
Rama sudah lebih segar sekarang. Laki-laki itu memilih untuk sholat isya' terlebih dulu sebelum ikut terlelap bersama sang istri. Selepas itu, ia langsung bersiap untuk tidur.
Dipandangnya wajah cantik yang terlihat begitu damai terbuai mimpi itu. Dikecupnya lembut kening sang istri yang menyelimuti seluruh tubuhnya, dan yang terlihat hanyalah bagian kepalanya saja.
Rama segera mengambil posisi di sisi kosong sang istri. Kedua netranya terbelalak sempurna saat menyibak selimut yang menyelimuti tubuh Hasna. Nafasnya pun seakan terhenti.
"Hasna." Erangnya tertahan.
Ingin sekali ia mengungkung perempuan itu saat ini juga, namun ia tidak tega saat melihat wajah damainya. Rama berkali-kali menghirup nafas panjang dan membuangnya perlahan untuk menetralkan kembali rasa yang sudah hampir meledak-ledak. Namun sepertinya usahanya sia-sia. Dengan langkah cepat Rama segera keluar kamar dan memilih ke ruang gym di sebelah ruang kerjanya.
Rama memilih lari di atas treadmill untuk mengalihkan pikirannya. Hampir tiga puluh menit ia lakukan, dan berhasil, ia lebih tenang sekarang. Rama turun dan berbaring di atas matras dengan nafas yang terdengar masih memburu. Matanya terpejam. Keringat terlihat membanjiri seluruh tubuhnya. Bahkan pakaian yang ia kenakan basah oleh peluh.
"Mas."
Rama menajamkan pendengarannya, seperti ada yang memanggil namanya. Perlahan matanya terbuka dan mendapati sosok cantik yang berdiri tengah tersenyum menatap ke arahnya. Sosok yang sangat mirip dengan istrinya.
Perempuan itu mengenakan pakaian berbahan sutra yang sangat tipis. Dengan hiasan renda-renda transparan di beberapa bagian. Bahkan lekuk tubuhnya terlihat begitu jelas. Apalagi warna marun begitu kontras dengan kulit putih bersihnya. Membuat mata serasa di manjakan.
Rama menggelengkan kepalanya dengan cepat, seolah tengah mengenyahkan pikiran mesumnya.
"Ya Allah, astaghfirullah. Kenapa bayangannya serasa begitu nyata? Sia-sia hamba berlari selama setengah jam, jika pikiran ini masih kacau dan dipenuhi hasrat yang tak terkendali. Kamu begitu seksi Hasna, bahkan saat hanya bayanganmu yang aku lihat." Racaunya tak karuan.
Hasna semakin mendekat, meraba kening Rama yang masih dibanjiri peluh.
"Ahhh... Kenapa hanya dengan membayangkan kamu sedang menyentuhku, aku merasa segila ini, Hasna. Pergilah, jangan ganggu aku. Biarkan aku menenangkan diri, karena istriku telah terbuai mimpi. Hush...hush...pergi." Rama mengibas-ngibaskan tangannya di hadapan Hasna.
Hasna mengerutkan keningnya, kini malah ia di usir layaknya seekor kucing. Sebenarnya ada apa dengan suaminya, kenapa tingkahnya berubah aneh. Apa karena terlalu stress memikirkan pekerjaan dan sering lembur yang membuatnya aneh?
"Mas, kamu kenapa?" Tanya Hasna. Aneh sekali tingkah Rama kali ini.
Rama mengucek matanya, meyakinkan penglihatannya jika ia sedang tidak salah lihat. Rama langsung terduduk saat yang ia lihat tidak berubah. Berarti ia tidak sedang berhalusinasi.
"Sayang?" Rama meraba wajah dan lengan istrinya. Dan benar saja, yang tengah di hadapannya memanglah sang istri.
"Kamu kenapa sih, Mas?"
Tak menjawab, justru ia membuang nafas kasar seolah melepaskan beban yang sangat besar.
"Kamu lihat aku seolah tengah melihat hantu saja. Mana pake acara ngusir-ngusir segala, udah kayak sama kucing tau nggak?" Bibir perempuan itu terlihat mengerucut.
"Habisnya kamu..." Rama tidak meneruskan kalimatnya. Justru menarik perempuan itu ke dalam pangkuannya.
"Kamu sengaja menggodaku, ya? Hmmm." Rama mulai menghirup aroma khas tubuh sang istri.
__ADS_1
"Menggoda, maksudnya?"
"Pakaian ini?" Rama sengaja menurunkan tali tipis di pundak sang istri dan mulai memberikan kecupan-kecupan basah di sana.
"Ini kado pernikahan dari Nayla." Rama kembali menegakkan kepalanya saat mendengar nama sang adik disebut.
Dasar bocah tengil, tapi kali ini apa yang diberikannya sungguh bermanfaat luar biasa bagi sang kakak. Buktinya malam ini, pakaian aneh itu telah di pakai oleh Hasna. Ya, Rama akui jika kejutan Hasna berhasil dengan bantuan kado dari sang adik.
Rama kembali mendekap erat tubuh mungil sang istri. Mencicipi manisnya bibir ceri yang selalu menjadi favoritnya. Dengan sigap, laki-laki itu mengangkat tubuh sang istri dan membawanya kembali ke kamar.
"Waktunya olahraga berpahala." Pekik Rama.
Tidak sia-sia ia berlari selama tiga puluh menit di atas treadmill tadi, akhirnya olahraga sesungguhnya bisa dilakukan sekarang. Anggap saja tadi pemanasan, dan sekarang akan memasuki olah raga inti.
***
Tring
Satu notifikasi masuk kedalam ponsel, membuat Nayla urung memejamkan matanya. Sepertinya ia lupa mematikan data selulernya.
"Ckk...menganggu saja." Gerutunya.
Nayla meraih benda pipih itu berniat untuk mematikan data selulernya. Namun apa yang ia lihat, membuatnya mengurungkan niatnya itu.
"Oh em ji, Kak Rama? Serius?" Nayla sampai membuka mulutnya lebar-lebar.
"Aku nggak lagi mimpi, kan?" Nayla mencubit lengannya.
"Aww...sakit, ternyata bukan mimpi." Gadis itu tersenyum lebar melihat deretan angka yang berjejer di notifikasi m-banking miliknya.
"Oh em ji, Kak Rama. Semoga Kak Rama nggak lagi habis kepentok ngasih transferan sebanyak ini. Kalau sadar, bisa-bisa ntar minta dibalikin." Cicitnya.
Segera Nayla mengetikkan pesan untuk kakak laki-lakinya itu. Memastikan jika Rama tidak sedang salah transfer.
~Kak Rama habis transfer?~ Nayla.
~Nggak salah kirim emang?~ Nayla.
~Masuknya di rekening aku loh.~ Nayla.
~Jika ada kesalahan teknis, Nay nggak bisa balikin yah. Aku anggap ini rezeki adik solehah.~ Nayla. Pesan dengan sederet emotikon tertawa.
Pesan beruntun dikirimkan Nayla pada Rama. Satu menit, dua menit, masih tetap sama. Pesan belum terbaca. Nayla membuang nafasnya dengan kasar. Sepertinya memang Kakaknya salah kirim transferan. Apalagi nominalnya yang besar, tidak seperti nominal yang tiap bulan diterimanya dari Rama.
__ADS_1
Nayla kembali meletakkan ponselnya, dan mematikan data selulernya terlebih dulu. Namun belum juga ia non aktifkan, satu pesan dari Rama masuk terlebih dahulu.
~Buat kamu, sebagai tanda terima kasih.~ Rama.
Nayla membacanya secara berulang, dan isinya tetap sama.
"Hah, serius? Aku nggak lagi mimpi loh ini." Selorohnya heboh.
Segera ia ketikkan balasan pesan untuk Rama. Belum selesai ia ketik, satu pesan sudah masuk terlebih dulu.
~Tidak perlu membalas chat, atau bulan depan tanpa uang jajan.~ Rama.
Glek
Tanpa uang jajan? Segera ia hapus pesan yang akan di kirimkannya untuk Rama, demi misi penyelamatan uang jajan bulanannya. Gawat, memang ampuh sekali ancaman Rama.
"Hah, untung saja belum aku kirim. Oke deh, mending aku tidur, siapa tau dapat kejutan juga dari Mbak Hasna, hahaha."
***
Rama sudah berangkat ke kantor semenjak pagi, karena meeting yang telah terjadwal di jam makan siang, di reschedule menjadi pagi oleh klien. Tidak masalah, justru Rama senang karena pekerjaannya akan segera selesai.
Hasna sudah bersiap untuk ke toko kue miliknya. Dan sesuai permintaan Rama, ia meminta Pak Mamat untuk mengantarkannya.
"Sudah siap, Mbak?" Tanya Pak Mamat yang sudah menyiapkan mobil untuk mengantarkan Hasna.
"Sudah, Pak."
Hasna segera masuk setelah Pak Mamat membukakan pintu untuknya.
"Pak Mamat kenapa jadi repot bukain pintu sih? Hasna kan bisa sendiri." Ucap Hasna.
"Sesuai permintaan Mas Rama, Mbak. Tadi pesannya begini, Pak Mamat tolong antarkan istri saya, pastikan aman sampai tujuan. Gitu, Mbak." Ucap Pak Mamat menirukan perkataan Rama padanya tadi pagi.
Hasna menggeleng pelan, tak habis pikir dengan sikap Rama. Perlakuan laki-laki itu padanya seolah seperti sedang memperlakukan seorang anak kecil saja. Rama terlalu over protektif.
"Ya sudah, kita jalan, Pak."
"Siap Mbak."
Pak Mamat segera menuju kursi kemudi untuk segera mengantarkan Hasna.
***
__ADS_1
Naik rollercoaster ya bentar lagi, tapi janji loh aku jangan di marahin, ntar akunya nangis. Aku cengeng soalnyaš¤