Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 99


__ADS_3

Rama kembali merengkuh tubuh perempuan yang tengah terlelap di sampingnya. Sekali lagi, laki-laki itu mendaratkan kecupan hangat di kening sang istri.


Hasna sedikit menggeliat manakala sesuatu yang hangat menyentuh keningnya. Perlahan mata itu terbuka.


"Mas Rama? Kenapa belum tidur?" Tanya Hasna dengan suara seraknya.


"Aku sedang menunggu." Jawab Rama singkat.


"Menunggu? Siapa?" Hasna mengerutkan keningnya.


Siapa yang tengah suaminya tunggu, di saat jam menunjukkan pukul dua dini hari?


"Kamu."


"Aku?" Sedari tadi dirinya berada bersama dengan Rama, tapi mengapa justru laki-laki itu menunggunya.


"Iya, aku menunggumu bangun. Kerena aku ingin mengulang sesuatu yang indah bersama istriku tercinta." Bisik Rama.


Kenapa tiba-tiba Hasna merasa jika status berubah menjadi siaga satu? Belum genap satu jam dirinya terlelap, tapi Rama...


Hasna sedikit menggeser tubuhnya dan mengeratkan selimut yang menutupinya.


"Kenapa bergeser?" Tanya Rama heran.


"Mas Rama tidak capek? Mas Rama sudah melakukannya beberapa kali loh tadi. Bahkan mas Rama belum beristirahat sama sekali." Hasna beralasan atas nama suaminya agar laki-laki itu tidak merasa tersinggung jika ia menolak permintaannya.


Sejujurnya Hasna sangat lelah. Seharian mengikuti serangkaian acara pernikahan hingga pada puncaknya, ia dikurung oleh Rama di bawah selimut ini bersamanya. Dan sekarang Rama ingin mengulangnya kembali?.


"Kenapa tiba-tiba aku merasa kamu seperti siaga bencana sih?" Kekeh Rama.


"Aku bisa melakukannya kapan pun, Sayang. Tidak harus sekarang juga, kan? Jangan-jangan kamu ya yang pengen lagi?" Goda Rama.


"Ih, Mas Rama apaan sih." Kedua pipi Hasna bersemu merah.


"Loh, nggak papa loh. Kalau seandainya kamu mau, kamu bilang saja. Dengan senang hati akan aku layani istri tercintaku ini." Rama mencolek hidung mancung Hasna.


"Mas Rama, bisa nggak sih kalau ngomong itu difilter dulu?" Protes Hasna.


"Loh, kamu nggak tau ya, jika seorang istri menawarkan bercinta terlebih dahulu pada suaminya, pahala yang menantinya begitu besar loh. Misalnya ya, kamu ngomong kayak gini, Mas Rama lagi pengen enggak? Mas Rama mau aku layani sekarang? Apalagi kalau ditambah kamu berpakaian seksi, beuh pasti nggak bakalan nolak aku nya." Ucap Rama serius.


"Ih...itu mah akal-akalan Mas Rama saja. Ngeselin deh." Gerutu Hasna.


"Yang namanya suami istri itu bukan hanya istri yang harus melayani suami, Sayang. Tapi suami juga harus siap sedia melayani istri." Rama menarik pelan hidung Hasna.


"Sini, mendekatlah." Ragu-ragu Hasna menggeser tubuhnya. Sebenarnya Hasna tidak akan menolak ajakan suaminya, hanya saja dirinya benar-benar merasa lelah.


"Aku tidak akan membuat istriku merasa lelah. Aku hanya ingin mendekap mu, Sayang." Hasna kembali masuk kedalam pelukan Rama.


Rama menautkan jemarinya pada jemari Hasna.


"Jangan pernah lepaskan genggaman tangan ini, Sayang. Walau tak selalu hangat terasa. Tetaplah berada di sisiku." Rama mengecup lembut tangan sang istri.


Kata-kata Rama barusan, mengingatkannya akan mimpi yang pernah ia alami sesaat sebelum menerima pinangan Rama.


"Aku pernah mendengar perkataan ini sebelumnya dari seseorang, dan aku sudah berjanji padanya." Ucap Hasna. Perempuan itu menatap lekat wajah sang suami.

__ADS_1


"Siapa?" Tanya Rama penuh selidik.


"Aku juga tidak tau siapa. Aku hanya mengingat, waktu itu dia mengulurkan tangannya padaku untuk aku genggam." Ucap Hasna.


"Kapan? Apa setelah kita menikah?" Tanya Rama. Laki-laki itu mengingat di awal pernikahan mereka, bagaimana perlakuannya terhadap Hasna. Apa mungkin seorang laki-laki mendatangi istrinya, dan menawarkan kebahagiaan untuknya?


"Sebelum aku menerima pinangan Mas Rama. Aku pernah bermimpi, ada seorang laki-laki mengucapkan hal itu padaku. Dan sekarang, Mas Rama mengatakannya padaku. Apa waktu itu memang Allah mengisyaratkan dipersatukannya hubungan kita lewat mimpi?" Ucap Hasna.


"Ya, mungkin saja." Ucap Rama.


Laki-laki itu kembali ******* bibir ceri sang istri. Rasanya tetap manis. Sepertinya mengulang sekali lagi, tidak akan masalah.


***


Tomi kembali ke kota setelah memastikan jika Marissa telah terlelap. Ia akan mengurus beberapa hal penting, termasuk mengajukan cuti untuk beberapa hari kedepan.


"Aku ada kepentingan di luar kota yang tidak bisa aku tinggalkan, mungkin untuk dua hari kedepan. Aku harap kamu bisa menggantikan aku, jika sewaktu-waktu ada pekerjaan yang mengharuskan untuk segera di selesaikan. Jika tidak, tolong email-kan kepadaku segera." Ucap Tomi melalui sambungan telepon.


"Baiklah, aku akan segera mengabarkannya jika memang ada pekerjaan penting nantinya. By the way, urusan apa memangnya sampai ke luar kota segala? Udah kayak ninggalin anak istri aja kamu." Canda temannya.


"Ya, anggap saja seperti itu." Ucap tomi. Terdengar kekehan dari seberang sana.


"Ya, ya, ya, terserah kamu lah. Kalau begitu aku tutup dulu teleponnya."


"Sekali lagi terima kasih banyak." Ucap Tomi.


"Sama-sama." Sambungan pun terputus.


Tomi mengambil beberapa potong baju Marissa. Untung saja kontrakan dalam keadaan tidak terkunci. Entah terlalu tergesa-gesa untuk ke acara resepsi pernikahan Rama kemarin, atau memang Marissa yang ceroboh.


"Loh, Mas ini, Mas yang kemarin kan, ya?" Tanya tetangga Marissa yang kemarin sempat bertemu dengannya.


"Iya, Bu." Jawab Tomi sopan.


"Sepertinya Mbak Marissa belum pulang tuh, Mas." Ibu itu memperhatikan bawaan di tangan Tomi.


"Iya, Bu. Kebetulan saya lewat dan di mintai tolong untuk sekalian mampir mengambilkan tas yang tertinggal. Karena Marissa sedang menginap di rumah teman perempuannya." Jawab Tomi setenang mungkin. Ia tahu jika ibu di hadapannya ini tengah menyimpan banyak pertanyaan di kepalanya tentang kehadirannya di rumah Marissa sepagi ini.


"Oh...Mbak Siska, ya? Yang biasanya kemari?" Tomi hanya mengangguk, lantas tersenyum ramah.


"Ee...saya permisi dulu, Bu. Karena saya juga terburu-buru harus ke luar kota. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Ibu itu memperhatikan Tomi yang masuk ke dalam mobil. Sepertinya ada yang aneh, tapi ibu itu tidak menyadarinya. Gegas wanita itu meninggalkan kontrakan Marissa sesaat setelah Tomi melajukan mobilnya.


***


Drrrtt... drrrtt... drrrtt...


Tomi merogoh saku celananya. Ada sebuah panggilan masuk. Dari Siska.


"Ya, Sis?"


"Tomi, lo dimana? Rumah Marissa kosong, mobilnya juga nggak ada." Terdengar kepanikan dalam suara Siska. Rupanya perempuan itu berada di kontrakan Marissa.

__ADS_1


Tomi mengambil beberapa camilan dan roti dari rak di sebuah mini market, lalu memasukkannya ke dalam keranjang belanjaan. Ia akan membeli kebutuhan untuk beberapa hari kedepan.


"Marissa bersama gue?" Jawab Tomi enteng, lalu memasukkan sekotak susu hamil ke dalam keranjang belanjaan.


"Apa? Maksud lo?" Pekik Siska.


Tomi menceritakan kejadian semalam, setelah Siska mengabarkan jika akan meninggalkan Marissa. Hingga pada saat dirinya membawa Marissa ke luar kota bersamanya.


"Jadi?"


"Iya, lo nggak usah khawatir. Bagaimanapun Marissa mengandung anak gue. Gue nggak akan berbuat sesuatu yang bisa membahayakan mereka berdua." Ucap Tomi.


"Trus, sekarang lo ada di mana?" Tanya Siska.


"Gue ada di minimarket di dekat pertigaan. Gue baru saja dari kontrakan Marissa." Jawab Tomi.


"Oke, tunggu gue. Gue segera ke sana."


Sambungan pun terputus secara sepihak.


***


"Total semuanya lima ratus enam puluh tiga ribu." Ucap kasir mini market.


"Lo mau minggat berapa bulan, belanjaan banyak bener?" Ucap Siska yang tiba-tiba muncul dari belakangnya.


"Kebiasaan, lo." Tomi sampai mengelus dada karena terkejut dengan kedatangan Siska secara tiba-tiba.


Tomi menyerahkan beberapa lembar uang ratusan ribu pada kasir untuk membayar belanjaannya.


"Mbak, sekalian." Siska meletakkan sebotol minuman dan sebungkus camilan di meja kasir, dengan cengiran khasnya.


Perempuan berseragam biru itu menoleh ke arah Tomi seolah meminta persetujuan.


"Nggak papa, sekalian. Kasihan, entar nangis saya yang susah." Canda Tomi, lantas memberikan selembar uang berwarna biru untuk membayar belanjaan Siska.


"Makasih."


Keduanya keluar dari minimarket setelah mengambil belanjaan. Tomi memasukkan barang-barang ke dalam mobil dan menutupnya kembali, menghampiri Siska yang duduk di kursi depan mini


"Gue langsung balik." Ucap Tomi.


"Sebenarnya lo bawa kemana si Marissa?" Tanya Siska penasaran.


"Lo tenang aja, aman pokoknya." Jawab Tomi santai.


"Gue cuma mau mengamankan Marissa untuk beberapa hari ini. Setidaknya ia tidak membuat keonaran di acara penting orang lain." Lanjutnya.


"Beberapa hari? Terus kerjaan lo?"


"Gue udah ngajuin cuti untuk beberapa hari kedepan."


"Lo ngorbanin kerjaan demi...?" Siska mengangkat satu tangannya, seolah tidak percaya dengan ucapan Tomi.


"Demi anak gue. Gue lakuin ini semua demi anak gue." Sahut Tomi penuh penekanan.

__ADS_1


***


__ADS_2