Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 71


__ADS_3

"Mas Rama hati-hati ya." Ucap Hasna saat keduanya sampai di depan rumah keluarga Suryanata.


"Mendekatlah. Aku butuh energi." Pinta Rama.


Hasna mendekat, dan seperti biasa Rama memberi sedikit ******* dan berakhir dengan kecupan lembut di kening.


"Aku akan merindukanmu." Ucap Rama. ibu jarinya mengusap lembut bibir Hasna.


Semburat merah jambu menghias di kedua pipi Hasna. Rama, laki-laki itu selalu sukses membuat istrinya tertunduk malu.


"Wajahmu sungguh menggemaskan Hasna. Kenapa tiba-tiba aku tidak ingin berangkat ke kantor?" Rama mengusap lembut pipi istrinya.


Hasna memukul pelan lengan Rama. Hampir setiap hari ia mendengarkan gombalan suaminya itu.


"Cepatlah berangkat, nanti kesiangan." Hasna sudah membuka seat belt dan bersiap turun.


"Baiklah, aku akan segera berangkat." Ucap Rama lesu.


"Assalamu'alaikum." Ucap Hasna saat mencium tangan Rama.


"Wa'alaikumussalam." Rama mengusap lembut puncak kepala istrinya.


Mobil Rama pergi meninggalkan kediaman Suryanata. Gegas Hasna masuk setelah gerbang di bukakan oleh sekuriti.


Dari kejauhan, terlihat Mama mertua sedang melakukan rutinitas paginya setelah Papa berangkat. Mertuanya itu sangat senang berkebun. Bahkan koleksi bunganya banyak sekali. Bermacam jenis dan warna menghiasi taman dengan begitu indahnya.


"Assalamu'alaikum, Ma." Ucap Hasna.


"Wa'alaikumussalam, hei ke sini kok nggak bilang-bilang?" Bu Diana terkejut, karena baru kemarin mereka baru pulang dari sini. Wanita paruh baya itu melepas sarung tangannya.


Bu Diana berdiri menghampiri menantunya. Wanita itu tersenyum dan memeluk istri dari putranya itu, dan mencium pipinya bergantian.


"Peluk saja, tangan Mama kotor." Kekeh Mama mertua.


"Sendirian saja?" Tanya beliau.


"Di antar Mas Rama, sekalian berangkat ke kantor." Jawab Hasna.


"Tumben, nggak kasih kabar dulu?"


"Hasna ada perlu sama Mama. Mama sibuk nggak?" Bu Diana mengerutkan keningnya. Tumben sekali.


"Kamu masuk dulu gih, Mama mau beresin ini dulu." Masih ada dua pot yang belum di pindahkan.


Hasna masuk ke dalam rumah yang nampak begitu sepi, dan langsung menuju ruang tengah untuk menunggu Mama mertua.


Selang beberapa saat, Mama sudah kembali ke dalam rumah. Beliau membersihkan diri terlebih dahulu. Baru kemudian bergabung dengan menantunya di ruang keluarga.


Bu Diana datang dengan membawa nampan berisi minuman dan camilan untuk Hasna juga dirinya.


"Mama tidak perlu repot-repot, Hasna bisa ambil sendiri nanti." Hasna merasa tidak enak di perlakukan layaknya tamu.


"Tidak repot, Sayang. Mama senang karena hari ini mama ada teman ngobrol." Ucap Mama sambil meletakkan minuman beserta camilannya di tas meja.


"Sepi sekali, Nay kemana Ma?" Tanya Hasna.


"Nayla keluar sama teman kampusnya, ada acara katanya." Hasna hanya mengangguk.


"Ma."


"Iya, Sayang?"


"Hasna boleh tanya sesuatu sama Mama?" Bu Diana nampak heran, tumben sekali. Namun beliau mengangguk.


"Emmm...apa Mama masih ingat, waktu kita cari kado ulang tahun Papa, kita nggak sengaja ketemu sama teman Hasna?" Mama nampak mengingat-ingat.


"Mas Kevin?" Ucap Hasna pelan.


Bu Diana ingat nama itu. Nama laki-laki yang pernah mengutarakan niatnya untuk mempersunting Hasna sebagai istrinya.


Bu Diana mengangguk. Hasna terlihat menghirup nafas dalam. Perlu mencari kata yang pas agar tidak sampai menyinggung perasaan ibu mertuanya nanti.


"Kemarin siang...Mas Kevin ngajakin Hasna ketemuan." Bu Diana menautkan kedua alisnya.

__ADS_1


"Mama jangan salah paham dulu. Ketemuannya bukan di tempat sepi dan hanya ada kami berdua. Bukan seperti itu. Hasna meminta untuk bertemu di restoran. Karena sekalian Mas Rama jemput nantinya."


Bu Diana tetap menyimak perkataan Hasna. Wanita paruh baya itu sedikit was-was saat Hasna mengatakan jika Rama datang juga. Jangan sampai ada keributan di antara dua lelaki itu.


"Mas Kevin... Mas Kevin meminta jawaban atas lamaran yang pernah di utarakannya melalui Mama."


Hasna sungguh tidak nyaman membicarakan laki-laki lain, apalagi dengan ibu mertuanya. Jangan sampai mertuanya itu berpikiran yang tidak-tidak tentang hubungannya dengan Kevin.


"Kenapa Mama tidak berterus terang kepada Hasna waktu itu? Hasna merasa bersalah, seolah telah memberikan harapan kepada Mas Kevin. Hasna merasa telah mempermainkan perasaan lelaki sebaik Mas Kevin."


Hasna menceritakan semuanya pada Mama mertua. Tak ada yang ia tutup-tutupi. Bahkan ia bercerita tentang rasa kecewanya dan bersalahnya Kevin kemarin.


Bu Diana menghirup nafas dalam. Apa yang dikatakan Hasna memang benar. Andai saja waktu itu dirinya sudah memberitahukan hal ini pada Hasna lebih awal, pasti laki-laki bernama Kevin itu tidaklah merasa diberikan harapan semu.


"Maafkan Mama, Sayang. Mama tidak bermaksud membuatmu dalam posisi sulit. Mama hanya ingin kamu menyelesaikan permasalahan ini, Mama tidak berhak ikut campur." Ucap Bu Diana. Hasna meraih tangan Mama yang berada di pangkuan. Menggenggamnya lembut.


"Terima kasih, Mama sudah percaya sama Hasna. Semoga tidak ada lagi laki-laki yang mengharapkan Hasna. Hasna sangat merasa berdosa pada Mas Rama." Ucap Hasna. Mata itu memancarkan rasa bersalahnya karena merasa telah membohongi suaminya.


"Hasna minta sama Mama, tolong jangan katakan hal ini pada Mas Rama. Hasna tidak ingin membuat Mas Rama salah paham. Masalah ini sudah selesai. Dan Mas Kevin juga meminta maaf pada Mama."


"Iya, sayang."


Semoga apa yang dikatakan oleh Hasna benar adanya. Tidak akan ada lagi laki-laki yang mengharapkan Hasna. Karena Hasna, istrinya dari putranya.


***


Tok, tok, tok.


"Masuk."


"Maaf, Pak. Ada undangan makan siang dari Pak Dirga hari ini." Ucap Marissa.


Undangan makan siang? Kenapa tidak melalui Ivan? Dan juga terlalu mendadak.


"Mendadak sekali?" Tanya Rama.


"Maafkan saya, Pak. Undangannya sudah dari dua hari yang lalu. Saya lupa menyampaikannya. Sekretaris Pak Dirga yang menghubungi saya langsung."


"Baiklah, tolong katakan pada Ivan, jika dia akan menemani saya siang ini."


Rama hampir lupa jika ada sedikit pekerjaan yang mengharuskan asistennya itu keluar kantor.


"Apa Bapak akan berangkat sendiri? Atau apa perlu kita cancel saja?"


"Tidak perlu, saya tidak enak jika sampai menolak ajakan Pak Dirga. Tolong kamu temani saya nanti." Senyuman Marissa mengembang seketika.


"Baik, Pak."


Sekretaris itu pun keluar dari ruangan Rama. Senyuman tak pernah surut dari bibirnya.


***


Setengah jam sebelum makan siang, Rama dan Marissa sudah tiba di restoran sebuah hotel di kota mereka. Marissa meminta sopir untuk meninggalkan mereka dan menjemput saat ia hubungi nantinya.


Keduanya berjalan beriringan bak pasangan. Langsung menuju meja yang telah di reservasi sebelumnya.


"Mau pesan minum dulu, Pak?" Tawar Marissa. Rama mengangguk, kebetulan sekali tenggorokannya terasa kering.


Marissa memesankan minuman untuk keduanya. Kemudian permisi untuk ke toilet.


Selang beberapa saat, seorang pelayan mengantarkan pesanan ke meja yang di tempati oleh Rama. Sudah hampir mendekati jam makan siang, tapi rekanan bisnisnya itu tak kunjung tiba.


Rama mengambil ponsel dari saku celananya. Mengetikkan sebuah pesan, kemudian mengirimkannya.


~Hasna, kau sedang apa?~ Rama.


Rama mengirimkan pesan pada sang istri untuk membunuh rasa bosannya. Sepuluh menit berlalu, namun chat nya tak kunjung Hasna baca.


Rama meletakkan ponselnya di atas meja dan mengambil segelas minuman miliknya. Tak lama terdengar notifikasi masuk, ternyata dari Hasna. Perempuan itu baru membalas pesannya di menit ke tiga belas.


~Maaf, Mas. Aku baru saja selesai sholat. Mas Rama sudah sholat belum?~ Hasna.


~Belum, setelah ini.~ Rama.

__ADS_1


~Jangan ditunda-tunda, segera, ya.~ Hasna.


~Iya, ini masih bertemu dengan klien.~ Rama.


~Oh, ya sudah. Jangan lupa sholat dan makan siang ya, Mas.~ Hasna.


~Baik, istriku.~ Rama.


~Aku merindukanmu.~ Rama.


Satu menit berlalu, masih belum ada balasan. Membuat Rama mendengus kesal.


~Aku juga merindukan Mas Rama. Aku tunggu di rumah.~ Hasna.


Senyuman mengembang sempurna di wajah tampannya. Entah mengapa ia selalu merindukan istrinya. Sekali lagi, ia melirik jam di pergelangan tangannya. Jam makan siang sudah lewat sepuluh menit. Rama kembali mengambil gelas minuman yang isinya tinggal setengah.


Beberapa saat kemudian Marissa kembali dari toilet dan duduk di tempatnya semula.


"Apa sekretaris Pak Dirga tidak memberikan kabar? Kenapa mereka belum sampai?" Rama melihat jam tangannya kembali. Sudah tiga puluh menit dari jam makan siang. Itu artinya mereka hampir satu jam telah menunggu.


"Ahh...maafkan saya, Pak. Tadi saat saya di toilet, sekretaris Pak Dirga mengabarkan bahwa mereka membatalkan acara makan siang ini. Karena ada klien yang tiba-tiba datang ke perusahaan mereka." Jawab Marissa. Rama mendengus kesal. Selama satu jam membuang waktu hanya untuk acara yang sia-sia.


"Membuang waktu saja." Gerutunya.


"Apa kita makan siang dulu? Kebetulan masih ada waktu setengah jam lagi." Tawar Marissa. Perempuan itu tersenyum samar saat mendapati gelas minuman Rama telah kosong.


"Bahkan minuman Bapak sudah habis." Kekeh Marissa kecil.


"Tidak perlu, kita langsung kembali saja." Tolaknya kesal.


"Baiklah, Pak. Tapi saya habiskan minuman saya dulu."


Marissa mengambil gelas minumannya dan meminumnya sedikit. Perempuan itu melirik Rama yang masih fokus dengan ponselnya. Semenarik itukah benda di tangannya saat ini, dibanding dirinya yang tampil sempurna?


"Apa sudah selesai?" Tanya Rama yang melirik sekilas pada sekretarisnya.


"Sebentar lagi, Pak. Masih tinggal setengah." Ucap Marissa yang masih menikmati sisa minumannya.


Rama memijat pelan pelipisnya. Tiba-tiba saja kepalanya terasa berdenyut. Rama masih berusaha tetap fokus pada ponselnya. Tapi rasa itu semakin membuatnya kehilangan fokusnya. Rama meletakkan ponselnya, kembali memijit pelipisnya yang semakin berdenyut.


"Bapak kenapa?" Tanya Marissa. Perempuan itu menatap Rama yang seperti merasakan ketidak nyamanan.


"Bisa segera kita kembali? Kepala saya tiba-tiba terasa sangat pusing." Rama berusaha tetap sadar saat pandangannya mulai mengabur.


"Baiklah, Pak. Mari saya bantu." Marissa mengulurkan tangannya hendak membantu Rama, namun laki-laki itu menepisnya.


"Tidak perlu, saya bisa sendiri." Tolaknya.


Marissa menurunkan tangannya yang akan menyentuh Rama. Rupanya laki-laki itu masih saja menolaknya.


Baru beberapa langkah, Rama mulai limbung. Marissa yang berada di belakangnya sigap menahan tubuh Rama. Rama terlihat meringis kesakitan. Kepalanya kembali berdenyut.


"Mas, tolong saya." Teriak Marissa pada salah satu pelayan restoran.


Laki-laki berseragam itu menghampiri Marissa yang menopang tubuh Rama. Laki-laki itu tak sadarkan diri.


"Mas tolong saya. Tolong antarkan kami ke kamar kami di lantai lima. Suami saya tiba-tiba pingsan." Ucap Marissa pada pegawai restoran itu.


Pegawai restoran itu memanggil salah seorang temannya, karena tidak mungkin membawa Rama yang bertubuh tinggi tegap itu seorang diri.


Kedua pegawai restoran itu mengantarkan Rama sampai ke kamar yang di tunjukkan Marissa. Perempuan itu membuka kamar dengan kartu akses yang ia bawa.


"Tolong baringkan di atas ranjang." Pinta Marissa.


Sesuai arahan mereka membaringkan Rama di atas ranjang dalam keadaan yang sudah tak sadarkan diri.


"Apa perlu kami panggilkan Dokter buat suaminya?" Tawar salah satu dari mereka.


"Tidak perlu, saya sudah membawa obatnya. Sekali lagi terima kasih. Ini ada sedikit tips untuk kalian." Marissa mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu untuk kedua pegawai restoran yang telah membantunya.


"Terima kasih banyak, Mbak. Semoga suaminya cepat sembuh." Ucap salah satu pegawai itu.


"Iya, terima kasih."

__ADS_1


Kedua pegawai restoran itu segera keluar dari kamar itu, menyisakan Marissa dan Rama yang tidak sadarkan diri.


***


__ADS_2