Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 50


__ADS_3

Dekapan Rama semakin erat. Laki-laki itu menyesali ucapan yang baru saja ia lontarkan. Hanya karena rasa cemburunya saat ada laki-laki lain yang mendekati istrinya, serta penolakan Hasna subuh tadi, membuatnya lepas kendali.


Hasna telah mengisi kekosongan hatinya. Perempuan itu telah berhasil menghidupkan rasa yang telah lama mati. Ia tak ingin jika perempuan itu sampai pergi meninggalkannya.


Hasna sedikit melonggarkan pelukannya, namun gerakannya tertahan karena Rama menahan bahunya.


"Biarkan seperti ini untuk beberapa saat." Lirih Rama, ia hanya ingin menenangkan hati yang tengah bergemuruh.


"Maaf, saya tidak bisa memahami kamu. Saya hanya ingin mereka tau jika kamu adalah istri saya, milik saya." Gumamnya.


Keduanya bertahan di posisi saling memeluk. Tak ada yang bersuara. Hingga bunyi bel mengurai pelukan mereka.


"Sepertinya Pak Darmawan. Saya keluar dulu."


Rama meninggalkan Hasna sendiri di kamar. Segera ia mencuci muka dan memperbaiki penampilannya. Setelah itu keluar untuk membuatkan minuman untuk tamu suaminya.


Hasna meletakkan dua cangkir teh di hadapan dua laki-laki yang tengah berbincang di ruang tamu.


"Ini, istri Pak Rama?" Tanya tamu itu.


"Iya, Pak, ini istri saya, Hasna. Dan ini Pak Darma, pengacara pribadi saya." Rama memperkenalkan Hasna pada tamunya dan sebaliknya.


Seperti biasa, Hasna hanya menangkupkan kedua tangannya di depan dada dan tersenyum ramah. Ia pun duduk di sebelah Rama.


"Cantik sekali. Saya taksir, usia istri Pak Rama tidak jauh berbeda dengan putri saya." Tebak Pak Darmawan.


"Pak Darma bisa saja, putri bapak masih SMA." Kekeh Rama.


Pak Darmawan memeriksa berkas yang akan diurusnya. Ternyata benar, istri kliennya tidak seusia sang putri, bahkan lebih tua enam tahun. Tapi perempuan di sebelah kliennya ini benar-benar terlihat masih sangat belia.


"Jadi kenapa kalian memutuskan untuk melakukan pernikahan di bawah tangan?" Pak Darmawan menutup kembali berkas ditangannya. Menatap sepasang suami istri yang duduk berhadapan dengannya.


"Jadi kebetulan, istri saya hanya tinggal bersama Kakeknya. Kedua orang tuanya sudah meninggal. Dan kami menikah pun, sesaat sebelum Kakek istri saya berpulang." Jelas Rama. Menoleh pada Hasna dan meraih jemari istrinya.


"Innalilahi, maafkan saya, Mbak Hasna." Pak Darmawan merasa tidak enak dengan Hasna.


"Tidak apa-apa, Pak." Ucap Hasna.


Hasna hanya menemani sebentar, karena merasa jika ia tidak sepantasnya bergabung dengan tamu laki-laki suaminya. Ia pun memutuskan untuk kembali ke kamar.embiarkan suaminya menyelesaikan urusannya dengan sang pengacara.


Rama kembali ke kamar Hasna setelah Pak Darmawan undur diri. Terlihat istrinya itu tengah menelepon seseorang. Sepertinya dengan seseorang yang akrab dengan sang istri.


"Iya, Hasna shareloc ya. Hati-hati. Assalamu'alaikum." Hasna mematikan sambungan teleponnya.


"Siapa?" Rama penasaran dengan siapa istrinya barusan berbicara.


"Pak Mamat. Aku sudah hubungi beliau. Insyaallah nanti sore beliau ke sini. Masih bantu-bantu Mbak Marni soalnya." Jawabnya.


"Apa perlu kita pekerjaan, siapa tadi?" Rama mencoba mengingat ART di rumah Hasna.


"Mbak Marni?" Rama mengangguk.


"Tidak perlu. Mbak Marni sudah aku amanahi rumah almarhum Kakek untuk dibersihkannya sepekan sekali. Kalau kita ajak Mbak Marni ke sini, nanti siapa yang akan merawat rumah Kakek? Lagi pula Mbak Marni juga tidak bisa kerja full." Jelas Hasna.


Rama hanya mengangguk mendengar penuturan sang istri.


"Apa setelah ini kamu ada acara?" Tanya Rama.


"Tidak, kenapa?" Hasna menoleh sejenak dan kembali merapikan pekerjaannya di meja.


"Saya ingin mengunjungi makam Kakek. Apa kamu mau menemani saya?" Hasna mengangguk antusias.

__ADS_1


Selama ini hanya dirinya yang mengunjungi makam Kakek dan kedua orang tuanya. Ia tak pernah mengajak serta Rama. Karena sikap laki-laki itu yang acuh terhadap dirinya.


Dan kini justru Rama yang mengajak dirinya. Sudah dua Minggu ini ia tidak berziarah. Biasanya setiap kamis, ia selalu menyempatkan diri mengunjungi makam orang-orang terkasihnya.


Rama hanya berusaha membuat hubungan mereka kembali menghangat seperti sebelum pertengkaran beberapa jam yang lalu. Ternyata mudah sekali mengembalikan senyuman sang istri.


***


Dan disinilah mereka sekarang, berdiri menatap tiga pusara yang saling berdampingan. Baru kali ini Rama menyadari bahwa makam kedua mertuanya bersebalahan dengan makam almarhum Kakek.


Saat memakamkan Kakek Hasna dulu, ia tidak memperhatikan sekeliling. Tidak peduli lebih tepatnya. Ia hanya berusaha menuntaskan kewajibannya saat itu. Mengantarkan Kakek Rusdi ke tempat persemayaman terakhirnya.


Ia tidak peduli dengan apapun, ia hanya mempedulikan dirinya sendiri. Menikahi perempuan asing, yang baru ditemuinya saat mengucapkan janji pernikahan di depan para saksi. Itu sangat ditentang oleh hatinya.


Dilihatnya sang istri tengah bersimpuh di depan pusara orang-orang yang sangat dicintainya. Mereka yang mencintainya dengan sepenuh jiwa, kini telah kembali pada Sang Pencipta.


"Ayah, ibu, Kakek, maafkan Hasna karena Hasna baru sempat berkunjung lagi. Hasna kini sudah menjadi milik suami Hasna. Dialah sekarang yang menjadi prioritas dalam hidup Hasna. Tapi, bakti sebagai seorang anak, tidak akan pernah Hasna abaikan."


"Ayah, ibu, ini adalah suami Hasna. Suami yang Kakek pilihkan untuk melindungi dan menjaga Hasna. Dia laki-laki yang baik. Do'akan Hasna bisa menjadi istri yang baik untuk suami Hasna."


Rama mengikuti posisi istrinya. Menatap nisan bertuliskan nama-nama orang yang berarti dalam hidup istrinya.


"Kakek ini Rama. Maaf jika Rama belum bisa menjadi suami seperti harapan Kakek. Kakek yang telah memberikan tanggung jawab di pundakku, tapi justru aku abai. Aku melalaikan tugas utamaku sebagai seorang suami untuk Hasna. Mungkin, kakek akan sangat kecewa bila mengetahuinya. Maafkan Rama, Kek."


"Ayah, ibu, itu panggilan yang istriku berikan pada kalian. Aku memang tidak mengenal kalian, tapi aku yakin kalian orang-orang yang sangat baik. Karena putri kalian seorang perempuan yang baik. Tidak hanya di mataku, namun di mata semua yang mengenalnya."


"Maaf aku sering menyakiti hati putri yang sangat kalian cintai. Kehadirannya dalam hidupku yang secara tiba-tiba, selalu membuatku ingin membencinya, ingin membuatnya pergi dalam kehidupanku. Tapi aku salah, dia perempuan yang begitu tulus menerimaku, menerima keadaanku. Dan lagi-lagi aku menyakiti hatinya, dengan meragukan ketulusannya selama ini. Aku bahkan dengan mudahnya menyamakan dia dengan....tidak perlu aku menyebutkannya, karena akan membuka luka lama."


"Katakanlah aku lelaki egois yang hanya mementingkan perasaanku saja. Aku membutuhkan Hasna untuk menyembuhkan luka masa lalu. Aku tidak pernah mencintainya, tidak pula mengharapkan kehadirannya ada dalam hidupku. Tapi ketulusan hati juga kelembutannya, membuatku jatuh hati padanya. Mungkin kehadirannya hanya sebatas pelampiasan atas luka di masa laluku. Tapi semakin aku mengenalnya, semakin aku jatuh hati padanya. Mungkin aku belum benar-benar mencintainya, tapi sungguh aku takut jika harus kehilangan Hasna dari hidupku."


Cukup lama keduanya terdiam, larut dalam pikirannya masing-masing. Hingga sebuah suara mengalihkan atensi keduanya.


"Neng Hasna? Assalamu'alaikum, lama tidak kelihatan. Dua Minggu ini bapak tidak lihat neng Hasna nyekar. Neng Hasna sehat?" Tanya pria itu.


"Baik, Neng." Pak Hamid menangkupkan kedua tangannya di depan dada seperti yang Hasna lakukan.


Hasna membantu Rama berdiri. Dengan tangan yang masih disangga dengan arm Sling, membuat Rama tidak leluasa bergerak.


Pandangan Pak Hamid teralihkan pada laki-laki yang baru saja Hasna bantu untuk berdiri. Pak Hamid kenal betul siapa Hasna. Perempuan itu tidak sekalipun mau bersentuhan dengan lelaki asing kecuali keluarganya. Dan kini perempuan yang lebih pantas menjadi cucunya itu malah terlihat biasa saja saat membantu lelaki itu berdiri.


Rama tersenyum canggung pada lelaki tua yang tengah menatapnya penuh selidik. Hasna mengikuti pandangan Pak Hamid yang tertuju pada suaminya.


"Pak Hamid, kenalkan. Mas Rama, suami Hasna." Ucap Hasna.


"Eh iya, saya Hamid, penjaga makam di sini." Pak Hamid mengulurkan tangannya.


Rama tak kunjung membalas uluran tangan Pak Hamid, sehingga menjadikan beliau bertanya-tanya dalam hati kenapa uluran tangannya tak disambut baik oleh lelaki yang diperkenalkan sebagai suami Hasna itu. Tapi seketika beliau tersadar jika tangan kanan suami Hasna sedang cidera.


"Maafkan Bapak, Nak Rama." Beliau menurunkan kembali tangan yang sempat terulur.


"Tidak apa-apa, Pak." Ucap Rama.


Pak Hamid mengajak Hasna juga Rama untuk singgah sebentar di gazebo tempat beliau biasa beristirahat.


"Neng Hasna kapan menikah, kok Bapak tidak tau kabarnya? Dimas juga tidak diundang." Tanya Pak hamid.


"Hasna menikah dua bulan yang lalu, Pak. Beberapa saat sebelum Kakek meninggal." Jawab Hasna diikuti senyuman khasnya.


"Ya Allah, jadi Pak Rusdi masih sempat menikahkan Neng Hasna sebelum beliau wafat?" Hasna mengangguk sebagai jawabannya.


"Pantas saja, kata Dimas setelah tujuh hari pengajian almarhum, Neng Hasna tidak terlihat."

__ADS_1


"Iya, Hasna ikut suami." Hasna menoleh pada Rama yang bersebelahan dengannya.


Mereka berbincang sebentar, sebelum akhirnya Hasna pamit undur diri.


"Oh iya, Pak. Ini Hasna titip buat Rian. Maaf tidak bisa mampir. Insyaallah lain waktu." Hasna mengangsurkan sebuah amplop pada Pak Hamid.


"Masya Allah, Neng Hasna selalu saja repot-repot begini." Seperti biasa, Pak Hamid selalu merasa tidak enak saat menerimanya. Karena tak hanya sekali Hasna melakukannya, tapi setiap kali saat berkunjung ke makam.


"Tidak, Pak. Semoga berkah ya." Hasna menolak saat Pak Hamid berusaha memberikan amplop itu kembali.


Hasna dan Rama pun segera meninggalkan area pemakaman.


"Mau langsung pulang, atau mampir dulu?" Tanya Rama. Kebetulan rumah Hasna dekat dengan makam.


"Langsung pulang saja. Pak Mamat tadi sudah kasih kabar kalau udah hampir sampai rumah." Jawab Hasna.


"Oke."


Keduanya segera masuk ke dalam mobil untuk segera pulang.


***


Jalanan lumayan macet, karena bersamaan dengan jam pulang kantor. Hasna sempat memberikan kabar pada Pak Mamat jika akan sedikit terlambat sampai rumah.


"Emm... Kamu sudah kenal lama dengan Pak Hamid?" Hasna menoleh pada Rama.


"Kebetulan rumah Pak Hamid tak jauh dari rumah kami. Kehidupan Pak Hamid tak jauh beda dengan almarhum Kakek." Rama menoleh dan menatap istrinya.


"Beliau bersama istrinya merawat dua orang cucunya. Mereka yatim piatu sama seperti aku." Jelas Hasna.


"Emm...lalu Dimas, siapa dia?"


Rama berhati-hati sekali menanyakan hal itu. Jangan sampai pertanyaannya menimbulkan percikan diantara di Inya juga Hasna. Perempuan itu menoleh sekilas.


"Dimas, teman masa kecil aku. Kami tumbuh dan besar bersama. Kebetulan kami juga satu sekolah semenjak SD, hingga lulus SMA." Jawab Hasna sekedarnya.


Ia tak mau menjabarkan bagaiman hubungannya dengan Dimas kepada Rama. Mereka hanya berteman dan kebetulan bertetangga.


"Apa kamu masih berhubungan dengannya?" Selidik Rama, membuat Hasna mengernyitkan keningnya.


"Hubungan yang bagaimana maksud mas Rama?" Hasna memperjelas maksud pertanyaan suaminya. Ia tidak ingin jika jawabannya akan memancing pertengkaran seperti tadi pagi.


"Kamu bilang, kalau kalian berteman."


"Iya, hanya berteman. Dan kebetulan bertetangga juga." Hasna menatap sekilas pada Rama, dan kembali fokus mengemudikan mobil.


"Semenjak kami lulus sekolah, kami sudah jarang bertemu. Aku sibuk kuliah, dan... Dimas diterima kerja di luar kota." Lanjutnya.


"Oh." Lirih Rama.


Hasna tersenyum melihat ekspresi suaminya, namun ia juga khawatir jika tiba-tiba suaminya bersikap seperti tadi pagi.


"Mas Rama...tidak sedang cemburu kan?" Todong Hasna.


Rama sedikit melebarkan kedua matanya, dan menoleh pada istrinya.


"Maaf, kalau aku terlalu percaya diri menanyakan hal itu." Hasna jadi salah tingkah saat Rama melihatnya seperti itu.


"Tidak." Jawabnya cepat.


"Tidak. Kamu tidak salah, Hasna. Aku cemburu. Aku juga tidak tau, kenapa aku tidak bisa mengendalikan rasa ini. Bahkan aku cemburu pada lelaki yang tidak aku ketahui bagaimana rupa dan wujud lelaki yang kamu ceritakan barusan. Tetapi, ya...aku memang cemburu."

__ADS_1


***


__ADS_2