Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 63


__ADS_3

Keduanya masih bertahan dengan posisi ternyaman yang mereka ciptakan. Saling memeluk dan saling memberi kenyamanan.


"Hasna, maukah kamu menungguku?" Tanya Rama.


"Menunggu, maksud Mas Rama?"


"Tunggulah aku benar-benar sembuh, aku ingin merasakan berbulan madu dengan perempuan istimewaku. Aku ingin jika kamu bisa melahirkan penerusku nantinya." Ucap Rama penuh harap.


Hasna terdiam tak menjawab, namun lebih mengeratkan pelukannya.


"Mungkin, dulu aku terlalu berpikiran picik tentang pernikahan kita. Aku menganggap jika pernikahan tanpa adanya dasar cinta, maka tidak akan bisa berhasil. Terlebih dari sebuah perjodohan, yang kita tidak pernah tau siapa pasangan kita. Dan bisa dipastikan akan gagal."


"Tapi nyatanya aku salah jika berspekulasi seperti itu. Cinta bisa tumbuh seiring waktu. Dan aku memiliki harapan yang sangat besar, jika pernikahan kita akan berhasil. Kita akan selalu berjalan beriringan, saling berpegangan tangan hingga kita menua bersama."


Ya itu juga yang menjadi harapan Hasna selama ini. Pernikahannya akan langgeng.


"Jadi, bagaimana?" Tanya Rama.


"Apa?"


"Apa kamu mau menunggu hingga aku benar-benar sembuh?"


"Waktu kontrol kemarin, sempat tanya sama Dokter, katanya perlu waktu kurang lebih satu bulan lagi supaya benar-benar kuat untuk dipakai olah raga."


"Kok olah raga?" Tanya hasna. Apa hubungannya coba.


"Ya, aktivitasnya hampir sama seperti push up." Lirihnya.


"Emang Mas Rama mau bentuk otot, kok jadinya push up?" Tanya perempuan itu polos.


Rama jadi bingung menjelaskannya pada Hasna, jika aktivitas yang akan mereka lalui bersama ada gerakan yang memerlukan kekuatan otot bahu juga.


"Kamu terlalu polos Hasna. Aku jadi bingung bagaimana harus menjelaskannya."


"Eee...jadi..."


"Jadi apa?"


"Jadi begini... aktivitas suami istri itu, ee..." Rama bingung harus menjelaskan mulai dari mana.


""Kemarin aku sempat searching, jika seorang perempuan yang masih tersegel, virgin maksudnya, itu tidak di sarankan jika harus mengambil posisi di atas seperti saran dokter waktu itu." Ucap Rama. Hasna membulatkan matanya dalam pelukan Rama. Arah pembicaraan sudah semakin intim saja.


"Dan kemarin, aku sempat menanyakan sama Dokter juga, jika posisi itu akan menyakiti perempuan. Karena koyakan pertama harus dilakukan selembut mungkin, agar tidak menimbulkan trauma setelahnya. Dan posisi ternyaman, aku yang pegang kendali."


Hasna semakin menelusup, menyembunyikan rona merah jambu di wajahnya. Sebenarnya Rama pun sama, ia malu membahas hal seperti ini, tapi mereka suami istri. Dan mereka sama-sama tidak berpengalaman. jadi wajar jika melakukan diskusi terlebih dulu.


Saat terakhir kontrol memang Rama berpamitan ke toilet dan ia di suruh menunggu di lobi. Lumayan lama, Hasna pikir toilet sedang penuh. Tapi ternyata suaminya itu berkonsultasi pada dokter soal "olah raga" ini.


"Aku tidak mau menyakiti kamu. Nanti kalau kamu sampai trauma..." Hasna masih setia menyimak, tapi Rama tidak melanjutkan kata-katanya.


"Bisa gawat nantinya, bisa-bisa cuma dapat sekali." Gumam Rama.


"Mas Rama ngomong apa?" Hasna mendengar gumaman suaminya, tapi tidak bisa mendengar jelas apa yang suaminya katakan.


"Enggak." Elaknya.


"Tapi kayaknya aku denger deh, Mas Rama gumam-gumam gitu." Hasna yakin tidak salah dengar, tapi kalimatnya yang tidak jelas.


"Perasaan kamu aja kali." Ucap Rama.


Bisa jadi, tapi ya sudahlah biarkan saja.


Rama memposisikan diri untuk segera beristirahat. Dan Hasna tetap dalam dekapannya.


***


"Ivan, hari ini saya tidak bisa ke kantor. Tolong kamu handle, jika ada apa-apa tolong kabari saya." Ucap Rama melalui sambungan telepon.


Laki-laki itu kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku dan menghampiri istrinya. Hari ini rencananya mereka akan berkunjung ke rumah keluarga Suryanata. Hasna mengatakan jika ia merindukan Mama mertua. Hal itu yang membuat Rama semakin menyukai kepribadian istrinya. Hasna menganggap ibunya sebagai ibu kandungnya juga, bukan sebagai mertua. Dan terkadang ia merasa seperti anak tiri jika Mamanya selalu berpihak pada Hasna.


"Sudah siap?" Tanya Rama.


Hasna tengah menyusun red velvet buatannya ke dalam kotak makan yang akan dijadikan buah tangan saat berkunjung nanti. Tak lupa juga chesse cake yang baru kali ini ia buatkan untuk keluarga suaminya.


"Wah, enak nih." Rama melingkarkan ke dua tangannya di perut sang istri, memeluknya dari belakang. Dan hal seperti ini selalu membuat Hasna terkejut.

__ADS_1


"Kamu kenapa selalu berjingkat saat aku sentuh? Dulu aku gandeng, kamunya melotot, sekarang di peluk seperti ini kamu kayak lagi di lempari petasan saja." Protesnya.


"Apaan sih, aku itu suka kaget kalau mas Rama tiba-tiba pegang, dan peluk-peluk kayak gini." Rama mencium pipi Hasna sekilas.


"Kalau cium, nggak bikin kaget, kan?" Sekali lagi Rama mencium pipi perempuan itu.


"Mas Ramaaa..." Rengeknya manja.


Rama semakin mengeratkan pelukannya, membuat pergerakan Hasna semakin terbatas.


"Apa sih?" Tanya lelaki itu cuek.


"Aku nggak bisa gerak." Kegiatan Hasna jadi melambat.


"Ya gerak aja, aku kan nggak gangguin kamu, nggak pegang tangan kamu juga."


"Iya...nggak pegang, tapi kamu gelendotan gini. Aku jadi susah geraknya."


Rama sedikit mendengus dan melepaskan pelukannya. Hasna bisa bernafas lega, pekerjaannya akan segera selesai kalau begini.


"Kamu bikin kue banyak banget." Sudah ada tiga kotak red velvet dan dua kotak cheese cake.


"Dua kotak buat orang rumah, sisanya buat para pekerja. Pekerja di rumah mas Rama kan banyak." Hasna masih menata kue di kotak yang lebih kecil.


"Terus itu buat siapa?" Rama menunjuk kotak di taya


ngan istrinya.


"Kalau ini, khusus buat Pak Yanto. Beliau udah nemenin kita kemarin. Malah sempat buat cemas."


Pak Yanto sudah pamit kembali ke rumah keluarga Suryanata sejak pagi tadi.


"Maaf ya, kencan pertama kita kemarin gagal. Lain kali kita agendakan lagi." Ucap Rama penuh sesal.


"Enggak ah, aku nggak mau lagi kalau diajakin kencan sama Mas Rama. Romantis enggak, kepergok iya. Ujung-ujungnya malah kena razia." Perempuan itu terlihat cemberut.


"Ya...namanya juga kejadian tak terduga. Kita kan nggak pernah tau." Rama berusaha membela diri.


"Udah ah, ayo. Udah kelar semua. Sebentar aku ambil tas dulu." Hasna kembali ke kamar.


Hasna membawa satu kantong yang masih ada di atas meja makan. Rupanya Rama kembali dan akan membawa sisanya ke mobil.


"Sudah, biar aku saja." Rama berusaha mengambil kantong dari tangan istrinya. Tapi tidak Hasna berikan.


"Biar aku saja." Hasna tetap membawanya. Ia tidak membiarkan Rama mengangkat beban dulu, demi kesembuhan suaminya.


Perempuan itu memberikan sekotak kue untuk Pak Mamat. Dan kemudian masuk ke dalam mobil.


***


Rumah keluarga Suryanata nampak lengang. Biasanya ada Mama yang menyambut kedatangannya. Tapi kali ini, ia tidak memberitahukan kedatangannya. Mungkin akan menjadi sedikit kejutan untuk beliau.


Rama meminta bantuan pada sekuriti untuk membawakan bawaan mereka ke dalam.


"Assalamu'alaikum." Ucap keduanya saat memasuki rumah.


"Wa'alaikumussalam." Jawab Bu Diana dan Nayla bersamaan. Rupanya mereka tengah bersantai di ruang tengah.


Nayla selalu heboh jika ada Hasna yang datang berkunjung. Tapi untuk kali ini, gadis itu tidak langsung memeluk ipar perempuannya. Gadis itu memperhatikan Rama dan juga Hasna yang datang dengan tangan Rama yang merangkul pundak Hasna. Rupanya sudah banyak kemajuan.


"Ma, mereka rangkualan." Bisik Nayla.


Bu Diana hanya melihatnya sekilas dan tersenyum. Keduanya menghampiri beliau dan mencium tangan Bu Diana bergantian.


"Apa kabar, Ma?" Tanya Hasna memeluk ibu mertuanya.


"Kabar Mama baik, Sayang." Bu Diana mengusap lembut punggung menantunya.


"Duduk dulu." Keduanya duduk bersebelahan.


"Kamu gimana? Mama sempet khawatir sama kamu. Tadi Pak Yanto sempet cerita kalau kalian kena masalah saat di luar kota kemarin. Itu bagaimana ceritanya sampai kena razia? Kata Pak Yanto, kalian sempat dijemput Pak Darma." Tanya Mama mertua. Beliau melihat putra dan menantunya bergantian.


Hasna melirik sekilas pada Rama. Rupanya Pak Yanto sudah bercerita tentang kejadian itu. Mungkin Mama mertua menanyakannya karena Pak Yanto kembali tidak sesuai dengan waktunya.


"Emm...itu hanya salah paham, Ma." Jawab Rama.

__ADS_1


Rama menceritakan kronologi kejadian kemarin pada ibunya. Bu Diana terlihat menghela nafas dalam. Sedangkan Nayla, gadis itu tertawa mendengarnya.


"Lagian Kak Rama, nggak bisa kasih bukti akurat sih. Iya kalau Bian lawannya, tuh anak pasti iya, iya aja. Kak Rama nyosor Mbak Hasna kayak waktu itu pasti dia percaya kalau kalian suami istri." Nayla jadi teringat curhatan Bian beberapa waktu lalu tentang kelakuan Kakak lelakinya itu.


Hasna terlihat salah tingkah, sedang Rama terlihat cuek.


"Maksud kamu apa, Nay?" Tanya Bu Diana. Beliau tidak paham maksud perkataan anak perempuannya.


"Mama masih inget Bian temen Nay, nggak? Pengagum beratnya Mbak Hasna?" Bu Diana mengangguk.


"Jadi si Bian nggak sengaja ketemuan sama Mbak Hasna di mall." Ucap Nayla.


Nayla menceritakan curhatan Bian saat bertemu dengan Hasna dan juga Rama. Bagaimana perlakuan Kakak laki-lakinya itu kepada Hasna saat menunjukkan bukti bahwa mereka sepasang suami istri. Hingga berujung patah hatinya Bian.


"Kamu itu, nggak pernah bener emang. Mbok ya lihat situasi kalau lagi kissing sama Hasna. Jangan di tempat umum. Bikin malu." Tegur Bu Diana.


"Nggak sengaja, Ma. Rama juga reflek ngelakuinnya. Gara-gara laki-laki brengsek itu nggak percaya, mana ngatain Rama udah tua pula." Bela Rama.


"Pantesan kamu dibilang tua, itu coba bersihin brewok kamu itu. Biar kelihatan ganteng." Ucap Mama.


Rama menoleh sekilas pada Hasna yang duduk di sebelahnya. Apa iya, jika penampilannya yang berjambang seperti ini membuatnya terlihat tua?


***


Malam ini Rama dan Hasna akan bermalam di rumah orang tua Rama. Keduanya tengah bersantai di gazebo belakang sambil menunggu waktunya makan malam.


Rama tak mengizinkan Hasna untuk bantu-bantu ART menyiapkan makan malam untuk mereka. Makanya ia mengajak Hasna untuk duduk santai di tepi kolam renang, sambil menikmati kue buatan istrinya tadi.


Bu Diana, Pak Andi, juga Nayla memperhatikan keduanya dari balik jendela. Mereka begitu senang saat mendapati hubungan keduanya semakin dekat. Terlebih melihat Rama yang begitu manjanya pada Hasna.


Laki-laki itu tidur di pangkuan Hasna. Dan seperti biasa ia akan meminta istrinya untuk membelai rambutnya. Mungkin itu salah satu posisi favorit Rama selain memeluk istrinya.


"Maaf, Bu, makan malam sudah siap." Kata Mbok Sumi.


"Ah, iya. Terima kasih, Mbok." Ucap Bu Diana.


"Mbok, boleh minta tolong? Tolong panggilin Rama ya, Mbok." Mbok Sumi mengikuti arah pandangan majikan perempuannya itu. Rupanya putra kesayangan beserta istrinya sedang berada di gazebo.


"Baik, Bu."


Mbok Sumi segera menghampiri keduanya. Sedangkan Bu Diana mengajak suami dan putrinya untuk segera ke meja makan.


Rama merangkul pundak Hasna saat menuju ruang makan. Dan perlakuan manis itu membuat Bu Diana tersenyum. Semoga saja hubungan mereka semakin dekat.


"Makan dulu, Sayang." Ajak Bu Diana.


Rama dan Hasna mengambil posisi di tempat biasa yang mereka tempati. Rama membantu istrinya dengan menarik kursi agar Hasna bisa duduk di sana.


Tapi belum sempat Hasna duduk, wajah perempuan itu terlihat tidak nyaman.


"Kenapa?" Tanya Rama, Hasna hanya menggeleng.


Hasna menutup hidung dan mulutnya dengan telapak tangan, saat rasa tidak nyaman itu kembali datang.


"Hueeek."


Atensi keempat orang yang berada di meja makan berpusat pada Hasna. Perempuan itu berlari ke belakang dengan memegang perut juga menutup mulutnya.


"Hasna kenapa?" Tanya Bu Diana panik.


"Rama juga nggak tau, Ma." Jawab Rama dengan wajah yang terlihat panik.


"Coba kamu cek dulu." Ucap pak Andi.


Rama segera bangkit dari tempatnya. Tapi baru akan melangkah, terdengar lagi suara Hasna seperti hendak muntah dari arah belakang. Terdengar lebih parah dari yang barusan.


"Langsung bawa istirahat saja. Sepertinya istri kamu mabok berat." Ucap Pak Andi.


"Wah, jangan-jangan Mbak Hasna hamil." Pekik Nayla. Mata gadis itu terlihat berbinar.


"Hamil?" Ucap Bu Diana, Pak Andi dan Rama bersamaan.


Raut bahagia nampak di wajah kedua orang tuanya, tapi tidak dengan Rama. Justru raut wajahnya terlihat terkejut.


Hasna hamil? Mana mungkin. Sedangkan hal terjauh yang mereka lakukan hanyalah sebatas berciuman. Mustahil sekali jika istrinya itu hamil karena ciuman darinya.

__ADS_1


***


__ADS_2