
Ivan meminta laporan yang Marissa kerjakan. Hasil pertemuannya di luar kota dengan Rama seminggu lalu. Kebetulan ia akan membahasnya dengan Rama nanti.
"Marissa?"
"Ah...i...iya, Pak?" Marissa tersadar akan panggilan Ivan.
"Mana laporannya?" Ivan menjulurkan tangannya meminta laporan pada Marissa.
"Biar saya saja, Pak. Nanti jika Pak Rama minta di revisi, bisa saya kerjakan langsung." Ucap Marissa.
Sepertinya Ivan mulai mencium gelagat aneh sekretaris itu. Ivan tau jika Marissa ada perasaan pada Rama, tapi tidak pernah perempuan itu bersikap seperti ini sebelumnya. Seperti ada sesuatu.
Ivan membuang nafasnya kasar. Sebaiknya ia biarkan saja. Ia tidak mau mencampuri hal-hal rumit seperti itu.
Ivan pun segera berlalu menuju ruangannya, dan membuat Marissa bernafas lega.
***
Hasna tengah sibuk membantu Rama untuk bersiap ke kantor. Dan seperti biasa laki-laki itu selalu membuat Hasna senam jantung jika sedang berdua seperti saat ini.
Hasna membuka kedua matanya saat tautan bibir mereka terlepas. Wajah perempuan itu terlihat merona. Rama mengusap sisa saliva yang menempel di sudut bibir Hasna dengan ibu jarinya.
"Kamu selalu cantik saat wajahmu merona seperti ini." Puji Rama.
Hasna menundukkan pandangannya, sepertinya ia tidak sanggup menatap manik pekat suaminya terlalu lama. Ia selalu merasakan seperti ada magnet yang menariknya dengan kuat. Pesona suaminya sungguh membuatnya tak berdaya.
Rama mengangkat dagu Hasna dengan telunjuknya, agar wajah cantik itu menatap ke arahnya.
"Jangan tundukkan pandanganmu jika hanya bersamaku. Aku ingin menikmatinya dalam waktu yang lama. Cukup tundukkan pandanganmu jika kamu melihat yang lebih dariku." Laki-laki itu pun tersenyum pada istrinya.
Rama menuntun Hasna untuk mengikutinya. Rupanya waktu berangkat ke kantornya akan tertunda untuk beberapa saat. Rama membawa Hasna duduk di atas pangkuannya. Perempuan itu sudah tidak bisa lagi mengendalikan detak jantungnya.
"Kenapa tegang sekali?" Goda Rama. Wajah Hasna sampai berkeringat.
"Jika berdekatan saja membuatmu tegang seperti ini, bagaimana kalau kita... Ehemm... berbulan madu nanti?" Sepertinya Rama semakin gencar menggoda Hasna.
Maklum saja dirinya sudah cukup matang dan dewasa, sedangkan Hasna, walaupun pemikirannya terkadang lebih dewasa dari Rama, namun untuk hal seperti ini dia masih terlalu amatir, bahkan nol.
Hasna membuang pandangan ke sembarang arah. Membicarakan hal-hal seperti ini selalu membuatnya salah tingkah.
"Terkadang aku merasa jika aku menikahi bocah. Kamu terlalu polos, sedangkan aku seperti lelaki dewasa yang agresif." Kekeh Rama.
"Mungkin ada benarnya juga apa yang dikatakan Papa, jika aku seperti sugar Daddy buat kamu." Hasna menoleh pada Rama.
Aneh, kemarin saja kesalnya bukan main gara-gara di bully Papa. Eh, malah sekarang di buat bahan candaan.
"Setiap kita membahas hal intim, kamu selalu salah tingkah. Seolah-olah aku penjahat anak di bawah umur." Rama memeluk erat pinggang Hasna.
Terlihat sekali kegugupan di wajah cantik perempuan itu, hingga terdengar helaan nafas panjang sepenuh dada.
"Kenapa kamu selalu segugup ini? Padahal sudah sering kita melakukannya." Hasna hanya terdiam. Bingung, apa yang akan dia katakan.
"Coba katakan padaku, kenapa kamu selalu gugup dan salah tingkah jika berdekatan denganku. Bahkan kita berada di dalam kamar, dan hanya ada kita berdua." Rama ingin tau, jawaban apa yang Hasna berikan.
"A...aku tidak terbiasa. Dan hal seperti ini terasa aneh buat aku." Lirihnya. Rama merenggangkan pelukannya, menatap Hasna yang berada di pangkuan.
"Walaupun kita suami istri?" Hasna mengangguk kecil.
"Baiklah, aku akan membuatmu terbiasa dengan perlakuan ini. Agar kamu tidak merasa aneh." Ucap Rama.
Rama kembali meraup bibir mungil bak ceri itu, menyesap rasa manis di sana. Lebih mengeratkan lagi pelukan di tubuh istrinya. Reflek kedua tangan Hasna mencengkeram kemeja yang Rama kenakan.
Rama menyatukan kening dan hidung mereka. Nafas keduanya masih terdengar memburu. Debaran masih terasa kuat.
"Mas Rama nggak jadi berangkat?" Lirih Hasna.
"Aku ingin menghabiskan seharian ini bersama istriku saja." Jawab Rama.
Hasna duduk sedikit lebih tegak, menatap lurus manik pekat yang selalu membuatnya salah tingkah.
"Jika seorang pemimpin selalu menomer satukan kepentingan pribadi, bagaimana nasib rakyatnya? Aku tidak mau ya, kalau ayah dari anak-anakku nantinya bermalas-malasan seperti ini." Hasna mendengus kecil, seolah sedang merajuk.
"Ah...baiklah, jika tuan putri yang memberikan titah, hamba bisa apa." Pasrah Rama.
__ADS_1
Hasna tertawa kecil melihat ekspresi yang Rama tunjukkan.
"Nanti aku mau cek toko dan restoran dulu ya, Mas. Bolehkan?" Ucap Hasna saat menuruni anak tangga untuk mengantarkan Rama sampai ke depan rumah.
"Sampai jam berapa?"
"Biasanya sebelum Mas Rama pulang, aku sudah di rumah."
"Baiklah, tapi nanti tunggu aku jemput. Kita pulang sama-sama." Hasna tersenyum senang mendengarnya.
"Restoran kamu, yang waktu itu, bukan?" Tanya Rama. Ia pernah sekali di ajak ke restoran waktu itu. Tapi tak pernah tau jika itu milik istrinya.
"Iya, restoran yang waktu Mas Rama pulang dari rumah sakit." Jawab Hasna.
Keduanya berpamitan pada Mama. Rama dan Hasna menaiki mobil yang sama, tapi kali ini Rama yang mengemudikan. Bahu Rama sudah bisa dipakai beraktivitas ringan seperti sediakala.
Rama mengantarkan Hasna hingga depan restoran. Untung saja mereka searah, jadi tidak perlu memutar jalan untuk sampai kantor.
***
Rama memasuki gedung kantor tiga puluh menit sebelum jam makan siang. Rencana semula, sebelum setengah sebelas ia sudah sampai. Tapi karena ada acara tak terduga lainnya, membuatnya mengulur waktu hampir satu jam lamanya.
Resepsionis di lobi melihat laki-laki itu dengan seksama. Penampilan baru Rama membuatnya terlihat lebih fresh dan lebih muda. Sepertinya usaha Hasna pagi tadi untuk merubah penampilannya cukup berhasil. Terbukti pegawai yang biasanya menyambut di lobi pangling melihat penampilan Rama saat ini.
"Itu Pak Rama, bukan sih?" Tanya salah satu dari mereka.
"Mirip sih, tapi sepertinya..." Salah satu temannya ikut bingung saat menjawabnya.
Maklum saja, semenjak berdirinya perusahaan, penampilan Rama tak pernah berubah. Bulu-bulu halus di sekitar pipi dan dagunya menjadi ciri khas tersendiri bagi Rama. Tapi hari ini, ia terlihat sangat berbeda.
Di sudut lain, Marissa sudah jenuh menunggu kedatangan Rama. Rencana untuk mendekati Bosnya itu kali ini harus berhasil.
Berkali-kali Marissa melirik jam di pergelangan kirinya, sudah hampir jam makan siang. Tapi Rama tak nampak batang hidungnya. Apa jangan-jangan Rama tidak ke kantor hari ini.
Hampir saja Marissa mengetuk ruangan Ivan, yang berada tepat di depan ruangan Rama. Ia hendak menanyakan apakah Rama jadi ke kantor apa tidak. Secara, hanya asisten itu yang mengetahui jadwal serta hal-hal yang bersangkutan dengan Rama. Namun, ia mengurungkan langkahnya, ketika ada seseorang Jang baru keluar dari lift khusus di kantor itu.
Marissa memperhatikan secara seksama, siapakah laki-laki yang tengah berjalan mendekat ke arahnya. Seingatnya tidak ada tamu visit hari ini.
Marissa hampir tidak percaya jika yang tengah berdiri di depan meja kerjanya adalah Rama. Penampilan Rama hari ini benar-benar membuat Marissa hampir tidak mengenali laki-laki yang ia cintai.
"A...ada, Pak." Melihat penampilan baru Rama membuat Marissa jadi gugup.
"Tolong suruh ke ruangan saya, sekarang."
Rama segera berlalu masuk ke dalam ruangan kerjanya. Dan membuat Marissa kembali tersadar saat terdengar suara pintu yang tertutup.
"Rama, kau semakin menarik dan membuatku semakin terjerat pesona mu. Kamu harus bisa menjadi milikku. Jangan panggil aku Marissa, kalau aku tidak bisa membuatmu bertekuk lutut."
Marissa menarik lengkungan di kedua sudut bibirnya. Kenapa rasanya, ia semakin bersemangat untuk mendapatkan Rama. Terlebih saat melihatnya hari ini.
Segera ia beranjak dan mengetuk pintu ruangan Rama. Tak lupa ia bawa berkas yang akan ia tunjukkan pada Bosnya itu. Ia sudah tidak mempedulikan titah Rama sebelumnya untuk memanggil Ivan.
Tok, tok, tok.
"Masuk." Terdengar sahutan dari dalam.
Marissa segera memutar hendel pintu dan segera membukanya. Perempuan itu tersenyum begitu manisnya. Dengan langkah penuh kepercayaan diri, ia berjalan mendekat ke arah Rama.
Rama masih fokus dengan laptop dihadapannya. Memeriksa pekerjaan yang belum sempat ia selesaikan. Dan wajah serius Rama selalu berhasil membuat Marissa kagum. Rama terlihat lebih berkharisma.
"Maaf, Pak. Ini laporan yang kemarin Bapak minta." Marissa meletakkan map di atas meje kerja Rama.
Rama mengangkat pandangannya, dan menautkan kedua alisnya. Menatap penuh heran pada sekretaris itu.
"Maaf, kemarin bapak sempat meminta kepada saya, untuk menyelesaikan laporan hasil kerjasama Bapak dengan perusahaan xxx." Ucap Rama. Situasi seperti saat ini sudah Mariassa perhitungkan sebelumnya.
Rama mengambil laporan itu. Dan kebetulan hari ini akan ia bahas bersama Ivan, sehingga ia tak menaruh curiga pada gelagat aneh Marissa.
Di bacanya dengan seksama berkas yang berada di tangannya. Sesekali terlihat ia mengerutkan kening, seperti nampak berpikir. Dan sesekali ia mengangguk kecil.
"Bagaimana, Pak? Apa perlu saya merevisinya ulang?" Tanya Marissa.
Rama terkejut saat mendapati Marissa masih berada di ruangannya. Ia pikir sekretarisnya itu langsung keluar setelah menyerahkan berkas laporan tadi.
__ADS_1
"Tidak, tidak perlu. Kamu boleh keluar." Ucap Rama.
"Baiklah, Pak. Saya permisi." Marissa menampilkan senyum terbaiknya pada Rama. Kemudian keluar dari ruangan itu.
Marissa nampak tersenyum senang. Sepertinya langkah pertama menarik simpati Rama, sudah berhasil. Tinggal menentukan langkah selanjutnya.
***
Setelah membaca laporan yang Marissa serahkan, Rama segera memanggil Ivan melalui saluran interkom. Sepertinya Marissa melupakan itu.
"Ivan, segera ke ruangan saya."
Tak berapa lama kemudian asistennya itu datang. Dan betapa terkejutnya laki-laki itu mendapati penampilan baru atasannya. Rama terlihat berbeda, tapi Ivan belum menyadari apa yang membuat Bosnya itu beda dari hari-hari sebelumnya.
"Maaf, Pak." Ucap Ivan, membuat Rama mengangkat kepalanya.
"Duduk."
Ivan duduk tepat di hadapan Rama. Laki-laki itu mengamati apa yang membuat Rama terlihat berbeda. Seperti ada yang aneh dengan penampilan Bosnya itu. Tapi apa?
"Saya sudah membaca laporan yang Marissa serahkan, dan sepertinya kita perlu mengkajinya ulang. Karena ada beberapa poin yang perlu di perbaiki lagi sebelum kerja sama kita mulai." Ucap Rama.
Ivan masih memperhatikan Rama secara seksama. Dan ia menyadari apa yang membuat Rama berbeda. Bulu-bulu yang selalu menghiasi di sekitar pipi dan dagunya kini hilang entah kemana. Rama terlihat lebih segar dan lebih muda dari usianya.
"Ivan? Apa kamu mendengar apa yang saya katakan?" Rama memperhatikan Ivan, sepertinya asisten itu tidak fokus.
"I...iya, Pak." Barulah Ivan memperhatikan dan fokus kembali pada Rama. Bukan orangnya tapi pembicaraan mereka.
Rama mendengus kesal karena Ivan tidak menyimak dengan baik ucapannya barusan.
"Saya bilang, kita perlu mengkaji ulang. Masih ada beberapa poin yang perlu kita perbaiki terlebih dahulu sebelum kita memulai kerja sama ini. Kamu paham?"
"Iya, Pak."
Mereka berdua membahas poin-poin penting yang akan mereka perbaiki sebelum mengadakan meeting dengan klien di kemudian hari.
"Setelah makan siang, atur meeting dengan tim lapangan kita." perintah Rama.
"Baik, Pak."
Rama mengambil ponselnya dan berniat akan menghubungi istrinya. Tapi asistennya itubtak kunjung beranjak dari ruangannya.
"Ada yang mau ditanyakan lagi?" Tanya Rama.
"Iya, Pak?"
"Ada yang mau ditanyakan lagi?" Ulang Rama.
"Tidak, Pak." Rama mengangguk.
Keduanya terdiam sesaat hingga Ivan kembali membuka suara.
"Maaf, Pak. Anda terlihat berbeda hari ini. Sepertinya anda sedang merasakan bahagia." Ucap Ivan.
Rama menatap asistennya itu. Rupanya laki-laki itu tengah mengamati penampilan barunya hari ini.
"Ya, kamu benar. Saya sedang bahagia hari ini." Ucap Rama.
"Kalau saya perhatikan, bapak seperti sedang jatuh cinta." Hati-hati Ivan menyampaikannya. Jangan sampai Rama tersinggung. Kerena sedikit banyak, Ivan mengetahui masa lalu Bosnya itu.
Rama tersenyum lebar. Tebakan Ivan tidak salah. Ia memang sedang jatuh cinta. Jatuh cinta kepada istrinya, Hasna.
"Ya, kamu benar. Saya sedang jatuh cinta dengan seorang perempuan yang istimewa. Doakan kami selalu berbahagia." Ucap Rama.
Ivan sedikit mengerutkan keningnya. Perempuan istimewa? Bukan Hasna, kan? Tapi itu tidak mungkin. Mereka masih ada hubungan kerabat.
"Pasti, Pak. Saya tunggu kabar baik dan undangannya." Ucap Rama dengan senyuman lebar, setelah meyakinkan dirinya jika bukan Hasna perempuan istimewa di hati Rama.
Rama hanya mengangguk, meng-iyakan ucapan asistennya. Ia baru menyadari jika selama ini tidak ada yang tau tentang pernikahannya. Dan Ivan mengetahui hubungannya dengan Hasna hanya sebagai kerabat jauh. Tapi bagaiman saat Ivan mengetahui kebenarannya nanti? Karena Rama tau bagaimana perasaan Ivan kepada Hasna, istrinya. Mungkin akan membuat kejutan untuk laki-laki itu nantinya.
***
Mohon maaf ya teman-teman, baru bisa up, kerjaan lagi numpuk.
__ADS_1