
Jantung Hasna serasa diremas kuat. Ia berharap ini hanyalah sebuah mimpi buruk. Dan dia ingin segera terbangun dari tidurnya.
Bukan, ini bukanlah mimpi. Ini sebuah kenyataan. Kenyataan yang begitu pahit disaat ia baru saja merasakan manisnya cinta Rama.
Bahkan baru kemarin ia membicarakan anak dalam pernikahan mereka. Tapi kini dia dihadapkan pada sebuah kenyataan bahwa ada perempuan lain yang mengandung calon anak suaminya.
Harga dirinya sebagai seorang istri seolah diinjak-injak. Tidak diperlakukan selayaknya seorang istri, mungkin itu masih bisa dia terima, seperti di awal pernikahan mereka. Tapi, justru ini yang ia peroleh. Suaminya lebih memilih wanita lain selain dirinya. Lalu, hal manis yang diperolehnya hampir dua bulan belakangan ini, apa artinya?
"Ha...Hasna..." Lirih Rama.
Laki-laki itu baru menyadari keberadaan istrinya. Entah sejak kapan perempuan itu berdiri diambang pintu ruangannya.
Ketiganya mematung, tidak ada yang membuka suara.
"Hasna, aku bisa jelaskan semuanya." Ucap Rama. Laki-laki itu berjalan mendekati istrinya.
Hasna tetap bungkam, tak sedikitpun ia ingin menjawab ucapan suaminya.
"Tidak perlu kamu menjelaskan apa-apa pada Mbak Hasna. Toh dia cuma kerabat jauh kamu, kan." Ucap Marissa.
"Tutup mulutmu dan pergilah. Keluarlah dari sini." Ucap Rama penuh penekanan.
Lelaki itu berusaha agar emosinya tidak meledak saat itu juga. Ini kantor, tak sepantasnya permasalahan di luar pekerjaan di selesaikan di sini.
"Kenapa kamu malah mengusir aku? Aku berhak disini. Aku berhak karena aku mengandung anak kamu." Ucap Marissa ngotot.
"Hentikan omong kosongmu, Marissa." Bentak Rama.
"Aku tidak berbicara omong kosong, Rama. Ini anak kamu. Mungkin kamu melupakan kejadian itu, tapi aku tidak pernah tidur dengan lelaki lain selain kamu." Ucap Marissa meyakinkan.
Sungguh diam itu begitu menyiksa. Itulah yang Hasna rasakan saat ini. Mendengarkan perdebatan dua orang dihadapannya, malah membuat perempuan itu semakin terinjak harga dirinya.
Hasna berjalan mendekat pada keduanya.
Plaakk...
Satu tamparan mendarat di pipi kiri perempuan yang mengaku telah hamil anak suaminya.
Baik Marissa maupun Rama, keduanya terkejut atas tindakan Hasna. Bahkan Rama tidak pernah berpikiran jika istrinya akan melakukan hal itu. Saat menghadapi Resty waktu itu, Hasna hanya menyerang Resty dengan kata-kata. Tapi dengan Marissa, justru perempuan kalem itu memilih melayangkan tangannya.
Wajah perempuan berjilbab biru itu sungguh tenang, walau sebenarnya hatinya begitu terluka. Ia tidak mau sampai meluapkan kekesalan kepada orang yang salah. Anggap saja tamparan barusan adalah bentuk sebuah pengingat untuk perempuan yang tidak bisa menjaga kehormatannya.
Marissa mengusap pipi yang terasa kebas kerena tamparan Hasna yang cukup keras. Perempuan itu menatap nyalang pada Hasna. Marissa tidak terima diperlakukan demikian oleh perempuan yang hanya berstatus sebagai kerabat jauh Rama.
"Kamu menamparku? Kamu tau, aku sedang mengandung calon penerus keluarga Suryanata? Aku tidak akan pernah memaafkan kamu. Kamu bukan siapa-siapa disini. Jadi pergilah, jangan campuri urusan kami." Ucap Marissa penuh emosi.
"Ya, kamu benar. Aku bukan siapa-siapa." Ucap Hasna seraya menoleh ke arah Rama, membuat laki-laki itu tak mampu mengatakan apapun.
"Anggap saja tamparan tadi adalah sebuah pengingat. Pengingat agar menjadi wanita terhormat. Wanita yang akan menjaga kehormatannya untuk suaminya, bukan untuk lelaki lain." Suara Hasna begitu tenang saat mengucapkannya. Padahal di hatinya tengah bergejolak menahan amarah, rasa kesal, kecewa, juga benci.
Ucapan Hasna barusan sukses menampar mental keduanya. Terlihat Rama memejamkan kedua matanya. Laki-laki itu seolah tak memiliki nyali untuk menatap istrinya.
Betapa tidak. Di usia pernikahan yang menginjak empat bulan, belum pernah sekalipun ia membahagiakan Hasna.
Jujur, ia mulai mencintai Hasna sebagai seorang istri. Bahkan baru sesaat mereka merasakan manisnya pernikahan. Tapi kenapa disaat yang bersamaan masalah sebesar ini datang menghancurkan semuanya. Ini bagaikan bom waktu baginya.
"Maaf, maafkan aku. Maaf, aku datang disaat yang tidak tepat. Maaf, aku sudah mengganggu waktu kalian." Ucap Hasna menahan getaran suaranya.
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Hasna segera pergi meninggalkan ruangan Rama. Bahkan ia menulikan telinga saat Rama memanggilnya.
Segera ia memasuki lift saat pintunya terbuka. Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya menerobos keluar. Sesak sekali rasanya.
setelah sampai lantai dasar, segera ia menuju parkiran. Dia tak mau berlama-lama disini. Ia tak ingin sakit hati lagi.
"Mbak Hasna." Panggil Ivan, yang kebetulan baru selesai dengan pekerjaan di luar.
Segera ia mengusap kasar air mata yang masih menggenang. Jangan sampai orang lain mengetahui keadaanya yang tidak baik-baik saja.
Setelah menghirup nafas panjang, ia pun mengatur senyuman untuk menyembunyikan perasaannya saat ini.
"Pak Ivan, apa kabar?" Ucapnya dengan senyuman senatural mungkin.
"Baik. Mbak Hasna ada perlu sama Pak Rama?" Tanya Ivan.
Rupanya lelaki itu tak sengaja melihat air mata yang sedikit tersisa di sudut mata Hasna.
"Urusan kami sudah selesai. Saya permisi. Assalamu'alaikum." Perempuan itu pergi meninggalkan Ivan, tanpa menunggu asisten muda itu membalas salamnya.
"Wa'alaikum salam." lirih Ivan.
Dari cara Hasna berbicara, sepertinya perempuan itu tengah menghindari dirinya. Entahlah.
Laki-laki itupun masuk setelah mobil yang ditumpangi Hasna menghilang di balik gerbang.
***
Emosi Rama sudah berada di ubun-ubun, dan siap meledak kapan saja. Andaikan yang ia hadapi seorang perempuan, pasti akan ia hadiahkan bogem mentah tanpa basa-basi. Marissa perempuan, tak pantas ia melakukan kekerasan fisik pada mantan sekretarisnya itu. Mama dan adiknya seorang perempuan. Pasti akan sangat memalukan sekali jika ia melakukannya. Maka dari itu ia membiarkan Hasna menampar Marissa seperti tadi. Rama rasa itu sudah cukup membantu agar Marissa menghentikan omong kosongnya.
Rama menatap tajam, perempuan yang masih memegang pipinya yang kemerahan. Tamparan Hasna cukup kuat dan meninggalkan jejak merah di pipi Marissa.
"Aku tidak terima diperlakukan Hasna seperti ini. Dia terlalu lancang ikut campur urusan kita. Aku mau kamu segera mengusirnya." Terdengar protes dari mulut Marissa.
"Kau memang pantas diperlakukan seperti itu." Jawab Rama acuh.
"Rama, aku ini sedang mengandung anak kamu. Harusnya kamu melindungi aku, demi anak kita." Ucap Marissa sedikit meninggi.
"Dia bukan anak saya. Dia anak kamu. Untuk apa saya repot-repot melindungi perempuan seperti kamu?" Jari telunjuk Rama terarah tepat di perut Marissa, juga perempuan itu secara bergantian.
"Rama, aku berani bersumpah jika ini anak kamu. Apa kamu tidak melihat usia anak ini di hasil USG itu. Di sana tertera jika usia kehamilanku baru jalan satu bulan." Perempuan itu masih saja ngotot.
Rama tersenyum miring kepada Marissa. Laki-laki itu kembali berjalan menuju meja kerjanya. Wajahnya terlihat sedikit tenang sekarang.
"Kamu begitu yakin sekali, jika anak itu adalah anak saya."
"Ini memang anak kamu, Rama. Aku tidak berbohong. Aku hanya ingin kamu memberikan pengakuan kepada dia. Dia tidak bersalah." Isakan kembali terdengar dari bibir Marissa.
"Baiklah, saya akan mengakui jika memang benar itu anak saya. Saya akan memberikan nama saya padanya, jika benar dia darah daging saya." Marissa tersenyum lebar mendengarnya. Tangannya mengusap lembut perut yang sedikit membuncit di balik dress itu.
"Dengar kan, Sayang. Mommy sudah bilang, jika Daddy akan mengakui kamu sebagai anaknya." Marissa berbicara dengan perut yang diusapnya.
Rama tersenyum menyeringai mendengarnya. Rasanya ia ingin melempar Marissa dengan tumpukan berkas di atas mejanya. Tapi sangat sayang sekali, itu berkas-berkas penting. Bisa mengakibatkan kerugian nantinya.
Rama mengambil ponsel yang sedari tadi ia letakkan di atas meja kerjanya. Setelah mengutak-atiknya sebentar, Rama kembali meletakkannya di atas meja.
"Pak Dirga, maaf. Boleh saya bertanya sesuatu?"
__ADS_1
Terdengar suara Rama, ternyata laki-laki itu tengah memperdengarkan sebuah rekaman suara pada Marissa.
"Silahkan, Pak Rama. Kita bisa berbincang santai."
Sekarang terdengar suara Pak Dirga, mereka sedang berbincang.
"Maaf, apa sebelum pertemuan kita hari ini, Pak Dirga membuat janji melalui sekretaris saya?"
"Tidak, kenapa, Pak Rama? Apa ada sesuatu?"
"Tidak, Pak. Saya hanya memastikan saja jika saya tidak melewatkan temu janji dengan Bapak. Karena dua hari belakangan ini saya tidak berada di kantor. Saya hanya merasa tidak enak jika pertemuan sebelumnya di reschedule."
"Selama tiga hari, kami ada urusan di luar kota, Pak Rama. Makanya pertemuan baru bisa kita lakukan hari ini."
Raut wajah Marissa terlihat menegang.
(Hening, hanya terdengar suara sendok, garpu juga piring yang tengah beradu)
"Bu Mala, bisa saya minta tolong. Maaf jika merepotkan."
"Silahkan, Pak Rama. Apa yang bisa saya bantu?"
Terdengar suara seorang perempuan, pasti suara sekretaris Pak Dirga.
"Emm...sebenarnya saya tidak enak mengatakannya, karena akan merepotkan ibu nantinya, dan terkesan tidak profesional dalam bekerja."
"Tidak apa-apa, Pak Rama. Anda tidak perlu sungkan. Jika saya bisa membantu, dengan senang hati saya akan bantu Pak Rama."
"Maaf, apakah nanti saya bisa minta salinan file pembahasan poin kerjasama yang kita bahas hari ini? Maksud saya, ada beberapa poin yang belum sempat saya masukkan ke dalam list. Biasanya saya selalu mengajak asisten atau sekretaris saya, tapi untuk kali ini keduanya sedang berhalangan. Jadi, saya sedikit kerepotan. Saya mohon bantuannya. Agar kedepannya tidak terjadi kesalahan."
"Ah, baik, Pak Rama. Anda tidak perlu mengkhawatirkannya, saya sangat paham akan hal itu. Memang akan sangat repot jika tidak membawa asisten atau sekretaris saat ada pertemuan penting seperti sekarang. Nanti akan segera saya kirimkan via email."
"Terima kasih banyak, Bu Mala. Saya sekali lagi mohon maaf, karena untuk pertemuan kali ini saya sedikit terlambat hingga membuat Pak Dirga dan Bu Mala menunggu saya."
"Ah, Pak Rama, tidak perlu sesungkan itu kepada kami. Kami mengundang Pak Rama juga jauh-jauh hari dan baru mengingatkan kembali dua jam yang lalu. Kami bisa memahami jika jadwal Pak Rama sangatlah padat. Terlebih posisi Pak Rama sebagai seorang pemimpin yang pastinya sangat sibuk."
"Bapak, bisa saja."
"Maaf, karena tadi kabar saya dapatkan dari Ivan, karena kebetulan Marissa tengah cuti, jadi mungkin dia baru mengatakannya pada Ivan beberapa saat sebelum saya kemari. Terlebih tempat pertemuan yang berubah."
Jantung Marissa dipaksa untuk berdetak lebih cepat. Bahkan jemari tangannya saling meremas.
"Maaf, Pak. Saya memang mengundang Pak Rama melalui Pak Ivan. Jadi saya rasa kami yang terlalu mendadak saat mengingatkan kembali pertemuan ini. Jadi maafkan kami. Dan untuk tempat, saya rasa, kami tidak merubahnya."
"Jadi bukan pada Marissa? Maaf, saya pikir Bu Mala menghubungi Marissa yang tengah cuti. Jadi kemungkinan, Marissa sedikit terlambat menyampaikan pesan ini melalui Ivan."
"Tidak, Pak. Saya tidak pernah menghubungi sekretaris Pak Rama. Karena saya selalu menghubungi Pak Ivan secara langsung jika ada pesan dari Pak Dirga."
"Sekali lagi saya mohon maaf, mungkin saya juga salah dengar saat Ivan mengatakan tempat pertemuan yang saya pikir berbeda. Mungkin saya yang tidak fokus saat Ivan menyampaikannya."
"Tidak apa-apa, Pak Rama. Santai saja. Kita bekerjasama bukan hanya sekali ini saja, bukan. Jadi saya sangat paham kesibukan Pak Rama.
Wajah Marissa bertambah pias setelah rekaman usai.
"Bagaimana menurut kamu, nama apa yang pantas saya berikan untuk calon anak, yang konon katanya anak saya? Apa kamu ada ide?" Ucap Rama santai. Mengejek lebih tepatnya.
Marissa nampak menegang. Rama kembali mengambil ponselnya. Lalu meletakkannya kembali. Dapat Marissa lihat dengan jelas, adegan demi adegan yang di suguhkan di layar ponsel itu. Nafasnya serasa terhenti. Perempuan itu terlihat gelisah, bahkan tidak berani menatap ke arah Rama sama sekali.
__ADS_1
***