
"Sori banget, gue baru sempet nengokin lo. Baru pulang gue." Ucap Siska suatu sore.
Semenjak kepulangan Marissa dari rumah sakit, perempuan itu belum pernah mengunjungi sahabatnya. Pekerjaannya sangatlah banyak, kebetulan juga ia baru saja pulang dari luar kota mengikuti acara bersama teman-teman sekantor.
"Nggak papa, makasih banget udah di bawain oleh-oleh sebanyak ini." Ucap Marissa.
Dua kantong plastik berukuran sedang berisikan oleh-oleh khas kota yang ia kunjungi, sengaja Siska bawakan untuk Marissa. Perempuan itu masih ingat makanan kesukaan sang sahabat. Terlebih saat hamil begini, pastilah Marissa menyukainya.
"Iya, sama-sama. Oh iya, rumah sepi bener? Tomi belum pulang?" Tanya Siska. Hampir dua puluh menit ia bertamu, tapi tidak mendapati Tomi berada di rumah.
"Belum, nanti jam tujuh." Siska mengerutkan keningnya. Jam kantor Tomi pulang tidak selarut itu. Tapi bisa saja ia lembur kan?
"Lembur?" Marissa hanya mengangguk.
"Harusnya Tomi nggak perlu ambil lembur, apalagi lo hamil tua. Bahaya. Takutnya ada apa-apa saat dia nggak di rumah." Marissa memaksakan senyuman di kedua sudut bibirnya. Tidak, bahkan Tomi tidak ambil lembur. Kerena sebenarnya, laki-laki itu sengaja lembur untuk menghindarinya.
"Oh, iya, kapan lo lahiran?" Siska mengusap perut Marissa yang sudah sangat besar.
"Menurut perkiraan sih, dua minggu lagi."
"Bentar lagi dong?" Marissa mengangguk mengiyakan.
"Lo rencananya pengen normal apa caesar?"
"Sesuai alur ajalah." Jawab Marissa sekenanya.
"Udah kontrol?" Marissa mengangguk.
"Udah."
"Trus kata dokter gimana?"
"Gue ada peluang buat lahiran normal. Tapi..."
"Kenapa?" Marissa terdiam, tak menjawab pertanyaan Siska.
"Ada masalah?" Marissa menggeleng.
"Trus?"
"Dokter bilang, kalau mau lahiran normal, gue..."
"Ckkk...ngomong yang jelas dong, Sa. Mana ngerti gue sama bahasa isyarat." Siska sungguh tidak sabar dengan Marissa yang berbelit-belit seperti ini.
"Kalau mau lahiran normal, kata dokter harus sering berhubungan suami istri." Marissa memelankan suara di akhir ucapannya.
Siska terkikik geli mendengar saran dokter. Dia masih lajang, wajar saja jika tidak mengetahui hal semacam itu.
"Gue pikir, lo disuruh ngepel alun-alun, ternyata disuruh gituan." Kekeh Siska.
"Eh, tapi sumpah, gue baru ngerti loh."
Marissa terdiam, tidak sewot seperti biasa saat Siska meledeknya.
"Lo udah praktekin?" Marissa menggeleng.
__ADS_1
"Kenapa? Belum jadwalnya?" Goda Siska.
Marissa benar-benar bungkam dengan pertanyaan Siska. Perlahan tawa Siska mereda.
"Lo kenapa?" Siska menyadari perubahan raut di wajah Marissa. Seolah ada yang tengah perempuan itu sembunyikan darinya.
"Sa?"
"Tomi pengen gue lahiran secara caesar." Lirihnya.
"Kenapa? Kan kata dokter lo bisa lahiran normal. Uangnya sayang banget, Sa. Bisa di tabung buat masa depan anak lo nantinya." Cukup realistis memang pikiran Siska, terlebih gaji Tomi tidak sebesar gaji Marissa saat bekerja dulu. Apalagi harus dibagi-bagi dengan biaya kuliah adiknya. Juga untuk mengirim ibunya.
"Tomi bilang dia khawatir, karena gue pernah mengalami pendarahan kemarin."
"Oh... berarti kenyamanan lo jadi prioritas Tomi. Harusnya lo seneng sih, Tomi sebegitu khawatirnya sama lo." Ucap Siska. Memang tidak perlu diragukan bagaimana perhatiannya Tomi pada Marissa. Siska saksi hidup, bagaimana laki-laki itu memperlakukan Marissa saat mereka pacaran jaman kuliah dulu. Apalagi sekarang Marissa tengah hamil. Pastilah Tomi memprioritaskan Marissa dan calon anak mereka.
Siska menangkap gelagat Marissa yang terlihat tidak nyaman. Bahkan perempuan itu tidak melihat kepadanya sama sekali. Terkesan menghindari kontak mata.
"Sa? Lo ada masalah?" Marissa tetap bungkam.
"Kita udah temenan lama, semenjak kita kuliah. Kalau memang lo ada masalah, lo cerita sama gue. Mungkin gue nggak bisa bantu banyak, tapi setidaknya gue bakalan bantu lo semampu gue."
Marissa membuang nafasnya kasar, dan perlahan menoleh pada Siska.
"Gue rasa, bukan rasa khawatir yang Tomi rasakan, sampai dia minta gue lahiran Caesar. Tapi lebih dari itu." Siska mengerutkan keningnya, tidak memahami apa yang Marissa katakan.
"Maksud lo gimana? Nggak paham gue." Tanya Siska meminta penjelasan.
"Tomi hanya ingin menghindari gue." Lirih Marissa.
"Entahlah." Marissa menunduk lesu.
Siska memperhatikan ekspresi Marissa yang terlihat sedih. Apakah mungkin jika perempuan itu sudah mulai jatuh cinta lagi pada Tomi? Jika benar, harusnya ini adalah kabar baik yang harus ia sampaikan pada laki-laki itu.
"Lo tau sis? Selama pernikahan kami, kita nggak pernah lakuin itu." Siska sungguh terkejut atas pengakuan Marissa.
Siska sudah cukup dewasa untuk memahami maksud dari ucapan Marissa. Jadi selama hampir enam bulan, Tomi tidak pernah menyentuh Marissa? Sangat mustahil memang, terlebih Tomi adalah lelaki normal, yang hidup satu atap dengan Marissa. Sebenarnya sah-sah saja terlepas ia menikahi Marissa secara siri.
"Tunggu, ini yang nggak mau siapa? Lo atau dia?" Siska hanya ingin mendengar jawaban Marissa.
Marissa tidak menjawabnya. Siska bisa menebak, jika Marissa lah yang membatasinya.
"Mungkin bukan menghindari yang bagaimana. Gue yakin Tomi menginginkan itu. Harusnya lo yang inisiatif, Sa. Apalagi, lo terlalu menjaga jarak dengan dia. Ingat, dia itu suami lo. Jadi, dia yang lebih berhak atas diri lo." Ucap Siska bijak.
***
Tomi membuka pintu perlahan. Sama seperti hari-hari biasanya, ia sampai rumah pukul tujuh tepat. Dan rumah pun selalu dalam keadaan tidak terkunci. Bukan tanpa alasan ia melakukannya. Ia hanya mencari cara untuk membuat interaksi antara dirinya dengan Marissa menjadi terbatas. Ia tidak mau luluh jika selalu memberikan perhatian berlebih kepada istrinya itu.
Terdengar cukup egois memang, tapi tidak ada lagi yang dapat ia lakukan selain ini.
"Baru pulang?" Tomi sedikit terlonjak, saat Siska menegurnya. Laki-laki itu menoleh pada Siska yang masih tetap di posisinya, duduk manis di sudut ruang tamu.
"Siska?"
"Biasa aja kali, Tom. Nggak usah sekaget itu lihat gue. Berasa kek hantu gue." Ucap Siska yang melihat keterkejutan di wajah Tomi.
__ADS_1
"Udah lama?"
"Lumayan, dari sore."
"Tiap hari lo lembur?" Tembak Siska to the point.
"Iya."
"Marissa hamil tua, lo tiap hari pulang malem? Nggak khawatir gitu?"
Tomi melepaskan sepatunya. Dan sejenak menyandarkan punggungnya untuk sedikit menghilangkan penat.
"Gue butuh banyak uang buat biaya persalinan Marissa." Jawab Tomi singkat. Terlihat laki-laki itu memejamkan matanya.
Mumpung Marissa sedang berada di kamar mandi yang pastinya akan lama. Siska bisa menggunakan kesempatan baik ini untuk mencari tahu bagaimana hubungan mereka selama ini. Bukan bermaksud ikut campur masalah rumah tangga mereka, hanya saja ia tidak ingin jika mereka berpisah. Terlebih akan ada anak diantara mereka sebentar lagi.
"Bisa kita bicara sebentar?" Tomi yang hampir saja terlelap saking capeknya, kembali membuka mata.
"Ckk...terlalu formal lo, pakek acara izin segala." Tomi hanya melirik Siska tanpa mengubah posisinya.
"Ngomong aja, gue dengerin."
"Tapi, nggak disini. Bisa kita bicara di luar?" Tomi menegakkan tubuhnya. Kedua alis laki-laki itu bertaut tajam. Jika Siska ingin bicara, kenapa harus di luar? Di dalam kan sama saja.
Tapi sepertinya perempuan itu tidak bercanda. Siska beranjak terlebih dulu dan keluar dari rumah. Sedikit menjauh, hingga ada di tengah-tengah halaman rumah. Sebenarnya apa yang akan Siska bicarakan, sampai-sampai mencari tempat di tengah-tengah halaman seperti ini? Tomi terpaksa mengikuti perempuan itu.
"Lo mau ngomong apa sih? Jauh bener nyari tempat? Nggak sekalian di lapangan depan gang?" Siska tidak menyahut, justru perempuan itu seperti memperhatikan suasana di dalam rumahnya.
"Ada apa sih? Gue belum mandi ini." Tomi mengikuti arah pandangan Siska, lalu kembali fokus pada Siska di hadapannya.
Siska benar-benar menanyakan hal yang tadi Marissa katakan kepadanya pada Tomi. Perempuan itu tak ingin membuang waktu, mumpung ada kesempatan.
"Kalau gue perhatiin dari tatapan matanya, dia mulai jatuh cinta deh sama lo." Tomi menarik sudut bibirnya mendengar ucapan Siska.
Marissa mulai jatuh cinta padanya? Itu mustahil. Bahkan dengan begitu jelasnya perempuan itu mengatakan jika tidak pernah berpikir untuk menikah dengannya. Terlebih memiliki anak darinya. Dan Tomi cukup sadar posisi akan hal itu. Ia tidak mau memaksakan perasaan pada siapapun, termasuk pada Marissa.
"Tidak seperti yang lo pikirin." Jawab Tomi pendek.
"Ckk...gue serius Tomi."
"Gue juga serius, Sis. Marissa tidak pernah menginginkan pernikahan ini. Apalagi menjadi istri gue. Lo tahu sendiri bagaimana kami menikah? Hanya sebagai bentuk pertanggung jawaban atas apa yang gue lakuin pada dia. Jadi gue tidak akan mengharapkan lebih atas pernikahan ini." Jelas Tomi.
"Tapi, gue melihat ada kesedihan saat dia bilang itu sama gue." Ucap Siska yang menatap lurus ke arah Tomi.
"Lalu gue harus ngapain? Memaksa dia buat layanin gue sebagai suaminya?"
"Gue juga punya perasaan kali, Sis. Gue memang brengs*k, tapi gue nggak segila itu untuk memaksa Marissa. Apalagi di hamil. Gue nggak mau dia tertekan. Biarlah dia melakukan apa yang membuatnya nyaman. Karena gue sendiri sadar, jika gue nggak pernah di harapkan." Tutur Tomi.
Siska terdiam. Mencerna kata demi kata yang Tomi ucapkan. Sebaiknya ia tidak ikut campur terlalu dalam. Cukup ia akan mendoakan kebahagiaan untuk rumah tangga kedua sahabatnya itu.
Tanpa mereka sadari, Marissa mendengar percakapan mereka dari teras rumah. Entah mengapa, rasanya sakit sekali saat mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Tomi. Tanpa ia sadari, air matanya meluncur bebas menyusuri pipinya.
Katakanlah ia egois. Tidak menginginkan Tomi menjadi ayah dari bayi dalam kandungannya, tapi ia tidak bisa menerima jika laki-laki itu mendiamkannya. Rasanya teramat sakit. Lebih sakit dari pada saat ia mengetahui fakta jika Hasna adalah istri Rama.
***
__ADS_1