
Rama ingin berdiam seharian bersama Hasna. Kejadian kemarin menyadarkan dirinya, jika kepergian Hasna benar-benar membuat dunianya jungkir balik. Bagaimana kacaunya saat mencari Hasna, namun tak juga ia menemukannya. Rama hanya ingin menebus waktu seharian yang ia lewatkan kemarin tanpa istrinya.
"Jadi, katakan, dimana kamu semalam?" Tanya Rama setelah pelukan mereka terlepas.
"Aku berada di toko semalam. Maaf, aku salah, karena aku pergi tanpa seizin Mas Rama." Ucap Hasna sembari menundukkan kepalanya.
Rama tersenyum simpul mendengarnya. Bahkan Hasna masih merasa bersalah jika pergi tanpa meminta izinnya terlebih dahulu.
"Jika kamu benar merasa bersalah karena pergi tanpa izin, coba sekarang katakan di mana saja alamat toko kamu." Rama hanya berjaga-jaga jika ada kejadian serupa, ia bisa mencari Hasna di salah satu tempat itu. Karena yang ia tahu hanyalah restoran.
Hasna menyebutkan dimana alamat gerai-gerai usahanya berada. Dan berhasil membuat Rama tercengang. Karena laki-laki itu tidak menyangka sama sekali jika sebanyak itu tempat usaha istrinya. Yang ia tau hanya restoran yang akan membuka cabang baru. Toko kue yang sedang menunggu renovasi dan tempat katering, tanpa mengetahui ada berapa jumlahnya. Pantas saja omset yang di kantongi Hasna sangat fantastis.
Rama memijit pelipisnya perlahan, menghafalkan alamat sebanyak itu membuatnya tiba-tiba merasakan migrain.
"Mas Rama kenapa?"
"Tidak, aku hanya merasa pusing menghafalkan banyak alamat yang kamu sebutkan." Jawabnya jujur. Hasna tersenyum simpul di buatnya.
Hasna memberikan kartu nama miliknya. Ada tiga lembar, sesuai dengan jenis usahanya. Di sini alamatnya, Mas Rama tinggal pilih mau kemana? Tempat katering, tokon kue, atau restoran.
Rama mengambil tiga kartu nama berbeda warna itu. Akan ia simpan baik-baik, setidaknya ia mengetahui mana-mana saja alamat tempat usaha istrinya.
"Udah hampir jam tujuh. Mas Rama tidak bersiap?" Tanya Hasna.
Tidak menjawab, justru Rama membaringkan tubuhnya di atas ranjang dengan kaki yang menjuntai di lantai.
"Aku ingin seharian ini di rumah. Kemarin membuatku cukup pusing seharian gara-gara mencari kamu." Jawab Rama.
"Baiklah, kalau begitu aku akan memasak sarapan untuk kita." Ucap Hasna.
"Kamu mau masak apa?" Tanya Rama.
"Mas Rama mau aku masakin apa?"
"Masakan yang pertama kali kamu kuasai." Jawab Rama cepat.
"Sup iga?"
"Kenapa jadi sup iga?" Tanya Rama. Lantas ia kembali terduduk.
"Ya, karena memang masakan yang pertama kali aku kuasai itu sup iga. Sup iga makanan favorit almarhum ayah." Hasna memaksakan senyumannya.
"Dulu, almarhumah ibu selalu memasakkan sup iga untuk ayah, jadi aku ingin sekali bisa memasak masakan yang sama. Berharap suatu saat nanti, aku yang akan menyajikan makanan itu untuk ayah. Tapi baru aku menguasai tekniknya, mereka sudah pergi untuk selamanya." Ucap Hasna.
Jadi sup iga, adalah resep makanan spesial bagi istrinya. Ia baru tahu hari ini. Rama pikir jika memang Hasna sering memasaknya karena itu adalah makanan favoritnya, ternyata ia salah. Sup iga adalah makanan favorit laki-laki yang menjadi cinta pertama Hasna, almarhum ayah mertuanya.
"Kalau begitu, aku harus berterima kasih pada ayah mertua. Karena beliau, sekarang putrinya begitu jago memasak makanan favorit suaminya." Hibur Rama. Hasna mengangguk dengan seulas senyuman.
"Baiklah tuan putri, kalau begitu kita akan memasaknya bersama." Rama mengulurkan tangannya, dan disambut oleh Hasna.
Keduanya nampak sibuk di dapur. Hasna yang sibuk menyelesaikan masakannya dengan begitu cekatan, dan Rama yang sibuk menganggu istrinya. Laki-laki itu sudah seperti perangko, yang menempel rekat pada Hasna.
"Mas, aku sulit gerak ini." Berkali-kali Hasna merengekkan kata-kata yang sama, namun jawaban yang sama Rama berikan padanya.
"Anggap saja aku tidak ada, dan kamu sedang sendirian di dapur." Sungguh jawaban yang konyol.
"Mas kamu berat loh." Ucap Hasna, namun kedua tangannya masih cekatan menyelesaikan masakan.
"Iya...nanti kita gantian, kamu yang ada di atas. Aku yang di bawah." Jawaban macam apa itu, kenapa sekarang membahas posisi atas dan bawah, memangnya apa yang tengah Rama pikirkan?
Lebih baik ia diam, daripada meladeni ucapan suaminya. Nanti pembahasan bisa makin kemana-mana.
Ting tong
"Mas ada yang datang, coba kamu periksa." Hasna berharap Rama segera melepaskan pelukannya. Ia sungguh tidak nyaman beraktivitas dengan posisi seperti ini.
"Mana? Tidak ada yang datang." Bahkan pelukannya tak melonggar sama sekali.
Ting tong, Ting tong.
__ADS_1
"Tuh kan, Mas Rama denger sendiri kan, kalau belnya bunyi?"
Rama mendengus kesal, terpaksa ia melepaskan pelukannya dan membukakan pintu. Ternyata Mama yang datang.
"Ckkk...kenapa Mama datang sepagi ini?" Rama berdecak kesal.
"Dasar anak kurang ajar. Ada Mamanya datang tidak segera di bukakan pintu dan di suruh masuk. Ini malah bertanya kenapa." Mama menghadiahkan jeweran di telinga kirinya.
"Aduh, aduh, Ma, aduh sakit." Rengek Rama yang memegang jeweran di telinganya.
"Kamu pergi membuat heboh seisi rumah, sekarang malah bertanya kenapa?" Mama masih saja mengomel.
"Iya, iya, iya, maaf. Maafin Rama." Akhirnya jeweran maut Mama terlepas juga.
Hasna keluar saat mendengar keributan di luar, ada Mama mertua rupanya.
"Mama?"
"Hasna. Sayang." Mama langsung menghambur dan memeluk menantu perempuannya.
"Maafin Hasna, Ma. Hasna sudah bikin Mama dan yang lainnya khawatir." Ucap Hasna. Mama mengurai pelukannya dan menatap lembut wajah menantunya itu.
"Tidak, Sayang. Seharusnya Mama yang meminta maaf sama kamu. Gara-gara anak Mama, kamu jadi pergi. Jangan pernah tinggalkan Mama lagi ya, Sayang." Ucap Mama. Hasna menggeleng.
"Iya, Hasna tidak akan meninggalkan Mama." Ucap Hasna.
"Janji?" Hasna mengangguk.
"Janji." Mama kembali memeluk Hasna erat. Mama sudah menganggap Hasna seperti putri kandungnya sendiri.
Rama tersenyum melihat interaksi antara ibu dan juga istrinya. Hasna memang sedekat itu dengan Mama. Pantas saja jika kemarin Mama mengatakan bentuk kekecewaan atas tindakannya dengan meminta dirinya melepaskan Hasna.
"Ehem...ehem... Jadi berasa seperti anak tiri." Sindir Rama.
Satu pukulan mendarat di lengannya. Gerakan Mama sudah seperti jurus bayangan saja, tanpa tau gerakannya tau-tau sudah terasa panas pukulannya.
"Mama sudah sarapan?"
"Keributan?" Mama mengangguk.
"Keributan apa, Ma?"
"Tanya saja sama biang keroknya." Ketus Mama yang melirik pada Rama, yang membuat Hasna mendengus melihat ke arah suaminya.
"Yuk masuk." Mama menggandeng Hasna untuk ke dalam tanpa menghiraukan Rama.
"Nasib anak tiri." Rama menepuk keningnya sendiri dan berlalu masuk ke dalam.
***
Tok, tok, tok.
Tok, tok, tok.
"Sa? Ini gue, Siska." Teriak Siska dari luar kontrakan Marissa.
Tok, tok, tok.
"Sa? Buka pintunya, Sa."
Tok, tok, tok.
"Kemana sih tuh anak?" Gumam Siska.
Tok, tok, tok.
"Marissa?" Teriak Siska sekali lagi, namun tak kunjung ada sahutan.
Tok, tok, tok.
__ADS_1
"Marissa, apa lo ada di dalem? Buka pintunya."
Pintu terbuka, membuat ketukan Siska melayang di udara.
"Ya ampun, Sa. Dari tadi gue_." Ucapan Siska terhenti saat melihat penampilan Marissa yang sangat berantakan.
"Sa, lo kenapa?"
Tak menjawab, justru perempuan hamil itu menghambur ke dalam pelukannya. Siska begitu terkejut dengan tingkah sahabatnya itu. Tak biasanya Marissa seperti ini. Diusapnya perlahan punggung perempuan itu. Samar-samar mulai terdengar isakan kecil.
"Sa, ada apa? Ke dalam dulu yuk." Siska mengurai pelukan Marissa dan mengajaknya ke dalam.
Di dudukkannya perempuan itu di kursi ruang tamu. Siska ke dalam untuk menyimpan bawaannya juga mengambilkan air minum untuk Marissa. Betapa terkejutnya perempuan itu saat melintas di ruang tengah. Pajangan yang berserakan dimana-mana, bahkan ada pecahan vas bunga juga.
"Sebenarnya ada apa ini?" Gumamnya.
Siska mengambil ponsel dalam saku celananya, berniat mengambil gambar kondisi rumah Marissa, namun ada beberapa pesan di sana. Dari Tomi.
~Siska, lo udah pulang kantor belum?"~ Tomi.
~Gue butuh ketemuan sama lo.~ Tomi.
~Penting.~ Tomi.
Siska kembali menyimpan ponselnya ke dalam saku celananya, dan mengambilkan air minum untuk Marissa. Urusan Marissa lebih urgent kali ini.
"Minum dulu." Siska menyodorkan segelas air minum pada Marissa.
Marissa menerimanya dan meminumnya perlahan. Lalu meletakkannya di atas meja.
"Ada apa, Sa?" Tanya Siska.
Isakan kembali terdengar. Membuat Siska semakin merasa bingung dengan apa yang terjadi pada Marissa.
"Lo bisa ceritakan semuanya sama gue.":
Beberapa saat semuanya terdiam. Marissa berusaha mengatur nafasnya sebelum mengatakan sesuatu pada Siska.
"Gue kemarin dari kantor Rama, Sis." Lirih Marissa.
Siska tak menyangka jika Marissa akan sempat itu. Bahkan datang ke kantor Rama.
"Gue udah mengatakan semuanya sama Rama. Tapi..." Marissa menghentikan ucapannya. Air mata kembali membasahi pipi Marissa.
"Gue... Rama, Rama bilang jika ia sudah menikah." Lanjutnya.
Siska tidak salah dengar, bukan? Rama sudah menikah?
"Menikah?" Siska mencoba memastikan.
Hanya anggukan yang Marissa berikan sebagai jawaban atas pertanyaan yang Siska ajukan. Marissa menceritakan semuanya pada siska. Tentang kedatangannya ke kantor Rama. Perdebatan yang berujung terbongkarnya rencana Marissa. Dan ini yang membuat Siska sedikit bernafas lega.
Kini Siska paham dengan kekacauan yang ada di rumah sahabatnya itu. Kekacauan yang timbul karena rasa kecewa Marissa karena usahanya sia-sia.
Suara ponsel di saku Siska, membuat perempuan itu kembali tersadar dari lamunannya.
~Sis, gawat. Ternyata kita salah duga. Rama Suryanata bukan laki-laki single seperti yang kita sangka selama ini. Dia akan segera melangsungkan pernikahan.~ Tomi.
Tomi menyertakan pula foto undangan pernikahan Rama kepada Siska.
~Gue baru tau siang tadi. Ada seseorang yang mengirimkan undangan atas nama Bos gue, dan nggak sengaja di titipin ke gue.~ Tomi.
~Kita harus mencegah supaya Marissa tidak nekat mengatakan apapun pada Rama. Jangan sampai Marissa mengacaukan pernikahan orang lain.~ Tomi.
Segera Siska mengetikkan balasan untuk Tomi.
~Kita udah terlambat, Marissa udah kesana kemarin.~ Siska.
Send, pesan pun terkirim dan langsung terbaca oleh Tomi.
__ADS_1
***