Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 129


__ADS_3

Rama menyugar rambutnya dengan kasar. Penjelasan dokter benar-benar membuat dunianya menggelap seketika. Istri yang tengah mengandung buah cinta pertama mereka mengalami koma. Kondisi dalam ketidak pastian antara hidup dan mati.


"Assalamu'alaikum." Ucap Kevin. Laki-laki itu baru memberanikan diri untuk mendekati keluarga Suryanata, setelah dokter Kembali meninggalkan mereka.


"Wa'alaikumussalam." Ucap mereka, kecuali Rama. Laki-laki itu benar-benar kacau hingga tak memperdulikan keadaan sekitar.


"Nak Kevin?" Ucap Bu Diana.


Kevin menghampiri sepasang suami istri itu dan mencium punggung tangan mereka secara bergantian. Bu Diana merasa kaget dengan kedatangan Kevin yang tiba-tiba, apalagi laki-laki itu tau dimana mereka tengah berada sekarang.


"Tadi Mas Kevin sempat telepon di hape Kak Rama. Nay yang jawab." Ucap Nayla, yang membuat Kevin tersenyum simpul ke arah gadis itu. Nayla tau jika Mamanya bertanya-tanya tentang kehadiran Kevin secara tiba-tiba di sini.


"Nak Kevin sendirian?" Tanya Bu Diana.


"Sama Mama, Tante." Bu Rosita berjalan mendekat ke arah mereka. Memberikan salam dan buah tangan untuk Hasna.


"Saya turut bersedih atas kejadian yang menimpa Nak Hasna. Maaf, saya baru sempat kemari." Ucap Bu Rosita.


"Tidak apa-apa, Bu Agung, terima kasih." Ucap Pak Andi.


"Panggil saja saya Rosita, supaya lebih akrab." Ucap wanita paruh baya itu seraya tersenyum hangat.


"Maaf, Bu Rosita. Saya hanya mengenal nama Pak Agung." Kekeh Pak Andi.


"Tidak apa-apa, Pak Andi."


"Oh ya, bagaimana kondisi Hasna? Tadi saya sempat menunggu lama di depan kamar, tapi sepertinya kosong. Lalu saya mencoba menghubungi Rama, dan Nayla mengatakan jika kalian ada di sini." Ucap Kevin, seraya menoleh pada Nayla.


Bukan Kevin tidak mengetahui kondisi Hasna. Bahkan baru saja ia dengan jelas mendengar apa yang dokter sampaikan mengenai kondisi perempuan itu. Hanya saja ia tidak mau ikut campur dan menanggapi perihal keadaan Hasna yang tengah koma itu.


"Hasna... Hasna mengalami koma. Do'akan yang terbaik untuknya, karena dia juga dalam keadaan hamil muda." Jawab Pak Andi.


"Innalilahi, astaghfirullahal'adzim, Hasna." Ucap Bu Rosita. Wanita paruh baya itu tak begitu memperhatikan penjelasan Dokter tadi, karena tengah mendapatkan telepon dari salah seorang temannya.


Tak lama dua orang laki-laki berseragam perawat mendorong ranjang Hasna. Perempuan itu akan segera dipindahkan di ruangan yang sempat di tempati sebelumnya, namun dengan perawatan yang lebih intensif. Semua yang ada di sana mengikutinya dari belakang.


Rama melangkah dengan gontai mengikuti mereka, seolah membawa beban yang sangat berat di kedua pundaknya. Langkahnya terasa begitu sangat berat.


Sebuah tepukan pelan di pundaknya, membuat Rama menoleh, dan mendapati Kevin yang tengah tersenyum kepadanya.

__ADS_1


"Kevin?" Rama sedikit terkejut dengan keberadaan Kevin di rumah sakit.


"Kamu, di sini?" Tanya Rama.


Kevin hanya tersenyum simpul ke arah laki-laki yang baru semalam akrab dengannya itu.


"Aku sudah lebih dari setengah jam yang lalu di sini. Apa aku terlihat seperti makhluk astral? Sampai-sampai kamu tidak menyadari keberadaanku." Kekeh Kevin. Laki-laki itu hanya mencoba untuk menghibur di tengah kekacauan pikiran Rama.


"Maaf, aku benar-benar tidak tahu." Ucap Rama yang merasa telah mengabaikan keberadaan seseorang yang telah berjasa menyelamatkan istrinya itu.


"Santai saja."


Keduanya berjalan beriringan dalam diam, sampai di depan ruang perawatan Hasna. Semua menunggu di luar sebelum dokter memberikan izin untuk menjenguk perempuan itu.


"Untuk sementara, biarkan pasien beristirahat. Pasien butuh ketenangan." Ucap Dokter.


"Lalu, kapan saya bisa melihat istri saya, Dokter?" Tanya Rama.


"Anda bisa melihatnya seperti biasa. Seperti apa yang saya katakan tadi, pasien yang mengalami koma, mungkin anggota geraknya tidak berfungsi untuk sementara. Tapi inderanya tetap bisa merasa. Pendengarannya masih berfungsi dengan baik, sama halnya saat pasien dalam keadaan sehat. Anda bisa tetap mengajak pasien berkomunikasi, walaupun pasien tidak bisa merespon nantinya. Tapi, itu adalah salah satu cara untuk menumbuhkan semangat pasien untuk kembali sehat." Papar Dokter.


"Cukup ajak pasien mengobrol seperti obrolan yang biasa kalian lakukan. Semoga terapi ini berhasil, dan membuat pasien tersadar dari komanya. Pasien sangat membutuhkan dukungan kalian, orang-orang terdekatnya."


Penuturan dokter sedikit banyak membuat Rama kembali memiliki harapan yang besar untuk kesembuhan sang istri. Terlebih saat mengingat jika perempuan itu tengah mengandung buah cinta pertama mereka.


Netra Rama mengikuti langkah Dokter yang semakin menjauh, lalu berali pada kamar rawat sang istri.


"Ingatlah satu hal, kamu tidak berjuang sendiri di sini. Ada kami juga." Rama menoleh pada Kevin. Ucapan laki-laki itu benar-benar membuat harapannya semakin bertambah besar. Benar apa yang Kevin katakan. Ia tidak sendiri di sini. Ada keluarganya juga yang selalu menemaninya di masa sulit seperti saat ini.


"Terima kasih, terima kasih sekali, karena lagi-lagi kamu mengingatkanku. Kamu benar, tidak seharusnya aku rapuh dan putus asa seperti ini. Istri dan calon anak kami butuh laki-laki yang tangguh sebagai pelindung mereka." Ucap Rama. Kevin mengangguk setuju dengan ucapan Rama. Laki-laki itu terlihat optimis sekarang.


"Pasti perempuan yang akan menjadi pendamping kamu nantinya akan sangat beruntung, karena mendapatkan laki-laki yang tak hanya tangguh, tapi juga bijak." Rama menepuk pundak Kevin beberapa kali, merasa kagum akan kebijaksanaan pemikiran laki-laki yang lebih muda darinya itu.


"Jangan berlebihan. Seandainya aku mengalami hal yang sama seperti kamu saat ini, aku tidak yakin jika akan setegar sekarang, pastinya aku sangat rapuh juga seperti kamu." Ucap Kevin. Lantas keduanya tersenyum.


"Andaikan kamu tahu, Rama. Tak perlu aku berandai-andai berada di posisi kamu seperti saat ini. Karena pada kenyataannya, aku pun rapuh dengan kondisi Hasna. Hasna memanglah bukan siapa-siapa bagi aku, tapi Hasna adalah perempuan yang pernah membuatku merasakan manisnya cinta, walau hanya sesaat. Cepatlah sadar, Hasna. Kamu pasti tidak akan suka melihat laki-laki kesayangan kamu serapuh ini. Jangan membuatnya terlihat cengeng di mata orang lain. Bangunlah. Berjuanglah. Hiduplah dengan bahagia."


***


Tomi menunggu kedatangan Siska dengan sedikit gelisah. Sesaat setelah kedatangan dua orang polisi ke ruangan Marissa, pikiran Tomi sedikit kacau. Ia butuh teman untuk berdiskusi, sekedar meminta saran.

__ADS_1


"Sori, jalanan lumayan macet." Ucap Siska yang membuyarkan lamunan Tomi.


Tomi mengabarkan kejadian di kamar Marissa dan meminta sahabatnya itu untuk menemuinya di kafe yang ada di seberang rumah sakit. Tomi butuh teman untuk bicara dan mencari jalan keluar atas permasalahan yang tengah Marissa hadapi. Bukan hanya masalah Marissa sekarang, tapi juga sudah menjadi masalahnya juga, karena mereka sekarang suami istri. Apalagi Marissa tengah mengandung darah dagingnya.


Siska memposisikan dirinya duduk di hadapan Tomi. Jelas terlihat raut kekhawatiran di wajah manis itu. Mendengar kabar jika Marissa terseret kasus hukum, sudah membuatnya berpikiran yang tidak-tidak.


"Gimana ceritanya?" Todong Siska langsung pada intinya.


"Tadi pagi, saat gue balik dari kantin, dua orang polisi sudah berada di kamar Marissa. Mereka mengatakan jika mereka menerima laporan atas kejadian kecalakaan itu, yang mengakibatkan korban dalam keadaan kritis." Ucap Tomi.


Siska menutup mulut dengan tangannya. Perempuan itu tidak menyangka jika kecelakaan kemarin berujung seperti ini. Apalagi istri Rama Suryanata yang menjadi korbannya, keadaannya kritis.


"Astaga, istrinya Rama kritis?" Tanya Siska memastikan.


"Ya."


"Dan sebenarnya gue sudah memprediksi hal seperti ini bakalan terjadi, mengingat siapa keluarga Suryanata. Gue nggak akan menghalangi proses hukum, apalagi Marissa jelas bersalah di sini. Tapi gue sangat menyayangkan kondisi Marissa saat ini. Apalagi setelah pendarahan hebat yang dialaminya." Ucap Tomi. Pandangan laki-laki itu menerawang jauh, membayangkan nasib anak dalam kandungan Marissa, jika perempuan itu benar-benar menjalani hukuman.


Siska menghembuskan nafasnya yang terasa berat. Bukan hanya Tomi yang di pusingkan masalah Marissa, tapi dirinya juga. Siska sudah menganggap Marissa tak hanya sebagai sahabat, tapi saudara. Susah senang mereka lalui bersama selama ini.


"Lalu gimana sekarang?" Tomi menggeleng pelan. Pikirannya benar-benar buntu.


Hening.


"Apa gue coba menemui Rama Suryanata saja, ya?" Ucap Tomi, seolah meminta saran. Lantas menatap Siska yang tengah menatap ke arahnya.


"Boleh juga. Lo bisa ngomong sama Rama mengenai kondisi Marissa. Ya, walaupun gue sendiri nggak yakin kalau dia bakalan cabut tuntutannya. Tapi setidaknya, kita usahakan dulu." Ucap Siska menanggapi.


"Ya, gue akan temuin Rama nanti. Kebetulan, istrinya di rawat di rumah sakit ini juga."


"Ah, iya. Kenapa gue sampai lupa ya?" Siska benar-benar melupakan jika Marissa dan Hasna berada di rumah sakit yang sama.


"Faktor usia tuh." Celetuk Tomi.


"Ah, sialan lo. Kayak kita nggak seumuran aja" Ucap Siska tak terima.


"Iya kita emang seumuran, tapi seenggaknya gue calon Bapak. Lah elo? Status calon bini juga belom tau berubah kapan." Ledek Tomi, Lantas lelaki itu tergelak.


***

__ADS_1


__ADS_2