Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 101


__ADS_3

Tomi kembali mengangkat kepalanya dari pangkuan sang ibu. Menatap wajah teduh wanita yang menjadi cinta pertamanya.


"Seberat apapun masalah yang tengah menimpamu, hadapi, jangan pernah berlari. Laki-laki sejati tidak akan pernah lari dari masalah, tapi laki-laki sejati akan tetap menghadapi masalah dan berusaha menyelesaikannya." Ucap Tomi menirukan perkataan mendiang ayahnya dengan mata basah yang menatap wajah ibunya. Bu Rahayu menangkup wajah Tomi dengan kedua tangannya.


"Selesaikanlah masalahmu dengan Marissa, Nak. Jangan pernah lari dari tanggung jawab. Bukan hanya Marissa yang menjadi tanggung jawabmu saat ini, ada anak dalam kandungan Marissa juga. Dan kamu juga masih memiliki tanggung jawab yang lebih besar lagi dari itu semua. Pertanggung jawabkan semuanya dihadapan Allah. Nikahi Marissa. Berikan status yang jelas pada bayi yang tengah dikandungnya. Meskipun nantinya anak itu tidak pernah bernasab kepadamu." Ucap Bu Rahayu yang menatap lurus manik putranya yang basah.


Tomi mengangguk dengan senyuman di sela tangisnya. Apa yang ibunya katakan benar adanya. Yang ia pertanggung jawabkan bukan hanya perbuatannya pada Marissa, tapi juga kepada Tuhannya. Terlebih kini ada nyawa dalam rahim Marissa.


"Ingatlah, Nak. Masalah tidak akan pernah selesai jika kamu terus menghindarinya. Yang sudah terjadi tidak akan pernah bisa kita ulangi untuk memperbaiki. Cukupkanlah kamu menyesali semuanya, dan jangan pernah sekalipun kamu ada niatan untuk mengulanginya kembali. Mohon ampunlah pada Allah, Nak. Berdo'alah, supaya kelak anak keturunanmu tidak melakukan dan mendapatkan hal yang sama." Ucap Bu Rahayu dengan lembut.


Nasehat ibunya cukup menampar keras dirinya saat ini. Apa yang dikatakan ibunya memang benar. Kita tidak akan pernah bisa memperbaiki masa lalu, tapi kita masih memiliki kesempatan untuk menjadikan masa depan kita jauh lebih baik lagi.


"Iya, Bu. Sekali lagi maafkan Tomi yang telah membuat ibu kecewa. Terima kasih, ibu telah menegur dan mengingatkan Tomi saat Tomi tidak berada di jalan yang semestinya." Ucap Tomi, lalu mencium kedua punggung tangan wanita yang telah melahirkannya itu.


"Ibu akan selalu mengingatkan jika anak-anak ibu lalai. Kalaupun ibu yang melakukannya, ingatkan ibu, Nak." Ucap Bu Rahayu yang diiringi senyuman hangatnya.


Semenjak kecil Bu Rahayu tak pernah sekalipun meninggikan suaranya saat mengingatkan kedua buah hatinya. Beliau akan menunjukkan kesalahan mereka agar putra putrinya memahami apa yang semestinya tidak harus mereka lakukan dengan cara mengajak mereka duduk bersama. Mendiskusikannya bersama, dan memberikan sedikit nasihat, agar putra putrinya tidak merasa di hakimi. Dan itu berlaku hingga anak-anaknya beranjak dewasa.


"Lanjutkanlah sarapanmu, Nak. Ibu akan beristirahat di kamar." Ucap Bu Rahayu seraya mengusap lembut puncak kepala Tomi.


Bu Rahayu pun berlalu dan masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan Tomi, memilih untuk membereskan sisa makanannya. Karena ia sudah tidak berselera lagi untuk makan.


***


Marissa kembali menutup pintu kamar Tomi rapat-rapat. Apa yang baru saja ia dengar, berhasil menyentil sudut hatinya. Kata-kata Bu Rahayu terngiang-ngiang begitu jelas memenuhi pendengarannya. Sudah lama perempuan itu tidak mendengarkan nasehat yang begitu bijak, seperti nasehat Bu Rahayu kepada Tomi.


Tomi begitu beruntung masih memiliki keluarga, sedangkan Marissa memang hidup sebatang kara di kota. Saudara satu-satunya yang ia miliki bahkan tak ia ketahui keberadaannya.


Cklek.


Marissa tak perlu menoleh untuk melihat siapa yang datang. Karena ia tahu pasti Tomi yang sudah membuka pintu.


Tomi berjalan melewati Marissa yang tengah duduk di tepi ranjang. Laki-laki itu meletakkan ransel berisi barang-barang milik Marissa yang sempat ia ambil dari kontrakan perempuan itu.


"Kita perlu bicara." Ucap Tomi. Laki-laki itu tengah berdiri tepat di hadapan Marissa.

__ADS_1


Marissa tetap membuang pandangannya, tak menoleh sedikitpun pada Tomi.


"Gue akan nikahin lo secepatnya. Setuju atau tidak, keputusan gue sudah bulat." Ucap Tomi. Laki-laki itu tidak perlu meminta Marissa untuk meminta memperhatikan dirinya. Karena Tomi yakin jika Marissa mendengarkan apa yang ia ucapkan.


"Gue nggak mau." Tekan Marissa. Kedua netra perempuan itu menajam.


"Dan gue nggak butuh persetujuan dari lo." Tukas Tomi.


"Lo jangan jadi laki-laki egois." Ucap Marissa menahan emosi.


"Gue tidak egois. Gue memikirkan calon anak yang berada di dalam kandungan lo itu. Gue tidak ingin jika suatu saat nanti dia tidak memiliki status yang jelas karena keegoisan ibunya." Ucap Tomi penuh penekanan.


"Gue nggak berharap lo bakalan nerima gue sebagai suami. Karena gue menyadari, jika bukan gue laki-laki yang lo harepin jadi suami lo. Setelah anak ini lahir, gue akan lepasin lo. Lo bisa bebas berhubungan dengan laki-laki manapun, asalkan jangan sampai lo ngerusak rumah tangga orang lain. Jika itu sampai terjadi, gue nggak akan bakalan lepasin lo." Ucapan Tomi kali ini terdengar begitu tegas, bahkan seperti sebuah ancaman bagi Marissa.


"Dan satu lagi, gue akan memperjuangkan hak asuh setelah anak ini lahir. Biar lo bisa bebas sebebas-bebasnya." Ucap Tomi.


Jantung Marissa berdegup begitu kuat. Kenapa ucapan Tomi barusan membuat hatinya merasa sakit. Seolah laki-laki itu hanya menginginkan bayi dalam kandungannya. Laki-laki itu tidak memikirkan perasaannya.


"Ini, barang-barang lo semuanya ada di sini. Gue tadi mengambilnya dari kontrakan lo." Tomi menunjuk ransel yang barusan ia letakkan di kaki ranjang.


"Kalau ada apa-apa lo bilang ke gue. Jangan pernah ngerepotin ibu gue." Ucap Tomi, kemudian berlalu ke luar dari kamar.


Sikap Tomi barusan sungguh berbeda dengan sikapnya saat bersama sang ibu. Jika dengan dirinya, seolah Tomi menunjukkan taringnya. Tapi saat bersama ibunya, Tomi begitu manis bak kucing kesayangan.


***


~Gue akan segera nikahin marissa.~ Tomi.


Tomi mengirimkan sebuah pesan singkat untuk Siska. Bagaimanapun Siska berhak tau, karena Marissa sangat dekat dengan perempuan itu.


Laki-laki itu tengah berada di teras rumah. Tomi lebih memilih keluar dari kamarnya, daripada harus bersama Marissa. Entah perasaan apa yang kini ia rasakan untuk Marissa. Rasa cinta kah? Bersalah kah? Atau justru rasa benci?


Tring.


Satu notifikasi masuk ke dalam ponselnya.

__ADS_1


~Emang si Marissa mau?~ Siska.


Dengan cepat Tomi membalas pesan dari sahabatnya itu.


~Gue nggak butuh persetujuan dari dia. Mau tidak mau, gue akan tetap nikahin dia.~ Tomi.


~Demi anak dalam kandungan Marissa.~ Tomi.


Beberapa menit tak ada balasan. Mungkin Siska berpikiran sama dengan Marissa, jika ia laki-laki egois. Tapi itu tidak menjadi pikiran baginya. Keputusannya sudah bulat. Apa yang ibunya ketakan memang benar. Anak dalam kandungan Marissa harus mendapatkan status yang jelas, meski nantinya ia tidak akan bisa menjadi walinya. Kerena anak itu tak bernasab kepadanya.


Hanya empat bulan. Hanya waktu itu yang ia butuhkan sampai anak itu lahir. Setelahnya ia akan melepaskan Marissa. Terserah, apa yang akan perempuan itu lakukan nantinya.


Tring


Satu notifikasi lagi masuk ke dalam ponselnya. Balasan dari Siska.


~Trus kapan rencananya?~ Siska.


Tomi langsung membalas setelah pesan ia baca.


~Secepatnya, sebelum kami kembali ke kota.~ Tomi.


~kalau bisa malam ini juga.~ Tomi.


~Ngebet bener.~ Siska. Pesan kali ini disertai emotikon tertawa yang berderet panjang.


~Lebih cepat lebih baik.~ Tomi.


~Oke deh, semoga rencana baik lo berjalan lancar. Sebagai sahabat buat kalian, gue ikut seneng.~ Siska.


Tomi tersenyum simpul saat membacanya. Siska memang sahabat Marissa, juga teman baik baginya. Tapi perempuan itu tak pernah berpihak pada Marissa ataupun dirinya. Jika di rasa memang salah, Siska akan mengatakan salah. Sama halnya dengan permasalahan yang tengah menimpanya juga Marissa.


Di awal memang dirinya bersalah, dan Siska meminta agar dirinya bertanggung jawab atas kehamilan Marissa. Dan di saat Marissa mencoba untuk memanfaatkan Rama, Siska yang berdiri paling depan untuk mencegahnya. Dan meminta Tomi untuk bekerja sama dengannya untuk menggagalkan rencana Marissa.


***

__ADS_1


__ADS_2