
"Perempuan hamil memang seperti itu. Kalau ada yang diinginkan, sulit untuk di tolak." Ucap laki-laki paruh baya itu.
Jangankan menolak, untuk sekedar menggeleng pun, rasanya tidak akan sanggup. Dan Rama baru saja mengalaminya malam ini. Walaupun dengan rasa kantuk yang datang dan pergi, ia tetap berusaha mencarikan apa yang menjadi keinginan istrinya. Pengalaman pertama yang luar biasa.
Rama kembali menyesap minuman rasa kopi di tangannya, lalu kembali berbincang dengan penjual mie ayam yang ia ketahui bernama Pak Somad. Percakapan mengalir begitu saja, sembari menunggu Hasna menyelesaikan makannya.
"Kenapa?" Tanya Rama, saat Hasna menghentikan kegiatannya, meletakkan kembali sumpit yang ia pakai.
"Nggak enak ya, Neng?" Tanya Pak Somad.
Hasna menggeleng dan menatap mie ayam di mangkuknya. Lalu pandangan itu beralih pada Rama.
"Ada apa?" Tanya Rama sekali lagi.
"Mas Rama habisin, ya?" Ucap Hasna.
Rama reflek membulatkan kedua netranya. Rasa kantuknya benar-benar hilang tanpa bantuan kopi saat mendengar permintaan Hasna. Ia di minta untuk menghabiskan sisa mie ayam di mangkuk Hasna. Bukan sisa sebenarnya, karena isinya masih sangatlah banyak. Hasna hanya memakannya sebanyak tiga kali suapan.
"Tadi katanya kamu lapar?" Rama berusaha menolak dengan memberikan alasan yang Hasna sampaikan tadi kepadanya.
"Tapi aku sudah kenyang, Mas." Polos sekali jawaban Hasna. Padahal jelas-jelas tadi saat di rumah ia mengatakan, jika ia tidak dapat tidur lantaran merasa lapar. Tapi sekarang?
"Tapi, Mas tidak terbiasa makan di jam seperti ini, Sayang." Rama mencoba memberikan pengertian pada sang istri, apalagi ia pun tidak terbiasa makan makanan seperti ini.
Lagi-lagi Rama di hadapkan wajah sendu istrinya, saat ia menolak apa yang Hasna minta. Sudah cukup, ia akan menurutinya kali ini. Karena ia tak akan sanggup menolaknya.
"Baiklah, sini kan mangkuknya." Pinta Rama.
Dengan senyuman mengembang, Hasna dengan penuh semangat menggeser mangkuk di hadapannya.
"Wanita hamil, keinginannya susah di tebak memang." Ucap Pak Somad sembari tersenyum, kemudian melanjutkan merapikan peralatannya.
"Ayo, Mas. Keburu pagi ntar." Ucap Hasna tidak sabar.
Keburu pagi? Yang benar saja. Ini bahkan sudah hampir pukul satu dini hari. Dan Rama di paksa untuk menghabiskan makanan yang masih banyak ini. Oh ayolah, padahal sebelumnya ia tidak bermimpi apa-apa sebelum Hasna memintanya memakan sisa mie ayam miliknya.
Ragu-ragu Rama mulai memakan mie ayam menggunakan sumpit bekas istrinya. Betapa girangnya Hasna, saat sang suami memenuhi permintaannya.
"Ayo, Mas. Cepat habiskan." Ucap Hasna saat mie masih tinggal setengah.
"Tapi, Sayang, aku rasanya sudah tidak sanggup." Ucap Rama memelas.
"Ayolah, Mas. Kan sayang kalau di buang. Kasihan juga Pak Somad udah capek-capek bikin." Rengek Hasna.
__ADS_1
Hufft...kalau sudah begini, mau bagaimana lagi? Rama berusaha menghabiskan sisa makanan di mangkuknya. Perutnya sudah benar-benar tidak bisa lagi menampungnya. Di jam sepagi ini, ia di minta untuk memakan mie. Pertama kali dan Rama harap untuk terakhir kalinya juga. Beruntungnya tidak Hasna tambahkan cabai. Kalau tidak, bisa-bisa ia akan menjadi penghuni toilet selama beberapa jam kedepan.
"Alhamdulillah." Ucap Hasna saat Rama barhasil menghabiskan mie ayam hingga tak bersisa.
Jangan tanyakan bagaimana Rama, laki-laki itu hampir tak berdaya dengan perut yang terasa sangat penuh. Bahkan rasanya ia pun susah untuk bergerak. Kalau ini namanya bukan lagi ngidam, tapi mengerjai suami.
"Ayo, Mas, kita pulang." Ucap Hasna bersemangat.
"Sebentar, Sayang. Mas masih belum sanggup melanjutkan perjalanan. Kalau di paksa bisa muntah nanti." Ucap Rama dengan lemasnya.
"Baiklah, kita tunggu lima belas menit lagi. Setelah itu kita pulang." Ucap Hasna.
Pak Somad telah selesai dengan pekerjaannya, dan menghampiri sepasang suami istri itu.
"Sudah selesai, Neng?" Tanya Pak Somad sembari membereskan mangkuk bekas mie ayam milik Hasna.
"Sudah, Pak. Mie ayamnya enak. Terima kasih banyak." Ucap Hasna dengan begitu sumringahnya, seolah memang dia yang telah menghabiskan seporsi seorang diri.
"Alhamdulillah, padahal tadi sengaja bapak tambah porsinya, agar Neng dan bayinya merasa kenyang." Ucap Pak Somad sambil melirik Rama yang membolakan matanya dengan sempurna.
"Astaghfirullah, Pak. Makanya, kenapa porsinya banyak sekali." Ucap Rama lemas, membuat Pak Somad terkekeh mendengarnya.
"Begitulah, saya pun pernah mengalaminya. Bahkan lebih parah dari Mas Rama." Kekeh Pak Somad.
"Pas hamil anak kedua, malah lebih parah. Saat itu, istri saya minta makan ikan bakar. Tapi harus saya yang menangkap dan memasaknya. Iya kalau mau masak di rumah, mintanya di rumah makan yang ada kolamnya. Udah gitu minta sambalnya yang pedas. Kebetulan istri pecinta makanan pedas. Saya turuti saja, dari pada anak kami ileran nantinya." Kekeh laki-laki paruh baya itu.
"Setelah masakan mateng, kebetulan saya dibantu sama pagawai rumah makan, akhirnya kami menikmati ikan bakar hasil tangkapan dan masakan saya. Awalnya baik-baik saja, tapi kemudian istri menghentikan suapannya, padahal baru dua kali suapan." Hasna terlihat antusias mendengarkan cerita Pak Somad.
"Saya tanya kenapa, bilangnya kenyang gara-gara lihat saya masak tadi. Saya suruh saja, biarkan di situ, karena saya sendiri sedang makan nasi milik saya. Eh nggak tahunya saya diminta menghabiskan porsi miliknya. Mana nasinya sudah dicampur dengan bumbu pedas secara merata. Kebetulan juga saya tidak suka pedas. Mau menolak, istri seakan ingin nangis. Jadinya terpaksa saya habiskan. Dan alhasil, dua hari saya seperti penjaga ponten umum. Nggak bisa jauh-jauh dari toilet." Pak Somad pun tergelak mengingatnya.
Rama melihat ekspresi Hasna yang terkikik geli mendengar cerita penjual mie ayam itu dengan perasaan was-was. Jangan sampai cerita Pak Somad menjadi sebuah inspirasi untuk istrinya. Bisa terancam keselamatannya nanti.
"Sayang, aku udah mendingan. Kita pulang yuk. Kamu juga perlu istirahat. Pak Somad juga pastinya sudah ditunggu istrinya di rumah." Ucap Rama, berusaha agar Hasna tidak mendengar cerita ngidamnya istri Pak Somad.
Pagi-pagi buta ia sudah dipaksa menghabiskan semangkuk mie ayam. Jangan sampai ia di minta melakukan hal lainnya lagi seperti cerita Pak Somad. Karena tingkah dan mood Hasna tidak dapat di prediksi selama ia hamil.
"Pak, ini ada rezeki buat Bapak dan ibu. Mohon di terima, ya." Rama mengangsurkan lembaran uang merah yang baru saja ia ambil dari mesin ATM.
Dengan tangan bergetar, Pak Somad menerima uang dari Rama. Tak pernah sekalipun laki-laki paruh baya itu memiliki uang sebanyak yang Rama berikan kepadanya. Hanya dalam hitungan kurang dari satu jam, lembaran merah itu menjadi miliknya. Nominalnya tidaklah sedikit, karena Pak Somad yakin dari tebalnya lembaran di tangannya. Ibarat kata, uang segepok dalam genggaman.
"Harga mie ayam saya per porsinya hanya lima belas ribu, Mas Rama. Kalau ini namanya membeli mie, gerobak, sekalian warungnya." Ucap Pak Somad.
"Menurut saya, ini harga yang pantas, Pak. Bapak sudah membantu saya untuk menyenangkan istri." Rama mengulas senyuman hangat pada laki-laki yang usianya lebih tua dari ayahnya itu.
__ADS_1
"Tapi, Mas..."
"Di terima ya, Pak. Semoga menjadikan keberkahan bagi Bapak dan keluarga." Ucap Hasna menimpali.
"Ya Allah, terima kasih Mas Rama, Neng Hasna. Semoga rezekinya selalu melimpah. Neng Hasna sehat, lancar lahirannya." Ucap Pak Somad penuh haru.
"Aamiin... Terima kasih banyak doanya, Pak. Semoga bapak dan keluarga selalu diberikan kesehatan juga." Ucap Hasna.
"Oh iya, Pak. Rumah Pak Somad di sebelah sana kan?" Tanya Rama memastikan. Ia menunjuk rumah bercat hijau yang tadi Pak Somad tunjukkan.
"Iya, Mas Rama. Tapi masuk gang." Jawab Pak Somad.
"Bapak sudah selesai?" Tanya Rama.
"Sudah, Mas. Ini sudah siap-siap mau pulang."
"Lalu peralatannya?"
"Nanti shubuh saya ambil sama istri, Mas, sekalian di cuci. Masih panas soalnya." Kebetulan barusan dipergunakan kembali untuk membuatkan mie ayam untuk Hasna.
"Kalau begitu saya antar, Pak."
"Walah, ndak perlu, Mas. Jalan sebentar udah nyampek." Tolak Pak Somad.
"Nggak papa, Pak. Sekalian jalan."
Akhirnya Pak Somad ikut bersama Rama dan Hasna. Tepat di depan gang rumah Pak Somad, Rama memberhentikan mobilnya.
"Terima kasih banyak, Mas Rama, Neng Hasna, sudah repot-repot mengantarkan saya." Ucap Pak Somad.
Rama membuka seatbelt dan ikut keluar bersama Pak Somad.
"Pak Somad, ada sedikit rezeki buat Bapak dan keluarga." Rama membuka bagasi dan menurunkan tiga karung beras, gula juga beberapa bahan pokok lainnya, yang baru saja ia beli di minimarket.
"Masya Allah, Mas Rama. Kenapa saya jadi merepotkan seperti ini?" Ucap Pak Somad dengan mata berkaca.
"Mohon di terima ya, Pak. Kami tidak akan bisa membalas kebaikan Pak Somad pada kami." Ucap Rama.
"Masya Allah, saya bingung harus ngomong apa lagi. Mas Rama tadi sudah memberikan saya banyak uang, sekarang masih memberikan sebanyak ini sama saya." Pak Somad mengusap sudut matanya yang basah. Entah mimpi apa semalam, hingga mendapatkan rezeki sebanyak ini, gara-gara semangkuk mie ayam.
***
Author amatir nyoba double upðŸ¤
__ADS_1