
Jarum jam sudah menunjuk angka delapan. Sinar mentari pun hangat terasa menyapu permukaan kulit. Suasana di taman rumah sakit tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa pasien saja yang sengaja menghangatkan tubuhnya di bawah sinar mentari pagi.
"Sus, apa sebelum suster ke kamar saya, suster bertemu suami saya?" Tanya Marissa.
"Sepertinya tidak. Apa ibu butuh sesuatu?" Tanya perawat. Marissa menggeleng pelan.
Sejak obrolan kemarin pagi, Marissa tak lagi mendapati Tomi kembali ke kamarnya. Marissa sadar jika apa yang diucapkannya kemarin terdengar sedikit menyakitkan. Tapi ia pun berusaha untuk jujur terhadap apa yang ia rasakan. Setidaknya itu bisa membuatnya merasa lega. Melepaskan hal yang selama ini menjadi beban pikirannya. Cintanya kepada Rama, kehamilannya di luar ikatan pernikahan, juga hubungannya yang rumit dengan Tomi, ayah biologis anak dalam kandungannya.
Marissa membuang pandangannya ke sembarang arah. Tanpa sengaja ia melihat sepasang suami istri tak jauh dari tempatnya, yang melakukan kegiatan seperti dirinya. Berjemur di bawah hangat mentari pagi. Sang suami dengan senyuman yang mengembang sempurna mengusap lembut perut istrinya yang sudah membesar. Sesekali laki-laki itu mengusap-usap punggung wanitanya. Satu kecupan pun mendarat di kening perempuan itu. Terlihat manis sekali.
Tanpa disadari, tangannya terulur mengusap perutnya yang membesar. Dua bulan lagi ia akan melahirkan, tapi tak pernah sekalipun usapan serupa ia dapatkan dari Tomi.
"Sa."
Marissa menoleh dan mendapati Siska tengah berdiri di samping perawat yang menemaninya.
"Siska?" Marissa mengernyit heran, pasalnya sahabatnya itu datang di jam seperti ini.
"Gue cari ke kamar, kosong. Eh ternyata lo di sini." Ucap Siska.
"Untung aja, tadi ada petugas kebersihan kamar yang tau dimana keberadaan lo. Kalau enggak, bisa muterin rumah sakit, gue." Ucap perempuan itu, lantas duduk tepat di samping kursi roda Marissa.
"Lo nggak kerja?"
"Enggak, gue hari ini free. Tanggal merah. Lama banget ya udah nggak ngantor? Sampai nggak pernah tau ada tanggal merah." Kekeh Siska. Marissa tersenyum kecil mendengar ucapan Siska.
"Oh iya, Tomi mana?" Tanya Siska, karena perempuan itu tak mendapati keberadaan Tomi di sana. Marissa menggeleng pelan.
"Sus, biar Marissa sama saya." Ucap Siska. Perawat pun pergi meninggalkan kedua perempuan itu di taman.
"Keterlaluan emang laki lo, gue chat, gue teleponin sejak kemarin siang nggak bisa-bisa. Susah banget. Udah kayak susah sinyal aja si Tomi." Gerutu Siska.
Marissa mengernyit heran, tidak biasanya Tomi mengabaikan panggilan dari orang-orang terdekatnya. Sebenarnya kemana laki-laki itu?
"Dia pulang?" Marissa menggeleng.
"Gue nggak tau." Lirih Marissa.
"Kok nggak tau?" Siska mengerutkan keningnya.
"Tomi pergi sejak kemarin pagi."
"Pergi? Kemana?" Marissa kembali menggeleng.
Siska merasa ada yang aneh. Tidak mungkin tiba-tiba Tomi pergi meninggalkan Marissa begitu saja. Terlebih dalam kondisi hamil besar seperti ini. Siska tau betul bagaimana Tomi. Laki-laki itu rela berangkat dan pulang kerja langsung dari rumah sakit yang jaraknya lebih jauh dari kantor tempatnya bekerja. Bahkan laki-laki itu rela memohon dan berjuang untuk kebebasan Marissa, perempuan yang tidak pernah mengharapkan dirinya.
__ADS_1
Siska mengambil ponselnya dan mendial nomor Tomi. Tersambung, tapi tidak diangkat. Siska menghubungi laki-laki itu sekali lagi, tapi justru ponselnya tidak aktif sekarang. Siska membuang kasar nafasnya.
"Hapenya mati." Marissa menatap Siska yang menggenggam ponselnya.
"Sepertinya dia marah." Lirih Marissa.
"Marah?" Marissa mengangguk.
"Kenapa?"
Marissa menceritakan kejadian kemarin pagi pada Siska. Perempuan berkuncir kuda itu mengusap wajah dengan kedua tangannya mendengar penuturan Marissa.
"Semenjak kemarin pagi, dia tidak kembali lagi ke kamar gue." Ucap Marissa dengan mata yang mulai berembun.
"Lo ini bodoh atau apa sih, Sa? Lo sadar nggak kalau ucapan lo itu bisa nyakitin perasaan Tomi?" Ucap Siska sedikit kesal.
"Lo kenapa sih, nggak bisa lihat sedikit saja kebaikan dia? Berapa kali lo nyakitin dia dengan ucapan pedes lo itu, tapi dia masih tetap bertahan di sisi lo. Gue yakin banget jika seandainya lo nggak hamil anak dia, dia nggak bakalan tahan sama perempuan seperti lo." Sungut Siska kesal.
"Perempuan mana pun pasti seneng kalau mendapatkan laki-laki yang bisa nerima segala kekurangan dia, bukan karena kelebihannya. Dan Tomi, bisa ngelakuin itu sama lo." Ucap Siska dengan emosi yang tertahan.
"Dan lagi, lo bilang kalau yang lebih pantas jadi ayah anak ini itu Rama? Mikir dong, Sa." Siska bahkan sampai menunjuk kepalanya sendiri.
"Lo udah ngelukain harga dirinya sebagai seorang laki-laki. Terlebih sebagai seorang suami dan calon ayah."
"Mungkin sekarang lo merasa di atas angin, karena anak dalam kandungan lo, yang membuat Tomi tak berkutik. Dia masih tetap berada di sisi lo, walaupun lo udah nyakitin dia berulang. Dia tetap diam atas semua perlakuan lo.Tapi jika seandainya nanti dia menyerah, lo akan tau betapa menyakitkannya ditinggalkan oleh seseorang yang tulus menerima lo apa adanya." Setitik air mata jatuh saat Marissa mengedipkan matanya. Kenapa mendengarkan ucapan Siska kali ini membuat sudut hatinya berdenyut nyeri?
***
Siska mendorong kursi roda Marissa sampai ke dalam kamar. Sejengkel apapun Siska pada marissa, perempuan itu pasti tidak akan tega dengan keadaan sahabatnya itu. Bukan karena bodoh ia menjalin pertemanan yang tidak sehat dengan Marissa. Tapi ia memilih bertahan karena rasa sayangnya terhadap Marissa, hingga berkeinginan untuk membuat perempuan itu berubah.
"Ada yang lo butuhin?" Tanya Siska setelah membantu Marissa naik ke atas ranjangnya.
Marissa tidak menjawab, hanya gelengan kepala yang ia berikan.
"Sebaiknya lo istirahat. Gue mau balik dulu." Ucap Siska.
Tanpa menunggu jawaban, Siska segera berbalik menuju ke arah pintu.
"Sis." Siska menghentikan gerakan tangannya membuka pintu.
"Ya?" Siska menatap lurus perempuan di atas ranjang pasien itu.
"Makasih, ya." Ucap Marissa. Siska mengerutkan keningnya.
"Buat?"
__ADS_1
"Buat semuanya." Siska mengulas senyuman tipis.
"Nggak perlu berterima kasih. Cukup lo renungi apa yang udah terjadi. Jangan sampai lo menyesalinya di kemudian hari." Marissa menarik sedikit sudut bibirnya mendengar ucapan Siska. Lalu mengangguk kecil.
"Gue pamit, ya." Marissa kembali mengangguk.
"Hati-hati."
Pintu kamar rawat Marissa kembali tertutup rapat. Kini ia sendiri menempati ruangan bernuansa putih itu. Netranya memindai sekeliling, menatap tempat yang biasa ditempati oleh Tomi. Tomi, kemana lelaki itu? Bahkan semalam ia tidak kembali ke kamar Marissa.
Marissa menghembuskan nafas yang terasa berat. Biasanya di jam seperti ini, Tomi selalu menawarkan sesuatu untuknya. Walaupun tak jarang Marissa mengabaikannya.
Cklek
Perhatian Marissa teralihkan ke arah pintu yang di buka dari arah luar. Raut kecewa nampak saat mengetahui siapa yang datang. Seorang petugas yang biasa mengantarkan makanan pasien, datang mengambil peralatan makannya kembali.
"Selamat pagi, Bu Marissa." Sapa petugas itu ramah.
"Pagi."
"Sendirian saja, Bu?" Tanya Petugas itu.
"Iya." Lirihnya.
Petugas itu segera mengambil kotak makanan milik Marissa yang berada di atas nakas.
"Bu Marissa belum makan?" Tanya petugas itu saat merasakan kotak makanan Marissa masih terasa berat. Berarti makanan di dalamnya masih banyak, atau bahkan masih utuh.
"Sudah."
Petugas perempuan itu membuka tutup kotak makanan Marissa, dan benar saja, makanan di dalamnya masih banyak. Mungkin hanya dimakan sekitar dua sendok saja.
"Bu Marissa? Ibu belum makan? Ini makanannya masih banyak loh, Bu." Ucap petugas seraya melirik jam dinding di kamar Marissa.
"Sudah hampir jam makan siang. Tapi sarapan ibu masih sebanyak ini. Apa ibu sudah minum obat?"
Marissa melirik obat yang biasa ia minum di atas nakas. Masih utuh untuk pagi ini. Biasanya Tomi yang menyiapkannya. Tomi, lagi-lagi nama itu yang terlintas di pikiran Marissa.
"Bagaimanapun Bu Marissa harus makan. Kasihan bayinya." Marissa terdiam, tak ingin menyahut ucapan petugas perempuan itu.
"Sepertinya ibu mau makan kalau di temenin suami seperti biasanya. Si adek pengen disuapin sama Papanya mungkin." Goda petugas dengan senyuman yang mengembang.
Apa benar demikian? Biasanya ia makan memang selalu di awasi oleh Tomi. Apakah selera makannya menurun, karena tadi pagi ia memakan sarapannya seorang diri?
***
__ADS_1