
Sesuai permintaan Tomi, Siska langsung menuju kamar rawat Marissa di lantai tiga. Gegas perempuan berambut sebahu itu membuka pintu dan masuk ke dalam. Ruangan dengan dua ranjang itu hanya di tempati marissa seorang diri. Karena ranjang di sebelahnya kosong.
Siska mendekat, dan memastikan apakah Marissa tengah beristirahat. Benar sekali, perempuan itu terlihat sangat pulas dalam tidurnya. Siska jadi tidak tega jika harus membangunkan sahabatnya itu.
Siska lebih memilih duduk di kursi yang ada di dalam sana. Perempuan itu terdiam memandang Marissa yang tengah terlelap.
"Lo kenapa sampai seperti ini sih, Sa? Miris gue lihatnya. Lo terlalu berambisi jadi orang. Lo nyadar nggak sih, kalau semua ini bikin lo rugi sendiri? Lo nyia-nyiain laki-laki sebaik Tomi, hanya untuk mendapatkan Rama yang jelas-jelas nggak akan bisa mencintai lo. Rama laki-laki beristri, dan harusnya lo nyadar betapa dia sangat mencintai istrinya itu. Lo tau, Sa? Tomi sampai rela memohon sama Rama untuk menunda proses hukum yang menjerat lo saat ini. Tomi rela merendahkan harga dirinya demi lo. Dan gue nggak yakin, kalau seandainya Rama akan mengabulkan permintaan Tomi. Tapi Tomi tetap keukeuh akan memperjuangkan kalian."
Marissa sedikit menggeliat dalam tidurnya. Perlahan kedua kelopak mata yang semula terpejam itu mulai terbuka. Bahkan sudah lewat jam makan siang, tapi sepertinya tidak ada tanda-tanda keberadaan Tomi di sini. Biasanya laki-laki itu akan mengingatkan Marissa untuk makan tepat waktu. Tapi kali ini, bahkan Marissa sampai melewatkan jam makan siangnya.
Perlahan Marissa memposisikan untuk duduk di atas ranjang. Rasanya ia sudah tidur terlalu lama. Tubuhnya pun terasa pegal.
"Siska?" Marissa mengerutkan keningnya menatap ke arah sahabatnya itu. Sejak kapan perempuan itu berada di kamarnya?
"Udah bangun?" Tanya Siska. Perempuan itu mendekat ke arah ranjang Marissa.
"Udah lama?" Tanya Marissa, tanpa menjawab pertanyaan Siska terlebih dahulu.
"Enggak, baru aja."
Siska memperhatikan gerak-gerik Marissa.
"Ada yang lo butuhin?" Tanya Siska.
"Gue haus."
Siska mengambilkan sebotol air mineral yang tersedia di atas nakas, lalu menyodorkannya pada Marissa.
"Apa lo tadi sempet ketemu sama Tomi?" Marissa kembali menutup botol minumnya.
"Emm..." Siska menggeleng pelan.
"Belum."
Marissa mendengus pelan mendengar jawaban Siska. Siska tidak bertemu Tomi, itu artinya laki-laki itu belum kembali semenjak pagi?
"Kenapa? Kangen?" Goda Siska.
"Nggak." Jawab Marissa dengan nada ketus.
"Beneran nggak kangen?" Siska masih menggoda perempuan itu.
"Nggak, gue nggak bakalan kangen sama dia."
"Jangan gitu. Jangan terlalu sebel dengan Tomi. Ntar anak lo kayak Tomi loh." Kekeh Siska.
"Gue nggak peduli. Mau anak ini kayak Tomi atau enggak, gue udah nggak peduli."
Siska menghembuskan nafasnya perlahan mendengar ucapan Marissa. Hati perempuan itu benar-benar di butakan obsesinya pada Rama. Padahal sudah jelas ada laki-laki tulus seperti Tomi yang mau menerimanya, dengan segala kekurangan yang perempuan itu miliki.
__ADS_1
"Sa, nggak baik loh ngomong kayak gitu. Mau gimanapun juga, Tomi itu masih suami lo. Ayah kandung anak dalam kandungan lo." Siska berusaha mengingatkan tentang status Tomi.
"Seandainya gue boleh memilih, gue nggak pengen kenal dengan Tomi. Gue juga nggak pengen sampai hamil anak dia. Di laki-laki breng**k yang pernah gue kenal dalam hidup gue."
"Dan laki-laki breng**k itu, yang sekarang memperjuangkan nasib lo. Semoga saja lo cepet sadar, Sa. Jangan sampai lo menyesal nantinya."
"Lo udah makan belum?" Tanya Siska mengalihkan topik pembicaraan. Sebenarnya Siska tidak terlalu suka saat Marissa selalu menyudutkan Tomi seperti ini.
"Belum." Marissa menggeleng pelan.
"Gue suapin, ya?" Siska meraih kotak makanan yang ada di atas nakas Marissa.
"Nggak, gue nggak mau makanan itu." Tolak Marissa saat Siska baru membuka tutupnya.
"Tapi lo harus makan, Sa. Lo itu lagi hamil." Peringat Siska. Marissa melirik kotak berwarna hijau itu lantas kembali mengatupkan bibirnya.
Siska mendengus pelan, kembali menutup kotak makanan itu dan kembali meletakkannya di atas nakas seperti semula.
"Lo mau makan apa emangnya?" Tanya Siska.
"Gue pengen makanan berkuah. Kemarin Tomi beli di kantin rumah sakit. Makanannya enak. Gue pengen makan itu sekarang." Ucap Marissa dengan raut wajah yang benar-benar menginginkan makanan yang ia maksudkan.
Siska menarik sudut bibirnya samar. Rupanya Marissa mengingat perhatian kecil yang Tomi berikan kepadanya. Hanya tinggal menunggu hati perempuan itu terbuka menerima Tomi sebagai suaminya dan ayah bagi anak mereka.
"Ya udah bentar. Gue telepon dulu si Tomi. Biar sekalian di bawain pas kesini." Siska mengambil tasnya yang tergeletak di atas kursi.
"Emang kemana dia?"
"Padahal dia udah pergi sejak tadi pagi."
"Oh, ya? Sejak pagi, dan belum kembali sampai jam segini?" Tanya Siska. Marissa mengangguk.
"Tumben banget?" Ucap Siska dengan jemari yang tengah mengetikkan pesan untuk Tomi.
"Iya."
Hening.
"Tadi pagi...gue di datengin polisi kemari." Lirih Marissa dan menunduk lesu.
"Polisi?" Marissa mengangguk.
"Kenapa?"
"Gue di tuntut Rama atas kecelakaan yang menimpa Hasna. Polisi bilang, kalau perempuan itu tengah kritis." Marissa meremas selimut yang menutupi bagian kakinya itu.
"Astaga..." Lirih Siska.
"Gue bingung, Sis. Gue nggak mau sampai masuk penjara. Gue nggak mau sampai gue lahiran di penjara nantinya." Setitik air matanya menetes di atas selimut yang di kenakannya.
__ADS_1
"Gue nggak mau jika nantinya gue menghabiskan hari-hari gue di penjara. Gue nggak mau." Marissa menggelengkan kepalanya yang diiringi isakan.
Siska mendekat, dan meraih tubuh Marissa ke dalam pelukannya. Memberikan usapan lembut di punggung perempuan yang tengah hamil itu, sekedar untuk menghilangkan kecemasan yang Marissa alami.
"Gue nggak tau harus ngomong apalagi sama lo, Sa. Gue udah sering banget ingetin lo masalah ini. Tapi lo nggak pernah dengerin kata-kata gue. Gue mengatakan ini bukan berarti gue ada di pihak Rama, atau siapapun yang memiliki pemikiran yang bersebrangan dengan lo. Bukan. Tapi lebih karena gue peduli, dan gue menyayangi lo lebih dari seorang sahabat."
Cukup lama keduanya saling berpelukan, hingga pintu kamar terbuka dari luar. Tomi masuk ke dalam kamar dengan membawa kantong plastik di tangannya.
Marissa melepaskan pelukan Siska dan mengusap kasar sisa air mata di wajahnya.
Tomi meletakkan bawaannya di atas nakas dan memindahkannya di mangkok yang biasa di gunakan untuk makan pasien. Kedua perempuan itu memperhatikan apa yang tengah Tomi lakukan. Dapat Siska lihat dengan jelas bagaimana laki-laki itu begitu tulus memperlakukan Marissa, layaknya seorang suami yang begitu memperhatikan istrinya yang tengah hamil. Hanya saja Marissa yang tidak bisa melihat ketulusan yang Tomi berikan kepadanya.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Tomi meletakkan makanan berkuah yang baru saja ia beli dari kantin rumah sakit di atas nakas. Aroma yang begitu harum menyeruak memenuhi indera penciuman Marissa. Membuat perempuan itu men lan ludah karena ingin segera mencicipinya.
Marissa merasa ada sesuatu yang telah terjadi. Tomi nampak tak seperti biasanya. Laki-laki itu terkesan menjadi pendiam. Biasanya walaupun Tomi tak banyak berinteraksi dengannya, tapi laki-laki itu masih mau mengajaknya untuk berbicara. Terlebih saat mengingatkannya untuk makan tepat waktu. Tapi kali ini?
Siska memperhatikan raut wajah yang Tomi tunjukkan. Sepertinya Tomi mendapatkan penolakan dari Rama. Jika tidak, tak mungkin laki-laki itu menunjukkan raut sekacau ini sekarang.
"Tom, bisa gue bicara sebentar? Tanya Siska.
Tomi yang sudah berada di ambang pintu menghentikan gerakannya.
"Sebaiknya lo tetap di sini. Gue pergi sebentar." Ucap Tomi tanpa menoleh sedikitpun pada mereka.
Pintu pun di tutup rapat oleh Tomi dari luar. Menyisakan dua orang perempuan yang saling berpandangan dengan raut penuh tanya.
"Ee...sebaiknya lo makan dulu. Udah terlalu sore." Ucap Siska dan di angguki oleh Marissa.
"Kalau lo butuh apa-apa, lo bilang aja." Ucap Siska yang kembali duduk di atas kursi.
Siska segera mengirimkan pesan singkat pada Tomi. Menanyakan tentang pertemuannya dengan Rama.
~Gimana? Apa Rama setuju?~ Siska.
Sebenarnya tanpa di tanyakan pun, Siska sudah bisa menebak dari raut wajah yang Tomi tunjukkan. Tapi sebaiknya ia menanyakan langsung pada sahabatnya itu, daripada menerka-nerka.
~Rama menolak, dia tidak menerima alasan apapun untuk menunda proses hukum Marissa. Dia akan tetap malanjutkannya, bagaimanapun keadaan Marissa.~ Tomi.
~Tapi, lo udah bilang kan, kalau kondisi Marissa yang tidak memungkinkan pasca kecelakaan kemarin?~ Siska.
~Udah. Gue udah bilang semuanya. Bahkan saat gue hampir kehilangan calon anak gue. Tapi dia tidak merubah keputusannya. Apalagi istrinya Rama mengalami koma.~ Tomi.
~Dan dalam keadaan hamil.~ Tomi.
"Astaga....jadi?" Dua pesan yang Tomi kirimkan membuat Siska menutup mulutnya dengan sebelah tangan.
"Istrinya Rama koma? Dalam keadaan hamil? Gue udah nggak tau lagi harus gimana, Sa. Gue rasa apa yang lo takutin, bakalan terjadi sebentar lagi. Karena Rama tidak akan melepaskan lo begitu saja."
Siska menatap lurus Marissa yang tengah menikmati makan siang yang sudah terlewat itu. Tak dapat Siska bayangkan bagaimana nasib Marissa setelah ini.
__ADS_1
***