Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 113


__ADS_3

Hati Hasna menghangat mendengar apa yang Rama ungkapkan barusan. Perempuan itu berharap, semoga ucapan suaminya menjadikan do'a yang terbaik untuk keluarganya kelak.


"Apa dia sudah berada di sini?" Rama mengusap lembut perut Hasna. Berharap semoga ada keturunan di dalam rahim istrinya.


"Insya Allah, semoga amanah itu segera kita terima." Ucap Hasna.


Rama mengecup lembut kening dan kedua pipi Hasna. Namun saat mengecup hidung mancung itu, ada suara yang mampu membuyarkan kegiatan mereka. Membuat Rama reflek menarik kembali wajahnya dari hadapan sang istri.


"Ma...maaf, saya permisi." Ucap Lala yang berniat mengantarkan red velvet milik Hasna. Perempuan berseragam itu langsung balik badan membawa kembali nampan berisikan potongan red velvet juga minumannya.


"Mengganggu saja." Gerutu Rama.


"Mas Rama juga, tidak pernah tau situasi dan kondisi." Hasna mencubit pelan pinggang Rama. Lantas perempuan itu berdiri dari pangkuan Rama.


"Mau kemana?" Rama meraih pergelangan tangan Hasna, menahan perempuan itu agar tidak pergi.


"Mau ambilin cake buat Mas Rama. Kebetulan tadi aku sengaja bikin buat kamu. Dan barusan Mbak Lala berniat mengantarkannya. Eh...malah dibawa masuk lagi gara-gara aksi mesum Mas Rama." Ucap Hasna.


"Bukan aku yang salah, tapi pegawai kamu itu. Udah tau aku milih tempatnya di pojokan. Harusnya dia paham kalau lagi tidak mau di ganggu." Ucap Rama cuek.


Hasna segera kembali ke pantry untuk mengambil cake buatannya. Baru saja kakinya melangkah masuk ke dalam sana, ia sudah disambut dengan riuh godaan para karyawannya.


"Ciiieee....yang disamperin pacar halal." Seloroh mereka. Wajah Hasna langsung bersemu merah karenanya.


"Wajah-wajah suaminya Mbak Hasna tuh, garang-garang gemesin tau..." Ucap salah seorang dari mereka.


"Bener, bener, aku aja sampai speechless lihat live mereka barusan." Sahut Lala.


"Kita yang cuma ngintip dari balik pintu pantry aja sampai tahan nafas loh. Jadi berasa ngontrak aku hidup di bumi ini."


"Tau nih, Mbak Hasna. Udah tau kita-kita pada di bawah umur, malah di kasih tontonan yang buat kita jadi pengen segera di halalin."


Cukup sudah, Hasna tak mampu berkata-kata lagi rupanya. Para pegawainya kompak menggoda dirinya. Entah Semerah apa pipinya sekarang.

__ADS_1


"Ternyata pacaran setelah nikah itu tak seseram dalam bayangan, ya."


"Emang bayangan kamu gimana?"


"Aku pikir, nikah karena di jodohin itu serem banget. Bayangin aja, kita menghabiskan hidup sama orang asing yang nggak kita kenal, nggak kita cinta. Aku yakin kalau hidup kita bakalan tersiksa banget. Tapi setelah tahu perlakuan suami Mbak Hasna, aku jadi pengen dijodohin juga."


Hasna Hasna tersenyum, tanpa ingin menanggapi. Mereka tidak tahu saja bagaimana perjalanan di awal pernikahannya dengan Rama. Bagaimana perlakuan laki-laki itu terhadapnya.


Dan penilaian mereka muncul saat mereka mengetahui bagaimana hubungannya dengan Rama saat ini. Hubungan harmonisnya dengan Rama sudah melalui beberapa fase yang membuatnya pernah merasakan berada di titik terendah. Cukup mereka tahu harmonisnya hubungannya dengan Rama, karena lika liku rumah tangganya, cukup ia dan Rama yang tahu. Orang lain jangan.


***


"Lama sekali?" Protes Rama saat istrinya kembali membawakan nampan berisikan cake buatannya beserta minuman.


"Biasa, ada wawancara dadakan sama anak-anak di dalam." Jawab Hasna. Perempuan itu meletakkan sepiring cake dan dua gelas minuman di hadapan Rama.


"Wawancara? Ada karyawan baru?"


"Udah, nggak usah dipikirin. Mereka suka gitu, selalu heboh kalau lihat cowok ganteng." Ucap Hasna sembari mengambil sepotong red velvet dan menyuapkannya pada Rama.


"Gimana? Enak?" Rama mengangguk dengan dua jempol tangan teracungkan di hadapan Hasna.


"Selalu enak. Semua masakan yang istriku buat, tidak pernah gagal di lidah." Puji Rama.


"Karyawan kamu perempuan semua?"


"Mayoritas, laki-laki biasanya aku tempatin di tim ekspedisi. Kenapa?" Tanya Rama.


"Nggak papa, cuma tanya saja. Takutnya aku dibilang ganteng sama karyawan cowok kamu. Kan horror. Kamu saja yang setiap hari bersamaku tidak pernah bilang aku ganteng. Mereka yang baru ketemu aja langsung bisa bilang tuh kalau aku ganteng." Rupanya ucapan Rama barusan terselip sindiran untuk istrinya.


"Ya kan aku melihat mas Rama bukan karena nafsu sesaat." Ucap Hasna yang kbali menyuapkan kue buatannya pada Rama.


"Semua yang tidak halal, pasti terlihat lebih menggoda. Sama halnya saat kita memandang kawan jenis yang tidak halal buat kita. Misalnya nih ya, kita sudah punya pasangan di rumah, saat kita berada di luar ada yang lebih-lebih dari pasangan kita. Entah itu kecantikan atau ketampanannya, body perawakannya atau bahkan hartanya. Kalau menurut kaca mata nafsu, pasti yang ada di luaran yang jadi juaranya." Papar Hasna.

__ADS_1


"Padahal kita hanya melihatnya sekilas, tidak mengenalnya lebih jauh. Coba kita kenali lebih dekat. Bagaimana karakternya, sifatnya, wataknya, dan semua yang ada dalam pribadinya. Bisa jadi kecantikan atau ketampanan nya hanyalah bonus karena hatinya tak seindah rupanya. Bisa jadi body perawakannya yang aduhai itu hanyalah untuk menutupi sifat dan watak buruknya. Bisa jadi harta yang mereka pamerkan hanyalah kamuflase untuk menjaga image jika mereka memang dari kalangan berada."


"Orang bijak pernah mengatakan, jangan pernah menilai buku hanya dari cover depannya saja, karena kita tidak pernah tau ada pelajaran apa di halaman-halaman yang ada di dalamnya. Wallahu a'lam. Ah...aku jadi seperti memberikan kuliah saja, padahal Mas Rama lebih pintar daripada aku. Secara mas Rama saja kuliah sampai S3." Lantas perempuan itu tertawa kecil.


Rama terdiam mendengarkan perkataan Hasna. Selalu saja ia tidak memiliki kata-kata untuk mengimbangi ucapan istrinya.


"Lalu, bagaimana istriku yang cantik ini menilai suaminya, yang kata para pegawai perempuannya sebagai cowok ganteng? Coba katakan, aku ingin tau."


"Kalau menurut nafsu, mereka tidak salah kalau bilang Mas Rama cowok ganteng." Ucap Hasna


"Kalau bukan menurut nafsu?" Sergah Rama.


"Mas Rama, laki-laki yang luar biasa." Rama tersenyum kecut mendengarnya. Laki-laki luar biasa? Penilaian dari mana itu?


"Laki-laki yang mampu melewati fase di mana dia yang tidak pernah bisa menerima pernikahannya, hingga bisa menjalani rumah tangga seperti saat ini." Jawaban yang aneh menurut Rama. Tapi biasanya Hasna senang menggunakan kiasan untuk menunjukkan penilaiannya terhadap sesuatu.


"Ceritanya menyindir nih?"


"Aku nggak nyindir, aku ngomong apa adanya." Rama terlihat membuang muka.


"Udah ah, kenapa jadi Mas Rama yang ngambek sih? Kan Mas Rama yang nanyain penilaian Hasna. Giliran dijawab malah kesel. Gimana tadi kalau aku bilang Mas Rama cowok yang nyebelin?" Hasna reflek menutup mulutnya dengan telapak tangan. Rama reflek menoleh ke arah istrinya itu.


"Oh...jadi aku cowok nyebelin? Berarti menurut kamu, aku cowok yang luar biasa nyebelin, gitu?" Rama memicingkan matanya.


Hasna menghirup nafas dalam-dalam, sepertinya ia harus mempunyai jurus andalan jika menghadapi sikap kekanak-kanakan Rama yang tiba-tiba muncul seperti saat ini.


"Tidak semua orang bisa menerima hubungan dan kehadiran seseorang dalam hidupnya yang secara tiba-tiba. Sama seperti Mas Rama, yang perlahan bisa menerima aku dan pernikahan kita. Kita berdua sudah melewati fase panjang sebelum pada akhirnya berada pada hubungan kita saat ini. Makanya aku bisa mengatakan jika Mas Rama adalah laki-laki yang luar biasa. Karena Mas Rama bisa mengendalikan nafsu Mas Rama untuk tidak mengakhiri pernikahan kita."


"Jadi, aku sangat istimewa?" Sepertinya rayuan berhasil.


"Ya... istimewa, ibarat martabak pake dua telur." Hasna tertawa saat mengucapkannya.


Sepertinya jiwa jahil Nayla menular pada Hasna sekarang. Buktinya perempuan itu mulai senang menggoda Rama. ‘

__ADS_1


__ADS_2