
Rama menggelar acara empat bulan kehamilan Hasna. Mengundang para tetangga di sekitar kediaman mereka, juga anak-anak yatim piatu dari panti asuhan.
Acara di mulai dengan membacakan dua surah dalam Al-Qur'an yang di baca oleh Hasna sendiri. Surah Maryam dan surah Yusuf. Dengan suara yang begitu merdu, Hasna melantunkan ayat demi ayat. Hingga acara di tutup dengan pengajian juga santunan.
Para tamu undangan menikmati hidangan setelah acara inti di tutup. Rama dengan begitu setia menemani Hasna menikmati hidangan. Perempuan itu nampak berselera dan begitu lahapnya menikmati beberapa menu yang dipilihnya.
"Pak Ivan?" Ucap Hasna saat melihat asisten suaminya itu berdiri tak jauh dari mereka.
Rama menoleh dan mendapati Ivan berdiri tepat di belakangnya.
"Pak Ivan tidak makan?" Hasna bisa melihat jika Ivan belum menikmati hidangan sama sekali.
"Nanti saja, Bu." Ucap Ivan.
"Tolong jangan panggil ibu, saya sungguh tidak nyaman." Ucap Hasna. Perempuan itu merasa jika usia Ivan tidak pantas jika memanggilnya, ibu.
Ivan tidak menjawab, hanya melirik sekilas pada Rama yang menatapnya tajam.
"Ada apa?" Tanya Rama.
"Bisa kita bicara sebentar, Pak?" Kedengarannya ada hal serius. Rama melirik sekilas pada Hasna yang kembali asyik menikmati hidangan di hadapannya.
Ivan sedikit menundukkan badannya, mensejajarkan tubuhnya dengan Rama yang tengah duduk.
"Ini tentang Marissa, Pak." Bisik Ivan. Rama membuang nafasnya kasar.
"Sayang, ada urusan pekerjaan yang harus segera di selesaikan. Aku mau ke ruang kerja sebentar." Hasna mengalihkan fokusnya pada Rama.
"Hanya sebentar." Hasna mengangguk.
"Perlu aku panggilkan Mama atau Nayla?" Hasna menggeleng.
"Tidak perlu, Mas."
"Ya sudah, aku ke atas dulu." Rama mengusap lembut puncak kepala Hasna.
Ivan mengekori langkah Rama menuju ruang kerja yang terletak di lantai dua. Rama segera menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Ia tidak mau jika sampai pembicaraannya bersama Ivan ada yang mendengarkan.
"Katakan." Rama tidak ingin membuang waktu, ia ingin segera pembicaraan ini berakhir, sebelum Hasna mencarinya.
"Marissa sudah melahirkan, Pak." Ucapan Ivan sukses membuat Rama fokus sepenuhnya pada asisten pribadinya itu.
"Tadi pagi, sekitar pukul sepuluh di rumah sakit x, melalui proses persalinan caesar." Tutur Ivan.
Rama membuang pandangannya ke sembarang arah. Targetnya sudah menggunakan kesempatan yang ia berikan, tinggal menunggu masa pemulihan, baru setelah itu, proses hukum akan segera bisa dilaksanakan.
"Pantau terus perkembangannya. Dan pastikan, perempuan itu tidak melakukan hal-hal yang membuat kita semakin sulit nantinya." Ucap Rama.
__ADS_1
Rama hanya ingin memastikan jika Marissa benar-benar bisa dikendalikan. Jangan sampai di kondisinya seperti saat ini, Marissa semakin bebas melakukan hal-hal yang bisa membahayakan keluarganya. Terutama pada Hasna yang tengah hamil. Jika saat Marissa hamil saja bisa senekat itu, apalagi sekarang ia telah melahirkan. Perempuan itu akan semakin merasa leluasa.
"Baik, Pak."
"Satu lagi, pastikan jika kabar ini tidak sampai terdengar di telinga istri saya. Saya tidak ingin dia menghambat proses hukum Marissa." Rama menatap serius pada ivan. Kali ini, sepertinya laki-laki itu benar-benar tidak ingin memberikan kesempatan lagi pada mantan sekretarisnya itu.
"Kita tahu sendiri bagaimana sifat Hasna. Dia sangat mudah memaafkan. Dan saya yakin, dia akan bisa dengan mudah memaafkan kesalahan Marissa, walaupun ia sendiri di sini menjadi korban. Bahkan hampir kehilangan nyawa." Ivan mengangguk sebagai jawaban.
Jangankan Rama, Ivan saja tahu betul sifat Hasna. Perempuan itu terlalu lembut. Bahkan ia masih mengingat saat Rama memperkenalkan Hasna sebagai kerabat jauhnya. Andaikan itu bukan Hasna, pastilah Rama sudah di tinggalkan saat itu juga.
Cukup lama mereka berbincang, hingga suara ketukan mengalihkan perhatian mereka.
Cklek
Ivan membuka pintu ruang kerja Rama, dan mendapati Nayla berdiri tepat di depan pintu.
"Kak Rama, mana?" Tanya Nayla, kepalanya sedikit melongok ke dalam, namun terhalang tubuh Ivan yang tinggi tegap.
"Ada di dalam."
Nayla hendak menerobos masuk ke dalam ruangan Rama. Namun Ivan dengan cekatan menahan kepala gadis itu agar menghentikan langkahnya.
"Ckk...apaan sih, Kak?" Gerutu Nayla. Gadis itu menghempaskan tangan Ivan yang berada di kepalanya.
"Biasakan menjaga attitude, Nayla." Peringat Ivan.
"Ruang kerja termasuk ruang pribadi, jadi kita tidak bisa sembarangan masuk ke dalam tanpa seizin pemilik ruangan." Bukan tanpa alasan Ivan mengatakan hal demikian. Rama tengah menelepon Pak Darmawan di dalam. Bisa gawat jika Nayla mendengar apa yang mereka bicarakan. Gadis itu terlelu bocor, tanpa filter jika sedang berbicara.
Nayla semakin mengerucutkan bibirnya mendengar penolakan Ivan, saat ia hendak masuk ke dalam ruang kerja Rama. Sebenarnya ada apa, sampai-sampai Ivan tidak menginginkan dirinya untuk masuk.
"Ckk...Kak Ivan nggak asik, tau nggak?" Cicit Nayla.
Ivan bergeming, tak menggubris perkataan gadis kecil di hadapannya. Dan itu semakin membuat Nayla bertambah kesal.
"Padahal kan Nay kemari karena Mbak Hasna minta di panggilin Kak Rama. Tamu-tamu pada pamitan." Ivan tetap membisu.
"Kak, Nay boleh masuk sebentar ya? Please... Kasihan loh Mbak Hasna berdiri sendiri di depan. Kan capek." Ucap Nayla setengah merengek.
Ivan tahu jika Hasna yang meminta, Rama tidak akan menolak. Tapi Rama masih melakukan pembicaraan penting di dalam dengan Pak Darmawan via telepon.
"Awas saja kalau Kak Rama tau, pasti gaji Kak Ivan bulan depan pasti di potong." Ucap Nayla setengah mengancam.
"Tapi kalau Kak Ivan izinin Nay masuk, Nay jamin, gaji...aman." Gadis itu mulai menerobos, tapi lagi-lagi dihalangi oleh Ivan.
"Tidak bisa. Kamu tunggu di sini. Saya lebih mencintai pekerjaan dan gaji saya bulan-bulan berikutnya." Ucap Ivan tegas.
"Ckkk..."
__ADS_1
Ditengah perdebatan mereka, tiba-tiba Rama sudah berdiri di belakang Ivan. Rupanya pembicaraan dengan pengacara pribadinya telah selesai.
"Ada apa ini?" Tanya Rama yang sedikit mendengar keributan diantara mereka.
"Ini, Kak Ivan nggak ngebolehin Nay masuk, padahal kan Nay cuma mau nyampein pesan Mbak Hasna buat Kak Rama." Sungguh menyebalkan sekali ekspresi yang Nayla tunjukkan. Gadis itu merasa puas setelah berhasil mengadukan perbuatan Ivan kepada Rama.
"Ya sudah, kita turun sekarang." Ucap Rama dengan santainya.
Nayla hampir tidak percaya. Rama seenteng itu menanggapi aduannya? Harusnya bukan seperti ini yang Nayla ingin lihat. Nayla berharap Ivan akan kena semprot karena sudah menghalanginya. Hanya untuk membalaskan kekesalan pada asisten tampan itu.
"Kak Rama nggak marah sama Kak Ivan?" Ucap Nayla tidak percaya. Sedangkan Ivan hanya tersenyum simpul mendengar obrolan kakak beradik itu.
"Kamu maunya gimana?" Rama berjalan menuruni tangga yang diikuti Nayla juga Ivan di belakangnya.
"Ya setidaknya, semprot kek. Atau potong gaji gitu, biar seru." Sungguh gadis yang menyebalkan. Ingin sekali Ivan membungkam mulut itu dengan lakban.
"Kakak tidak membawa selang, Nay. Jadi tidak bisa menyemprot Ivan." Ivan menahan tawanya. Baru kali ini Rama pro padanya.
"Kalau masalah potong gaji, Kakak tidak bisa. Ivan sudah sangat profesional dalam bekerja." Ivan sedikit mengangkat dagunya, lantaran Rama memujinya kali ini. Dan berhasil membuat Nayla semakin kesal.
"Dan kamu Ivan, jangan terlalu menggoda Nayla. Lama-lama bisa naksir kamu." Ivan sedikit membolakan matanya mendengar ucapan Rama. Kalimat itu terdengar begitu frontal di telinganya.
"Nayla sangat menyebalkan, kamu tidak akan sanggup nantinya." Kini ganti Nayla yang melebarkan metanya dengan sempurna. Gadis itu pikir jika sang kakak akan membelanya, tapi ternyata malah meledeknya.
"Tenang saja, Pak. Saya bukan pedofil." Kekeh Ivan.
"Ngeselin. Padahal kak Rama juga pecinta gadis dibawah umur seperti Mbak Hasna." Nayla berlalu mendahului kedua lelaki itu dengan kesal.
Ivan menutup mulutnya rapat-rapat, saat tawanya hampir saja meledak. Jangan sampai tawanya pecah saat ia berada di belakang Rama. Bisa gawat. Rama menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Ivan.
"Kenapa kamu mengucapkan kata pedofil? Kalau begini kan jadi saya yang kena." Protes Rama.
"Maaf, Pak. Saya tidak ada maksud sama sekali." Ivan memberikan pembelaan. Rama mendengus kesal.
"Apa menurut kamu, saya seorang laki-laki pecinta gadis di bawah umur?" Rama sengaja tidak menggunakan kata pedofil untuk di sandingkan dengan dirinya. Terdengar menggelikan.
"Tidak, Pak."
"Bicaralah yang jujur." Desak Rama.
"Bapak tidak demikian."
"Begitukah?" Kedua alis Rama bertaut tajam, seolah tengah mencari kebenaran dari ucapan Ivan
"Iya, Pak." Jawab Ivan dengan tegas.
Rama mendengus kesal. Semua gara-gara Nayla. Dasar gadis tengil. Bisa-bisanya dia mengatakan jika Rama pecinta gadis di bawah umur. Walau sebenarnya memang iya, karena Hasna dan Nayla seumuran.
__ADS_1