
"Kamu tidurlah, biar aku saja yang jaga jagoan kita." Ucap Rama pada Hasna suatu malam.
"Tapi Mas Rama besok kerja. Biar Reyn sama aku saja." Hasna kembali meminta putranya, namun tidak Rama berikan.
"Kamu juga butuh istirahat, Sayang." Rama pun menjauh agar tidak mendengarkan rengekan Hasna lagi. Ia hanya ingin istrinya cukup istirahat. Seharian mengurus bayi pastilah sangat menguras energi.
"Oke jagoan, sekarang rondanya sama ayah, biarkan bunda istirahat. Bunda pasti capek seharian gendongin kamu." Rama mengajak berbicara putranya yang masih berusia hampir satu bulan itu.
Rama mengajak putranya keluar kamar, dan menidurkannya dalam boks bayi yang berada di ruang tengah. Jam hampir menunjuk angka satu dini hari. Tapi mata jernih itu nampaknya tidak menunjukkan tanda-tanda jika akan kembali terlelap.
"Oke, kamu tunggu disini dulu. Biar ayah siapkan ASIP untuk kamu."
Rama meninggalkan sang putra dan menuju ke dapur. Laki-laki itu mengambil sekantong ASIP dari lemari pendingin, dan menghangatkannya. Kemudian memindahkannya ke dalam botol. Reyn hampir dua jam yang lalu minum ASI, jadi sebentar lagi waktunya kembali mengisi energi.
Kegiatan malam yang selalu Rama nikmati bersama putranya. Semenjak kepulangan Hasna dari klinik Dokter Yunita, Rama benar-benar menemani istrinya yang harus terjaga di tengah malam, demi memberikan nutrisi terbaik bagi putranya. Beruntungnya, Hasna bisa menyiapkan ASIP berkantong-kantong yang disimpannya dalam lemari pendingin. Jadi Rama bisa menggantikan sang istri menemani putranya jika bayi mungil itu tak kunjung terlelap.
"Rama?" Bu Diana menghampiri putranya yang tengah menggendong sang cucu. Kebetulan kamar mereka bersebelahan.
"Sini, biar sama Mama. Kamu istirahatlah, besok kamu harus ngantor." Ucap Bu Diana.
"Nanggung, Ma. Reyn udah mulai tidur juga. Kalau botolnya dicabut paksa, bisa nangis dan gagal tidur dia." Ucap Rama yang masih menimang Reyn dengan sebotol ASIP yang hampir tandas.
"Ya udah, nanti kalau udah tidur, kamu tidurin aja di boks. Biar Mama bawa ke kamar. Lihat kantung mata kamu, semakin jelas." Rama hanya tersenyum mendengar ucapan ibunya.
Semenjak resmi menjadi seorang ayah, jam tidur Rama berubah drastis. Jika biasanya ia paling lambat tidur di jam sebelas malam karena pekerjaan, kini justru hingga hampir jam dua pagi dirinya belum juga beristirahat.
__ADS_1
Bu Diana kembali dari dapur dengan membawa segelas air minum ditangannya, lalu duduk di sofa ruang tengah. Wanita paruh baya itu mengamati Rama yang tengah menidurkan putranya. Hal yang sudah menjadi sangat biasa semenjak kelahiran Reyn.
Dibandingkan Hasna, Rama lebih sering terjaga di malam hari. Rama selalu mengatakan jika Hasna lebih butuh banyak beristirahat dibandingkan dirinya. Karena Hasna memiliki sumber nutrisi terbaik bagi putranya. Dan jika istrinya kurang beristirahat, nantinya akan membuat produksi ASInya menurun, dan nutrisi putranya tidak akan tercukupi dengan baik.
Rama meletakkan putranya dengan sangat berhati-hati ke dalam boks. Jangan sampai bayi mungil itu terbangun, bisa-bisa akan terjaga hingga pagi.
"Udah tidur?" Tanya Bu Diana.
"Udah, Ma." Rama membereskan botol yang baru saja ia gunakan untuk memberikan ASIP untuk Reyn.
"Udah buruan istirahat sana. Temani istri kamu. Biar Reyn sama Mama."
Rama pun segera beranjak masuk ke kamar. Tubuhnya terasa begitu letih, juga mata yang telah panas ingin segera terpejam.
***
"Terima kasih, Mas." Hasna memberikan kecupan di pipi Rama. Lantas perempuan itu turun dari ranjang.
Jika dulu saat sebelum mereka memiliki Reyn di dunia, Rama pasti akan bereaksi sekecil apapun tindakan Hasna kepadanya. Namun setelah mereka memiliki Reyn, dan Rama sering begadang bersama putranya itu, jangankan diberikan kecupan, digoncangkan tubuhnya beberapa kali pun belum tentu Rama terbangun.
Hasna mencari keberadaan putranya di setiap sudut kamar, namun tak ia temukan. Bahkan boksnya pun tidak ada. Pastilah berada di kamar mertuanya, pikir Hasna.
Masih jam empat pagi, bahkan adzan shubuh belum berkumandang. Tidak mungkin ia mengetuk kamar mertuanya, hanya sekedar untuk mengambil putranya. Apalagi biasanya di jam seperti ini, Reyn jika tertidur akan lebih pulas dibandingkan saat malam hari.
Hasna segera ke kamar mandi untuk sekedar membersihkan diri. Sebelum ia melahirkan, banyak sekali ia membaca artikel tentang ibu menyusui, bagaimana kondisi ibu dengan new born yang jam tidurnya tidak menentu. Apalagi harus terbangun dua jam sekali hanya untuk memberikan hak sang bayi mendapatkan nutrisi terbaiknya. Hanya dengan membayangkannya saja, Hasna merasa dunianya akan jungkir balik nantinya. Tapi semua salah. Apa yang ia baca dan ia alami, tidaklah sama.
__ADS_1
Ia memiliki waktu istirahat yang cukup, dengan Rama yang lebih banyak mengalah untuk menjaga putranya di malam hari. Beruntungnya ia memiliki persediaan ASIP yang melimpah, hingga tidak menyulitkan Rama saat menjaga putranya saat malam.
Dan lagi, Mama mertua yang selalu menyayanginya seperti putrinya sendiri. Hingga ia tak perlu mendengarkan ceramah untuk ibu baru yang masih amatiran. Justru mertuanya memberikan arahan bagaimana merawat bayi baru lahir. Juga memiliki waktu me time walaupun sekedar membersihkan diri di kamar mandi dengan benar. Hasna sangat beruntung, karena suami, mertua dan keluarga lainnya mendukungnya.
Belum lagi Nayla. Gadis itu tidak mau tinggal diam dan mengambil bagian, walaupun hanya sekedar menggendong dan mengajak Reyn berjemur saat pagi. Itupun jika Rama benar-benar tidak bisa menemani Reyn berjemur. Jika tidak, ia tidak akan mendapat banyak bagian dengan keponakannya.
Hasna nampak lebih segar setelah mandi. Perempuan itu berjalan di sisi ranjang, tempat di mana Rama masih terlelap. Hampir jam setengah lima pagi.
"Mas, bangun yuk. Udah shubuh." Hasna mengguncang lengan Rama yang tidak tertutup selimut.
Rama masih nyenyak dalam tidurnya, bahkan tidak menunjukkan pergerakan sama sekali saat Hasna beberapa kali mengguncangkan tubuhnya.
"Mas, nanti di lanjut lagi tidurnya. Sholat dulu, yuk." Rama sedikit menggeliat dan hanya bergumam lirih.
"Udah hampir setengah lima loh." Walaupun berat, mata itu akhirnya terbuka. Wajah cantik sang istri yang pertama ia lihat. Senyuman itu, yang selalu menyambutnya di kala ia membuka mata.
"Sholat dulu, yuk. Nanti lanjut lagi." Rama pun duduk bersandar di ranjang. Mengumpulkan nyawanya sejenak.
"Reyn sudah bangun?" Tanya Rama.
"Sepertinya belum. Aku belum melihat Mama keluar kamar." Hasna memberikan segelas air putih yang selalu tersedia di atas nakas. Rama menerimanya dan meminum isinya hingga tandas.
"Berikan aku sedikit energi, setidaknya untuk menggantikan energiku yang habis menjaga Reyn semalaman." Hasna tersenyum mendengar ucapan Rama. Lantas perempuan itu mendekat, mengikis jarak diantara mereka. Dan mendaratkan sebuah kecupan tepat di atas bibir Rama. Serta memberikan ******* kecil disana.
"Terima kasih." Rama tersenyum dengan sangat lebar, walaupun matanya masih sangat mengantuk.
__ADS_1
Rama memberikan gelas yang telah kosong kepada Hasna, lalu turun dan masuk ke dalam kamar mandi.
***