Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 158


__ADS_3

Jam hampir menunjukkan pukul sebelas malam. Namun, Hasna masih saja bergerak gelisah di sisi Rama. Perempuan itu kembali tidak dapat memejamkan matanya. Hasna pun bangun dan duduk bersandar di headboard ranjang.


Ragu-ragu Hasna menepuk pelan lengan sang suami.


"Mas...Mas Rama." Hasna sedikit mengguncang lengan laki-laki itu.


"Mas..." Panggilnya.


"Emmm..." Lenguh Rama.


"Mas, bangun." Hasna kembali mengguncangkan lengan Rama.


"Hmmm..." Mata itu tak kunjung terbuka, hanya gumam-gumam yang Hasna dengar.


"Mas, bangun."


Berhasil, laki-laki itu perlahan membuka matanya.


"Ada apa?" Suara yang begitu berat menyapa pendengaran Hasna.


"Aku pengen." Ucap Hasna sedikit merengek.


"Pengen? Apa? Aku baru bangun, Sayang, masih lemes. Tunggu setengah jam lagi, ya. Apa mau pemanasan dulu?" Ucap Rama, kemudian duduk di samping Hasna.


"Mas Rama mau ngapain?" Ucap Hasna saat tangan Rama mulai menjelajah.


"Pemanasan dulu lah, Sayang. Katanya pengen?" Hasna semakin mengerutkan keningnya. Rupanya Rama mensalah artikan maksud dari ucapannya.


"Mas, aku tuh nggak pengen itu yah." Ucapan Hasna berhasil menghentikan kegiatan Rama. Kening laki-laki itu nampak berkerut.


"Aku pengen mie ayam yang pangsitnya banyak." Mata yang masih di gelayuti rasa kantuk, hilang seketika saat mendengar ucapan Hasna. Bahkan kini Rama duduk dengan tegak.


Reflek Rama melihat jam yang ada di dinding kamarnya.


"Mie ayam? Jam segini?" Ucap Rama tanpa mengalihkan pandangannya dari jam dinding di kamarnya. Baru beberapa detik kemudian, Rama menatap penuh heran pada sang istri.


Wajah cantik itu menatap sang suami penuh harap. Ingin rasanya menolak, namun wajah itu membuat Rama tak kuasa untuk sekedar menggelengkan kepalanya.


Selama delapan bulan kehamilannya, tak sekalipun Hasna meminta sesuatu yang aneh layaknya perempuan yang sedang mengidam. Tapi sekalinya meminta, kenapa di jam seperti ini? Mana ada penjual makanan yang buka? Kalaupun ada, mungkin hanya tinggal cucian piringnya saja.


Hasna mengangguk dengan mata yang berbinar, membuat Rama tak kuasa untuk menolak.


"Besok ya, Sayang? Jam segini pasti udah pada tutup." Ucap Rama selembut mungkin. Jangan sampai istrinya merasa di tolak keinginan pertamanya.

__ADS_1


"Tapi aku lapar, Mas. Makanya aku susah tidur." Lirih Hasna sedikit mengerucutkan bibirnya.


Rama menghirup nafas panjang sepenuh dada. Sebaiknya ia turuti daripada ada hal yang tidak diinginkan terjadi setelah ini. Urusan ada kedai yang buka itu bisa dipikirkan belakangan. Yang terpenting usaha dulu, usaha menyenangkan istri dan calon anaknya.


"Baiklah, ganti pakaian dulu. Sekalian pakai jaket juga. Di luar dingin." Hasna mengangguk dengan senyuman yang begitu lebar. Kalau sudah seperti ini, tidaklah mungkin ia bisa menolak.


***


Sudah hampir jam dua belas malam, namun mereka belum menemukan kedai mie ayam yang Hasna minta. Hampir satu jam lamanya, mereka berkeliling menyusuri jalanan yang di penuhi ruko, yang biasanya menjajakan makanan juga jajanan lainnya. Dan hampir semua lampunya padam, menandakan jika jam operasional mereka telah usai.


"Sudah tutup semuanya, Sayang." Ucap Rama melihat deretan ruko yang gelap.


Pandangannya beralih pada sang istri saat tidak mendapatkan respon dari perempuan itu. Raut kecewa dapat Rama lihat. Tapi dia pun bingung, mau bagaimana lagi. Jam segini mustahil ada tempat makan ataupun ruko yang buka. Lagi-lagi ia hanya bisa menghirup nafas panjang dan membuangnya perlahan.


"Ya udah, kita muter lagi. Mungkin masih ada yang buka." Ucap Rama pada akhirnya.


Rama memutar kemudi mencari tempat makan yang bertuliskan 'Mie Ayam', yang sekiranya masih buka tengah malam begini.


Lima belas menit menyusuri jalan, tetap saja tidak mereka temukan kedai makanan yang masih buka. Bahkan rasa kantuk mulai menyerang Rama kembali. Terlihat beberapa kali laki-laki itu menguap. Jika di teruskan berkendara, akan sangat berbahaya nantinya. Kalaupun nanti tidak menemukan apa yang istrinya cari, ia akan meminta untuk pulang.


"Mas, itu ada kedai mie ayam." Ucapan Hasna sukses membuat Rama kehilangan rasa kantuknya.


"Mana?"


"Itu." Hasna menunjuk kedai kaki lima kecil di pinggir jalan.


Gegas Rama menuju tempat yang Hasna tunjukkan. Kedai kecil dengan bangku panjang dan beberapa kursi plastik khas tempat jajanan pinggir jalan.


Keduanya turun dari mobil, dan masuk ke dalam warung tenda itu. Nampak seorang laki-laki paruh baya tengah membersihkan tempatnya menjajakan jualan. Mengelap meja yang telah kosong.


"Permisi, Pak." Ucap Rama, membuat laki-laki paruh baya itu menghentikan kegiatannya dan menoleh padanya.


"Iya, Mas?"


"Apa mie ayamnya masih ada?"


Laki-laki paruh baya itu tidak langsung menjawab, hanya memperhatikan Rama yang tengah berdiri di hadapannya, lalu beralih pada Hasna yang ada di belakang Rama.


"Maaf, Mas. Kedainya sudah tutup." Ucap laki-laki paruh baya itu.


Rama menoleh pada Hasna yang nampak kecewa mendengar jawaban penjual itu.


"Maaf, Pak. Jika masih ada satu porsi, tolong berikan kepada kami." Ucap Rama.

__ADS_1


"Istri saya, tengah mengidam." Lanjutnya sembari menoleh pada Hasna.


Laki-laki paruh baya itu nampak berpikir sejenak, sebelum membuka suaranya kembali.


"Maaf, Mas. Sebenarnya masih ada sisa satu porsi." Wajah Hasna nampak berbinar mendengarnya.


"Tapi...akan saya bawa pulang untuk makan malam saya dan istri di rumah." Senyuman Hasna memudar mendengar ucapan sang penjual.


"Saya mohon, Pak. Kali ini saja. Saya akan menggantinya dengan harga yang lebih." Ucap Rama yang terdengar seperti permohonan.


Laki-laki itu kembali menatap Hasna. Ada rasa tidak tega saat melihat wajah penuh harap di hadapannya itu. Namun, di rumah sang istri juga tengah menantikan makan malam yang sudah terlampau larut ini.


"Baiklah, mungkin ini rejeki buat si Eneng sama adek bayi." Ucap penjual itu pada akhirnya.


Kini tak hanya Hasna, Rama pun menyunggingkan senyumannya.


"Terima kasih, Pak. Terima kasih banyak." Ucap Rama.


"Silahkan duduk dulu. Saya panaskan dulu airnya." Ucap penjual itu ramah. Hasna langsung mengambil posisi di salah satu kursi.


"Sayang, aku ke mini market depan sebentar ya. Mau cari minuman. Ngantuk soalnya." Hasna hanya mengangguk mengiyakan.


"Pak, saya tinggal sebentar, ya. Mau cari minum." Pamit Rama pada penjual itu.


"Silahkan, Mas."


Rama segera pergi ke minimarket yang berada di seberang jalan. Setidaknya ia bisa mengurangi rasa kantuk yang tiba-tiba menyerangnya.


***


Aroma khas mie ayam menguar memenuhi penciuman Hasna. Tidak jadi masalah jika ia tidak mendapatkan pangsit yang ia minta. Setidaknya ia bisa menikmati semangkuk mie ayam malam ini.


Rama baru saja kembali dan mendapati sang istri begitu lahapnya menikmati mie ayam kaki lima itu. Rama tersenyum saat Hasna menemukan apa yang membuatnya gelisah semalaman.


"Enak?" Tanpa menjawab, Hasna hanya menganggukkan kepalanya.


Penjual itu pun menatap Hasna yang tengah menikmati mie ayam buatannya.


"Hamil anak pertama ya, Mas?" Rama menoleh dan mengangguk pada penjual itu.


"Iya, Pak."


"Perempuan hamil memang seperti itu. Kalau ada yang diinginkan, sulit untuk di tolak." Ucap laki-laki paruh baya itu.

__ADS_1


Jangankan menolak, untuk sekedar menggeleng pun, rasanya tidak akan sanggup. Dan Rama baru saja mengalaminya malam ini.


***


__ADS_2