Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 171


__ADS_3

Hampir satu minggu usia bayi mungil Rama dan Hasna. Rencananya hari ini akan diadakan aqiqah dan pemberian nama. Semenjak pagi di kediaman Suryanata nampak sibuk. Walaupun acara akan digelar sore hari, tapi para tamu banyak yang berdatangan. Baik dari rekan bisnis Rama maupun Pak Andi. Juga teman-teman arisan Bu Diana pun banyak yang datang.


Sedangkan yang punya hajat masih betah berjemur dengan sang Tante. Biasanya Rama yang mengajak putranya untuk berjemur bersamanya. Tapi karena banyak rekan bisnisnya yang datang, ia pun harus rela jika pagi ini, digantikan oleh Nayla.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam." Nayla nampak mengamati wajah asing di hadapannya. Tapi dari suara, sepertinya sangat familiar.


Laki-laki itu mendekat ke arah Nayla yang menemani putra Rama berjemur. Di tangannya ada kado kecil berwarna biru. Mungkin hadiah untuk adik bayi.


"Nayla?" Nayla mengerutkan keningnya saat laki-laki itu menyebutkan namanya.


"Ya? Siapa, ya?"


"Kevin?" Kevin menoleh pada seseorang yang memanggil namanya.


"Kevin?" Gumam Nayla. Gadis itu mencoba untuk mengingat kembali nama Kevin yang ia dan kakaknya kenal.


"Hai, apa kabar?" Kevin menghampiri Rama dan memeluknya.


"Alhamdulillah, baik. Kamu sendiri?"


"Aku juga baik."


"Aku pangling loh sama penampilan kamu, tujuh bulan tidak bertemu, tapi perubahannya sangat drastis gini." Ucap Rama yang memperhatikan penampilan baru Kevin.


Nayla baru ingat, laki-laki di hadapannya kini adalah laki-laki yang sama, yang ia kenal saat Hasna berada di rumah sakit. Penampilan Kevin sungguh membuatnya hampir tidak bisa mengenalinya. Dari gaya rambutnya saja sudah berbeda. Jika dulu Kevin lebih berpenampilan ala anak kuliahan, kini ia nampak lebih dewasa dan berkharisma.


"Bisa saja." Kevin menepuk pelan pundak Rama.


"Oh iya? Ini putra kalian?" Kevin menoleh pada bayi laki-laki yang bersama Nayla.


"Iya, itu putra kami."


"Kamu tahu, setelah kamu mengirimkan foto bayi kalian, aku langsung mencari penerbangan saat itu juga. Namun sial sekali, semuanya full booked. Dan akhirnya baru sampai kemarin malam." Ucap Kevin.


Tujuh bulan yang lalu, Kevin meninggalkan tanah air untuk mengurus bisnis ayahnya yang ada di Singapura. Setelah memastikan Hasna baik-baik saja tentunya. Dan empat hari yang lalu, Rama baru memberikan kabar kelahiran putranya. Ia ingin mengundang Kevin dan keluarganya di acara aqiqah putranya. Kevin adalah teman istrinya. Bagaimanapun, Kevin sudah berjasa besar dalam kesembuhan Hasna. Terlebih ayah mereka rekanan bisnis.


"Lagian, peluang usaha di sini banyak, ngapain jauh-jauh membuka usaha di negeri orang?" Ucap Rama.


"Ya, saat itu aku melihat peluang yang menggiurkan di sana."


"Dan berusaha melupakan Hasna tentunya."


Sebaris kata yang hanya mampu ia ucapkan dalam hati.


"Oh, iya, aku ada hadiah kecil untuk pangeran tampan kita." Kevin meletakkan kado kecil yang sedari tadi ia bawa ke dalam boks bayi.


"Jangan lihat apa, tapi lihatlah bagaimana aku dengan tulus memberikannya." Lanjut laki-laki itu.


"Tidak perlu serepot itu."

__ADS_1


"Tidak, aku tidak repot jika hanya memberikan kado untuk putra kalian, karena dia pasti tidak dapat menolaknya. Beda lagi ceritanya jika mencarikan kado untuk ayahnya, pasti aku sangat kerepotan. Karena semua mampu ia beli sendiri tanpa menunggu kado dari orang lain." Seloroh Kevin.


"Ya, ya, ya, terima kasih banyak."


"Menggemaskan sekali." Kevin mencolek hidung mungil bayi itu.


"Siapa namanya?" Tanya Kevin tanpa mengalihkan pandangannya dari bayi mungil itu.


"Namanya nanti akan kami umumkan saat acara. Makanya jangan terburu-buru untuk pulang." Ucapan Rama berhasil membuat Kevin mengalihkan pandangannya.


"Jadi aku harus tertahan di sini sampai nanti acara usai?"


"Ya, seperti itu, mungkin."


"Apa tidak ada sedikit bocoran agar aku bisa pulang lebih cepat?"


"Aku rasa tidak." Kekeh Rama. Kevin mengalihkan pandangannya pada Nayla. Namun gadis itu pun menggeleng.


"Oh, ya, masuklah. Hasna ada di dalam, aku akan menemui tamuku yang ada di depan sebentar." Rama menepuk pundak Kevin, kemudian berlalu.


Kevin memperhatikan Rama yang semakin menjauh. Laki-laki itu tetap bersikap hangat kepadanya, karena Rama masih menganggap jika hubungannya dan Hasna hanya sebatas teman. Dan Kevin rasa, lebih baik seperti itu, untuk menjaga perasaan semua orang yang terlibat dalam hubungan ini.


"Nay, si adek di minta Bu Hasna untuk ke dalam. Waktunya mandi katanya." Ucap Ivan, entah sejak kapan asisten Rama itu berada di antara mereka.


"Iya bentar." Nayla sangat berhati-hati mendorong boks bayi berwarna navy itu.


"Mas Kevin, Nay masuk dulu, ya." Kevin hanya mengangguk kecil, dan Nayla pun segera berlalu.


"Pak Kevin?" Ivan menunjuk laki-laki di hadapannya. Kevin memberikan senyuman hangatnya pada lelaki berkemeja lengan pendek itu.


"Maaf, maf, saya hampir saja tidak mengenali anda."


"Orang kedua setelah Rama yang mengatakan demikian." Kekeh Kevin.


"Saya tidak bercanda. Saya pikir tadi rekan bisnis baru Pak Rama. Tapi kok saya tidak mengenalnya, padahal saya selalu bersama beliau. Anda terlihat lebih berkharisma."


"Ahh....terima kasih, Pak Ivan. Saya benar-benar tersanjung." Ucap Kevin seraya memegang dadanya.


"Maaf, hampir saja lupa. Silahkan masuk." Ivan mengajak Kevin masuk ke dalam rumah utama.


Kevin mengamati suasana kediaman Suryanata yang nampak sibuk. Ada beberapa orang yang ia ingat wajahnya, pegawai Hasna di restoran dan toko kue. Kevin sangat familiar dengan wajah mereka, karena ia salah satu pelanggan di sana. Bisa dikatakan modus juga, karena tujuan utamanya adalah untuk bertemu dengan Hasna. Tapi itu dulu, sekarang Hasna sudah bahagia. Dan ia ingin segera mengubur dalam-dalam rasa untuk perempuan itu.


"Assalamu'alaikum, Tante." Sapa Kevin.


"Wa'alaikumussalam." Bu Diana mengamati laki-laki yang berdiri tepat di hadapannya. Seperti pernah mengenalnya.


"Mas Kevin, Ma." Sahut Nayla.


"Kevin?" Bu Diana memandang Nayla dan Kevin bergantian.


"Iya, Tante." Kevin meraih tangan Bu Diana dan menciumnya.

__ADS_1


"Astaghfirullahal'adzim, maaf, Tante hampir saja tidak mengenali kamu. Makin kelihatan dewasa sekarang." Kevin tersenyum mendengan ucapan mertua Hasna itu.


"Nampak lebih berkharisma." Lanjut wanita paruh baya itu.


"Terima kasih banyak, Tante." Kevin memberikan senyumannya.


"Saya pikir, hanya saya yang tidak mengenali anda tadinya. Nyatanya hampir semua orang." Sahut Ivan yang diangguki Bu Diana.


"Eh, jadi keinget Rama waktu awal nikah sama Hasna. Penampilannya persis kayak kamu gini, terlihat sangat dewasa. Sedangkan Hasna, nampak seperti abege. Malah dikiranya Hasna jalan sama om-om." Kekeh Bu Diana.


"Tapi Rama terlihat lebih muda sekarang. Padahal saya yakin jika usia saya lebih muda dari dia." Ucap Kevin.


"Ya, efek nikah sama yang lebih muda. Bisa dicoba itu triknya Rama, biar kelihatan awet muda juga." Seloroh Bu Diana.


"Pak Kevin kalau mau, bisa minta dicarikan jodoh sama Bu Diana. Mungkin ada yang klik di hati." Sahut Ivan.


"Kenapa Pak Ivan tidak mencobanya dulu?" Ucap Kevin.


"Kalau saya dapatnya perempuan setipe Bu Hasna, mungkin tanpa berpikir panjang, pasti saya iyakan. Tapi kalau masih labil, ya..."


"Apa? Kak Ivan mau ngatain aku?" Ketus Nayla.


"Enggak. Kamu aja yang ngerasa sendiri." Elak Ivan.


"Nggak usah bohong ya. Itu matanya tadi ngelirik aku, pas Kak Ivan bilang kata, labil."


Ya memang benar apa yang Nayla katakan, Ivan memang melakukannya tadi. Tapi ia tidak menyangka jika radar Nayla secepat itu menangkap sinyal. Sedangkan Bu Diana dan Kevin menahan tawanya melihat perdebatan keduanya.


"Ya sudah lah, Nay. Kalau sama kamu, pasti ujungnya selalu salah." Ucap Ivan dengan pasrahnya.


"Pak Ivan jangan begitu, nanti kalau beneran dapet yang labil gimana?" Sahut Kevin.


"Jangan sampai, Pak Kevin. Nanti ujungnya saya jadi pengasuh, bukan jadi suami."


"Aaawww..." Dengan sangat gemas, Nayla mencubit lengan Ivan yang tak tertutup pakaian. Hingga meninggalkan bekas kemerahan disana.


Pletak


"Aduuuhhh..., Kak Ivan sama Kak Rama sama aja. Senengnya main sentil. Lama-lama kayak lohan ini kening." Nayla mengusap-usap keningnya yang baru saja mendapatkan hadiah semanis cubitannya pada Ivan.


"Mama, ngilu." Rengeknya. Bu Diana dan Kevin sudah tidak kuasa menahan tawa mereka.


"Cara kerja kami tidak berbeda, Nayla. Karena Pak Rama atasan yang patut untuk dicontoh." Ujar Ivan dengan begitu cueknya.


"Ya, nggak sampai adegan sentil menyentilnya juga kali. Ngeselin."


"Kamu jangan kaget, Nayla sama Ivan ya gini kalau ketemu. Rusuh."


"Udah, biarin mereka. Kamu ikut Tante ke ruang tengah. Mama kamu nggak sekalian diajak ke sini?" Tanya Bu Diana yang lebih dulu melangkah dan Kevin mensejajarkan langkahnya.


"Insya Allah nanti sore, Tante. Masih ada arisan."

__ADS_1


"Mas Kevin?"


***


__ADS_2