Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 98


__ADS_3

Malam semakin larut, jalanan yang dilewati pun mulai terlihat sepi. Entah akan dibawa kemana dirinya, Marissa pun tidak tahu. Perempuan itu tak berani membuka suaranya sama sekali, bahkan hanya untuk sekedar melayangkan protes. Kali ini ia pasrah, tidak akan ada gunanya jika ia memberontak. Terlebih ia tidak mengetahui daerah ini.


Mobil berhenti tepat di pekarangan sebuah rumah sederhana. Rumah siapa, Marissa pun tidak mengetahuinya.


"Turun." Perintah Tomi.


"Nggak, gue nggak mau turun." Tolaknya. Marissa menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


Tomi segera keluar dari mobil dan berputar ke arah tempat Marissa duduk. Laki-laki itu membukakan pintu untuk Marissa agar perempuan itu segera turun.


"Keluar." Pinta Tomi sekali lagi.


"Gue udah bilang, gue nggak mau." Marissa tetap menolak permintaan Tomi.


Tanpa banyak bicara, Tomi langsung menarik pergelangan tangan Marissa, membuat perempuan itu mau tidak mau mengikuti langkah Tomi.


Tomi membuka pintu rumah itu.


"Masuk." Ucapnya pada Marissa.


"Gue nggak mau." Marissa masih saja menolak.


"Jangan membuat keributan di sini. Apalagi ini hampir tengah malam." Peringat Tomi.


Marissa menatap jam dinding di ruang tamu rumah itu. Dan benar saja, saat ini sudah hampir tengah malam, hanya tinggal beberapa menit saja.


Tomi kembali mengunci pintu setalah marissa masuk kedalam bersamanya.


"Tomi lo mau apa? Lo jangan macem-macem." Peringat Marissa. Jujur saja diperlakukan seperti ini oleh Tomi, membuat nyalinya menciut seketika.


"Gue nggak akan macam-macam, kalau lo nurut sama gue." Tiba-tiba saja nafas terasa sesak. Marissa benci dengan situasi saat ini. Ia merasa tidak nyaman.


Setetes bulir bening menyusuri pipi perempuan itu. Marissa tidak tahan dengan perlakuan Tomi. Laki-laki itu seolah memberikan banyak batasan kepadanya.


Tomi berbalik ke arah Marissa saat isakan mulai terdengar. Dan Tomi sangat membenci itu. Laki-laki itu sangat tidak suka jika melihat Marissa menangis. Ia melakukan semua ini hanya untuk menyelamatkan harga diri perempuan itu. Terlepas bagaimana perlakuan Marissa kepadanya.


Tomi berjalan mendekat ke arah Marissa yang tengah menunduk dengan bahu yang mulai terguncang. Moodnya benar-benar hancur. Semua perlakuan juga perkataan Tomi membuat Marissa merasa tengah bersama orang asing.


Tanpa diduga, Tomi merengkuh Marissa ke dalam pelukannya. Perempuan itu berontak ingin terlepas dari dekapan laki yang begitu dibencinya. Sekuat apapun ia mencoba agar terlepas dari pelukan Tomi, sama saja ia membuang tenaganya dengan percuma. Tenaga Tomi jauh lebih besar dibandingkan dengannya. Bahkan laki-laki itu tak merenggangkan sedikitpun pelukannya.


"Gue benci sama lo, gue benci." Ucap Marissa di tengah isakannya. Kedua tangan itu berulang memukul punggung Tomi, berharap agar laki-laki itu melepaskan pelukannya.


"Lepasin gue."


Tomi menengadahkan pandangannya agar buliran bening tak menetes dari pelupuk matanya. Tomi sangat merasa bersalah telah melakukan ini semua pada Marissa. Tapi sudah tidak ada jalan lain untuk menggagalkan rencana Marissa kali ini.


"Maafkan Papa, Nak. Papa tidak pernah ada niatan untuk menyakiti Mama kamu. Tapi hanya ini yang bisa Papa lakukan untuk saat ini. Maafkan Papa, Papa sudah membuat kamu bersedih di dalam sana. Tapi Papa janji, setelah masalah ini selesai, Papa akan selalu membahagiakan kamu. Bagaimanapun caranya."


***

__ADS_1


Rama kembali ke dalam kamar hotel yang khusus disediakan untuk malam pengantinnya bersama Hasna. Entah apa yang telah direncanakan oleh ibu juga adiknya itu. Mereka menikah sudah empat bulan lamanya. Tapi masih saja ada ritual seolah mereka baru saja dipertemukan dalam satu ruangan pribadi seperti ini.


Aroma yang begitu segar dan menenangkan menguar memenuhi indera penciumannya, manakala Rama baru saja memutar handle pintu. Cahaya kamar terlihat temaram, bahkan ada banyak lilin aromaterapi yang dinyalakan di beberapa tempat, di seluruh ruangan. Rama meletakkan jas yang sedari tadi tersampir de lengan kirinya.


Rama tersenyum manakala melihat ke arah ranjang yang akan ditempatinya bersama Hasna malam ini. Di atas sana penuh sekali dengan kelopak bunga mawar. Sekali lagi Rama tersenyum, namun kali ini rona merah jambu menghiasi wajah tampannya.


Cklek


Atensinya teralihkan pada suara pintu yang terbuka. Rupanya istrinya itu baru selesai membersihkan diri. Tadi memang ia meminta Nayla juga ibunya untuk mengantarkan Hasna ke kamar terlebih dahulu, karena ia masih berbincang dengan beberapa rekan bisnisnya.


Hasna berjalan mendekat ke arah Rama. Perempuan itu terlihat begitu cantik dengan wajah yang sedikit basah.


"Mas Rama sudah kembali?" Tanya Hasna. Perempuan itu membuka balutan handuk di atas kepalanya.


Rama memperhatikan setiap gerak gerik istrinya. Kenapa tiba-tiba saja gerakan Hasna yang menggosok-gosokkan handuk di rambutnya terlihat begitu sensual? Padahal bukan pertama kalinya ia menyaksikan Hasna melakukan itu.


Rama berjalan mendekati Hasna yang menunduk membelakanginya. Memperhatikan istrinya yang sibuk mengerikan rambutnya. Rama membuka kancing vest tuxedo yang dikenakannya dan melemparkannya ke sembarang arah. Juga membuka dua kancing kemeja bagian atas.


Hasna sedikit terlonjak manakala ada sepasang lengan kokoh melingkari perutnya. Rama memeluknya dari belakang.


"Mas Rama tidak bersih-bersih dulu?" Tanya Hasna.


Tidak menjawab, namun laki-laki itu lebih memilih untuk lebih erat mendekap tubuh sang istri. Menghirup dalam-dalam aroma vanilla yang menguar dari tubuh istrinya.


"Mas Rama, geli." Ucap Hasna saat Rama memberikan kecupan basah di lehernya.


Rama menyibakkan rambut panjang Hasna, mengecup lembut leher jenjang sang istri yang terlihat begitu menggoda. Sedikit menurunkan kimono handuk yang dikenakan perempuan itu. Kembali Rama mendaratkan ciuman basahnya di pundak Hasna. Perempuan itu merasakan geli saat kedua bibir hangat itu memberikan kecupan kecil di leher dan pundaknya yang sedikit terbuka.


"Maass..."


Rama memutar tubuh Hasna agar perempuan itu menghadap ke arahnya. Wajah cantik itu semakin mempesona di bawah cahaya temaram seperti ini. Rama sedikit menundukkan wajahnya, menempelkan ujung hidungnya di ujung hidung istrinya.


"Kamu begitu cantik, Sayang." Hasna tersipu mendengarnya.


Rama kembali menurunkan sedikit wajahnya. Hanya tinggal beberapa inchi saja. Tapi bibir ceri itu tak dapat dijangkaunya. Hasna lebih cepat sepersekian detik memalingkan wajahnya sebelum kecupan itu mendarat. Rama hanya berhasil mendaratkan kecupan di pipi sang istri.


"Kenapa kamu malah menggodaku, Sayang?" Bisik Rama.


Hasna tersenyum, tidak berani mengalihkan pandangannya. Tiba-tiba saja perempuan itu memejamkan kedua matanya saat bibir Rama mengecup daun telinganya, bahkan memberinya gigitan-gigitan kecil.


"Apa kita bisa melakukannya sekarang?" Suara Rama mulai terdengar berat.


"Mandilah dulu, biar lebih segar." Ucap hansa lembut.


"Untuk apa? Nanti juga kita akan mandi lagi. Aku butuh energi sekarang." Suara Rama makin terdengar parau.


Kembali laki-laki itu mendaratkan kecupan-kecupan basah di sekitar leher sang istri. Membuat Hasna meremas kemeja yang Rama kenakan. Gerakan seduktif suaminya itu benar-benar membuat Hasna gelisah.


Hasna merasakan seolah melayang saat Rama mengangkat tubuhnya. Diturunkannya perlahan tubuh istrinya di atas ranjang. Di tatapnya lekat wajah yang selalu membuatnya merasa damai. Perempuan itu sudah membuatnya merasakan jatuh cinta berkali-kali. Hasna memanglah bukan cinta pertama baginya. Tapi Rama akan memastikan jika hanya Hasna yang akan menjadi cinta terakhirnya.

__ADS_1


Rama meraih kedua tangan Hasna. Menggenggamnya dengan erat dan meremasnya dengan lembut.


"Apa kamu bahagia menikah dengan Rama Suryanata?" Tanya Rama. Hasna pun mengangguk sebagai jawabannya.


"Apa kamu bersedia menua bersamaku, mendampingiku hingga akhir hayat mu?" Hasna kembali menganggukkan kepalanya.


"Apa kamu bersedia melahirkan penerusku?" Kali ini perempuan itu tidak langsung menganggukkan kepalanya.


Hasna terlihat menundukkan kepalanya, dan mengangguk pelan sebagai jawaban atas pertanyaan Rama.


"Apa aku bisa memintanya sekarang?" Kembali Hasna menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Untung saja pencahayaan di kamar ini temaram. Jika tidak, sudah dipastikan Rama akan melihat rona merah jambu menghiasi wajah cantiknya.


Rama mengangkat dagu istrinya dengan jari telunjuknya. Nampak wajah itu tersenyum malu-malu. Dan Rama menyukai itu. Hasna terlihat semakin cantik jika tersipu seperti ini.


Rama berhasil menikmati manis bibir ceri itu. Menikmati dan ********** dengan lembut.


Kedua mata teduh itu terbuka saat sapuan di atas bibirnya berakhir. Wajahnya menghangat ,nafasnya sedikit memburu. Namun ia tak berani memandang wajah tampan sang suami.


"Kenapa masih malu? Kita sudah beberapa kali melakukannya, bukan?" Tanya Rama.


Hasna menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Kenapa Rama senang sekali menggodanya dengan mengucapkan kata-kata sensual seperti itu.


"Hei, kenapa malah ditutup?" Rama menyingkirkan telapak tangan yang menutupi wajah cantik sang istri.


"Tidak perlu ditutup seperti ini. Bahkan aku sudah melihat semuanya." Bisik Rama tepat di telinga Hasna. Namun tangan kanannya bergerak membuka simpul ikatan kimono yang Hasna kenakan.


"Maass..." Hasna menahan tangan Rama.


Sepertinya laki-laki itu tidak menerima penolakan, bahkan hanya dengan satu gerakan, Hasna sudah berada di bawah kungkungannya.


"Ini malam pengantin kita, Sayang. Aku ingin merasakannya bersama istriku yang cantik ini."


Rama menutupkan selimut di seluruh tubuhnya juga Hasna. Ia ingin memulai ritual ibadahnya bersama Hasna saat ini juga. Bahkan kelopak bunga mawar yang menghiasi ranjang berjatuhan karena gerakan mereka.


***


Hai...hai...hai...


Lagi pada ngapain mereka? Hayo, para readers tercinta sekebon cabe, nggak boleh traveling ke mana-mana pikirannya. Cukup Rama saja yang menjelajah, biar dia capek sendiri. Kalian mah cukup duduk manis saja. Hehehe...


Kalau disuruh milih diantara mereka, kalian pilih siapa nih di sini?


Rama?


Kevin?


Atau Tomi?

__ADS_1


Berikan alasannya juga ya, kenapa milih si Abang...


Lope...lope...buat kalian semuanya❤️


__ADS_2