
Bu Diana dan pak Andi yang menunggu persalinan Hasna di luar, tak hentinya melafadzkan kalimat Thoyyibah. Hampir satu jam, namun belum ada tanda-tanda jika cucu pertama mereka telah lahir.
Tak berselang lama, tangis bayi pun memecah keheningan dini hari. Bayi Hasna telah lahir. Mereka telah resmi menjadi seorang kakek dan nenek.
"Bayinya, sudah lahir, Pa." Ucap Bu Diana penuh rasa syukur.
"Alhamdulillah, akhirnya kita punya cucu, Ma." Ucap Pak Andi penuh haru.
Sepasang suami istri itu saling berpelukan dengan rasa bahagianya yang menyelimuti. Namun sedetik kemudian, suara gaduh dari dalam ruangan membuat pelukan mereka terlepas.
"Innalilahi, Pak Rama."
"Mas."
"Bapak."
Pekik dokter Yunita, perawat dan Hasna bersamaan. Bahkan suara ketiganya terdengar hingga ke luar ruangan.
"Ada apa, Pa?" Tanya Bu Diana panik.
"Coba Mama cek ke dalam." Ucap Pak Andi.
Gegas Bu Diana masuk ke dalam ruang bersalin, dan melihat keadaan di dalam sana. Tidak ada yang aneh, Dokter masih menangani Hasna.
"Ada apa, Dok? Kok sepertinya panik sekali? Cucu saya?" Tanya Bu Diana tidak sabar.
"Alhamdulillah, cucu ibu sehat." Ucap dokter.
"Alhamdulillah." Bu Diana lega sekali mendengarnya.
"Hanya saja ayahnya yang kurang sehat." Bu Diana mengerutkan keningnya, tidak paham dengan apa yang dokter Yunita sampaikan.
"Mas Rama pingsan, Ma." Ucap Hasna yang membuat rasa bingung ibu mertuanya terjawab sudah.
Bu Diana lantas melihat ke arah lantai, dan mendapati putranya tengah tidak sadarkan diri di sana.
"Astaghfirullah, Rama. Kok bisa sih?" Bu Diana mendekat ke arah Rama yang terkulai lemas di atas lantai. Menepuk pelan pipi putranya, agar segera sadar.
"Biarkan dulu, Bu. Biar saya selesaikan tugas saya dulu. Nanti kalau di bangunkan, takutnya Pak Rama syok, dan pingsan lagi." Ucap Dokter Yunita.
Bu Diana paham arah pembicaraan dokter muda itu. Sepertinya memang Rama yang cari gara-gara. Memasuki area terlarang, khusus dokter pasca menangani persalinan. Ada-ada saja.
Bu Diana keluar dari ruang persalinan dan kembali duduk di tempatnya semula.
"Ada apa, Ma? Semuanya baik-baik saja, kan?" Tanya Pak Andi saat melihat istrinya keluar dari ruang persalinan Hasna.
"Alhamdulillah, baik. Cucu kita juga baik."
"Alhamdulillah." Ucap Pak Andi penuh kelegaan.
"Tapi..." Bu Diana menatap suaminya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Tapi apa, Ma?"
"Tapi, anak kita yang tidak baik, Pa."
"Anak kita?" Bu Diana mengangguk.
__ADS_1
"Rama maksudnya?" Pak Andi memperjelas maksud istrinya.
"Ya, siapa lagi anak kita yang berada di sini kalau bukan Rama."
"Emang kenapa Rama?"
"Pingsan di dalam?"
"Pingsan? Kok bisa?" Sungguh terkejut Pak Andi mendengarnya.
"Tau si Rama. Bikin ribet aja."
"Maksudnya gimana? Papa nggak ngerti, kenapa Rama bisa pingsan di dalam?" Pak Andi masih menunggu penjelasan dari istrinya.
Bu Diana menceritakan apa yang tadi dokter Yunita katakan, hingga akhirnya Rama pingsan tepat di bawah ranjang Hasna.
"Ada-ada saja. Lagian, kurang kerjaan banget si Rama. Terus, sekarang udah sadar?"
"Belum. Kata dokter Yunita, biarin dulu. Biar selesai dulu menangani Hasna. Baru setelah itu, bangunin Rama. Takutnya kalau di bangunin sekarang, Rama pingsan lagi. Ya udah, Mama tinggal keluar. Yang terpenting menantu dan cucu Mama sehat keduanya." Ucap Bu Diana cuek.
"Haaahhh... Baru kali ini Papa nemu suami modelan seperti Rama. Istri mau lahiran, dia yang heboh. Giliran anak sudah lahir, dia yang pingsan. Kayak dia aja yang capek ngeden lahirin anak." Pak Andi sampai geleng-geleng kepala.
"Untung aja kita punya mantu kalem, nggak ribet modelan Hasna."
"Nah betul itu. Setuju Papa."
Tak lama, Hasna sudah di pindahkan di ruangan rawat. Kebetulan klinik lumayan besar. Ada lima kamar rawat di sana.
"Untuk sementara, biar Bu Hasna istirahat dulu. Besok pagi baru boleh pulang." Ucap dokter Yunita.
"Lalu cucu saya?" Tanya Pak Andi.
"Oh iya, hampir saja saya lupa. Pak Rama masih berada di ruang bersalin. Sudah boleh di bangunkan. Tadi belum sempat mengadzankan bayinya juga." Lanjut Dokter Yunita.
"Udah, biarin saja. Mungkin capek. Nanti bangun juga bisa jalan sendiri." Ujar Pak Andi cuek.
"Ya sudah, kalau begitu saya tinggal dulu. Kalau Pak Andi dan ibu ingin beristirahat, silahkan, paviliun depan kosong. Nanti akan saya minta sekuriti untuk mengantar."
"Terima kasih banyak, Dokter. Kami tunggu di sini saja. Kebetulan satu jam lagi sudah waktunya shubuh. Kalau kami tinggal tidur, takutnya malah kesiangan." Tolak Bu Diana.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi."
"Silahkan."
***
Rama menggeliat. Hanya keheningan yang ia dengar. Tidak ada suara apapun, apalagi suara tangisan bayi seperti sebelumnya. Laki-laki itu mengerjap, menyesuaikan cahaya yang menyapa kedua netranya. Rama memindai sekeliling. Kosong. Hanya ada dirinya dalam sebuah ruangan asing.
Perlahan ia duduk dan memijat keningnya yang terasa berdenyut, mencoba mengingat-ingat kejadian sebelum dirinya tidur di atas lantai tanpa alas.
"Hasna." Lirihnya.
"Hasna? Anakku?" Rama baru ingat jika ia sedang mengantarkan Hasna ke klinik untuk melahirkan.
Seketika ia berdiri. Rama terlihat panik saat menyadari ruangan benar-benar kosong. Ranjang yang tadi Hasna tempati juga kosong. Lalu bayinya? Dimana istri dan anaknya? Kenapa ia bisa pingsan?
"Astaghfirullahal'adzim." Rama menepuk keningnya, ia baru ingat sebab yang membuatnya pingsan.
__ADS_1
Rama mengusap kasar wajahnya, berusaha menyingkirkan sekelebat bayangan mengerikan yang baru saja ia lihat.
Gegas ia keluar ruangan, dan mendapati kedua orang tuanya sedang duduk di kursi tunggu seperti saat mereka baru tiba di klinik.
"Pa, Ma." Pak Andi dan Bu Diana menoleh pada Rama yang berdiri di depan mereka.
"Hasna dan anak Rama mana?" Tanya Rama dengan raut panik.
"Hasna dan anak kamu?" Rama mengangguk cepat.
"Emang anak kamu sudah lahir? Laki-laki apa perempuan?" Tanya Bu Diana.
"Sudah, laki-laki."
"Kok kita nggak dengar tangisan bayi ya, Pa?" Pak Andi mengangguk.
"Iya, malahan kami dari tadi duduk di sini nungguin kabar kelahiran anak kamu. Tapi Dokter Yunita belum juga keluar." Timpal pak Andi.
Rama menatap bingung pada kedua orang tuanya. Apakah yang dikatakan mereka benar adanya? Lalu yang ia lihat di dalam tadi?
"Lah kamu sendiri ngapain?" Tanya Pak Andi.
Rama menggaruk kepalanya yang tidaklah gatal. Bingung hendak memberikan jawaban apa pada kedua orang tuanya.
"Kamu kenapa?" Tatapan Bu Diana seolah menelisik.
"Rama... Rama baru saja bangun, Ma." Pak Andi dan Bu Diana saling berpandangan.
"Bangun?" Rama mengangguk.
"Tadi Rama nungguin Hasna lahiran di dalam. Terus, tiba-tiba saja Rama pingsan setelah..." Rama tidak melanjutkan ucapannya. Namun ekspresi kedua orang tuanya seolah tengah menantikan penjelasan darinya.
"Anak kami sudah lahir, tapi Hasna... Dokter Yunita..." Rama menunjuk ruang bersalin. Sedangkan Pak Andi dan Bu Diana mengerutkan kening mereka. Ucapan Rama sungguh terdengar ambigu.
"Kamu ini ngomong apa sih? Yang jelah dong. Mana ngerti kami sama apa yang kamu katakan." Protes Pak Andi.
"Rama tadi tidak sengaja melihat luka bekas lahiran Hasna, lalu semuanya tiba-tiba menjadi gelap. Dan... bangun-bangun, mereka sudah tidak ada." Penjelasan Rama lebih lancar dari sebelumnya.
Pak Andi dan Bu Diana saling pandang, namun mereka tidak bisa menyembunyikan tawa geli mereka. Rama menatap mereka bergantian. Laki-laki itu merasa heran, seolah kedua orang tuanya mengetahui sesuatu.
"Lagian, tugas kamu di dalam itu mendampingi istri kamu lahiran, bukan mendampingi Dokter Yunita yang sedang bertugas." Ucap Bu Diana.
"Papa dulu, nemenin Mama kamu lahiran dua kali, nggak seheboh kamu deh. Untung saja Hasna nggak manja." Sahut Pak Andi.
"Jadi, Mama sama Papa sudah tau?" Rama menunjuk kedua orang tuanya bergantian.
"Tau." Jawab Bu Diana enteng.
"Terus? Hasna dan anak kami?"
"Mereka sedang istirahat." Ketus Bu Diana.
"Tapi, Rama belum mengadzankan anak kami."
"Ya mana ada orang pingsan bisa adzan? Udah buruan sana, tapi jangan berisik. Awas saja kalau kamu bikin heboh lagi." Ancam Bu Diana.
Rama segera ke ruangan yang Bu Diana tunjukkan, tempat dimana Hasna dan putranya berada.
__ADS_1
***