Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 126


__ADS_3

~Saya sudah membuat laporan atas kasus kecelakaan yang menimpa Bu Hasna. Dan polisi akan segera mengambil tindakan.~ Ivan.


Pesan singkat yang Ivan kirimkan, membuat Rama sedikit merasakan kelegaan. Rama ingin Marissa menyesali dan mempertanggung jawabkan perbuatannya. Tindakan Marissa benar-benar di luar batas. Tindakan perempuan itu sudah membahayakan orang lain, hingga jatuh korban.


~Bagus, tetap ikuti perkembangan kasusnya.~ Rama.


~Baik, Pak.~ Ivan.


~Tolong handle kantor untuk sementara waktu. Jika ada apa-apa segera kabarkan pada saya.~ Rama.


~Siap, Pak.~ Ivan.


Rama kembali meletakkan ponselnya di atas nakas. Laki-laki itu menatap lekat sang istri yang masih betah memejamkan kedua matanya.


"Sayang, kapan kamu bangun?" Tanya Rama pada Hasna yang mengatupkan kedua bibirnya rapat-rapat.


Rama mengusap lembut punggung tangan Hasna. Terasa halus, juga hangat.


"Aku rindu kamu bermanja padaku. Aku rindu memelukmu saat tidur. Bangunlah, Sayang. Apa kamu tidak merindukan aku?" Isakan kecil terdengar samar-samar dari mulut Rama. Laki-laki itu kembali meneteskan air matanya untuk Hasna.


"Kamu bilang ingin di peluk, tapi kenapa kamu tidak juga bangun?" Rama mengingat pesan yang istrinya kirimkan beberapa jam sebelum kecelakaan terjadi.


Tatapan Rama beralih pada perut istrinya yang tertutup selimut tebal.


"Kenapa kamu tidak bilang kalau dia sudah berada di sini?" Ucap Rama sembari mengusap lembut perut Hasna.


"Bangunlah, Sayang. Kita akan membesarkan anak-anak kita bersama." Rama kembali menggenggam hangat tangan sang istri, berharap perempuan itu akan membuka matanya saat ia memberikan sentuhan lembut.


Tok...tok...tok...


Rama mengusap kasar air mata yang menggenang di kedua sudut matanya.


"Iya?"


"Maaf, Dokter akan melakukan pemeriksaan." Sahut suara dari balik pintu.


"Silahkan masuk." Ucap Rama.


Seorang dokter dan seorang perawat terlihat masuk ke dalam ruangan Hasna dengan membawa perlengkapan mereka.


"Selamat malam, Pak." Sapa Dokter.


"Malam, Dok." Rama memberikan seulas senyumannya.


"Belum istirahat?" Rama menggeleng pelan dan tersenyum.


"Sus, tolong periksa tekanan darah pasien." Pinta dokter, dan perawat melakukan apa yang Dokter instruksikan.

__ADS_1


"Semuanya normal, Dok." Ucap suster


Dokter mengambil peralatan medis untuk memeriksa kondisi Hasna. Rama memperhatikan dengan seksama apa yang Dokter lakukan pada istrinya.


"Bagaimana, Dok? Apa semuanya baik-baik saja?" Tanya Rama tidak sabar.


Dokter menatap lekat Hasna yang terbaring di atas ranjang, lalu beralih pada Rama yang menatap kearahnya dengan serius.


"Seharusnya pasien sudah menunjukkan respon. Tapi semoga saja analisa saya tidak benar. Kita tunggu sampai besok, jika pasien belum juga sadar, akan kita lakukan pemeriksaan lebih lanjut." Ucap Dokter.


"Tapi, tidak ada masalah yang serius kan, Dok?" Tanya Rama. Sungguh ia merasakan kekhawatiran yang luar biasa.


"Sejauh ini, masih dalam tahap normal pasca operasi. Kami akan selalu memantau perkembangan pasien."


Dokter menjelaskan kondisi Hasna pada Rama. Raut wajah keduanya sungguh serius. Kecelakaan yang Hasna alami memanglah membuat perempuan itu cidera serius di bagian kepala, hingga sempat dalam keadaan kritis. Dokter mengatakan kemungkinan-kemungkinan yang akan Hasna alami jika kondisinya belum juga stabil.


Rama meraup kasar wajahnya. Raut wajahnya nampak begitu gelisah.


"Do'akan saja yang terbaik untuk pasien. Kami permisi dulu, Pak." Dokter menepuk pelan pundak Rama. Rama hanya mengangguk lesu, lalu mengiringi langkah Dokter hingga di ambang pintu.


***


Tomi sedikit menggeliat saat merasakan ketidaknyamanan dalam tidurnya. Laki-laki itu merasakan sakit di sekitar punggung dan lehernya, kerena tidur dalam posisi yang tidak semestinya.


"Euunngghhh..." Terdengar lenguhan kecil dari bibir lelaki itu.


Tomi melirik sekilas jam yang melingkari pergelangan tangan kirinya, pukul tiga dini hari. Kondisi Marissa yang cukup genting membuatnya terjaga semalaman menjaga perempuan itu di rumah sakit. Entah sampai jam berapa hingga akhirnya dirinya terlelap.


Terlihat Tomi sesekali menguap. Laki-laki itu berusaha mengusir rasa kantuk yang masih setia bergelayut di kedua matanya. Tomi segera beranjak ke kamar mandi untuk sekedar mencuci muka.


Tadi malam Dokter mengatakan jika pendarahan Marissa berhasil di hentikan. Setelah melakukan pemeriksaan secara menyeluruh, akhirnya mereka semua dapat bernafas lega, manakala detak jantung bayi dalam kandungan Marissa masih terdeteksi, walaupun melemah. Setidaknya masih ada harapan untuk mempertahankan kandungan perempuan itu. Dan kabar itu benar-benar membuat Tomi merasakan kelegaan yang luar biasa.


Tomi baru saja keluar dari kamar mandi. Nampak wajahnya lebih segar dengan buliran air yang menghias di sana. Laki-laki itu terlihat menatap lekat perempuan yang tengah berbaring di ranjang pasien dengan beberapa selang yang menancap di tubuhnya. Wajah cantiknya nampak pucat.


Sejenak Tomi merenung, mengingat kejadian kemarin sore. Saat dua perempuan yang tengah bersitegang, lalu kecelakaan itu. Semua kejadian begitu cepat, dan benar-benar di luar kendali.


Kini yang menjadi pikiran Tomi bukan hanya Marissa dan calon anak mereka. Tapi juga perempuan yang berhasil menyelamatkan Marissa dari maut, juga sekaligus yang menjadi korban di insiden kemarin.


Masih basah di ingatan, bagaimana perempuan berjilbab itu terpental dan bersimbah darah. Demi menyelamatkan perempuan yang berusaha mencelakai dirinya sendiri, seorang perempuan lain rela menjadi korban. Entah bagaimana ia mengambil sikap setelah ini. Terlebih keluarga Suryanata bukanlah keluarga sembarangan.


Tomi membuang kasar nafasnya yang terasa berat. Kejadiannya begitu cepat, hingga tak terprediksi sama sekali jika akan berujung seperti ini. Mau di sesali pun, keadaan tidak akan kembali seperti semula.


"Marissa, lagi-lagi karena keegoisan lo, bukan hanya anak kita, tapi orang lain juga ikut menanggung akibatnya. Sebaiknya gue cari tau kondisi perempuan itu. Bukankah ia juga berada di rumah sakit ini?" Gumamnya.


***


Rama baru saja menyelesaikan ritualnya di kamar mandi sebelum Dokter melakukan kunjungan jam tujuh tepat nanti. Laki-laki itu terlihat lebih segar dari semalam.

__ADS_1


Tok, tok, tok


"Assalamu'alaikum." Terdengar suara ibunya dari balik pintu. Tak lama pintu pun terbuka.


Tadi shubuh, Bu Diana memang mengabarkan akan ke rumah sakit pagi-pagi sekali untuk mengantarkan sarapan buat Rama. Juga untuk menggantikan Rama berjaga. Bagaimanapun, kesehatan Rama harus diperhatikan juga. Jangan sampai menantunya dalam perawatan, putranya juga ikut tumbang.


"Wa'alaikumussalam. Sama siapa, Ma?" Rama mencium punggung tangan sang ibu.


"Sama adik kamu. Masih di bawah tuh, nyari camilan katanya." Ucap Bu Diana sembari meletakkan paperbag berisikan makanan untuk Rama di atas meja.


"Sarapan dulu, jaga kesehatan kamu juga." Bu Diana mengeluarkan makanan yang di bawanya dari rumah. Memindahkannya di piring untuk Rama.


"Makanlah, Nak." Bu Diana meletakkan sepiring makanan di atas meja.


Rama menatap piring berisikan makanan favoritnya itu. Tiba-tiba saja matanya mengembun. Rama mengingat bagaimana setiap pagi Hasna menyiapkan sarapan untuknya. Bagaimana ia selalu berbagi makanan di piring yang sama dengan perempuan itu. Bagaimana manisnya perlakuan sang istri saat menyuapkan makanan untuknya. Semua terekam jelas dan berputar-putar memenuhi ingatannya.


"Setiap pagi, Hasna selalu menyiapkan kebutuhan Rama. Kami selalu berbagi makanan di piring yang sama. Hasna selalu menyuapkan makanan untuk Rama. Tapi sekarang..." Rama terdiam, tak sanggup lagi meneruskan kalimatnya. Rasanya berat ia ucapkan.


Netra yang mengembun itu menatap sang istri yang masih nyaman dalam tidurnya. Perlahan, bulir bening itu jatuh tak tertahan saat ia mengerjapkan mata.


Bu Diana bangkit dan duduk lebih dekat dengan sang putra. Mengusap lembut punggung laki-laki itu. Berusaha menyalurkan kekuatan untuk putranya yang rapuh.


"Jangan terlalu larut dalam kesedihan, Nak. Jangan pernah menampakkan keputus asaan. Allah sudah mengatur semuanya. Allah tidak akan pernah memberikan ujian kepada hambanya, melebihi batas kemampuan." Ucap Bu Diana dengan lembut.


"Percayalah, Nak, jika Hasna perempuan yang kuat, dia perempuan tangguh. Dia berjuang hingga terbebas dari masa kritisnya. Ingat, Nak, bukan hanya istri kamu yang berjuang untuk tetap bisa bersama kamu. Tapi ada calon anak kalian juga yang ikut berjuang untuk tetap bersama kalian, orang tuanya." Usapan lembut terasa di punggung Rama.


"Jangan sampai hanya mereka yang berjuang, tapi kamu justru rapuh." Rama menoleh pada sang ibu dengan mata yang basah.


Bu Diana menangkup wajah putranya, mengusap lembut sisa air mata yang menggenang di kedua netra laki-laki itu. Putranya benar-benar rapuh.


"Masih ada Mama, Papa, Nayla. Kami semua selalu mendo'akan kesembuhan Hasna. Jangan pernah berputus asa dari Rahmat Allah. Jangan pernah lelah memohon pada Nya untuk mendapatkan pertolongan." Rama mengangguk lalu menghambur dalam pelukan hangat wanita yang telah melahirkannya. Isakan kembali terdengar dari mulut lelaki itu.


"Istighfar, Nak, istighfar. Hasna pasti tidak akan suka dengan kamu yang seperti ini." Ucap Bu Diana dengan mengusap lembut punggung sang putra.


"Astaghfirullahal'adzim... Astaghfirullahal'adzim... Astaghfirullahal'adzim... Ampuni hamba Ya Allah." Lirih Rama.


Pelukan terurai saat Rama sudah merasa lebih tenang. Mata itu terlihat sayu, pandangannya meredup.


"Mau Mama suapi?" Rama memaksakan senyuman saat Bu Diana mengatakan hal itu.


"Lihatlah, Sayang. Laki-laki garang ini terlihat lembek sekali. Mama akan membujukmu nanti untuk meninggalkan anak Mama yang payah ini. Agar kamu bisa mendapatkan laki-laki yang lebih tangguh, bukan laki-laki yang cengeng seperti suami kamu ini." Ucap Mama dengan nada meledek, menatap ke arah Hasna yang terbaring di ranjang.


Rama menggeleng pelan, dengan senyuman yang dipaksakan di sela tangisnya yang mereda.


"Mama..." Rangeknya pelan.


"Ayo, Mama suapin. Kamu juga butuh energi, Nak." Rama mengangguk setuju.

__ADS_1


***


__ADS_2