
Bu Diana menangkap ekspresi kesal putra sulungnya. Sepertinya usaha gadis kecilnya berhasil. Rama memperlihatkan reaksi ketidak sukaaannya semenjak kado yang Nayla bawa dari rumah diterima menantunya.
Hasna pamit ke kamar untuk mengganti pakaian, dan meninggalkan bingkisan dari pengagum beratnya di atas sofa, di dekat Rama. Hanya karena diletakkan bersebelahan dengan dirinya, membuat laki-laki itu dongkol luar biasa.
Beberapa kali terdengar hembusan nafas kasar, menandakan jika laki-laki itu tengah menahan kekesalan.
"Kak Rama, oke?" Tanya Nayla serius padahal di hatinya gadis itu tengah bersorak kegirangan.
Tak menjawab hanya tatapan tajam yang Nayla dapatkan. Entah kenapa, tiba-tiba saja Rama menjadi sangat kesal dengan segala ocehan adiknya pagi ini. Tentang kado, tentang Bian, tentang bukti pernikahan.
Sial! Gara-gara istrinya tidak memakai cincin, banyak lelaki yang melirik. Ini tidak boleh dibiarkan.
"Makanya, punya istri itu dijaga. Dijaga raganya, dijaga jiwanya, juga dijaga perasaannya. Jangan sampai ada yang bersedia menjaga jiwa raga dan perasaan istri kamu, selain kamu, suaminya." Akhirnya nasehat Mama keluar juga.
Semoga saja kali ini putranya bisa berubah. Bisa mulai menerima pernikahan juga kehadiran istrinya.
Hasna kembali ke ruang keluarga. Terlihat perempuan itu memakai gamis berwarna tosca dengan pashmina panjang berwarna broken white melilit sempurna di kepalanya. Anggun sekali.
Rama memperhatikan penampilan istrinya beberapa saat. Perempuan itu terlihat cantik walau hanya memakai sedikit pemerah bibir karena bibirnya sudah merah alami bagaikan buah ceri. Tanpa make up yang tebal, istrinya itu sudah cantik. Apalagi jika pipi itu menampakkan semburat merah.
"Aaah...sial!!! Ada apa ini, kenapa aku menjadi kesal melihat Hasna berpenampilan seperti ini."
***
Hasna dan Bu Diana pergi ke salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota mereka. Kurang lebih satu jam mereka tiba di sana. Keduanya langsung menuju ke lantai empat untuk mencari kado yang cocok untuk Pak Andi.
"Menurut kamu, baiknya Papa dibelikan apa ya? Tahun lalu Mama sudah belikan Papa sepatu." Bu Diana meminta saran pada Hasna.
"Apa ya, Ma? Kalau jam tangan, gimana?" Usul Hasna. Bu Diana nampak berpikir sejenak.
"Ada sih kemarin Papa cerita sama Mama, pengen beli jam tangan katanya. Tapi limited yang dipengenin Papa. Pas cek harga, serem banget." Kekeh Mama mertua.
"Emang jam apa yang Papa pengen?"
Bu Diana menyebutkan satu merk jam tangan mahal, yang harganya bikin geleng-geleng kepala. Pantas saja mertuanya itu galau.
"Emm...kalau barang yang dibutuhkan Papa untuk sekarang?" Tanya Hasna.
"Apa ya?" Bu Diana mencoba mengingat barang apa yang suaminya butuhkan saat ini.
"Jam tangan sih, tapi yang dipengen Papa harganya..." Membuat wanita paruh baya itu geleng-geleng kepala.
"Ya nggak papa, Ma. Kalau menurut Hasna sih, bukan karena merk-nya tapi lebih ke siapa yang memberi yang membuat hadiah itu jadi berkesan."
Setelah berunding, mereka memutuskan untuk masuk ke toko jam tangan. Benar kata Hasna, harga itu tidaklah penting. Maka Bu Diana membeli jam tangan sesuai dengan budget yang ada.
Setelah mendapatkan apa yang diinginkan. Bu Diana mengajak Hasna untuk sekalian makan siang. Mereka memilih restoran Jepang, karena Mama mertua sedang ingin makan sushi.
Mertua dan menantu itu berbincang ringan sembari menikmati makan siang mereka. Sesekali terdengar tawa kecil dari kedua perempuan itu.
"Assalamu'alaikum, Hasna."
Kedua perempuan beda generasi itu mengalihkan pandangan mereka pada sosok laki-laki yang tengah tersenyum, berdiri tepat di depan meja yang mereka tempati.
"Wa'alaikumussalam, Mas Kevin?"
Bu Diana memperhatikan lelaki tampan yang menyapa menantunya itu. Kalau dilihat-lihat sepertinya lebih muda beberapa tahun dari putranya.
"Ma, kenalin, ini Mas Kevin. Beliau dan ibunya menjadi pelanggan setia ditempat katering Hasna." Hasna memperkenalkan lelaki itu kepada mertuanya.
__ADS_1
"Kevin, Tante." Kevin mencium tangan Bu Diana dengan begitu sopan.
"Diana."
"Boleh gabung?" Terlihat sekali jika pemuda itu berharap agar bisa bergabung di meja Hasna.
Hasna melirik mertuanya, meminta persetujuan beliau. Bu Diana mengangguk kecil, mempersilahkan jika laki-laki itu ingin bergabung di meja mereka. Dengan senang hati, Kevin mengambil posisi dihadapan Hasna, bersebelahan dengan Bu Diana.
"Ini sudah tiga kali lho, kita ketemu di restoran secara tidak disengaja."
"Dan semoga dari ketidak sengajaan ini, membuat kamu menjadi jodohku, Hasna."
"Oh ya?"
"Iya, pertama waktu hujan gede, aku numpang juga di meja kamu karena tak dapat kursi. Kedua di restoran Italia beberapa waktu lalu, dan ketiga hari ini, di restoran Jepang." Kevin mengingat semua pertemuan mereka.
"Ah iya, dari pertemuan tidak sengaja kami yang pertama, alhamdulilah, Hasna ada rezeki pelanggan baru loh, Ma. Tante Rosita, Mamanya Mas Kevin, beliau memesan seribu boks nasi beserta kue untuk acara amal. Dan alhamdulilah juga, sampai sekarang kantor Mas Kevin mengambil katering untuk makan siang."
Hasna tetap melibatkan mertuanya dalam percakapannya dengan Kevin. Ia ingin menjaga perasaan ibu suaminya itu. Walaupun mertuanya lebih banyak diam dan sesekali tersenyum mendengarkan cerita keduanya. Bagaimana pun dia harus menjaga kehormatan keluarga suaminya.
"Ma, Hasna pamit ke toilet sebentar ya."
Bu Diana mengangguk ke arah Hasna. Perempuan cantik itu beranjak meninggalkan Kevin beserta Mama mertuanya.
Sesaat kecanggungan terjadi diantara Bu Diana juga Kevin. Bu Diana kembali melanjutkan makannya yang tertunda, pun Kevin yang menunggu pesanannya diantarkan.
"Ehemm... Nak Kevin, sudah lama kenal Hasna?" Tanya Bu Diana disela menikmati makan siangnya.
Kevin meletakkan ponsel yang semula digenggamnya. Pemuda itu tersenyum ramah pada Bu Diana.
"Baru Tante, sekitar dua bulan yang lalu." Jawabnya.
Kevin menceritakan awal pertemuannya dengan Hasna. Dari sana Bu Diana bisa menilai jika laki-laki disampingnya ini memiliki perasaan pada menantunya.
"Saya salut sekali dengan putri Tante, menjadi pengusaha di usia yang tergolong masih muda." Rupanya Kevin mengira jika Hasna adalah putri Bu Diana. Wanita itu hanya tersenyum menanggapinya.
Seorang pelayan mengantarkan pesanan Kevin. Untuk sesaat keduanya kembali menikmati makanan mereka. Hingga suara Kevin membuat Bu Diana menghentikan suapannya.
"Ehemm... Tante, boleh saya membicarakan hal penting sama Tente?"
Bu Diana menautkan kedua alisnya, hal penting apa yang akan dibicarakan pemuda yang tengah makan bersamanya saat ini, hingga harus meminta izin dulu.
"Silahkan." Bu Diana tersenyum ramah.
Kevin menghirup nafas dalam sebelum mengatakan sesuatu pada wanita seusia ibunya itu. Bu Diana masih setia menunggu laki-laki itu membuka suara.
"Sebelumnya saya mohon maaf sama Tante. Mungkin waktunya kurang tepat. Apalagi ini di tempat umum." Kevin terkekeh di ujung kalimatnya. Mengalihkan pandangannya, memindai sudut restoran. Laki-laki itu berusaha mengurai kegugupan yang tiba-tiba menyelimuti dirinya.
Bu Diana masih belum memahami apa yang akan disampaikan Kevin kepadanya. Tapi wanita itu bisa menebak jika apa yang akan disampaikan Kevin ada sangkut pautnya dengan Hasna.
"Eee... sebelumnya saya pernah menanyakan hal ini pada seseorang, dan dia memberikan saran yang menurut saya terlalu ekstrim. Tapi setelah saya pikirkan, memang ada benarnya juga. Saya harus maju dan mencoba, apapun hasilnya saya akan menerimanya."
Wanita paruh baya itu semakin bingung dengan arah pembicaraan Kevin, tapi tidak menyela ucapan lelaki itu. Bu Diana memberikan kesempatan agar pemuda itu menyampaikan apa yang ingin dikatakannya.
"Saya...saya suka sama Hasna, Tante." Seketika wajah lelaki itu merona dan tertunduk malu.
Bu Diana begitu terkejut mendengarnya, tapi tetap mendengarkan tanpa memberi tanggapan pada ucapan Kevin.
"Saya pernah mengutarakan rasa suka saya pada Hasna. Maksud saya, saya pernah bercerita pada Hasna jika saya menyukai seorang perempuan, tanpa memberi tahu siapa perempuan itu padanya." Ungkap pemuda itu.
__ADS_1
"Dia bilang, jika saya hanya sebatas suka pada perempuan itu, maka lebih baik saya lupakan. Tapi jika saya benar-benar jatuh cinta, maka saya harus memperjuangkannya. Salah satunya adalah_"
Kevin menggantungkan ucapannya, menatap lurus Bu Diana yang menyimak perkataannya dengan baik
"Salah satunya adalah, dengan melamar pada orang tuanya. Dan saya baru mengutarakan ini pada Tante, selaku orang tua dari perempuan yang saya cintai."
Air muka Bu Diana seketika berubah, antara terkejut, juga kasihan. Beliau kasihan dengan laki-laki yang sungguh-sungguh mencintai menantunya itu. Bagaimana jika ia tau kebenarannya bahwa Hasna adalah perempuan bersuami? Dan sekarang malah melamarnya pada mertuanya.
"Kami memang kenal belum lama, juga pertemuan kami semuanya secara tidak sengaja. Tapi, Hasna benar-benar merubah dunia saya." Ungkap Kevin.
Lagi-lagi laki-laki itu tersenyum dengan senyuman yang begitu tulus. Dapat Bu Diana rasakan jika apa yang dikatakannya adalah sebuah ungkapan yang berasal dari hatinya. Bukan hanya sebatas omong kosong.
"Dari awal pertemuan kami, Mama saya sudah jatuh hati pada Hasna. Mama berharap bisa menjadikan putri Tante sebagai menantu di keluarga kami." Nada bicara Kevin sudah mulai tenang dari sebelumnya.
"Saya ingin menjadikan putri Tante sebagai istri saya." Ucapnya mantap, membuat Bu Diana menghirup nafas dalam.
Kini wanita paruh baya itu benar-benar tak bisa mengungkapkan rasa keterkejutannya dengan kata-kata. Bu Diana tak pernah berpikiran jika akan ada kejadian seperti saat ini. Tiba-tiba kepalanya terasa berdenyut.
Tak langsung menjawab, karena Bu Diana juga bingung harus memberikan jawaban apa pada Kevin. Ini masalah hati, tak pantas saja jika beliau ikut campur.
"Maafkan, saya. Karena saya tidak bisa menjawab apa yang nak Kevin utarakan. Saya serahkan semua pada Hasna." Bu Diana mencoba memberikan jawaban yang tidak membuat Kevin maupun Hasna terlihat bersalah dengan posisinya. Wanita itu tetap tersenyum ke arah Kevin.
Bu Diana sangat yakin Kevin tidak mengetahui jika Hasna adalah perempuan bersuami, hingga membuat pemuda itu mengutarakan niatannya untuk melamar Hasna. Pun dengan Hasna yang tidak pernah membicarakan hal-hal pribadinya pada orang lain.
Tiba-tiba saja Bu Diana mengingat ucapan Nayla, saat putrinya itu mengatakan jika ada teman kampusnya yang menyukai Hasna. Karena tidak ada bukti jika Hasna sudah menikah, membuat laki-laki itu tetap bersikeras mendapatkan hati Hasna dengan cara mengirimkan hadiah-hadiah manis melalui Nayla. Bahkan tadi pagi hadiahnya baru Nayla berikan pada Hasna sebagai ajang membuat putranya kesal.
"Tidak apa-apa, Tante. Yang terpenting saya sudah mengutarakan niatan baik saya, walaupun momennya tidak tepat." Lelaki itu kembali tersenyum hangat.
"Saya akan menantikan jawaban Hasna, kapanpun Hasna siap. Semoga niat baik saya disambut dengan baik pula." Ucap Kevin penuh harap.
Bisa dilihat dengan jelas dari sorot matanya, jika laki-laki itu sangat tulus mencintai Hasna. Matanya penuh binar bahagia saat menceritakan tentang Hasna, perempuan yang dia cintai. Hingga membuat Bu Diana tak tega mengatakan jika Hasna adalah istri dari putranya. Biarlah masalah ini diselesaikan Hasna dengan pemuda disampingnya ini.
"Maaf ya, Ma, Hasna lama."
Suara Hasna mengalihkan atensi keduanya. Perempuan yang menjadi topik utama pembicaraan kini telah berada disini. Perempuan bermata teduh itu tersenyum ke arah Kevin dan Mama mertuanya.
"Tidak apa-apa, Sayang. Kamu lanjutkan dulu makan kamu yang belum selesai. Mama tunggu." Ucap Bu Diana dengan senyuman.
Wanita itu melirik Kevin yang duduk tepat dihadapan menantunya. Sesekali lelaki itu mencuri pandang ke arah Hasna sembari menikmati makanan yang tinggal setengah dipiringnya. Tapi ekspresi yang Hasna tunjukkan biasa saja. Terlihat jika menantunya itu tak memiliki perasaan pada Kevin, sama seperti dugaan beliau.
Kevin pamit saat ponselnya berbunyi, dan tak lama kembali lagi di meja tempat mereka makan.
"Hasna, Tante, saya permisi dulu. Mama saya sudah selesai rupanya. Tadi saya tinggalkan saat perawatan di salon." Kekehnya.
Kevin melambaikan tangannya pada seorang pelayan untuk meminta tagihan dan membayarkannya.
"Tidak perlu repot-repot, Nak Kevin. Kami bisa membayarnya sendiri." Tolak Bu Diana halus.
"Tidak apa-apa, Tante, anggap saja jamuan perkenalan. Senang bisa bertemu dengan Tante." Rama meraih tangan Bu Diana untuk diciumnya.
"Salam buat Tante Rosita." Kevin mengangguk dengan senyuman manis di bibirnya.
"Kalau begitu saya permisi, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam." Jawab Hasna dan Bu Diana bersamaan.
Bu Diana menatap tubuh tegap lelaki itu menjauh, kemudian memperhatikan ekspresi perempuan muda yang tengah menikmati makanannya. Bahkan Hasna tak lagi memperhatikan kepergian Kevin.
Andaikan saja putranya tau jika hari ini ada seorang laki-laki yang melamar sang istri pada ibu kandungnya. Apa yang akan putranya itu lakukan?
__ADS_1
***