Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 86


__ADS_3

"Pak, berhenti di depan." Pinta Hasna.


Setelah berputar-putar selama hampir dua jam lamanya, akhirnya ia meminta sopir taksi online berhenti juga. Taman kota menjadi pilihannya.


"Maaf, sudah merepotkan bapak. Ini ada rezeki lebih buat Bapak." Hasna memberikan beberapa lembar uang pecahan seratus ribuan kepada sopir.


"Bayar sewajarnya saja, Neng." Sopir taksi hanya mengambil uang yang sesuai dengan nominal yang tertera di argometer.


"Tapi saya sudah merepotkan Bapak dengan meminta Bapak berputar-putar tidak jelas." Hasna benar-benar merasa tidak enak dengan sopir itu.


"Nggak apa-apa, Neng. Saya lihat Neng ini jadi ingat anak saya." Ucap Bapak sopir.


"Kalau begitu, ini buat anak Bapak." Hasna tidak menarik tangannya sama sekali.


"Anak Bapak sudah tidak membutuhkan harta dunia, Neng." Jawab Bapak sopir dengan seulas senyuman. Wajah yang sudah nampak keriput itu menatap Hasna dari center mirror.


"Maksudnya, Pak?"


"Anak Bapak sudah meninggal satu tahun yang lalu."


"Innalilahi, maafkan saya." Hasna jadi merasa bersalah menanyakan anak dari Bapak sopir.


"Nggak apa-apa, Neng. Mungkin memang sudah garisnya." Wajah laki-laki paruh baya itu nampak tenang.


"Kalau begitu, tolong Bapak terima. Bapak sedekahkan atas nama putri Bapak. Insyaallah akan memberatkan timbangan amalnya kelak." Hasna masih memaksa agar uang itu diterima.


"Masya Allah, Neng. Baru kali ini Bapak mengantar penumpang yang begitu dermawan seperti Neng ini. Kalau begitu Bapak terima. Semoga kebaikan Neng ini dibalas oleh Allah. Dan segala urusan Neng diberi kemudahan." Ucap Bapak sopir dengan tulus.


"Aamiin...semoga berkah ya, Pak. Sekali lagi terima kasih." Hasna segera turun setelah sopir menerima uang pemberiannya.


Hari masih sore, banyak orang yang berlalu lalang di taman yang Hasna kunjungi saat ini. Hasna mengambil tempat yang jauh dari keramaian. Ia ingin sendiri saat ini. Ia butuh berpikir jernih, sebelum mengambil langkah.


Perempuan bermata teduh itu duduk di atas kursi panjang yang tidak ditempati seorang pun. Hanya ada seorang laki-laki yang duduk membelakanginya. Karena kebetulan letak kursi taman saling membelakangi. Hanya terpisah satu pohon rindang di tengahnya.


Berkali-kali perempuan itu menghirup nafas dalam, berusaha mengurangi rasa sesak yang mencengkeram erat dadanya. Kejadian siang tadi sungguh membuat dunianya menggelap seketika. Tak ada lagi tempatnya untuk bersandar saat ini kecuali Rama. Namun laki-laki itu justru membuatnya merasakan nyeri di hati.


"Ini anak kamu. Mungkin kamu melupakan kejadian itu, tapi aku tidak pernah tidur dengan lelaki lain selain kamu."


Ucapan Marissa masih menggema di pendengarannya. Berkali-kali Hasna menggelengkan kepalanya, seolah menolak hal yang baru saja diketahuinya. Apakah benar demikian, jika suaminya memiliki calon anak dari perempuan lain? Buliran bening kembali menetes membasahi kedua pipinya.


"Astaghfirullahal'adzim." Berkali-kali bibir itu mengucap istighfar.


Jika seandainya benar, ada perempuan lain yang mengandung benih suaminya, lalu apa yang akan ia lakukan? Dirinya sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini.


"Apapun yang terjadi, tetap percayalah padaku. Apapun yang terjadi, jangan pernah tinggalkan aku. Berjanjilah, Hasna."


Di saat hatinya diliputi kegamangan, tiba-tiba saja Hasna mengingat perkataan suaminya. Bahkan kata yang sama Rama ucapkan berkali-kali padanya. Apakah ini maksud dari ucapan suaminya waktu itu?


Hasna mengusap air mata yang masih menggenangi mata teduhnya. Ini tidak bisa ia biarkan berlarut-larut. Bagaimanapun Rama adalah suaminya. Ia harus percaya apa yang akan suaminya katakan nanti. Ia sudah berjanji akan percaya dan tidak pergi meninggalkan Rama, bagaimanapun keadaannya.


Bulir bening kembali menetes. Bagaimanapun kejadian hari ini benar-benar membuat hatinya terkoyak. Sakit. Perih.


Terjadi pergolakan batin yang begitu hebat di dalam dadanya. Sisi perempuannya menolak untuk langsung percaya dengan apa yang akan Rama ucapkan. Tapi sisi sebagai seorang istri menuntutnya untuk memberi kepercayaan pada suaminya. Tetapi yang jelas, ia butuh waktu untuk menenangkan diri dan berpikir jernih saat ini.


"Ya Allah, hamba pasrahkan segala urusan ini pada Mu. Beri jalan terbaik bagi rumah tangga kami." Lirihnya.


Hasna perlahan mengangkat wajahnya, manakala ada sepasang kaki laki-laki tengah berdiri tepat dihadapannya. Terlihat dari sepatu yang dikenakannya.


"Hasna?" Lirih laki-laki itu.


"Mas Kevin?" Hasna membuang pandangannya dan dengan cepat mengusap sisa air mata di kedua pipinya.


Hati Kevin merasakan nyeri saat melihat wajah yang selama ini mati-matian berusaha ia lupakan, berlinangan air mata. Ingin sekali ia membawa perempuan itu kedalam pelukannya. Mengusap lembut pipinya yang basah. Tapi, ia tidak memiliki kuasa akan hal itu.


"Kamu, kenapa sampai di sini?" Tanya Kevin, mengingat tempat ini jauh dari restoran, juga tempat usaha Hasna. Pasti jauh juga dengan tempat tinggal perempuan itu.


"Ee... Aku, aku tadi ada sedikit urusan di daerah sekitar sini." Ucap Hasna beralasan. Tak lupa ia menyunggingkan senyuman, yang terkesan dipaksakan.


Bibir perempuan itu nampak cantik saat tersenyum seperti ini, tapi matanya tak memancarkan keceriaan. Mata itu seolah redup. Mendung bergelayut di kedua pelupuknya.


"Boleh duduk?"


Seperti biasa, Hasna tak akan langsung menjawab jika posisinya tidaklah nyaman. Berduaan dengan laki-laki lain, bukan pilihan bagus. Terlebih dengan kondisinya saat ini.


Kevin duduk jauh di sisi kanan Hasna. Diliriknya perempuan itu dalam diam dengan ekor matanya. Terdengar beberapa kali helaan nafas panjang dan hembusan kasar. Keduanya terdiam tanpa kata.


"Apa kamu sendiri?" Kevin mencoba memecah kebisuan diantara mereka.

__ADS_1


"Ti...tidak."


"Bersama siapa? Suami kamu?" Kevin mengedarkan pandangannya ke sekeliling, mencari tahu siapa yang tengah bersama Hasna saat ini.


Hasna terdiam, tak berniat menjawab. Dan tak menoleh sedikitpun pada Kevin.


"Mas Kevin kenapa ada di sini?" Hasna mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Setiap sore aku selalu mampir ke sini. Dan selepas sholat maghrib, aku baru pulang. Taman ini satu arah dengan jalan pulang."


"Tempat ini aku pilih untuk melupakan kamu, Hasna. Tapi kenapa justru kamu datang kemari? Seolah aku tidak diperkenankan untuk melupakan semua tentang kamu."


Jawaban yang diberikan Kevin sudah cukup jelas. Tak perlu dipertanyakan kembali sebab laki-laki itu sampai kemari. Mungkin dia saja yang terlalu jauh mencari tempat menenangkan diri.


"Mas Kevin, maaf. Sepertinya aku akan segera pulang. Sebentar lagi...suamiku akan segera sampai rumah." Hasna mencoba beralasan agar ia bisa segera meninggalkan tempat ini.


Perempuan itu segera beranjak, dan langkahnya terhenti saat Kevin kembali membuka suara.


"Aku tau kamu sedang tidak baik-baik saja. Apa karena laki-laki itu?" Terka Kevin.


Hasna menoleh kepada Kevin dengan tatapan tak suka. Ia tidak suka ada seseorang yang mencampuri urusan pribadinya terlalu jauh. Tapi keadaan saat ini, sungguh tidak disengaja jika Kevin mengetahuinya.


"Tidak." Ketusnya. Namun sepersekian detik, ekspresi yang Hasna tunjukkan berubah melembut, bahkan perempuan itu terlihat tersenyum tipis.


"Maaf, aku permisi. Assalamu'alaikum." Segera Hasna melangkah cepat untuk meninggalkan Kevin.


Kevin menatap kepergian Hasna yang semakin menjauh dari pandangannya. Tanpa perempuan itu jelaskan, Kevin tau jika Hasna sedang tidak baik-baik saja. Tapi Kevin sadar, tak sepantasnya ia mencampuri urusan pribadi Hasna. Ia cukup berharap, jika perempuan itu akan selalu baik-baik saja.


"Jika kamu tidak bahagia bersamanya, datanglah padaku, Hasna. Aku memang tidak bisa menjanjikan apa-apa, tapi aku pastikan senyuman itu tidak akan pernah surut. Tapi jika bahagiamu hanya bersamanya, semoga dia bisa selalu menjaga senyuman tak hanya di wajahmu, tapi juga hatimu."


***


"Apa Hasna datang kemari?" Tanya Rama pada salah satu pegawai restoran milik istrinya.


"Maaf, saya tidak melihat Mbak Hasna datang ke sini." Jawab pegawai perempuan yang itu.


"Saya mohon, jangan menutupi keberadaan Hasna." Desak Rama.


"Tapi saya tidak berbohong. Mbak Hasna datang hanya pagi tadi untuk bertemu Pak Hamzah. Setelahnya langsung pergi dan tidak kembali kesini sama sekali." Pegawai perempuan itu mencoba menjelaskan.


"Hamzah? Siapa Hamzah?" Selidik Rama dengan nada tidak suka.


"Dimana dia sekarang?" Tanya Rama tidak sabar.


"Pak Hamzah ada di ruangannya, Pak. Ada di sebelah sana." Jawab pegawai perempuan itu, sembari menunjuk ruangan yang dimaksudkan.


"Apa perlu saya antar?" Tawarnya.


"Tidak perlu."


Rama segera berlalu menuju ruangan yang diberitahukan oleh pegawai perempuan tadi. Rama berharap, semoga saja ia mendapatkan jawaban dimana keberadaan Hasna.


Tok, tok, tok.


"Masuk." Terdengar sahutan dari dalam. Rama pun segera masuk.


Hamzah memperhatikan tamunya. Nampak asing. Mungkin salah satu pengunjung restoran yang akan mengadukan komplain, mungkin saja.


"Silahkan duduk." Persilahkan Hamzah.


"Tidak perlu, saya hanya sebentar." Hamzah mengerutkan keningnya.


"Apakah tadi Hasna datang menemui anda?" Tanya Rama to the point.


"Iya, benar. Maaf an_."


"Apa dia mengatakan sesuatu? Maksud saya, tujuannya setelah kemari?" Tanya Rama, bahkan tanpa menunggu Hamzah yang belum menyelesaikan kalimatnya.


"Tidak. Hanya mengantarkan undangan, dan setelah itu Mbak Hasna pamit."


"Baiklah, terima kasih." Setelah mengucapkan itu Rama segera berlalu dari ruangan Hamzah.


Laki-laki yang aneh, pikir Hamzah.


"Tapi siapa dia?" Gumam Hamzah.


***

__ADS_1


Rama kembali mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Bukan keselamatan yang menjadi prioritasnya kali ini, tapi Hasna. Hati dan pikirannya terfokus hanya pada istrinya.


Berkali-kali ia mengumpat kesal manakala terjebak kemacetan. Ia harus sampai di rumah sebelum petang. Ia harus membicarakan semuanya dengan Hasna. Masalah ini harus selesai hari ini juga.


Tin, tin, tin.


Rama menekan klakson mobilnya dengan tidak sabar, membuat Pak Mamat terburu membukakan gerbang rumah.


"Pak, Hasna sudah pulang?" Tanya Rama setelah mobilnya terparkir di pekarangan.


"Sejak dari pagi pergi sama Masnya, Mbak Hasna belum pulang tuh." Jawaban Pak Mamat justru membuat Rama semakin merasa khawatir. Dimana perginya perempuan itu?


"Pak, tolong kembali bukakan gerbang. Jika Hasna sudah pulang, segera hubungi saya." Pinta Rama.


Rama kembali masuk ke dalam mobil, dan Pak Mamat gegas membukakan gerbang kembali.


"Iki ono opo toh?" Gumam Pak Mamat yang terus memandang kepergian mobil Rama.


Rama benar-benar gelisah. Hasna sudah tidak lagi memiliki kerabat, lalu kemana istrinya itu berada. Rama pun tak begitu mengenal pergaulan Hasna. Bahkan tidak tau siapa saja teman-teman istrinya. Hanya satu nama yang ia ingat, Dimas. Cucu penjaga makam di dekat rumah Kakek. Tapi sangat tidaklah mungkin jika Hasna kesana, terlebih Dimas seorang laki-laki.


Segera ia membelokkan kemudi menuju rumah almarhum Kakek. Hanya tempat itu harapan Rama satu-satunya. Semoga saja Hasna memang berada di sana.


Lima belas menit lagi adzan maghrib. Bahkan ia sampai melupakan makan siangnya karena kejadian ini.


"Sebaiknya aku sholat dulu. Aku butuh ketenangan." Lirihnya.


Lima puluh meter lagi ada sebuah masjid yang bersebelahan dengan sebuah mini market. Rama melaju perlahan dan berbelok di halaman masjid.


***


Rama sedikit merasa tenang setelah melaksanakan kewajibannya. Sebelum melanjutkan perjalanan, ia sempat ke minimarket di sebelah masjid untuk membeli sebotol air mineral. Rama meminum beberapa teguk untuk sekedar membasahi tenggorokan yang terasa kering. Setelahnya kembali ia melanjutkan perjalanan ke rumah almarhum Kakek.


Rumah nampak sepi, tapi terlihat pintu yang sedikit terbuka. Rama segera turun dari mobil dan berjalan ke arah pintu utama.


Tok, tok, tok.


"Assalamu'alaikum."


Tidak ada sahutan.


Tok, tok, tok.


"Wa'alaikumussalam." Akhirnya ada sahutan juga.


Nampak Mbak Marni yang menyambut kedatangannya.


"Mas Rama, ya?" Mbak Marni mencoba mengingat siapa tamunya, karena Rama tidak pernah lagi ke rumah Kakek selepas acara tujuh harinya.


"Hasna ada?" Todong Rama tanpa menjawab pertanyaan Mbak Marni terlebih dahulu.


"Mbak Hasna?" Mbak Marni nampak mengernyit heran. Rama mengangguk.


"Loh, bukannya Mbak Hasna sudah pulang dari tadi ya, Mas. Kesininya pagi soalnya." Rama menyugar rambutnya frustasi, kemana lagi ia harus mencari istrinya.


Mbak Marni memperhatikan penampilan Rama yang masih mengenakan setelan kantornya, hanya saja kemeja yang nampak di gulung hingga ke siku, dan tanpa jas.


"Mbak Marni tidak bohong, kan?" Rama hanya memastikan jika perempuan dihadapannya ini tidak bersekongkol dengan Hasna untuk menyembunyikan keberadaannya.


"Astaghfirullah, sumpah demi Allah, Mas, Mbak Hasna tidak ada di sini. Mas Rama bisa cek sendiri kalau mau." Ucap Mbak Marni meyakinkan, bahkan menggeser tubuhnya mempersilahkan Rama untuk masuk ke dalam rumah.


Rama tetap di posisinya, tidak ingin masuk, apalagi meninggalkan rumah. Lalu tak lama muncul seorang laki-laki dari dalam rumah.


"Mbak, udah selesai. Saya pamit, ya." Ucap laki-laki itu.


Rama memperhatikan laki-laki itu. Terlihat di tangan kirinya menggenggam kunci pipa, mungkin dimintai tolong Mbak Marni untuk membetulkan keran air yang mampet.


"Eh, iya. Makasih banyak ya, Dimas." Ucap Mbak Marni.


Fokus Rama beralih pada laki-laki yang dipanggil Dimas oleh Mbak Marni. Rama memperhatikan penampilan pemuda dihadapannya. Sepertinya memang Dimas yang sama dengan Dimas teman semasa kecil Hasna, jika di taksir dari usia mereka.


Pemuda yang cukup menarik, dengan kulit khas Indonesia yang berbanding dengannya yang berkulit putih. Tinggi mereka hampir sama, bahkan postur tubuhnya tak kalah menarik darinya. Bisa berbahaya nantinya, jika Hasna sering bertemu Dimas.


"Mas? Mau masuk dulu?" Rama kembali tersadar saat Mbak Marni menepuk lengannya. Bahkan Dimas sudah berlalu melewati gerbang depan.


"Tidak. Saya langsung kembali saja." Tolaknya.


"Ada apa sama mereka? Duh Gusti, semoga hubungan mereka baik-baik saja." Ucap Mbak Marni yang menatap kepergian Rama.

__ADS_1


***


__ADS_2