
"Lo, bisa bawa mobil gue? Tadi gue nggak dibolehin masuk, gara-gara nggak bawa undangan." Ucap Marissa. Perempuan itu berharap akan bisa memasuki gedung tempat dimana resepsi pernikahan Rama di gelar. Setidaknya ada Tomi yang bisa menunjukkan undangannya.
"Oh...nggak masalah." Jawab Tomi enteng.
Marissa segera keluar dan berputar ke arah kursi di sebelah kemudi. Tomi langsung masuk ke dalam mobil menggantikan posisi Marissa sebelumnya. Namun tiba-tiba laki-laki itu langsung mengaktifkan tombol kunci otomatis agar Marissa tak dapat lagi membuka pintu.
"Tom, lo mau ngapain?" Tanya Marissa sedikit panik setelah mobil kembali melaju dengan dikemudikan Tomi.
Tomi tak menghiraukan ucapan Marissa. Laki-laki itu terus melajukan mobil membelah jalanan yang mulai lengang.
"Tomi, kita mau kemana?" Ucap Marissa kesal. Bahkan lelaki itu masih fokus mengemudi, dan tak berniat menoleh sedikitpun padanya.
"Tomi, berhenti nggak!" Ucap Marissa setangah membentak. Namun Tomi tetap bergeming, seolah menulikan pendengarannya.
"Tomi, stoooop!!" Jangankan berhenti, Tomi justru menambah kecepatan.
"Tomi, lo jangan gila. Kita bisa celaka." Peringat Marissa, bahkan perempuan itu terlihat berpegangan erat pada hand grip yang berada di atas pintu mobil.
Wajah Tomi terlihat begitu santai, seolah tengah mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang. Berbeda dengan Marissa yang terlihat begitu tegang, dengan nafas yang sedikit memburu.
"Tomi, berhenti nggak! Lo bisa nyelakain anak kita." Bentak Marissa. Sepertinya perempuan itu tidak sadar saat mengucapkan kata-katanya barusan.
Ckiiiitt
Tomi menginjak rem dengan kuat. Mobil pun berhenti seketika. Membuat Marissa sedikit terpental dan hampir membentur dashboard. Tapi akhirnya Marissa bisa bernafas lega, setidaknya ia bisa lolos dari bahaya. Perempuan itu tengah mengatur nafasnya kembali, Tomi benar-benar seperti orang kesetanan. Mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi, tanpa mempedulikan keselamatan penumpangnya. Juga pengguna jalan yang lain.
"Lo gila, tau nggak? Lo bisa bahayain keselamatan kita, keselamatan orang lain. Apalagi gue lagi hamil." Ucap Marissa berapi-api, bahkan mengarahkan telunjuknya ke arah Tomi. Perempuan itu tengah meluapkan kekesalannya pada laki-laki itu.
Tomi mencengkeram erat kemudi, seolah tengah menahan emosi. Semua yang Marissa ucapkan tidaklah salah, dan ia membenarkan itu. Tindakannya dapat membahayakan dirinya juga orang lain, terlebih calon anak yang ada di kandungan Marissa.
"Apa benar anak yang ada dalam kandungan lo itu anak gue? Apa benar anak dalam kandungan lo itu darah daging gue? Apa benar lo mengkhawatirkan keselamatan anak dalam kandungan lo itu?" Ucap Tomi dengan penuh penekanan. Laki-laki itu menatap Marissa dengan tatapan yang begitu tajam.
__ADS_1
"Gue pikir perempuan egois seperti lo, tidak akan pernah memikirkan orang lain. Tidak akan memikirkan keselamatan selain dirinya sendiri." Marissa menelan ludahnya sendiri dengan susah payah.
"Bahkan lo mengatas namakan bayi dalam kandungan lo itu untuk kepentingan diri lo sendiri." Tomi tersenyum miring melihat perempuan yang tengah duduk di samping kirinya itu.
"Katakan, siapa yang lebih membahayakan siapa di sini? Lo? Atau gue?" Tomi menunjuk Marissa juga dirinya secara bergantian.
Tatapan Tomi begitu berbeda. Tak pernah selama ia dekat dengan Tomi, laki-laki itu bersikap demikian. Bahkan setelah mereka mengakhiri hubungan asmara mereka dulu. Marissa melihat sisi yang berbeda dari Tomi. Laki-laki disampingnya kini bukan seperti Tomi yang ia kenal. Laki-laki ramah yang selalu membuat orang di sekelilingnya tertawa karena tingkah konyolnya. Laki-laki yang bahkan jarang sekali terlihat marah, walaupun dulu ia sering kali membuat laki-laki itu emosi. Tapi kini, seolah ia tidak mengenal laki-lak yang duduk di sampingnya itu.
"Jawab Marissa!" Bentak Tomi, membuat Marissa berjingkat mendengarnya. Bahkan perempuan itu sedikit terlonjak saking kagetnya.
Marissa tidak pernah menyangka sebelumnya jika Tomi akan membentak dirinya. Ini pertama kalinya laki-laki itu berlaku demikian kepadanya.
"Kenapa lo diam? Kenapa lo mendadak bisu? Kenapa? Coba katakan!" Ucapan Tomi seperti tengah mengintimidasi perempuan di sampingnya. Terbukti, Marissa tak membuka suaranya sama sekali. Perempuan itu menutup mulutnya rapat-rapat.
"Lo mengatakan jika anak dalam kandungan lo itu anak gue. Tapi kenapa lo meminta pengakuan kepada laki-laki lain untuk mengakui jika anak dalam kandungan lo adalah anaknya? Bahkan lo mengorbankan harga diri lo sebagai wanita untuk mendapatkan pengakuan dari laki-laki itu. Dimana harga diri lo, Sa?"
"Lo wanita, dan sebentar lagi status lo akan berubah menjadi seorang ibu. Apa lo mau jika suatu saat nanti anak lo itu mengetahui bagaimana ibunya merendahkan diri dihadapan laki-laki untuk mendapat pengakuan tentang statusnya? Padahal lo tau jika bukan laki-laki itu ayah biologis bayi lo, tapi gue." Tomi menunjuk dirinya sendiri.
Marissa tak menjawab sepatah kata pun atas apa yang Tomi ucapkan. Kedua tangannya meremas ujung gaun yang dikenakannya di atas pangkuan. Seolah perempuan itu tidak menemukan kalimat yang pas untuk membalas perkataan Tomi.
"Gue sadar, jika lo nggak pernah bisa menerima kehamilan ini karena gue ayah biologisnya. Gue tidak selevel dengan laki-laki yang lo harapin menjadi ayah anak ini. Tapi bukan berarti lo bisa seenaknya mempergunakan anak ini untuk menjerat laki-laki beristri seperti Rama Suryanata." Marissa membolakan kedua netranya. Perempuan itu sungguh terkejut dengan ucapan Tomi barusan. Dari mana laki-laki itu mengetahui soal kebohongannya tentang Rama.
Siska. Hanya nama itu yang muncul di benaknya kali ini. Hanya kepada sahabat karibnya itu, Marissa menceritakan semuanya. Dari awal kehamilan hingga rencananya terhadap Rama.
"Apa saja yang sudah Siska katakan tentang Rama?" Tanya Marissa. Tomi hanya tersenyum miring mendengarnya.
"Dasar mulut ember." Umpat Marissa kesal.
"Di saat seperti ini lo masih bisa mengkambing hitamkan orang lain? Di saat lo susah, gue yakin jika Siska selalu berada di sisi lo. Tapi disaat lo terpojok, justru lo melempar semua kesalahan padanya. Sahabat macam apa lo?" Sinis Tomi.
Marissa terdiam. Memang benar apa yang Tomi katakan. Selama masa sulit, hanya Siska yang mendampinginya. Tapi bukan berarti harus percaya seratus persen pada Siska, bukan? Buktinya, kini Tomi mengetahui tentang rencananya terhadap Rama. Dari mana lagi Tomi mengetahuinya kalau bukan dari Siska.
__ADS_1
"Gue sudah tau apa saja yang udah lo lakuin selama ini. Jangan lo pikir, gue bakalan diem aja saat lo ngelakuin hal seperti tadi. Saat ini anak gue juga ada dalam kandungan lo, dan gue akan memastikan sendiri keselamatan dia." Tunjuk Rama pada perut Marissa yang sudah terlihat membukit.
"Lo memang ibunya, tapi perlu lo inget, gue adalah ayah dari anak ini." Sekali lagi, telunjuk laki-laki itu mengarah tepat di perut Marissa.
Tiba-tiba saja lidah Marissa terasa kelu. Rasanya ia tak sanggup untuk sekedar menjawab iya atau menyangkal dengan kata tidak atas ucapan Tomi barusan. Tidak pernah ia merasakan situasi seperti ini dengan Tomi. Laki-laki di hadapannya ini benar-benar menunjukkan sisi lain dari dalam dirinya. Sorot mata itu terlihat seolah tengah mengintimidasi dirinya.
Tomi kembali melajukan mobil membelah pekatnya malam. Tak sekalipun laki-laki itu menoleh ke arah Marissa. Pandangannya tetap fokus pada jalan di hadapannya. Sekalipun saat terjebak lampu merah, tak sedikitpun ada niatan menoleh pada perempuan itu. Entah apa yang tengah Tomi rasakan saat ini. Laki-laki itu seolah hilang respect terhadap Marissa.
"Kita mau kemana?" Tanya Marissa saat mobil terus melaju ke arah yang bukan menuju tempat tinggalnya maupun rumah Tomi. Jalanan yang mereka lalui cukup asing bagi Marissa. Bahkan sepertinya mereka sudah keluar dari kota.
"Tomi, stop. Lo mau bawa gue kemana?" Protes Marissa. Tomi tetap fokus dan menulikan pendengarannya dari setiap perkataan Marissa.
"Tomi, gue bilang stop!" Teriak Marissa.
"Diam. Jangan banyak bertanya, dan cukup duduk dengan tenang." Peringat Tomi.
Marissa sedikit berjingkat, karena suara Tomi yang terdengar menggelegar memenuhi gendang telinganya. Marissa akhirnya terdiam. Perempuan itu tidak berani menatap ke arah Tomi sedikit pun. Marissa membuang pandangannya ke arah jendela di sampingnya. Akan sangat berbahaya jika ia kembali mendebat Tomi. Bukankah akan sangat tidak baik jika membangunkan singa yang sedang tidur?
***
Seneng nih yang udah dukung Tomi buat bawa Marissa pergi jauh. Kira-kira mau dibawa Tomi kemana ya?
Ikuti terus kelanjutannya...
Mohon maaf jika up nya sering telat.
Terima kasih juga atas dukungannya.
Selamat membaca.
Semoga terhibur 🥰
__ADS_1