Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 116


__ADS_3

Seminggu setelah kepulangan mereka ke tanah air, keduanya kembali melakukan aktivitas seperti biasanya. Rama kembali ke kantor dan Hasna kembali aktif di restoran. Karena pekerjaan sudah menunggu mereka.


"Bagaimana hasil kerjasama kita dengan perusahaan xx?" Tanya Rama pada Ivan saat keduanya tengah memeriksa laporan selama tiga minggu terakhir.


"Mereka menyetujui kerjasama yang kita ajukan, Pak. Bahkan mereka telah menandatangani berkasnya. Ini, bisa Bapak periksa terlebih dahulu." Ivan menyerahkan sebuah map kepada Rama.


Rama membaca poin-poin kerjasama yang telah ditandatangani oleh rekan bisnisnya. Sepertinya Rama puas dengan hasil yang telah disepakati dan berakhir dengan pembubuhan tanda tangan rekan bisnisnya.


"Bagus, saya puas dengan kerja kamu. Bulan ini bonus kamu saya tambah." Ucap Rama seraya menandatangi berkas kerjasamanya dengan perusahaan xx.


Senyuman seketika menghiasi wajah tampan asisten pribadinya itu. Ivan tersenyum begitu lebar saat mendengarkan kata bonus yang bertambah.


"Terima kasih, Pak." Ucap Ivan dengan senyuman yang tak hilang dari wajahnya. Rama hanya mengangguk mendengar ucapan Ivan.


***


Hal yang sama dilakukan oleh Hasna di restoran. Semenjak pagi, perempuan itu masih bertahan di ruang kerjanya dengan tumpukan laporan dari gerai usahanya.


"Ini laporan keuangan restoran bulan ini, Mbak. Mohon di cek. Jika ada kesalahan, akan segera saya revisi." Ucap Hamzah.


"Terima kasih, Mas Hamzah. Akan saya pelajari dulu." Hasna mengambil map yang menejernya sodorkan.


"Kalau begitu, saya permisi, Mbak." Ucap Hamzah.


"Silahkan, sekali lagi terima kasih atas bantuannya." Ucap Hasna.


"Sama-sama, Mbak. Permisi." Hamzah segera berlalu dari ruangan Hasna.


Hasna kembali memeriksa laporan yang para pegawainya kirimkan via email. Baik dari restoran, toko kue maupun rumah katering. Sungguh pekerjaannya banyak sekali. Dan sepertinya ia akan pulang terlambat nantinya.


***


Jam menunjukkan pukul lima sore kurang lima belas menit. Deru mesin mobil memasuki pekarangan rumah. Tomi, laki-laki itu baru saja pulang dari kerja. Dan seperti biasa rumah selalu nampak sepi. Marissa pasti tengah berada di dalam kamarnya.


Satu bulan sudah mereka menikah, dan selama itu keduanya tidur di kamar yang terpisah. Sesuai apa yang Tomi katakan sebelum pernikahan mereka terjadi. Ia menikahi Marissa hanya demi anak dalam kandungan perempuan itu. Demi memberikan kejelasan status untuk calon anaknya. Dan selama itu pula, ia bertanggung jawab dengan kehidupan Marissa, tanpa menyentuh perempuan itu sama sekali.


Tomi membuka pintu ruang tamu, selalu saja dalam keadaan tidak terkunci. Laki-laki itu lantas melepaskan sepatu dan kaos kaki, lantas menyandarkan tubuhnya yang terasa lelah di kursi ruang tamu. Perlahan kedua matanya terpejam, menikmati sisa-sisa rasa letih yang mendera. Seharian menyelesaikan laporan akhir bulan bersama timnya, dan beberapa kali melakukan revisi. Sungguh tak hanya raga saja yang merasakan penat, namun pikirannya juga.


"Gue pengen keluar, gue bosen di rumah terus." Ucap Marissa. Tomi perlahan membuka kedua matanya dan mendapati sang istri sudah berdiri tepat di hadapannya.

__ADS_1


Marissa terlihat semakin cantik di usia kehamilan yang memasuki bulan ke enam. Tubuhnya pun semakin berisi dengan perut yang terlihat membulat.


"Kemana?" Tanya Tomi.


"Kemana aja, terserah gue." Jawabnya ketus.


Tomi kembali memejamkan matanya, kepalanya terasa berdenyut sekarang.


"Lo nggak denger, kalau gue pengen keluar?" Marissa mengulangi perkataannya.


"Pergilah jika itu bisa membuatmu senang. Tapi sebentar lagi maghrib. Nggak baik pergi di waktu seperti ini buat perempuan hamil." Ucap Tomi dengan mata yang masih terpejam.


"Ckkk...gue butuh duit." Ucap Marissa.


Sebenarnya perempuan itu masih memiliki tabungan di rekening pribadinya, tapi ia telah berjanji pada dirinya sendiri, ia tidak akan menggunakan sepeserpun uang pribadinya selama menjalani ikatan dengan Tomi. Biarlah semua biaya hidup, Tomi yang memikirkan. Karena pernikahan ini bukanlah keinginannya, namun keinginan lelaki itu.


Tomi kembali membuka matanya, sepertinya niatannya untuk segera sampai di rumah dan bisa beristirahat, sia-sia saja.


"Gue nggak ada uang. Ada cuma buat pegangan sebelum gajian." Ucap Tomi.


Setiap bulan ia memberikan uang untuk keperluan pribadi Marissa. Dan biaya rumah serta untuk hidup sehari-harinya, Tomi yang mengatur, karena Marissa tidak mau di pusingkan dengan urusan seperti itu.


Tomi mendengus pelan. Jujur saja, ia ingin selalu memberikan yang terbaik untuk istri dan calon anaknya. Tapi apalah daya, sebagai tulang punggung keluarga, ia tidak bisa mengabaikan ibu dan juga adik perempuannya begitu saja. Apalagi sebentar lagi Marissa akan melahirkan, pastinya membutuhkan biaya yang tidak sedikit.


Tomi sudah memikirkan semuanya secara matang-matang dengan segala kemungkinannya, jika nantinya Marissa tidak bisa melahirkan secara normal. Maka dari itu ia menyisihkan uang jatah kebutuhan pribadinya untuk biaya persalinan Marissa nantinya.


***


Rama baru saja selesai dengan kegiatannya di kamar mandi. Laki-laki itu nampak lebih segar sekarang. Dengan handuk yang melilit tubuh bagian bawahnya hingga sebatas pinggang, Rama menghampiri sang istri yang tengah merapikan pekerjaannya.


"Mau makan malam sekarang?" Tanya Hasna. Rama mengangguk sebagai jawabannya. Perempuan itu mengambil alih handuk yang ada di tangan Rama, dan membantu laki-laki itu mengeringkan rambutnya.


"Baiklah, aku tunggu di bawah, ya." Ucap hasna.


"Tunggu, mau kemana?" Rama menahan pergelangan tangan istrinya.


"Mau menyiapkan makan malam." Ucap Hasna.


"Di sini dulu sampai aku selesai ganti baju. Nanti aku bantu siapin makan malamnya." Ucap Rama.

__ADS_1


Hasna mengambilkan pakaian di atas tempat tidur yang telah ia siapkan sebelumnya untuk Rama.


"Kenapa?" Tanya Hasna saat Rama tak kunjung mengambil pakaian dari tangannya.


"Bantu aku." Bisik Rama, yang membuat Hasna membulatkan kedua matanya.


"Jangan melotot seperti itu, aku hanya ingin dibantu untuk memakainya. Atau kamu boleh melakukan apapun sebelum aku memakai pakaian ini." Goda Rama.


Tanpa di minta untuk yang kedua kalinya, Hasna segera memakaikan pakaian untuk Rama. Sebelum laki-laki itu mengucapkan kata-kata aneh lagi padanya. Hingga saat memakaikan benda keramat itu, jantung Hasna berdebar tak karuan.


"Jadi ingat saat bahu masih cidera. Kamu gemetaran saat memberikan underwear ini sama aku." Tawa pun pecah saat Rama mengingat kejadian itu. Mengingat ekspresi Hasna juga dirinya yang sama-sama canggung dengan wajah yang sama-sama menahan malu.


"Aku ingat sekali bagaimana wajah kamu saat itu. Merah seperti kepiting rebus." Kekeh laki-laki itu.


"Ini jadi di pasangin atau gimana? Atau aku turun saja?" Ucap hasna. Rama sangat menyebalkan di sini. Apa ia tidak tahu jika Hasna malu saat mengingat kejadian itu.


"Cie....dia ngambek." Rama mencolek dagu Hasna. Kedua pipi istrinya bahkan sudah bersemu merah.


"Sini, biar aku pakai sendiri." Rama mengambil pakaian yang belum ia kenakan dari tangan Hasna.


"Kalau sudah cepetan turun, ya. Aku tunggu di bawah." Hasna segera keluar meninggalkan Rama di kamar. Kalau tidak cepat mengambil langkah seribu, bisa gawat nantinya. Akan sangat berbahaya jika berlama-lama dengan Rama saat mode seperti ini.


Rama segera memakai sisa pakaiannya, lalu mengikuti sang istri yang telah terlebih dahulu pergi ke bawah.


"Masak apa, Sayang?" Rama berdiri tepat di belakang sang istri yang tengah memindahkan makanan ke piring. Ada beberapa menu di atas meja makan.


"Udang saus Padang, ikan bakar madu, sama sambal teri." Ucap Hasna.


"Sempet amat masak macem-macem? Katanya tadi pulang telat?" Hasna memang tadi sempat meminta izin jika akan pulang terlambat.


"Telat tiga puluh menit, sisanya kerjaan aku beresin di rumah. Kan aku punya tanggung jawab di rumah juga." Ucap Hasna. Rama mengangguk-anggukkan kepalanya.


Memang selama ini, walaupun Hasna adalah perempuan bekerja, namun ia tak pernah melalaikan tugas dan kewajibannya di rumah. Sebisa mungkin, ia akan pulang tepat waktu, atau setidaknya sebelum Rama tiba di rumah.


"Makan dulu." Hasna meletakkan sepiring nasi beserta lauknya.


Dan seperti biasa, mereka berbagi makanan dalam piring yang sama.


***

__ADS_1


__ADS_2