Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 83


__ADS_3

Dengan langkah yang penuh percaya diri, seorang perempuan cantik mendatangi perusahaan Blue Diamond, kantor Rama Suryanata.


Senyuman tak pernah luntur di kedua sudut bibirnya. Dengan menenteng tas kecil di tangannya, perempuan itu berlalu dan masuk ke dalam lift, langsung menuju lantai tujuh.


Seorang perempuan cantik berdiri menyambut, saat dirinya dekat dengan pintu ruangan Bos muda itu.


"Pak Rama ada di ruangan?" Tanya perempuan itu sopan.


"Maaf, apa sudah ada janji temu sebelumnya?" Tanya perempuan berpakaian formal itu dengan sopan pula.


"Belum." Jawabnya anggun.


"Mohon maaf, kalau begitu anda tidak bisa bertemu dengan Pak Rama." Tolak perempuan itu dengan halus.


"Tapi ada hal penting yang akan saya sampaikan." Perempuan itu masih memberikan alasan agar dirinya bisa masuk.


"Maaf, sekali lagi saya sampaikan, jika anda tidak membuat janji terlebih dahulu, maka anda tidak bisa bertemu dengan beliau." Kini sekretaris baru Rama menolak perempuan itu dengan tegas. Dan itu membuat Marissa sedikit emosi.


"Baiklah, saya tidak akan memaksa. Tapi tolong katakan pada Pak Rama, Marissa menunggu di luar." Kini nada bicara sudah mulai tak bersahabat di pendengaran.


Marissa. Sepertinya Tania, sekretaris baru Rama, pernah mendengar nama itu sebelumnya. Perempuan itu mencoba mengingat kembali. Ah, iya, dia ingat sekarang. Marissa adalah sekretaris sebelumnya, sebelum ia bekerja di sini. Marissa, sekretaris itu tiba-tiba saja mengundurkan diri ya dengan alasan yang kurang masuk akal. Ivan pernah mengatakan itu kepadanya.


Tania adalah sepupu dari Ivan. Kebetulan ia melamar pekerjaan di Blue Diamond dan diterima setelah lulus seleksi dan wawancara. Dan ia baru mengetahui jika Ivan, sepupunya juga bekerja di sini.


"Kenapa masih bengong?" Suara Marissa membuat Tania tersentak dari lamunannya.


"Maaf, saya tidak bisa." Tania masih berusaha menjalankan tugasnya dengan baik.


"Dengar, saya tidak akan pergi dari sini, sebelum saya bertemu dengan Pak Rama. Dan satu hal lagi, akan saya pastikan, kamu akan kehilangan pekerjaan kamu yang baru kamu mulai ini. Jika kamu tidak mengatakan pada Pak Rama, saya sedang menunggu beliau." Ancan Marissa.


Tania nampak bimbang, tapi jika demikian, berarti memang ada hal penting yang akan Marissa sampaikan pada Rama.


"Baiklah, tunggu sebentar." Ucap Tania akhirnya.


Tania segera menghubungi Rama melalui sambungan interkom. Mengabarkan pada atasannya itu, jika ada tamu yang sedang menunggu di luar.


"Silahkan, Pak Rama sudah menunggu di dalam." Ucap Tania setelah panggilan diakhiri.


Tanpa sepatah kata pun, Marissa beranjak masuk ke dalam ruangan Rama dengan angkuhnya. Seolah dia adalah perempuan yang paling berpengaruh disini.


"Selamat siang, Pak Rama." Ucap Marissa sambil terus mendekat ke arah meja kerja Rama.


Perempuan itu langsung masuk, bahkan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Dan sekarang, ia telah berdiri tepat di hadapan Rama.


"Cepat katakan, mau apa kamu kemari?" Ucap Rama ketus. Rupanya laki-laki itu tidak ingin berbasa-basi.


"Sabar dulu, dong." Marissa nampak merogoh tas yang sedari tadi ditentengnya.


Sebuah kotak berbentuk persegi panjang, ia letakkan tepat diatas meja kerja Rama. Rama hanya melihat kotak merah dengan hiasan pita merah muda di atasnya, tanpa berniat menyentuhnya sama sekali.


"Apa ini?" Tanya Rama dengan tatapan penuh kekesalan.

__ADS_1


"Buka, dong." Ucap Marissa dengan nada yang sedikit menggoda.


"Tidak perlu berbasa-basi, cepat katakan." Sentak Rama. Laki-laki itu mengepalkan kedua tangannya dengan erat, mencoba mengontrol emosinya.


Terdengar hembusan nafas dari mulut Marissa. Nampaknya perempuan itu mengalah, dan mengambil kotak yang tadi ia letakkan di atas meja.


"Baiklah, kalau kamu tidak mau membukanya. Biar aku bantu."


Mantan sekretarisnya itu bahkan memanyebut aku kamu dalam panggilan, seolah hubungan mereka sangat dekat. Perempuan itu perlahan membuka simpul pita di atas kotak dan membukanya perlahan.


"Coba lihat." Marissa meletakkan kembali kotak yang telah terbuka itu di hadapan Rama.


Nampak sebuah foto hasil USG dan alat tes kehamilan. Rama masih terdiam, tidak berniat untuk menyentuhnya. Bahkan kedua netranya menatap tajam perempuan di hadapannya itu.


"Apa ini?" Rama menautkan kedua alisnya tajam.


Tangan Marissa kembali terulur untuk mengambil benda yang baru saja ia letakkan.


"Ini...alat untuk memeriksa kehamilan." Marissa mengacungkan benda ditangannya.


"Aku...sempat melakukan tes kehamilan, karena aku merasa ada yang aneh. Terlebih aku tak kunjung mendapatkan tamu bulanan." Kini wajah Marissa nampak sedih.


Rama hanya diam menyaksikan apa yang tengah perempuan itu lakukan.


"Dan kamu tau, hasilnya positif. Aku hamil." Kini setetes bulir bening jatuh membasahi pipi perempuan itu.


"Dan kemarin, aku sempat melakukan pemeriksaan dengan dokter. Dan hasilnya...aku benar-benar hamil." Marissa menunduk lesu. Punggungnya terlihat naik turun menahan isakan.


"Aku tidak menginginkan apa-apa, aku hanya...." Isakan kembali terdengar.


"Aku hanya...aku...aku...." Dan isakan semakin keras di telinga. Bahkan wajah perempuan itu basah oleh air mata.


Rama semakin mengeratkan kepalan tangannya, hingga guratan otot di sekitar tangannya nampak jelas.


"Aku...aku hanya ingin...anak ini....diakui statusnya." Reflek Rama menoleh dengan tatapan yang tajam.


"Diakui statusnya?" Ulang Rama.


"Ya, aku ingin, anak ini diakui statusnya. Aku tidak meminta apapun sama kamu. Aku hanya ingin pengakuan atas anak ini." Ucap Marissa penuh penekanan.


"Pengakuan yang bagaimana maksud kamu?"


"Pengakuan dari ayah kandungnya." Rama menatap Marissa penuh tanya. Jika benar dugaannya, maka perempuan itu salah besar.


"Ayah kandung? Jangan terlalu berbelit. Katakan apa yang ingin kamu katakan. Dan setelah itu pergilah dari sini."


"Anak ini, anak kandung kamu. Janin dalam kandunganku anak kamu, Rama." Ucap Marissa yakin, membuat Rama membulatkan kedua matanya saat mendengar perkataan Marissa.


***


Berkali-kali Hasna melihat jam yang melingkari pergelangan tangannya. Jam makan siang bahkan sudah terlewat tiga puluh lima menit, namun tamu di ruangan Rama tak kunjung keluar. Bahkan sekretaris Rama berpamitan untuk makan siang dua puluh menit yang lalu kepadanya.

__ADS_1


Perempuan itu nampak ragu jika memaksa masuk ke dalam. Akan sangat menganggu jika tamu di dalam adalah tamu penting suaminya. Tapi jika lewat jam makan siang akan sangat lama.


Hasna pun beranjak dari duduknya. Jika yang berada di dalam memang tamu penting, maka dia akan pamit untuk pulang dan hanya memberikan makan siang untuk suaminya. Bisa saja ia menelepon, tapi ponselnya tertinggal di jok mobil.


Ragu-ragu tangan kanannya terulur untuk membuka pintu ruangan Rama. Sayup-sayup terdengar suara yang saling bersahutan. Bukan tentang diskusi, tapi lebih pada dua orang yang sedang bersitegang.


Nampak seorang perempuan yang berdiri tepat di depan meja Rama, membelakangi pintu. Perempuan berambut panjang dengan dress motif floral selutut.


"Aku berani bersumpah." Ucap perempuan itu. Suaranya tidak asing terdengar.


Rama nampak mengulas senyuman smirknya. Laki-laki itu sungguh muak dengan sandiwara perempuan di hadapannya.


"Simpan kata sumpahmu itu. Karena aku tidak akan pernah mempercayainya." Sarkas Rama.


"Sungguh aku mengatakan yang sejujurnya. Aku tidak berbohong, Rama." Ucap perempuan itu setengah berteriak yang diselingi suara isakan.


Hasna tidak tahu apa yang tengah mereka berdua perdebatkan. Tapi sepertinya ada kesalahan yang telah suaminya lakukan, tapi apa?


Perempuan bermata teduh itu masih bertahan di posisinya. Hatinya merasa gelisah. Kenapa ia tiba-tiba merasa, jika apa yang nanti di dengarnya bukanlah hal yang baik.


"Apa sudah selesai kamu mengatakan hal tidak penting ini? Jika sudah, segeralah pergi dari sini." Terdengar Rama mengusir perempuan yang menjadi tamunya itu.


"Kamu bilang jika ini tidak penting? Dimana hati nurani kamu?" Marissa menunjuk tepat di wajah Rama.


"Hati nurani?" Rama tersenyum mengejek.


"Hati nurani seperti apa yang kamu maksud? Bahkan aku sendiri tidak yakin, jika perempuan seperti kamu memiliki hati nurani." Sarkas Rama.


"Cukup, Rama. Cukup." Marissa mengangkat tangan kanannya di hadapan Rama.


"Cukup. Kamu boleh menghinaku semaumu, tapi perlu kamu ingat satu hal, aku...adalah wanita yang tengah mengandung anak kamu. Darah daging kamu." Ucap Marissa menunjuk dirinya sendiri dan Rama secara bergantian.


Deg


Hasna membolakan kedua netranya. Serta kedua tangan yang menutup mulutnya yang terbuka. Tiba-tiba saja, oksigen seolah sulit untuk ia hirup. Dadanya terasa sesak. Tidak mungkin, pasti ia salah dengar barusan.


"Jangan bicara sembarangan kamu." Ucap Rama.


"Aku tidak bicara sembarangan. Ini anak kamu, Rama. Anak kamu." Ucap perempuan itu meyakinkan. Bahkan suaranya kembali terdengar bergetar menahan isakan.


Tidak, ia tidak sedang salah mendengarkan ucapan perempuan yang tengah adu mulut dengan Rama. Dengan jelas ia mendengar, bahwa ia tengah hamil anak Rama, suaminya. Apa maksud semua ini?


Bruk


Tanpa sengaja Hasna menjatuhkan barang bawaannya. Dan itu membuat atensi kedua orang yang tengah bersitegang itu menoleh ke arahnya.


"Ha...Hasna." lirih Rama.


***


maaf telat up

__ADS_1


semoga terhibur


__ADS_2