
Kevin masih setia memandang potret perempuan yang membuat dunianya penuh warna. Senyumnya, matanya, hidungnya, tutur katanya, semua ia suka. Tiga bulan mengenal Hasna, sudah cukup bagi Kevin memantapkan hatinya untuk mempersunting perempuan itu. Tapi takdir tidak berpihak padanya.
Mungkin cukup bagi Kevin untuk mencintai Hasna dalam diam. Biarlah perempuan itu berbahagia dengan lelaki pilihannya. Dan dia mencintai Hasna dengan caranya sendiri.
"Kevin, Mama boleh masuk, sayang?" Terdengar suara sang ibu juga ketukan pintu yang saling bersahutan.
Kevin membuang nafasnya kasar. Di saat ia menginginkan ketenangan, ada saja yang membuat dirinya merasa terusik. Tapi ia juga tidak bisa mengabaikan wanita yang telah melahirkannya begitu saja.
"Masuk, Ma. Nggak di kunci." Sahutnya.
Bu Rosita masuk dengan membawa nampan berisikan makanan. Wanita itu tidak mau jika putranya abai dengan kesehatan.
"Makan dulu, Sayang." Bu Rosita menyimpan makanan di atas nakas.
Kevin hanya meliriknya sekilas, tak berniat untuk menyentuhnya. Ia sungguh tak ingin melakukan apa-apa sekarang.
"Kevin nggak lapar, Ma." Jawab Kevin tanpa mengalihkan fokusnya pada layar ponsel yang masih menyala.
Bu Rosita menghela nafas panjang. Rupanya sang putra tengah berada dalam masalah. Beliau mendekat dan ikut duduk di tepi ranjang. Tak sengaja netra wanita itu menangkap gambar perempuan cantik di layar ponsel putranya. Lantas beliau tersenyum.
Jadi, putranya galau gara-gara perempuan itu? Perempuan yang telah membuat jungkir balik hati putra kesayangannya.
Beliau ingat beberapa minggu yang lalu Kevin pernah bercerita, tentang niatnya untuk mempersunting Hasna. Bu Rosita dengan senang hati mendukung niat baik putranya. Terlebih wanita itu telah jatuh hati pada kepribadian Hasna. Bu Rosita juga begitu menginginkan Hasna menjadi istri putra bungsunya.
Lalu selang beberapa hari, Kevin pun bercerita jika telah mengutarakan niatannya untuk memperistri Hasna pada ibunya. Kevin melamar Hasna melalui ibu kandungnya. Dan ia menunggu hingga beberapa minggu untuk memperoleh jawaban dari perempuan bermata teduh itu.
Mungkin saja, Hasna sudah memberikan jawaban, tapi mengajukan syarat, pikir Bu Rosita. Dan mungkin syarat yang Hasna ajukan itulah yang membuat putranya galau tak karuan seperti saat ini.
Bu Rosita mengusap lembut surai hitam putranya. Tapi tak membuat Kevin bereaksi. Laki-laki itu tetap bergeming dengan mata yang masih fokus pada ponselnya.
"Ada apa? Cerita sama Mama." Pinta Bu Rosita lembut.
"Apa Hasna sudah memberikan jawabannya?" Kevin mengangguk, dan membuat sang ibu tersenyum.
"Lalu, apa lamaran kamu diterima?" Kali ini laki-laki itu menggeleng. Bu Rosita mengerutkan keningnya.
"Pasti dia mengajukan syarat, iya kan?" Lagi, Kevin menggeleng.
"Kenapa?"
Tak menjawab, justru Kevin merebahkan kepalanya di atas pangkuan sang ibu. Ia butuh sandaran saat ini.
Bu Rosita membelai lembut kepala sang putra. Memberikan sedikit waktu agar anak laki-lakinya itu merasa nyaman dan menceritakan apa yang tengah membuatnya mengurung diri seperti ini.
"Tadi siang, Kevin ketemuan dengan Hasna di restoran miliknya." Kevin akhirnya membuka suara.
"Kevin meminta jawaban atas lamaran Kevin pada Hasna."
Hening. Tapi Bu Rosita tak membuka suara, hanya tangannya yang masih setia mengusap lembut kepala Kevin.
"Hasna minta maaf sama Kevin."
Bu Rosita sejenak menghentikan usapannya. Beliau sudah paham arah pembicaraan Kevin selanjutnya. Bahwa lamaran putranya itu ditolak.
"Hasna minta maaf, dia tidak bisa menerima lamaran yang Kevin ajukan. Hasna...." Kerongkongan terasa tercekat saat akan mengatakan kalimat selanjutnya.
"Hasna..." Sekarang terdengar helaan nafas berat.
"Hasna sudah menikah, Ma." Lirihnya. Kata-kata itu begitu lancar terucap di lisannya, selancar buliran bening yang menerobos paksa di kedua sudut matanya.
"Hasna sudah menjadi istri laki-laki lain." Ucapnya dengan suara sedikit parau.
__ADS_1
Bu Rosita menghembuskan nafas berat. Wanita itu tau betapa putranya sangat mengagumi perempuan cantik itu, hingga rasa kagumnya berubah menjadi rasa cinta.
"Ternyata kita salah. Kita menganggap jika Hasna adalah perempuan lajang. Tapi ternyata dia perempuan bersuami." Rasanya ludah pun sangat sulit untuk di telan.
"Hasna sudah menikah sejak tiga bulan yang lalu. Beberapa minggu setelah kami berkenalan."
Bu Rosita merasakan basah di pakaian yang dikenakannya. Persis di pangkuan, putranya menangis. Kevin menitikkan air mata untuk perempuan yang di perjuangkannya. Namun takdir cintanya tak seindah harapannya.
"Dan apa Mama tau? Hasna yatim piatu sejak kecil, dia di besarkan oleh Kakeknya."
"Kamu bilang, kamu melamar Hasna pada ibunya?" Terasa gelengan putranya di pangkuan.
"Kevin melamar Hasna pada ibu mertuanya." Laki-laki itu tertawa sumbang. Menertawakan kebodohannya.
Bu Rosita menahan nafasnya beberapa detik. Wanita itu syok saat putranya mengatakan jika dirinya melamar gadis pujaannya pada ibu mertua sang gadis. Ini hal tergila yang pernah putranya lakukan. Beliau tidak tau apa yang akan di ucapkannya pada Kevin. Kemarahan, kekecewaan, rasa simpati atau justru cemoohan atas kebodohan sang putra.
"Untung saja tadi Kevin bisa menghindar, saat Hasna akan mengenalkan Kevin dengan laki-laki itu. Kevin tidak akan sanggup melihat mereka berdua di depan mata. Makanya Kevin bilang kalau Mama nyuruh Kevin buat pulang cepat." Kekehnya. Bu Rosita menggelengkan kepala mendengarnya, karena beliau tidak merasa menghubungi putranya.
Hening kembali mendominasi. Hanya terdengar helaan nafas yang terdengar berat.
"Lalu bagaimana dengan kamu?" Tanya Bu Rosita.
"Kevin akan berusaha mengikhlaskan Hasna, Ma. Belum tentu juga Hasna akan bahagia jika bersama Kevin. Kevin akan bahagia, jika Hasna bahagia."
Mungkin apa yang akan dijalaninya nanti tidak semudah dengan apa yang diucapkannya barusan. Tapi ia akan berusaha melakukannya. Demi cintanya pada Hasna, ia tidak akan menyakiti hati perempuan itu.
Kevin bangun dari pangkuan sang ibu, menatap wajah wanita yang telah melahirkannya itu. Tangan Bu Rosita terulur mengusap jejak air mata di wajah putranya.
"Demi Hasna, Kevin akan baik-baik saja." Seulas senyuman Kevin paksakan terbit di kedua sudut bibirnya. Bu Rosita mengangguk dengan mata yang mulai mengembun.
Putranya rapuh, tapi tetap berusaha tegar. Kevin tetap tersenyum walau terkesan dipaksakan. Lelaki itu mengalah walaupun tetap menggenggam cintanya untuk Hasna.
"Semoga setelah ini kebahagiaan mendatangimu, Nak."
***
Sore tadi ia mendapatkan pesan dari Siska, teman sewaktu kuliahnya dulu. Di pesan itu, Siska mengatakan jika ada hal penting yang ingin ia katakan padanya. Sudah lebih dari tiga puluh menit, tapi perempuan itu tak nampak batang hidungnya.
Tepukan di pundaknya, membuat laki-laki itu menoleh, dan mendapati sosok perempuan yang ditunggunya sedari tadi.
"Sorry lama, gue kejebak macet." Siska meletakkan tasnya dia atas meja dan duduk di hadapan Tomi.
"Nggak masalah. Mau pesen minum dulu?" Siska mengangguk.
Tomi memesan minuman dan makanan ringan untuk mereka.
"Lo mau ngomongin hal penting apa sama gue?" Tembaknya to the point.
"Soal Marissa."
"Marissa?" Ulang Tomi, Siska mengangguk.
"Ada apa dengan Marissa? Dia baik-baik saja, kan? Kandungannya gimana?" Tomi memberondong Siska dengan rentetan pertanyaan.
Perempuan berambut sebahu itu menautkan kedua alisnya.
"Lo tau kalau Marissa hamil?" Tomi mengangguk.
"Dan gue yakin kalau itu anak gue." Ucap Tomi yakin. Siska menatap ke arah Tomi.
"Lo tau kalau Marissa hamil anak lo?" Tomi mengangguk.
__ADS_1
"Gue nggak sengaja ketemu pas di rumah sakit. Marissa berada di depan ruangan dokter obgyn. Trus gue coba cari tau dia sakit apa. Dan ternyata, dia hamil."
"Marissa memang hamil anak lo, tapi..."
"Kenapa?" Wajah Tomi menegang.
"Dia nggak mau sampai lo tau kalau anak dalam kandungannya itu anak lo. Karena Marissa menginginkan seseorang mengakui anak itu sebagai anaknya."
"Maksudnya?" Tomi mengernyit heran.
Siska menceritakan pertemuan tak di sengaja antara dirinya juga Marissa di klub malam waktu itu, dan berakhir dengan mendengarkan curhatan sahabatnya di taman dekat klub.
"Lo tau siapa orangnya?" Tomi menggeleng.
"Rama, atasannya di kantor. Marissa sangat tergila-gila dengan Bosnya itu. Dia sering curhat sama gue. Dan jujur saja, gue nggak setuju kalau Marissa sampai nekat melakukan hal yang akan menghancurkan hidup orang lain." Rahang Tomi mengeras mendengar penuturan Siska. Tidak mungkin perempuan itu menceritakan kebohongan tentang sahabatnya sendiri. Tomi sangat kenal bagaimana Siska.
"Kita nggak pernah tau, bagaimana kehidupan pribadi atasan Marissa. Dia pernah bilang jika Rama masih single. Tapi kita tidak tau kan, jika Rama sudah memiliki kekasih bahkan calon istri." Betul apa yang dikatakan Siska. Tomi juga tidak setuju dengan pemikiran Marissa.
"Gue udah nyoba buat bicara dari hati ke hati dengan Marissa. Tapi sepertinya dia nggak mau dengerin saran gue. Bagaimanapun caranya dia harus bisa ngedapetin Rama. Atau..." Siska menatap Tomi yang duduk dihadapannya.
"Atau apa?"
"Atau dia bakalan ngelenyapin calon anak di dalam kandungan dia."
Tomi memejamkan mata dan menghembuskan nafas kasar. Rahangnya mengeras, tangannya mengepal kuat saat mendengar ucapan Siska. Marissa akan membu*uh calon anak mereka. Benar-benar perempuan egois. Mengorbankan darah dagingnya sendiri demi ambisinya mendapatkan atasannya itu.
"Lo tau Marissa kerja di mana?" Tanya Tomi.
"Di perusahaan Blue Diamond."
Perusahaan yang cukup besar. Tomi bisa dengan mudah mencari informasi siapa bos dari Marissa itu.
"Oke, gue akan selidiki. Dan gue minta tolong sama lo, bantu gue buat awasin Marissa. Gue nggak mau sampai dia berbuat nekat. Kalaupun dia nggak mau mengakui bayi dalam kandungannya, gue siap merawatnya sendiri." Ucap Tomi dengan penuh keyakinan. Siska pun menyanggupinya.
Tomi tidak akan lepas tanggung jawab terhadap darah dagingnya begitu saja. Walaupun dia tak sekaya laki-laki yang Marissa harapkan, tapi setidaknya dia seorang laki-laki yang masih memikirkan kehidupan buah hatinya. Dengan atau tanpa ibu kandungnya, ia akan menjamin kehidupan anaknya kelak.
***
"Mas."
"Hmmm."
Rupanya lelaki itu tengah bermanja dengan sang istri. Memeluk erat dan mencium puncak kepala istrinya.
"Besok aku izin ke rumah Mama, ya?" Ucap Hasna.
"Baru kemarin kita kesana." Ucap Rama dengan mata yang terpejam.
"Emangnya salah?" Protes Hasna.
"Ya, enggak juga sih. Ya udah nanti aku jemput sepulang kantor." Rama semakin mempererat pelukannya.
Hasna ingin menanyakan lamaran Kevin pada Mama mertua. Kenapa hampir sebulan mertuanya itu tidak menceritakan apapun kepadanya? Justru terlihat tenang seperti tidak ada kejadian apa-apa.
Hasna baru ingat saat Mama mertua minta langsung diantarkan pulang setelah membeli kado untuk Papa. Apa jangan-jangan Mama memang berniat untuk menyembunyikan hal itu darinya. Tapi kenapa? Bukankah jika langsung di bicarakan akan jadi lebih baik?
Masih jelas di ingatan, bagaimana ekspresi Kevin saat mendapat jawaban dari Hasna. Walaupun tidak di tolak secara terang-terangan, tapi jelas sekali jika wajah itu menyiratkan kekecewaan yang begitu dalam.
Hasna sedikit merasa bersalah pada laki-laki sebaik Kevin. Seolah dia seorang perempuan yang memberikan harapan pada laki-laki yang menginginkannya. Padahal bukan begitu, ia pun kaget saat Kevin mengatakan jika lelaki itu telah melamarnya pada Mama mertua, yang ia kira ibu kandung Hasna.
"Astaghfirullahal'adzim, ampuni hamba. Tak ada maksud hamba menyakiti perasaan Mas kevin. Bukan juga hamba memberi harapan semu. Tapi sungguh hamba tidak pernah mengetahui hal ini sebelumnya. Hamba berharap semoga dia akan menemukan perempuan yang jauh lebih baik dari hamba. Dia laki-laki baik, pasti akan mendapatkan jodoh terbaik pula."
__ADS_1
"Hasna, apa kamu sudah tidur?" Tanya rama, karena tak merasai pergerakan istrinya. Hasna mengeratkan pelukannya, mencari tempat ternyaman di pelukan suaminya.
***