
Pagi ini Nayla bersama sang mama berencana mengunjungi rumah Rama. Hari ini Sabtu, pasti kakak iparnya berada dirumah, terlebih Rama baru keluar dari rumah sakit. Nayla akan menggunakan kesempatan bagus ini untuk mendekatkan kakak laki-lakinya dengan istrinya.
Apalagi setelah mendengar cerita dari Mamanya, jika Kakak kesayangannya itu tak pernah tau nomer telepon istrinya. Sungguh gemas gadis itu dibuatnya. Bukan bermaksud mencampuri urusan rumah tangga kakaknya. Hanya saja, Nayla ingin jika pernikahan kakaknya akan langgeng.
Pukul sembilan pagi, mereka tiba di rumah Rama. Gadis itu membawa sebuah paperbag berwarna pink dengan pita merah diatasnya. Sebenarnya gadis itu tau apa isi didalamnya, karena sebelumnya sempat ia buka.
Lagi, hadiah dari pengagum kakak iparnya, Bian. Rupanya teman satu angkatannya itu tidak berputus asa, padahal sudah ia jelaskan berkali-kali jika Hasna adalah kakak iparnya, istri dari kakak kandungnya. Tapi tak bisa membuat Bian percaya.
Awalnya Nayla menolak pemberian Bian, tapi setelah dipikir-pikir tak ada salahnya jika ia menjadikan rasa kagum Bian untuk mengetahui perasaan Rama terhadap Hasna. Ya walaupun ada insiden tolak paksa, Nayla menolak dan Bian memaksa.
Pintu ruang tamu terbuka, terlihat Hasna yang baru selesai mengerjakan pekerjaannya di ruang laundry di belakang. Perempuan itu mengangkat keranjang berisi pakaian miliknya juga Rama.
"Assalamu'alaikum." Ucap Nayla juga Bu Diana bersamaan.
Hasna meletakkan keranjang pakaian diatas meja makan. Dan bergegas melihat siapa yang bertamu.
"Wa'alaikumussalam, Mama, Nayla. Ayo masuk." Hasna mencium tangan mertuanya dan memeluk adik iparnya.
"Sepi sekali, Rama mana?" Tanya Mama mertua karena tak mendapati putranya.
"Mas Rama, ada diatas, Ma."
"Di atas? Bukannya kalian menempati kamar tamu sementara?" Bu Diana mulai curiga dengan mereka berdua.
Ya, Hasna salah salah ucap. Tapi memang seperti itu adanya, jika mereka memiliki kamar sendiri-sendiri. Rama berada di atas sekarang.
"Mas Rama lagi cek kerjaan di ruang kerjanya, Ma. Kebetulan ada di lantai atas." Hasna harus tenang, tidak boleh gugup jika menyangkut dengan rumah ini.
"Sebentar, Hasna panggilkan dulu."
Hasna naik, menuju kamar Rama. Lelaki itu tengah beristirahat setelah minum obat tadi. Hasna ragu jika langsung masuk kedalam kamar suaminya. Tapi jika mengetuk pintu terlebih dahulu, akan memancing perhatian ibu dan adik suaminya yang berada di bawah.
Perlahan ia membuka pintu kamar Rama. Melongok kan sedikit kepalanya ke dalam. Sepi, tak ada orang. Apa jangan-jangan memang sedang berada di ruang kerja.
Hasna segera menutup kembali pintu kamar suaminya, tapi suara pintu terbuka mengalihkan perhatiannya. Ternyata suaminya itu dari kamar mandi. Tunggu, kenapa ada yang aneh dengan penampilan laki-laki itu. Hasna memperhatikan beberapa detik, ternyata...
Brak
Hasna sedikit keras menutup pintu, membuat Rama berjengkit sadar jika ada seseorang diluar sana. Gegas ia kenakan celana pendek yang sengaja ia tinggal diatas ranjang. Karena ia sendiri kesulitan saat melepas dan memakainya jika tidak dengan posisi duduk.
Cklek
Rama membuka pintu kamarnya, nampak Hasna yang tengah berdiri di depan pintu kamarnya. Bisa dipastikan jika perempuan itu melihatnya dalam keadaan.... Aahh bahkan dia sendiri malu luar biasa jika mengingatnya. Namun ia berusaha biasa saja.
"Ada apa?" Tanyanya datar.
"A...ada Mama dan Nayla di bawah." Jawab Hasna tanpa menoleh ke arah Rama.
Rama nampak berpikir sejenak, kemudian turun diikuti Hasna dibelakangnya.
"Mama." Rama berjalan mendekati ibu juga adiknya.
"Halo, Sayang." Bu Diana mencium kening putranya.
"Gimana keadaan kamu, Sayang?"
"Alhamdulillah, baik, Ma." Rama melirik ke arah Hasna yang berdiri tak jauh darinya.
"Papa mana?" Rama tak melihat ayahnya di ruangan ini.
"Papa ada di luar kota sejak kemarin sore. Mungkin nanti malam baru sampai rumah."
__ADS_1
"Tumben Mama tidak ikut?" Laki-laki itu duduk di sofa panjang bersebelahan dengan Hasna. Tidak benar-benar dekat, ada jarak diantara keduanya.
"Mama di rumah saja. Istri kamu juga tidak pernah ikutkan jika kamu ke luar kota." Sepertinya jawaban ibunya itu sengaja untuk menyindir dirinya.
Seketika Rama dan Hasna beradu pandang. Tujuannya bertanya karena Mamanya terbiasa mengikuti Papanya jika dinas ke luar kota. Tapi kenapa malah jadi membahas dirinya dan Hasna.
"Ckk...Rama ke luar kota itu kerja, Ma, buka liburan. Jadi Hasna tak perlu ikut, bukan?" Elaknya.
"Sama aja kali Kak, Papa ke luar kota juga buat kerja." Sahut Nayla. Mulai menyindir rupanya.
Hasna mulai paham jika kedua tamunya sedang menyerang suaminya secara tidak langsung. Ya sepertinya mereka sedikit banyak tau kondisi rumah tangganya.
"Mama sama Nayla mau minum apa?" Hasna berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Apa aja deh, yang penting seger." Jawab Nayla diiringi cengiran khasnya.
Hasna segera ke dapur membuatkan minuman untuk mereka semua. Juga mengambilkan sepiring red velvet buatannya yang tak jadi Rama makan kemarin.
Empat gelas jus segar beserta sepiring red velvet tersaji diatas meja.
"Silahkan, Ma, Nay." Hasna meletakkan gelas minuman didepan semua orang.
"Wahh...aku ketinggalan praktek bikin red velvet nih ceritanya." Nayla mengambil sepotong kue berwarna merah itu dan mulai memakannya.
"Waahhh...rasanya tetap istimewa." Pujinya, mengangkat ibu jarinya ke arah Hasna.
"Papa aja udah pindah selera sekarang." Sambung Bu Diana yang ikut menikmati sepotong kue buatan menantunya.
"Kak Rama udah cobain belum? Rugi loh. Eh, tapi nggak mungkin lah kalau belum cobain, secara cake kesukaannya Kak Rama. Mungkin kalau pas hangat pasti nikmat."
Rama sedikit merasa bersalah saat kemarin tidak menyentuh kue buatan istrinya itu. Justru ia membuat istrinya kesal dengan ucapannya semalam.
"Mas Rama mau?" Hasna menyodorkan sepiring red velvet dihadapan suaminya. Rama mengambil sepotong.
"Jadi, kamu bawain Kakak apa?" Rama melirik paperbag pink dengan hiasan pita merah diatasnya.
Nayla mengikuti pandangan Kakak lelakinya itu. Ah, gara-gara makanan ia jadi lupa tujuan.
"Oh, ini? Hampir lupa, kalau ada titipan." Nayla menepuk pelan keningnya. Gadis itu mengangsurkan paperbag disebelahnya kepada Hasna. Ragu-ragu Hasna menerimanya.
"Dari Bian, buat Mbak Hasna."
Uhuk
Rama tersedak disela kunyahannya, sedangkan Hasna membulatkan matanya sempurna mendengar ucapan Nayla barusan.
Hasna melirik suaminya, melihat respon lelaki itu. Kemudian kembali menatap adik iparnya.
"Nay, Mbak kan_"
"Udah, Mbak, udah Nay jelasin sampai berbusa juga, si Bian tetep nggak peduli. Dia bilang, sebelum janur kuning melengkung, dia akan memperjuangkan cintanya. Sableng emang tuh anak." Nayla melirik Rama yang seketika menunjukkan ekspresi kesal walau tak begitu kentara.
"Mbak udah nikah Nay, buat apa lagi janur kuning?"
"Lah kan nggak ada buktinya kalau Mbak Hasna udah nikah. Foto atau video pernikahan misalnya, atau cincin deh yang gampang dilihat orang gitu. Orang modelan seperti Bian itu, nggak bakalan berhenti sebelum ada bukti. Buktinya dia tetap nekat kirim hadiah lagi kan sama Mbak Hasna?"
Ucapan Nayla membuat Hasna kikuk seketika. Diam-diam Bu Diana memperhatikan ekspresi sepasang suami istri dihadapannya. Menantunya sudah mirip seperti istri yang ketahuan selingkuh. Dan putranya terlihat sedang menahan emosi, tapi tak mampu mengeluarkan uneg-unegnya. Wanita itu tersenyum disela kunyahannya menikmati red velvet buatan sang menantu.
Rama tak pernah memikirkan sejauh ini saat menunda membeli cincin kawin untuk Hasna. Ia berpikir jika teman adiknya itu hanya iseng semata. Tapi ia salah, justru laki-laki itu begitu gigih berusaha mendapatkan hati Hasna, istrinya.
Hasna jadi serba salah dengan hadiah yang diterimanya saat ini, apalagi di depan suami juga anggota keluarga suaminya. Langsung dibuang pun rasanya kurang sopan.
__ADS_1
"Buka aja dulu, siapa tau Mbak Hasna suka sama hadiahnya." Apa-apaan gadis tengil satu ini, malah membuat suasana semakin kaku.
"Udah, buka aja. Biar semua tau kalau isinya tak ada yang mencurigakan." Kini mertuanya berusaha mengompori, sebab beliau pun sudah mengetahui isinya, karena kemarin sempat sama-sama ikut membukanya dengan Nayla.
Sekali lagi, Hasna melirik ke arah Rama. Ekspresi suaminya begitu datar, sulit ia artikan. Perlahan ia tarik pita merah yang menghiasi ujungnya, kemudian membuka dan melihat isinya.
Boneka beruang berwarna merah, dengan kartu ucapan yang terselip diantara dada dan bantal kecil berbentuk hati, bertuliskan I Love You.
"Untuk perempuan istimewaku."
Hasna menutup mulutnya yang terbuka lebar saat membaca kartu ucapan itu. Rama sangat penasaran, tapi tidak menanyakannya.
"Apa tulisannya?" Nayla berpura-pura penasaran.
"Sini deh, Nay mau lihat." Nayla menyambar kartu ucapan ditangan Hasna, karena perempuan itu tak kunjung menjawab pertanyaannya.
"Untuk perempuan istimewaku." Nayla memasang ekspresi terkejut saat membacanya. Kedua matanya membola sempurna dengan mulut yang ditutup dengan sebelah tangannya.
"Astaga, Mama, manis sekali. Pantes aja banyak cewek yang suka sama Bian, dia romantis banget." Bu Diana pengen sekali menjewer anak gadisnya itu. Sungguh pandai sekali dia bersandiwara didepan kakaknya.
Rama meraih segelas jus dihadapannya. Mencoba menghilangkan rasa kesalnya.
"Kalau dapet lagi, diterima nggak Mbak?"
"Apanya?" Hasna menautkan alisnya menoleh ke arah adik iparnya.
"Hadiahnya lah Mbak, masak cintanya?" Ceplos Nayla.
Byur
Rama menyemburkan kembali minuman yang hampir ia telan. Untung jaraknya dengan sang ibu lumayan jauh. Bisa-bisa ia kena kutukan nantinya.
"Mas Rama?"
"Woiiss...sabar brader. Ini ujian jika memiliki istri paket lengkap." Ledek Nayla.
Hasna mengambilkan tisu untuk Rama dan membersihkan bekas jus yang meluncur bebas dari mulut suaminya.
Bu Diana menahan tawanya. Menantunya yang lugu, juga putranya yang kaku dikerjain habis-habisan oleh putri tengilnya.
"Udah, nggak usah didengerin omongannya Nayla. Lebih baik kamu antar Mama ngemall. Mama mau carikan Papa Kado, minggu depan Papa ulang tahun." Bu Diana merasa kasihan pada Hasna yang dijadikan objek pelampiasan rasa kesal Nayla pada Rama.
"Tapi, Ma_"
"Tenang aja, Kak Rama aku yang jagain." Sahut Nayla.
Hasna menoleh ke arah suaminya. Bu Diana paham jika menantunya itu pasti menunggu izin dari putranya.
"Kamu nggak ngizinin menantu Mama buat pergi hang out bareng mertuanya?" Ketus Bu Diana.
"Apaan sih, Ma, suudzon melulu sama Rama." Sewotnya.
"Lah buktinya, istri kamu tidak mengiyakan ajakan Mama."
"Kamu pergilah, temani Mama." Ucapnya pada Hasna.
"Jiaaahhh...kalah romantis lu bang sama bocah esde. Yang masih bocil aja manggilnya sayang, masa yang udah halal manggilnya aku kamu." Ledek Nayla dengan kikikan geli.
Hasna menutup mulutnya yang hampir saja mengeluarkan tawanya, pun dengan Mama mertua. Terpaksa mereka tahan karena melihat wajah Rama yang masam.
Sepertinya gadis itu sukses mengerjai kakak laki-lakinya. Entah bagaimana nasibnya berada berdua dengan Rama sepeninggal Hasna juga Mamanya setelah ini.
__ADS_1
***