Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 128


__ADS_3

Rama beserta yang lainnya dengan penuh kecemasan menunggu hasil pemeriksaan Hasna keluar. Bahkan Pak Andi turut meninggalkan pekerjaan saat mendapatkan kabar tentang kondisi Hasna. Satu jam lebih Hasna melakukan serangkaian pemeriksaan, tapi tak ada tanda-tanda Dokter atau perawat menyampaikan hasilnya.


Rama menatap lurus kedepan dengan bibir yang selalu bergerak menyebut nama Tuhannya. Memohon pertolongan untuk kekasih hatinya. Bu Diana dengan setia menggenggam erat jemari putra sulungnya itu. Berusaha memberikan kekuatan lewat sentuhan lembutnya.


Drrrtt, drrrtt, drrrtt


Ponsel Rama yang ada di genggaman Nayla berbunyi. Ada sebuah panggilan masuk. Tapi tidaklah mungkin kakaknya mau menjawab. Nayla mengabaikannya hingga panggilan berakhir.


Drrrtt, drrrtt, drrrtt


Panggilan dari nomer yang sama kembali masuk. Nayla menatap benda pipih itu. Gadis itu ragu untuk menjawabnya. Kembali gadis itu mengabaikannya. Namun panggilan kembali masuk dan berulang beberapa kali.


"Halo, Rama? Aku ada di depan ruang rawat Hasna, tapi kenapa kosong, ya?" Ucap suara dari seberang sana.


"Halo." Nayla akhirnya menjawab panggilan yang berulang itu dengan sedikit menjauh dari yang lainnya.


"Maaf, apa bener ini nomer telpon Rama Suryanata?" Seseorang di seberang sana berusaha memastikan jika tidak sedang salah sambung.


"Iya benar, saya adiknya."


"Maaf, eee... Na..." Lawan bicara Nayla berusaha mengingat nama gadis itu.


"Nayla."


"Ah, iya, maaf."


Hening


"Oh iya, emmm...apakah Hasna dipindahkan ruangan?"


"Kami belum tahu. Mbak Hasna masih menjalani pemeriksaan. Do'akan saja, agar semua hasilnya baik."


"Maksudnya gimana?"


"Dokter bilang, Mbak Hasna kemungkinan mengalami koma. Tapi untuk memastikannya, tim dokter masih melakukan pemeriksaan lanjutan pada Mbak Hasna."


"....."


"Halo?" Ucap Nayla, karena lawan bicaranya terdiam cukup lama.


"Halo?" Ulang gadis itu sembari memeriksa jika panggilan masih terhubung.


"Halo?" Tetap tidak ada suara. Panggilan pun Nayla akhiri sepihak.


***


Berita kecelakaan yang menimpa Hasna telah sampai pada Bu Rosita. Semalam Kevin yang mengabarkannya. Dan hari ini, rencananya Kevin akan menjenguk langsung bersama sang ibu.


Dengan membawa parcel buah-buahan segar, Kevin beserta ibunya menyusuri koridor rumah sakit. Langsung menuju di lantai dua tempat Hasna di rawat.


Tok, tok, tok


"Assalamu'alaikum." Ucap Kevin.

__ADS_1


Hening, tak ada sahutan sama sekali dari dalam.


Tok, tok, tok


"Assalamu'alaikum." Ulang Kevin, namun tetap tanpa jawaban.


"Apa mungkin kamu salah informasi? Sepertinya kamar ini kosong." Ucap Bu Rosita.


"Tidak, Ma. Kevin yakin ini kamarnya. Semalam Kevin sempat menanyakan kondisi Hasna dan di kamar mana ia di pindahkan. Rama mengatakan di paviliun teratai lantai dua nomer 52." Ucap Kevin. Laki-laki itu kembali membuka chat nya dengan Rama semalam, dan mencocokkan nama juga nomer kamar, memang benar kamar ini ruang rawat yang Hasna tempati.


"Tapi kok sepi? Coba deh kamu telepon suaminya Hasna." Saran Bu Rosita.


Kevin segera mendial nomer Rama, tersambung tapi tidak di angkat.


"Kenapa?" Tanya Bu Rosita saat Kevin mendengus kasar.


"Nyambung sih, tapi tidak di angkat." Ucap Kevin.


"Coba lagi lah."


Beberapa kali Kevin mencoba menghubungi, tapi tetap saja, panggilannya tidak juga di jawab. Hingga pada panggilan ke delapan, akhirnya panggilan di jawab juga.


"Halo, Rama? Aku ada di depan ruang rawat Hasna, tapi kenapa kosong, ya?" Ucap Kevin.


"Halo." Kevin sedikit menjauhkan ponsel miliknya dan memeriksa apakah benar yang ia hubungi nomer Rama. Tapi kenapa suaranya perempuan?


"Maaf, apa bener ini nomer telpon Rama Suryanata?" Tanya Kevin, berusaha memastikan jika ia tidak sedang salah menghubungi orang.


"Iya benar, saya adiknya." Ternyata adik Rama yang mengangkat panggilannya.


"Kami belum tahu. Mbak Hasna masih menjalani pemeriksaan. Do'akan saja, agar semua hasilnya baik." Ucap gadis itu dari seberang sana.


Kevin mengerutkan keningnya, tidak paham dengan arah ucapan Nayla. Pemeriksaan apa? Bukankah Hasna telah melewati masa kritis, dan sudah di pindahkan di ruang rawat? Tapi kenapa sekarang adik perempuan Rama mengatakan jika Hasna masih menjalani pemeriksaan, dan memintanya untuk mendoakan agar semua hasilnya baik? Ada apa sebenarnya?


"Maksudnya gimana?" Tanya Kevin dengan rasa bingungnya.


"Dokter bilang, Mbak Hasna kemungkinan mengalami koma. Tapi untuk memastikannya, tim dokter masih melakukan pemeriksaan lanjutan pada Mbak Hasna." Jawab gadis itu.


Koma? Hasna koma? Kevin berharap ia salah mendengarkan ucapan Nayla. Tapi tidak mungkin gadis itu menyampaikan hal seserius ini tanpa alasan. Terlebih menyangkut kondisi kakak iparnya.


Tiba-tiba saja, jantung Kevin serasa dipaksa untuk berhenti berdetak. Mendengar kondisi Hasna benar-benar membuatnya merasakan sesak luar biasa.


Kevin tak lagi mendengarkan suara dari balik telepon. Rasanya sudah tidak ada yang dapat ia dengar dengan baik. Semua serasa bagaikan hembusan angin yang menyapu pendengarannya.


"Kevin, ada apa?" Tanya Bu Rosita pada putranya yang menatap kosong ke arah kamar rawat Hasna.


"Kevin?" Bu Rosita menepuk pelan pundak laki-laki itu. Tiba-tiba saja tubuh tegap itu merosot, bersimpuh di atas lantai dengan tangan yang masih menggenggam ponselnya.


"Kevin, kamu kenapa? Ada apa? Katakan. Jangan buat Mama ikutan panik begini." Ucap Bu Rosita dengan rentetan pertanyaan. Bahkan wanita paruh baya itu mengguncangkan bahu putranya, karena tak kunjung mendapatkan jawaban.


"Kevin lihat Mama." Bu Rosita menangkup pipi putranya agar laki-laki itu menatap fokus ke arahnya.


"Katakan, ada apa, Nak?" Bu Rosita melihat raut kekhawatiran di wajah sang putra. Bahkan nafas putra kesayangannya itu terdengar berat.

__ADS_1


"Hasna... Hasna..." Lirih laki-laki itu.


"Hasna kenapa?" Tanya Bu Rosita dengan kepanikan yang kentara.


"Hasna... Hasna kemungkinan mengalami koma, Ma." Setitik bulir bening menerobos paksa saat ia mengatakan hal itu.


Bu Rosita menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Mendengar kabar Hasna yang kemungkinan mengalami koma, membuat wanita paruh baya itu benar-benar syok, hingga kehilangan kata-kata.


Beberapa menit mereka bertahan dalam posisi itu. Hingga pada akhirnya, Kevin bangkit dan kembali menghubungi nomer yang sama. Menanyakan di mana seluruh anggota keluarga Suryanata berada.


***


Rama berserta anggota keluarga yang lain saling diam. Larut dalam pikiran mereka masing-masing. Lisan mereka tak hentinya melantunkan doa-doa. Memohon agar masa sulit ini segera berlalu.


Atensi mereka teralihkan saat seorang dokter keluar dari ruang yang sedari tadi tertutup rapat itu. Rama segera bangkit, dan menghampiri laki-laki bersnelli itu.


"Bagaimana, Dokter? Bagaimana kondisi istri saya? Apa semuanya baik-baik saja?" Rama memberondong Dokter dengan pertanyaan yang sedari tadi memenuhi pikirannya.


Dokter itu terlihat menghirup nafas panjang dan menatap lurus pada Rama.


"Maafkan kami, tapi berita ini harus kami sampaikan. Pasien...mengalami koma." Ucap Dokter.


Tubuh Rama seketika merosot. Rasanya tak ada lagi tulang yang mampu menopang bobot tubuhnya. Pak Andi segera menghampiri sang putra dan membantunya untuk berdiri. Pak Andi yang dibantu oleh Dokter, membantu Rama untuk duduk di bangku panjang yang sedari tadi mereka tempati.


"Lalu, bagaimana dengan kehamilan menantu saya, Dokter? Apakah masih bisa di selamatkan?" Tanya Pak Andi.


"Masalah ini, nanti biar dokter Yunita yang menjelaskan. Beliau masih memeriksa kondisi pasien di dalam."


Tak lama, Kevin beserta Bu Rosita datang menghampiri keluarga Suryanata yang tengah berkumpul di depan sebuah ruangan dengan seorang dokter. Nampak Rama yang terduduk dengan pandangan kosong, serta Bu Diana juga Nayla yang sama-sama terisak dalam pelukan.


Kevin ragu untuk melangkah lebih mendekat ke arah mereka. Sepertinya Dokter menyampaikan hal yang tidak baik.


Tak lama seorang dokter perempuan keluar dari dalam ruangan dan menghampiri Pak Andi yang tengah berbincang dengan Dokter.


"Ini, dokter Yunita, Dokter spesialis kandungan yang menangani pasien." Ucap Dokter laki-laki itu.


"Bagaimana, Dok. Apakah kandungan menantu saya baik-baik saja, dengan kondisinya yang sekarang?" Tanya Pak Andi. Rama bangkit dari duduknya menghampiri Dokter perempuan itu.


"Alhamdulillah, kandungannya tidak mengalami masalah. Hanya saja hamil dalam keadaan pasien yang seperti sekarang, sangatlah beresiko." Dokter berjilbab biru itu menjelaskan kondisi Hasna serta kemungkinan-kemungkinan yang akan di alaminya jika kondisinya tidak kunjung membaik.


"Apakah dapat di pastikan, berapa lama istri saya dalam keadaan koma, Dok?" Tanya Rama. Laki-laki itu sudah tidak bisa lagi menyembunyikan kekhawatirannya akan kondisi perempuan yang sangat dicintainya.


"Kami, tim dokter, tidak bisa memastikan berapa lama pasien mengalami koma. Bisa saja dalam jangka waktu pendek, dan bahkan bisa juga dalam jangka waktu yang panjang. Dalam artian, bisa terjadi hingga beberapa tahun lamanya." Ucap Dokter laki-laki itu.


"Astaghfirullahal'adzim." Lirih Rama. Laki-laki itu mengusap kasar wajahnya. Dadanya bergemuruh hebat.


"Yang terpenting, untuk saat ini, pasien sangat membutuhkan dampingan dan dukungan dari keluarga, juga orang-orang terdekat. Setidaknya, kita bisa berusaha, agar pasien tetap memiliki semangat untuk tetap hidup, dan memiliki keinginan untuk sembuh. Apalagi yang diperjuangkan bukan hanya hidupnya, tapi juga hidup calon anak yang di kandungnya." Papar Dokter.


"Bapak harus kuat untuk tetap mendampingi istri Bapak. Memberikan dukungan, agar istri Bapak memiliki semangat untuk melewati masa-masa sulit ini." Timpal dokter Yunita.


***


Makasih banyak buat teman-teman yang masih setia mengikuti sampai sejauh ini.🙏🏻🙏🏻

__ADS_1


Terima kasih juga atas dukungannya, like, vote, juga gift kalian buat karya pertama saya. 😘😘


Jika berkenan, bisa juga kasih ulasannya. Kritik dan saran pun saya terima.🥰🥰


__ADS_2