
Rama turun seorang diri menuju meja makan. Seluruh anggota keluarganya tengah menikmati makan malam mereka dengan tenang, hingga kehadirannya menjadi pusat perhatian.
"Sendirian saja? Mana istri kamu?" Tanya Papa karena tak melihat menantunya ikut serta.
"Hasna ada di kamar." Jawab Rama.
"Kenapa tidak makan malam sekalian?" Tanya Mama.
"Ee..." Rama mengusap tengkuknya, bingung jawaban apa yang akan ia berikan.
"Habis di apa-apain ini pasti. Coba Nay cek." Nayla hendak beranjak.
"Mau kemana kamu?" Ketus Rama.
"Mau lihat Mbak Hasna."
"Nggak usah." Cegah Rama.
"Kenapa?"
"Tanpa alasan, dan jangan bertanya." Ucap Rama tegas.
Menyebalkan sekali Kakak laki-lakinya itu. Hanya ingin melihat Kakak iparnya saja sudah mendapatkan peringatan keras. Nayla mengerucutkan bibirnya dengan sempurna.
"Galak bener. Kasihan banget ntar ponakan-ponakan Nay, punya Papa galaknya minta ampun." Cicitnya.
"Emangnya Hasna kenapa? Hasna sakit?" Tanya Mama.
"Hasna baik-baik saja, Mama tidak perlu khawatir." Jawab Rama.
Laki-laki itu mengambil sepiring nasi lengkap dengan lauk serta pelengkapnya, juga segelas air putih. Membuat semuanya memperhatikan gerak-geriknya.
"Buset, Kak Rama mau makan segitu banyak? Habis maraton berapa kali putaran emang?" Decak Nayla.
"Habis push up berapa sesi kamu?" Ledek Papa.
Rama tak menghiraukan ucapan adik juga ayahnya. Laki-laki itu lalu berdiri dengan membawa makanan juga segelas minuman.
"Rama mau makan di atas."
Papa melihat ke arah putra sulungnya itu dengan tatapan penuh menyelidik, dan itu Rama menyadarinya.
"Mau lanjutin ritual, Pa. Push up nya masih ada lima sesi lagi." Ucap Rama, membuat semua yang ada di sana menggelengkan kepala.
"Kelakuan anak kamu, makin tua makin_"
"Sama kayak bapaknya." Sahut Mama sedikit ketus. Nayla tergelak mendengarnya.
"Ternyata Kak Rama versi lite nya Papa?" Kekeh Nayla.
"Kamu juga anak Papa, kamu juga bisa berpotensi sama dengan Rama." Ucap Papa. Nayla semakin tidak bisa menghentikan tawanya.
***
Hasna kembali merebahkan tubuhnya selepas sholat berjamaah dengan Rama. Jangan lupakan gelungan selimut tebal di tubuhnya.
"Apa kamu tidak mau berbagi selimut?" Tanya Rama, karena selimut hampir membungkus Hasna seluruhnya.
"Mas Rama kan bisa ambil selimut yang lain." Rama membuang nafasnya kasar.
Jam masih mengarah tepat pada angka 8. Masih terlalu dini untuk tidur. Rama memutuskan untuk ke balkon kamar.
Langit terlihat cerah malam ini, namun hati Rama begitu gelisah. Pikiran Rama benar-benar kacau semenjak kejadian siang tadi. Ia mencoba untuk mengingat kembali kejadian sebelum akhirnya berada di dalam satu kamar yang sama dengan Marissa, bahkan berbagi selimut yang sama dengan perempuan itu.
Undangan makan siang yang dibatalkan. Tiba-tiba dirinya dalam keadaan yang tidak sadar. Lalu penampilannya yang tidak mengenakan pakaian, bahkan celananya terbuka. Apa benar ia telah melakukan tindakan yang melanggar norma terhadap Marissa? Tapi pakaian sekretarisnya itu masih lengkap. Tapi tunggu, bukankah Marissa sempat berjalan sedikit tertatih saat bangun dari tempat tidur? Apa jangan-jangan, ia memang sudah melakukannya?
Rama bukan orang yang berpengalaman urusan ranjang. Ia tidak pernah tau hal semacam itu. Bagaimana bisa ia membedakan telah melakukannya atau tidak, terlebih dalam keadaan yang tidak sadarkan diri. Mungkinkah dirinya memang memaksa Marissa saat melakukannya?
Memikirkan itu membuat kepalanya semakin berdenyut. Bagaimana nanti jika Hasna mengetahuinya? Ia pernah merasakan sakitnya penghianatan. Bahkan rasa sakit itu tidak bisa ia lupakan walau dalam kurun waktu yang lama. Dan sekarang, ia yang telah menghianati Hasna.
"Tidak, tidak, aku tidak pernah menghianati Hasna. Aku bukan lelaki seperti itu." Gumamnya pelan.
Sekilas ia melihat ke arah ranjang, dimana Hasna berada. Perempuan itu yang telah membuatnya kembali merasakan cinta. Bahkan Hasna juga yang telah menerima buruknya masa lalu yang dimilikinya. Bagaimana bisa ia menghianati perempuan sebaik Hasna?
__ADS_1
"Aaakkhh..." Rama mengeram frustasi.
Segera ia masuk kembali ke dalam kamar. Menghampiri istrinya yang tengah tertidur lelap. Disibakkannya selimut tebal yang membungkus tubuh Hasna, hingga membuat perempuan itu terkejut dan kembali terjaga.
"Mas Rama, ada apa?" Tanya Hasna.
Tidak menjawab, justru laki-laki itu meraih tubuh Hasna, memeluk erat tubuh perempuan itu. Bisa Rama rasakan hangat tubuh istrinya. Di usapnya lembut punggung itu. Punggung yang hanya berbalut kemeja putih miliknya.
"Aku sangat mencintaimu, Hasna. Sangat mencintaimu." Lirihnya. Hasna terdiam mematung dalam dekapan Rama.
Apakah itu ungkapan cinta dari suaminya? Benarkah jika Rama sudah jatuh cinta kepadanya?
"Aku mencintaimu." Ulangnya.
"Ya, aku juga mencintai Mas Rama." Ucap Hasna.
"Jangan pernah tinggalkan aku, apapun yang terjadi." Hasna mendengar kalimat itu untuk yang kedua kalinya dari Rama.
Hasna mengurai pelukannya, menatap manik pekat Rama yang terlihat sayu.
"Kenapa Mas Rama mengatakan itu lagi? Aku tidak akan meninggalkan Mas Rama. Mas Rama suamiku. Aku akan pergi, jika Mas Rama yang memintanya."
Rama menangkup kedua pipi Hasna, menatap lekat mata teduh itu.
"Apapun yang terjadi, tetap percayalah padaku. Apapun yang terjadi, jangan pernah tinggalkan aku. Berjanjilah Hasna." Pinta Rama.
Hasna terdiam, mencerna setiap perkataan Rama. Apa maksud dari perkataan suaminya itu. Seperti ada hal yang tengah laki-laki itu alami, dan mencoba untuk menutupinya.
"Apa ada sesuatu?" Tanya Hasna.
Tiga kata yang membuat Rama susah menelan ludah. Kerongkongannya terasa kering. Lidahnya terasa kelu. Sulit baginya mengatakan jika ada hal besar yang tengah menimpanya. Tapi, perasaan istrinya jauh lebih penting untuk ia jaga.
Rama menggelengkan kepalanya perlahan. Menarik sudut bibirnya menjadi lengkungan. Ia tidak akan mengatakan apapun sampai ia mengetahui kebenarannya.
"Tidak, hanya saja aku takut kehilangan perempuan yang menjadi incaran banyak lelaki." Ucap Rama dengan seulas senyuman.
Hasna ikut tersenyum mendengarnya. Tapi di hati kecilnya ia masih merasa jika ada sesuatu yang tengah Rama tutupi. Ia tidak boleh terbawa emosi. Ia akan memberikan Rama waktu, sampai pada akhirnya laki-laki itu mengatakan dengan sendirinya.
***
Rama memasuki lobi dan berlalu hingga masuk ke dalam lift. Sampai di lantai tujuh, Ivan sudah menyambutnya. Asisten itu menyerahkan laporan pengajuan kerjasama dengan perusahaan xx kemarin.
"Baiklah, terima kasih informasinya." Ucap Rama.
Laki-laki itu berlalu menuju ruangannya.
"Ivan." Panggilnya.
"Iya, Pak?"
"Apa Marissa belum datang?" Rama melihat meja kerja sekretarisnya itu masih rapi dan kosong.
"Hari ini kebetulan Marissa mengajukan cuti hingga tiga hari ke depan." Ucap Ivan.
"Cuti?"
"Iya, Pak. Marissa mengatakan jika ada kepentingan mendadak yang harus segera di selesaikan." Rama membuang nafasnya kasar.
Tidak masalah, setidaknya ia bisa bernafas lega tanpa melihat Marissa. Perempuan itu membuat dirinya harus waspada. Kejadian kemarin belum sempat ia selidiki kebenarannya.
***
Rama berdiam di ruangannya. Berkas-berkas masih ia biarkan bertumpuk rapi. Kejadian kemarin benar-benar menyita konsentrasinya.
Di satu sisi ia meyakini jika dirinya tidak melakukan tindakan yang melanggar norma. Tapi di sisi yang lain, ia merasa bimbang. Andaikan ia memang telah lepas kendali di bawah alam sadarnya, dan telah melakukan sesuatu pada Marissa, lalu apa yang harus ia lakukan? Mempertanggung jawabkan perbuatannya, ataukah tetap bertahan dengan pernikahannya?
Hanya memikirkannya saja, kepala rasanya mau pecah. Baru ia akan membuka lembaran baru dalam kehidupan rumah tangganya dengan Hasna, sekarang sudah muncul masalah baru yang cukup rumit. Masalah yang sudah dipastikan akan menjadi pemicu kehancuran hubungannya dengan Hasna.
"Tidak, ini tidak bisa dibiarkan berlama-lama seperti ini. Masalah ini akan menjadi bom waktu nantinya. Aku harus cepat bertindak. Jangan sampai masalah ini menghancurkan semuanya." Gumamnya.
Rama meraih ponsel yang tergeletak di atas meja kerjanya. Mencoba mencari nama dalam daftar buku teleponnya. Belum sempat menemukan, satu panggilan masuk dari ibunya.
"Mama?" Lirihnya.
__ADS_1
"Halo, Ma?" Ucap Rama setelah panggilan tersambung.
"Halo, sayang. Kamu sibuk nggak?" Rama mengerutkan keningnya, tumben Mama bertanya kesibukannya.
"Emmm...tidak terlalu, ada apa?"
"Kamu bisa ke butik XZ, sekalian ajak istri kamu. Kalian perlu fitting baju pengantin, bukan?" Rama menggaruk pelipisnya dengan jari telunjuk.
"Harus sekarang ya?" Rama melihat jam di tangannya.
"Tahun depan aja, nunggu istri kamu ada yang ngelamar." Jawab Mama dengan entengnya, membuat Rama membolakan ke dua matanya dengan sempurna.
"Tunggu satu setengah jam lagi, Rama akan segera sampai di sana bersama Hasna." Jawabnya cepat.
"Good boy. Mama tunggu ya." Sambungan pun terputus.
Sungguh ampuh sekali ancaman Mama. Hanya mengatakan hal yang menyangkut tentang Hasna, pasti putranya itu akan langsung mematuhi tanpa adanya negosiasi lagi. Hingga membuat Rama hilang fokus dengan tujuan awalnya membuka ponsel.
***
Sesuai permintaan Mama, Rama dan Hasna pergi ke butik XZ untuk fitting baju pengantin. Sudah beberapa kali Hasna mengganti pakaian, namun tidak ada yang sesuai dengan selera Rama. Entah bagaimana gaun yang diinginkannya untuk di pakai Hasna.
"Kalau yang ini?" Tanya Mama.
Hasna keluar memakai gaun panjang penuh dengan payet mewah, tapi tetap saja membuat Rama bergeming di tempatnya. Sorot mata itu terlihat enggan.
"Kenapa? Nggak cocok lagi?" Sewot Mama. Hasna mendengus melihat ekspresi yang Rama tunjukkan.
"Mas Rama, aku capek loh." Terdengar rengekan dari istrinya. Mengingat Hasna sudah mencoba tujuh gaun, dan tetap tidak ada yang cocok bagi Rama.
"Emm...maaf, apa ada request tertentu dari Masnya?" Tanya pemilik butik. Laki-laki gemulai itu mencoba memberikan solusi, jika memang ada yang Rama inginkan untuk gaun pernikahannya nanti.
"Saya tidak suka gaun yang terlalu mengekspos lekuk tubuh, terlalu ramai dengan hiasan, juga terlalu menonjolkan kecantikan istri saya." Ucap Rama.
Dua keinginan Rama masih bisa disiasati, tapi permintaan terakhirnya, itu sih lebih karena sikapnya yang posesif. Pada dasarnya Hasna sudah cantik, gaun pengantin hanyalah penunjang.
Pemilik butik meminta salah satu pegawai yang membantu Hasna mengganti gaun untuk mengambilkan koleksi gaun yang lain.
"Bagaimana dengan yang ini?" Tanya pemilik butik.
Sebuah gaun broken white dengan aksen payet di bagian dada dan perut. Gaun yang cukup simpel.
"Boleh, coba dulu." Rama melirik Hasna yang sudah bermuka masam. Perempuan itu lelah berganti gaun, dan ini akan menjadi gaun kedelapan yang akan di cobanya. Semoga saja, cocok dengan selera Rama.
Hasna mengikuti pegawai itu ke ruang ganti untuk mencoba gaun. Sedangkan Mama menatap Rama dengan tatapan jengah.
"Jika sampai gaun ini tidak juga sesuai dengan selera kamu, lebih baik kamu yang coba gaun selanjutnya. Biar kamu tau rasanya mengganti pakaian berulang." Omel Mama.
Pemilik butik terlihat menahan tawanya saat mendengar ucapan Bu Diana barusan. Membayangkan jika putra tampannya itu yang mengenakan gaun pengantin, pasti akan sangat lucu sekali.
"Kalau Mas yang pakai gaun, aku mau tuh jadi pendampingnya." Goda pemilik butik dengan ekspresi kemayunya.
Rama bergidik mendengarnya. Diperhatikannya laki-laki melambai itu, ternyata dia sedang tersenyum ke arahnya. Rama bergidik, membuat Mama juga pemilik toko tergelak.
Perhatian ketiganya teralihkan saat tirai ruang ganti terbuka, Hasna keluar mengenakan gaun yang tadi ditunjukkan oleh pegawai butik. Sangat pas di tubuhnya. Hiasan payet di bagian dada hingga perut membuat kesan manis. Bagian bawah gaun yang menjuntai lebar dengan bordiran di sekelilingnya. Membuat gaun terlihat elegan.
"Bagaimana, masih tidak cocok?" Tanya pemilik butik.
"Gaunnya sudah sangat simpel, masih nggak cocok juga?" Tanya Mama sedikit kesal.
Rama mendengus saat melihat tubuh bagian atas istrinya. Gaun itu memang simpel seperti keinginannya tapi sangat pas menempel di tubuh Hasna. Bahkan lekuk tubuh Hasna tercetak jelas.
"Kenapa bagian atasnya terlalu terbuka begitu?" Protesnya.
"Tenang ganteng, nanti kita kasih cape buat nutupin harta Mbak cantik." Pemilik butik mengerlingkan matanya nakal saat mengucapkan kata "harta".
Rama terdiam seketika. Bulu kuduknya meremang saat melihat laki-laki jadi-jadian itu.
"Dua minggu lagi bisa fitting ulang, kalau cucok langsung cus bungkus." Lanjutnya.
Sepertinya Rama tidak bisa berkutik saat menghadapi makhluk yang serupa dengan dirinya tapi memiliki aura seorang penari jaipong, gemulai. Rama hanya mengangguk setuju. Jangan sampai dirinya di colek seperti sabun. Apalagi jemari lentiknya sudah dekat dengan dagu Rama, membuatnya harus ekstra waspada.
***
__ADS_1