Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 62


__ADS_3

Hasna masih terlelap saat mobil yang Pak Yanto kendarai masuk pekarangan rumah. Perempuan itu terlihat begitu letih. Wajah cantiknya terlihat damai.


Rama mengusap pipi Hasna dengan lembut. Tapi sepertinya perempuan itu benar-benar dikuasai rasa kantuk, hingga tak melakukan pergerakan sama sekali.


"Pak Yanto langsung ke paviliun, istirahat. Terima kasih sudah mengantar kami." Ucap Rama.


"Sama-sama, Den. Saya permisi."


"Silahkan, Pak." Pak Yanto segera berlalu menuju paviliun seperti yang Rama perintahkan. Sepertinya Pak Yanto pun merasa lelah dan ingin segera beristirahat.


"Hasna...bangun. Kita sudah sampai." Ucap Rama lembut. Tangannya masih setia membelai pipi halus istrinya.


Hasna semakin merangsek ke dalam pelukan Rama, mencari tempat ternyaman di sana. Diperlakukan Seperti ini membuat dada Rama berdesir. Ada perasaan bahagia yang membuncah.


"Hasna...ayo bangun..." Semakin erat perempuan itu memeluk pinggang suaminya.


Andaikan saja, cideranya sudah sembuh total, ia akan mengangkat tubuh istrinya untuk masuk ke dalam.


"Hasna...ayo bangun, nanti dilanjut lagi di kamar."


Hasna sedikit melonggarkan pelukannya. Kedua matanya perlahan terbuka. Rumah, itu yang ia lihat. Hasna hanya ingin segera beristirahat di dalam sana.


"Sudah sampai ya?" Tanya Hasna. Suara serak khas bangun tidurnya terdengar begitu manja di pendengaran Rama.


Perempuan itu terduduk tegak, berusaha mengembalikan kesadarannya. Rama tersenyum melihat tingkah istrinya. Sesekali kedua mata cantik itu ingin terpejam kembali.


"Sudah, ayo. Nanti di lanjut lagi di kamar."


Rama membuka pintu dan keluar terlebih dahulu. Ia menjulurkan tangan untuk membantu istrinya yang belum sadar sempurna.


Sesampainya di dalam, Hasna langsung menuju kamar miliknya di kamar tamu. Rama menggeleng kecil melihat sang istri yang sudah tidak bisa lagi menahan rasa kantuknya.


"Hasna, ganti dulu." Rama kembali membangunkan Hasna yang langsung merebahkan diri di atas ranjang.


"Hmmm..." Hanya terdengar gumaman kecil.


"Ganti baju dulu, nanti tidurnya nggak nyaman."


"Aku udah ngantuk banget, Mas." Gumamnya pelan. Rama menghembuskan nafas panjang mendengarnya.


"Aku bantu ganti, ya." Tawar Rama.


"Emmm..."


Tangan Rama terulur memposisikan Hasna untuk terlentang. Mungkin karena terlalu mengantuk, sehingga Hasna tidak mengambil posisi yang benar.


Rama membuka jilbab yang Hasna kenakan. Wajah istrinya selalu terlihat cantik. Untuk beberapa saat ia menikmati keindahan itu. Pandangannya terhenti saat melihat bibir yang selalu terlihat seperti ceri segar itu. Rama tersenyum dan menggeleng kecil saat memperhatikannya. Beberapa kali merasakan, rasanya ingin menikmatinya sekali lagi. Ah tidak, dua kali. Tidak, tidak, tiga kali. Ah, sepertinya empat kali. Atau berkali-kali. Kembali senyuman tercetak di bibir laki-laki itu.


Hasna melenguh saat tangan Rama menyusuri wajahnya. Sepertinya perempuan itu sedikit terusik oleh kegiatan sang suami.


Lagi, tangan usil Rama menyusuri wajah cantik istrinya. Mengusap lembut bibir yang selalu menggodanya itu. Perlahan Hasna membuka mata yang masih terasa berat. Senyuman Rama adalah hal yang pertama kali ia lihat.


"Mas Rama mau apa?" Gumamnya.


"Mau bantu kamu ganti baju." Tangan itu masih membelai wajah Hasna.


Hasna yang akan kembali terlelap, seketika tersadar akan ucapan suaminya.


"Ganti baju?" Ulangnya. Rama mengangguk.


"A...aku bisa sendiri." Hasna langsung terduduk dan beranjak menuju kamar mandi.


Tapi tak lama, perempuan itu muncul kembali dari balik pintu.


"Ada apa? Jadi mau aku bantuin? Tanya Rama. Hasna menggeleng.


"Aku belum bawa baju ganti." Jawab Hasna polos. Membuat Rama tergelak mendengarnya.


Hasna menuju lemari dan mengambil pakaian gantinya, tapi tangannya tertahan saat akan mengambil baju tidur lengan panjang. Rama mengambil gaun tidur berwarna maroon yang pernah Hasna kenakan dibrumah Mama saat ia tinggal ke luar kota. Gaun tidur di atas lutut denga lengan yang hanya di hiasi renda bunga-bunga.


"Pakai ini ya." Rama menyerahkan piyama pilihannya pada Hasna.

__ADS_1


Tak langsung menerima gaun pilihan suaminya. Justru Hasna mengamati gaunnya terlebih dahulu. Membuat Rama mengeryit heran.


"Kenapa?" Tanya Rama.


"Bajunya terlalu terbuka." Jawabnya polos.


"Kenapa? Kamu dingin kalau pakai baju ini?" Hasna menggeleng.


"Aku malu." Lirihnya.


"Sama siapa? Orang nggak ada siapapun di sini." Rama mengedarkan pandangannya, seolah mencari seseorang yang berada di kamar Hasna.


"Sama Mas Rama." Jawabnya.


"Kenapa malu? Bahkan kamu berpahala besar loh kalau pakai ini di depan aku."


Wajah Hasna merona. Rama menggoyangkan gantungan baju di tangannya. Malu-malu Hasna meraihnya dan langsung kembali masuk ke dalam kamar mandi.


Tak berapa lama kemudian Hasna keluar, dan mendapati Rama yang sudah rebahan di atas peraduan. Rupanya Rama sudah melepaskan kemejanya dan hanya menyisakan kaos putih polos. Mata laki-laki itu terpusat padanya. Rama menepuk sisi kosong di sebelahnya, Hasna menurut.


Rama merentangkan sebelah tangannya, agar Hasna masuk ke dalam pelukannya. Tangan kokohnya merengkuh tubuh sang istri dengan lembut. Di kecupnya beberapa kali puncak kepala perempuan itu.


Hasna merasakan kenyamanan saat berada dalam dekap hangat Rama. Tangannya terulur melingkari perut sang suami, membuat Rama menarik lengkungan di bibirnya.


"Boleh aku bertanya sesuatu?" Hasna mengangguk dalam dekapan Rama.


"Apa kamu bahagia dengan pernikahan kita?" Hasna sedikit mendongakkan wajahnya.


"Kenapa nanya gitu?"


"Ya...aku hanya ingin tau, bagaimana perasaan kamu selama mendampingiku selama dua bulan ini. Karena selama ini, aku tidak bisa memperlakukan kamu dengan baik." Ucap Rama.


Rama masih mengingat saat awal pernikahan mereka. Betapa ketusnya ia pada Hasna. Perkataan yang menyakitkan sering ia ucapkan. Bahkan tak jarang ia mendapati istrinya itu diam-diam mengusap air matanya.


Hasna kembali memeluk Rama. Masih basah dalam ingatan bagaimana perlakuan Rama saat awal pernikahan. Tapi itu dulu, sebelum mereka berusaha mengenal lebih dekat.


"Mungkin waktu itu, karena kita belum saling mengenal, jadi Mas Rama belum bisa menerima kehadiranku dalam hidup Mas Rama."


"Emang sekarang aku nggak baik ya?" Tanya Hasna.


"Bukan begitu maksudnya. Kita menikah karena perjodohan. Bahkan pertemuan pertama kita saat ijab qobul. Saat itu, aku benar-benar merasa duniaku dijungkir balikkan paksa. Aku laki-laki bebas yang belum berkeinginan untuk menjalani hubungan dengan sebuah ikatan. Tiba-tiba saja di paksa untuk menikah dengan perempuan yang tidak pernah aku kenal."


"Kenapa Mas Rama terima?" Hasna ingin tau apa alasan Rama menikahinya. Keterpaksaan pastinya beralasan, kan?


Rama menghirup nafas dalam-dalam. Matanya menatap langit-langit kamar yang masih terang.


"Aku terpaksa."


Dua kata yang mampu membuat sudut hati Hasna serasa tercubit.


"Aku terpaksa menerima perjodohan itu. Aku tidak memiliki alasan untuk menolaknya. Mama selalu mengatakan jika calon istri yang akan aku nikahi adalah seorang perempuan yang baik. Terlebih Mama dan Papa sudah mengenal keluarganya dengan baik sejak mereka muda."


"Mama juga selalu bilang jika dia perempuan yang bisa menjaga harga dirinya, juga harga diri suaminya kelak. Tak akan mungkin perempuan seperti itu akan menghianatiku nantinya."


"Jujur saja, aku sudah tidak bisa mempercayai jika ada perempuan seperti itu. Perempuan yang sudah aku kenal selama tiga tahun lamanya, tega mengkhianati aku, apalagi perempuan yang belum pernah aku kenal sebelumnya."


"Maka dari itu, aku memutuskan untuk segera mengajakmu tinggal di rumah ini setelah kita menikah. Aku tidak ingin siapapun mengetahui kondisi rumah tangga kita. Bagaimana perlakuanku padamu, aku tidak mau sampai orang tuaku tau. Mereka pasti kecewa padaku."


Ternyata apa yang pernah Hasna pikirkan saat itu, benar adanya. Rama hanya ingin menutupi keadaan rumah tangganya dari mertua. Dan mengapa saat mengetahui kenyataannya saat ini, membuat hatinya terasa nyeri. Pengakuan Rama membuatnya merasa seperti perempuan yang tak di harapkan kehadirannya.


"Bahkan sikapku selama ini, tak lain hanya ingin melihat sejauh mana kamu bisa bertahan di sisiku. Dan aku berharap kamu akan menyerah dan memilih pergi." Setetes cairan bening memaksa keluar dari sudut mata Hasna. Segera ia usap, jangan sampai Rama sampai mengetahuinya.


"Saat kecelakaan itu, aku berharap kamu menunjukkan sifat aslimu. Aku mau kamu merasakan jika kamu berjuang seorang diri. Kamu merasa capek dengan hubungan ini dan pergi meninggalkanku." Rama tersenyum getir mengingatnya.


"Aku ingin, kamu yang pergi dari hidupku. Aku ingin kamu yang mengakhiri semua ini. Aku tau jika kamu yang melakukannya, maka kedua orang tuaku tidak akan merasa kecewa begitu berat padaku."


"Tapi aku salah, semakin lama kamu berada di dekatku, kamu semakin membuat aku terjerat dalam lingkaran hubungan kita. Aku semakin tidak bisa lepas dari pernikahan ini."


"Sifatmu yang selalu memaafkan kesalahanku, seburuk apapun itu. Kelembutanmu, ketulusanmu, juga kasih sayang yang kau tunjukkan pada keluargaku, membuatku semakin jatuh hati." Kedua mata Rama terasa panas, seperti ada kabut yang menyelimuti. Rama menghirup nafas dalam, berusaha meredam emosi dalam dadanya.


"Bertahun-tahun aku membunuh perasaan yang membuatku hancur. Tapi selama aku mengenalmu, perlahan rasa itu muncul kembali. Aku pun tidak yakin jika itu rasa yang sama, tapi yang aku rasa sekarang, rasa yang jauh lebih indah dari rasa yang pernah aku miliki sebelumnya."

__ADS_1


"Pernah aku berfikir untuk tidak memberikanmu nafkah, agar kamu merasa jika aku bukanlah laki-laki yang baik dan tidak bertanggung jawab. Aku ingin kamu menganggap ku laki-laki brengsek yang tidak menghargai perempuan. Tapi justru aku pun malu saat mengetahui jika apa yang kau punya melebihi dari apa yang aku miliki." Rama memaksakan senyumannya.


"Jujur, aku tidak pernah mau tau siapa kamu, dari mana kamu berasal, bagaimana latar belakangmu, keluargamu, dan apapun tentangmu. Tapi saat ada dua lelaki yang terang-terangan menyatakan ketertarikannya padamu, membuat aku tersadar jika kamu perempuan istimewa. Karena mereka tertarik bukan hanya karena paras, namun kepribadian yang kamu miliki."


"Sejak saat itu aku mulai belajar meyakinkan diriku sendiri, jika kamu memang perempuan yang baik. Dan ternyata, kamu lebih dari baik, kamu istimewa." Rama mengeratkan pelukannya.


"Terlebih saat Nayla berhasil membuatku tersadar jika kamu benar-benar perempuan yang memiliki sejuta pesona. Bahkan aku masih ingat saat laki-laki brengsek itu mengatakan aku laki-laki tua, seolah aku tak pantas mendapatkan istri secantik kamu." Rama menghirup dalam-dalam aroma yang menguar dari rambut istrinya.


Rama merasa sedikit merasakan kelegaan setelah mengatakan apa yang mengganjal di hatinya selama ini. Tentang dirinya. Tentang Hasna di matanya. Tentang rumah tangga mereka.


"Jadi, katakanlah, apa kamu bahagia mendampingiku sampai detik ini?" Rama kembali mengulang pertanyaannya.


"Mas Rama mau aku jawab jujur apa sejujurnya?"


"Maksudnya?" Rama tidak paham dari kata yang Hasna sampaikan.


"Kalau aku jawab jujur, aku tidak perlu mengatakan alasannya mengapa. Tapi kalau_"


"Jawablah sejujurnya." Tukas Rama.


"Oke, tapi janji dulu, jangan sampai Mas Rama tersinggung."


Rama nampak berpikir, tapi ia ingin tau apa yang Hasna rasakan selama menjadi istrinya.


"Baiklah. Sekarang katakan."


Hasna menghirup nafas sepenuh dada. Berusaha setenang mungkin saat mengatakannya. Ia tidak mau jika terlihat lemah.


"Sejujurnya aku tidak pernah berfikiran akan menikah di usia seperti ini. Aku masih ingin bebas dengan kehidupan yang selama ini aku jalani. Bukan bebas dalam pergaulan anak muda seusiaku, bahkan aku tak memiliki teman dekat selain para pekerja di tempat usaha yang aku miliki."


"Lalu kenapa tidak menolak?"


"Sama seperti Mas Rama, saat itu Kakek menyakinkan jika putra sahabat almarhum ayah adalah laki-laki yang baik. Aku meminta petunjuk jika seandainya pernikahan ini memang benar-benar yang terbaik untukku. Tapi...."


"Tapi kenapa?" Tanya Rama penasaran.


"Tapi saat telah menjadi istri seorang lelaki yang kata Kakek laki-laki yang baik, aku menyadari sesuatu. Jika ujian pernikahanku baru di mulai."


"Bagaimana tidak sukanya suamiku padaku. Bagaimana cara ia memperlakukan aku. Sampai aku merasa jika aku berada di titik terendah dalam hidupku. Kakek yang selalu menyayangiku pergi meninggalkan aku untuk selamanya. Dan melimpahkan tanggung jawabnya pada lelaki yang Kakek rasa seorang laki-laki yang baik. Tapi yang aku dapat tidak pernah terbayangkan sebelumnya."


"Dia menolakku, membatasi apa yang seharusnya aku lakukan sebagai seorang istri. Bahkan mengatakan jika aku kerabat dari ayahnya. Aku merasa jika aku benar-benar tidak diinginkan. Dan sempat menyerah dengan keadaan." Ya, Rama masih mengingatnya.


"Maaf." Lirih Rama. Laki-laki itu kembali mengeratkan pelukannya.


"Tapi, semua aku kembalikan pada Pemilik hati. Jika memang Mas Rama adalah yang terbaik untukku, aku memohon agar hatinya selalu terjaga hanya untukku. Jika tidak, maka ia akan dengan sendirinya meninggalkan aku." Hasna menghirup nafas dalam.


"Dan jika sekarang Mas Rama bertanya apakah aku bahagia? Ya, aku bahagia. Aku bahagia karena Mas Rama bisa menerima kehadiranku." Hasna menelusupkan wajahnya di dada bidang sang suami, menghirup aroma yang membuatnya merasa nyaman.


"Justru aku yang harusnya berterima kasih, karena kamu mau menerimaku dengan segala masa laluku. Aku bukan orang baik Hasna." Lirihnya.


"Kita akan sama-sama belajar menjadi lebih baik lagi." Ucap Hasna.


Rama mengangguk setuju. Ia akan berusaha menjadi laki-laki yang baik untuk mendampingi Hasna. Sudah cukup, biarlah masa lalunya yang buruk, jangan sampai ia melakukan kebodohan yang sama.


"Hasna, maukah kamu menungguku?" Tanya Rama.


"Menunggu, maksud Mas Rama?"


"Tunggulah aku benar-benar sembuh." Ucap Rama.


Hasna terdiam tak menjawab, namun lebih mengeratkan pelukannya.


Emangnya kalau sembuh mau ngapain? kok suruh nunggu segala?


Mas Rama kebiasaan, apa-apa suka ngegantung, udah kaya jemuran bae bang.


***


Sesi curhatannya selesai ya...


Udah gak jadi bisul lagi, kan kasian Mas Rama. Masa ganteng-ganteng bisulan, wkwkwk...

__ADS_1


__ADS_2