Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 112


__ADS_3

Toko baru saja buka, tapi suasana sudah sangat ramai. Banyak pengunjung yang datang untuk mengambil pesanan mereka. Juga ada beberapa yang sedang menikmati kue dan minuman di mini kafe yang ada di sana.


Hasna langsung saja masuk ke dalam pantry untuk membantu pegawainya menyiapkan adonan kue untuk di display di etalase.


"Lagi banyak pesenan, ya?" Tanya Hasna saat memasuki pantry, karena mereka cukup sibuk di sana


"Iya, Mbak. Kebetulan ada yang nggak masuk dua orang. Mana pesanan diambil pagi ini semua." Jawab salah satu pegawainya.


"Nggak usah panik, kita kerjain apa yang rumit dulu, sambil jalan baru kerjain yang lain. Aku bantu." Ucap Hasna sambil mengenakan apron di tubuhnya.


Dengan begitu cekatan Hasna mencampurkan bahan untuk membuat pastry. Sedangkan yang lain membuat adonan cake juga lainnya.


"Mbak Lala, Bu Rinda barusan telepon, beliau mengabarkan jika pesanannya akan diambil setelah ini." Ucap salah satu pegawai Hasna.


"Aduh, belum kelar lagi." Perempuan bernama Lala menepuk keningnya pelan.


"Kemarin kan janjinya di ambil sekitar jam sebelas, ini masih jam setengah sembilan loh." Lanjut Lala.


"Pesan apa emangnya?" Tanya Hasna yang sedari tadi menyimak obrolan mereka.


"Cheesecake dua kotak, red velvet dua kotak, bolu pandannya dua kotak." Jawab pegawainya.


"Oke, eksekusi sekarang. Sesuaikan pesanan dulu, biar masukin ovennya bisa berengan." Hasna menginstruksikan.


"Kalau, Bu...siapa tadi?"


"Bu Rinda, Mbak." Sahut pegawainya.


"Kalau Bu Rinda sudah sampai tolong di jamu dulu, kasih cake resep baru kita, hitung-hitung kasih tester gratis buat pelanggan. Tapi jangan lupa, tanyakan juga penilaian mereka untuk produk baru kita." Ucap Hasna dengan tangan yang masih cekatan menyelesaikan pekerjaannya.


"Baik, Mbak."


Mereka semua saling membantu untuk menyelesaikan pesanan pelanggan. Jangan sampai mereka kecewa karena pelayanan yang tidak memuaskan.


"Mbak, tolong masukin lemari pendingin dulu." Ucap Hasna saat adonan pastry nya sudah selesai di buat.


"Red velvetnya sama aku. Lala, tolong kamu tuang adonan bolu pandannya di loyang. Cheesecake nya sekalian. Kalau udah langsung masukin oven." Ucap Hasna.


Begitulah perempuan itu jika bekerja. Bukan hanya bermodal memerintahkan anak buahnya saja untuk mengerjakan ini itu. Tapi sebagai pimpinan, ia tak segan untuk ikut terjun langsung ke dapur untuk membantu pegawainya.


Semua terkendali dengan arahan dari Hasna. Pesanan pun terselesaikan tepat waktu.


"Untung aja ada Mbak Hasna. Kalau tidak, bisa kena komplain pelanggan kita." Ucap Lala merasa begitu lega.


"Bukan karena ada atau tidaknya aku di sini. Semua karena kerja tim." Ucap hasna.


"Lain kali, kalau ada pesanan yang waktu pengambilannya berubah, tidak sesuai kesepakatan di awal, kalian bisa sampaikan saat customer telepon. Atau kalau tidak, persilahkan mereka menunggu sampai pesanan siap." Pesan Hasna.


"Siap, Mbak." Jawab mereka serempak.

__ADS_1


"Mbak Hasna mau buat apa lagi? Pesanan kan sudah kelar semua." Tanya salah seorang dari mereka. Karena pesanan sudah selesai dan stok kue di etalase juga masih banyak.


"Mau bikin red velvet buat Mas Rama." Jawab Hasna dengan tangan yang begitu cekatan menakar bahan-bahan.


"Suami Mbak Hasna, ya?" Hasna mengangguk dengan seulas senyuman di wajahnya.


"Kenalin dong, Mbak. Kita kemarin cuma lihat dari jauh aja." Seloroh pegawai Hasna.


"Iya, Mbak. Kan kita juga pengen kenal dengan suami Bos kita." Sahut yang lain.


"Nanti kalau orangnya ke sini, kalian kenalan sendiri." Ucap Hasna.


"Galak nggak sih, Mbak?" Tanya Lala. Hasna tidak menjawab dan hanya menggedikkan bahunya.


"Kalau dilihat-lihat, suaminya Mbak Hasna tipikal laki-laki yang cool, super cuek, aura-aura cowok most wanted gitu."


"Bener, bener, garang di luar, lembut di dalam."


"Apaan, kamu kira waffle? Garing di luar, lembut di dalam." Gelak tawa pun terdengar dari pantry. Hasna menggeleng pelan mendengar celotehan mereka.


"Kan perumpamaan. Kalau Mbak hasna, ibarat mochi. Lembut luar dalam, manis lagi." Kini Hasna ikut tertawa mendengarnya.


"Jangan mentang-mentang saya jualan kue, kalian samain kita seperti kue juga, ya." Ucap Hasna sok ketus.


"Jangan salah, kue itu salah satu makanan yang selalu ngangenin, Mbak."


"Ngadi-ngadi kamu."


"Yeeee...itu mah namanya kamu pelit sebagai Kakak. Masa iya makan kue aja nungguin si Tante berkunjung."


Dapur kembali riuh dengan candaan mereka di saat senggang seperti ini.


"Mbak Hasna, ada yang nyari di depan." Ucap salah seorang pegawai yang bertugas di depan.


"Siapa?" Hasna melirik sekilas jam di pergelangan tangannya, masih pukul sebelas kurang sepuluh menit.


"Pak Rama, Mbak."


"Makasih, ya." Ucap Hasna.


"Tolong nanti sepuluh menit lagi kuenya di angkat, ya. Saya tinggal keluar sebentar." Hasna segera melepaskan apronnya dan keluar dari pantry.


Rama terlihat duduk santai di mini cafe yang ada di sana. Belum terlihat sesuatu yang terhidang di atas mejanya. Hasna segera menghampiri sang suami, yang tengah sibuk dengan ponselnya.


"Assalamu'alaikum, Mas." Hasna meraih tangan kanan Rama untuk diciumnya.


"Wa'alaikumussalam, Sayang." Rama mencium puncak kepala sang istri.


"Gimana kerjaannya?" Tanya Hasna.

__ADS_1


"Alhamdulillah, lancar. Aku sudah minta tolong Ivan untuk mengurus visa." Ucap Rama.


"Visa? Emangnya mau kemana?" Tanya Hasna. Perempuan itu mengambil posisi duduk di samping Rama.


"Mau bulan madu lah, Sayang. Sekalian umroh, mau kan?" Tanya Rama. Laki-laki itu berharap jika rencananya akan di iyakan oleh sang istri.


"Umroh? Aku mau, Mas." Jawab Hasna antusias.


"Pernah ke sana?" Tanya Rama.


"Pernah dua kali. Pertama, waktu dua tahun aku buka usaha. Dan yang kedua, ramadhan tahun lalu bersama Kakek." Hasna sedikit menarik sudut bibirnya. Wajahnya berubah sendu saat membicarakan sang Kakek yang telah tiada.


"Hmmm...udah pernah, ya." Ucap Rama seperti tengah kecewa.


"Jangan ganti tujuan ya, Mas." Sahut Hasna.


"Kenapa? Katanya udah pernah? Kamu tidak ingin mengunjungi negara lain?" Hasna menggeleng cepat.


"Kenapa?"


"Karena dua kali aku umroh, hanya bersama Kakek. Dan insya Allah umroh kali ini, aku sama Mas Rama." Perempuan itu tersenyum begitu manis saat mengatakannya.


"Kamu tahu, Mas? Di umroh aku yang terakhir, aku pernah berdo'a di hadapan Ka'bah. Aku memohon sama Allah agar kelak jika aku kembali di berikan izin oleh Allah untuk bertamu lagi, aku bisa bersama pasangan yang Allah pilihkan untuk aku. Dan alhamdulilah, kali ini kesempatan itu datang." Rama tersenyum mendengar penuturan sang istri.


Benarkah seperti itu do'anya? Jika memang seperti itu, maka Hasna memanglah perempuan yang Allah siapkan untuknya. Bukan lantaran perjodohan paksa dari kedua orang tuanya.


"Kemarilah." Pinta Rama. Laki-laki itu menepuk paha kirinya.


Hasna pun menurutinya, dan duduk di pangkuan Rama. Laki-laki itu membelai lembut pipi halus Hasna. Untung saja mereka menempati meja yang paling ujung, dan toko dalam keadaan sepi.


"Kenapa aku tiba-tiba merasa menjadi laki-laki yang sangat istimewa? Bahkan kamu memintaku di hadapan Ka'bah secara tidak langsung." Ucap Rama yang masih terus mengusap pipi putih bersih itu.


"Itulah kenapa, di saat Mas Rama menginginkan agar aku menyerah dengan pernikahan kita, aku tetap bertahan. Karena aku yakin, Allah sudah mengatur yang terbaik untuk hambanya." Ucap Hasna. Tangannya terulur mengusap lembut surai hitam sang suami.


"Bahkan kamu tetep bertahan dengan lelaki menyebalkan seperti aku." Kekeh Rama.


"Ya, karena Allah sudah menjanjikan, jika akan ada kemudahan setelah kesulitan. Akan ada pelangi, setelah hujan. Sama seperti rumah tangga kita. Di awal, cobaan kita, kamu yang tidak bisa menerima pernikahan ini juga aku sebagai istri. Lalu, Allah menguji kita dengan kesetiaan, melalui perantara Mbak Marissa. Dan setelah ini, semoga Allah selalu melimpahkan kasih sayangnya untuk keluarga kita." Ucap Hasna.


"Untuk keluarga kecil kita, aku, kamu, dan anak-anak kita." Ralat Rama.


Hati Hasna menghangat mendengar apa yang Rama ungkapkan barusan. Perempuan itu berharap, semoga ucapan suaminya menjadikan do'a yang terbaik untuk keluarganya kelak.


"Apa dia sudah berada di sini?" Rama mengusap lembut perut Hasna. Berharap semoga ada keturunan di dalam rahim istrinya.


"Insya Allah, semoga amanah itu segera kita terima." Ucap Hasna.


Rama mengecup lembut kening dan kedua pipi Hasna. Namun saat mengecup hidung mancung itu, ada suara yang tengah membuyarkan kegiatan mereka. Membuat Rama reflek menarik kembali wajahnya dari hadapan sang istri.


"Ma...maaf, saya permisi." Ucap Lala yang berniat mengantarkan red velvet milik Hasna. Perempuan berseragam itu langsung balik badan membawa kembali nampan berisikan potongan red velvet juga minumannya.

__ADS_1


***


__ADS_2