, perempuan itu dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Bahkan kedua matanya sedikit sembab, dan hidungnya memerah. Sudah dapat dipastikan jika menantunya itu pastilah habis menangis.
Tadi pagi Rama juga Hasna datang dalam keadaan yang baik-baik saja. Bahkan putranya masih bersikap posesif seperti biasa. Lalu apa yang menjadi penyebabnya?
***
"Hasna kamu dimana?" Gumam Rama.
Berkali-kali ia mencoba menelepon istrinya, namun tidak ada jawaban, dan sekarang hapenya mati. Rama mengeram frustasi dengan situasi saat ini.
Tujuan utama Rama saat ini adalah restoran. Semoga saja istrinya benar-benar ada di sana. Segera ia memutar arah agar segera sampai dan tidak kehilangan jejak perempuan yang dicintainya.
***
__ADS_1