
Marissa terburu memasuki lobi hotel, hanya tersisa lima belas menit, sebelum semuanya gagal. Gegas ia memasuki lift menuju lantai di mana ia meninggalkan Rama di kamar yang ia pesan.
"Sial, tinggal beberapa menit, semoga Rama tidak terbangun." Marissa kembali melihat jam tangan di pergelangannya.
Perempuan itu bisa bernafas lega saat mendapati Rama masih tertidur pulas. Segera ia sibak selimut dan membuka gesper milik Rama. Tapi pergerakannya terhenti saat mendengar lenguhan kecil dari bibir laki-laki itu.
Marissa mengerjap dan menelan ludah yang terasa tercekat di tenggorokan. Rama mengernyit, sepertinya laki-laki itu akan sadar. Gegas Marissa menurunkan resleting celana Rama kemudian berbaring di sebelahnya. Memunggungi laki-laki itu.
Rama membuka matanya, kepalanya masih terasa berat. Netranya memindai sekeliling. Ruangan ini asing baginya. Jantungnya serasa dipaksa berhenti berdetak saat mendapati sosok perempuan yang tengah tertidur di sebelahnya. Bukan, itu bukan istrinya.
Rama mengingat pakaian itu, pakaian yang sama yang di kenakan...
"Marissa?" Lirihnya.
Rama melihat kondisinya yang tanpa mengenakan pakaian bagian atasnya. Kemudian menyibakkan selimut dan mendapati celana panjangnya masih terpasang utuh. Membuatnya sedikit bisa bernafas lega.
Namun ia terkejut saat bangun dari ranjang, ikat pinggangnya terlepas dan...resleting celananya terbuka.
Rama mencoba mengingat apa yang telah dilakukannya. Tapi tak satupun ia dapat mengingatnya. Terakhir yang dapat ia ingat hanya saat akan makan siang dan Pak Dirga tiba-tiba membatalkan acara. Setelah itu ia tidak mengingat apapun.
Rama segera merapikan kembali penampilannya, memakai kemeja yang sempat terlepas. Dan mencoba mengingat sekali lagi kejadian yang ia alami sebelum akhirnya sampai di ruangan ini.
Seperti ada kejanggalan di sini. Sepertinya ia mulai mengingat sesuatu. Ia mengingat sebelum ia tak sadarkan diri. Saat itu ia hanya bersama dengan Marissa. Apa jangan-jangan ia di jebak?
Marissa terlihat menggeliat. Perempuan itu membuka matanya dan mendapati Rama telah tapi kembali.
"Pak Rama." Lirihnya.
"Apa yang terjadi?" Tanya Rama dengan nada dingin.
Marissa terlihat bingung saat akan memberikan jawaban. Justru perempuan itu mengeratkan selimut di tubuhnya.
"Jawab saya, apa yang telah terjadi?" Rama masih berusaha menahan emosinya. Kedua tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Bapak...bapak...bapak telah memaksa saya." Lirih Marissa diiringi isakan yang mulai terdengar.
"Memaksa bagaimana maksud kamu?" Suara Rama mulai meninggi.
"Pak Rama memaksa saya melakukan itu." Air mata mulai membanjiri wajah cantik perempuan itu.
"Jangan fitnah kamu." Rama menatap nyalang.
"Saya tidak fitnah, Pak. Apa untungnya bagi saya? Justru di sini saya yang dirugikan. Masa depan saya taruhannya." Marissa mulai histeris.
"Tidak, ini tidak mungkin. Saya masih bisa berpikir waras untuk tidak melakukan hal yang merusak norma. Saya tidak percaya dengan omong kosongmu itu." Ucap Rama penuh penekanan, bahkan ia menunjuk ke arah Marissa.
"Apa bapak tidak menyadari, bagaimana kacaunya penampilan bapak saat terbangun tadi? Bapak sudah memaksa saya." Teriak Marissa histeris.
"Hentikan omong kosongmu itu, saya yakin, kalau saya di jebak di sini. Dan kamu, jangan seolah-olah kamu adalah seorang korban, karena korbannya bukan hanya kamu, tapi saya juga." Ucap Rama penuh penekanan, terlihat dari dadanya yang naik turun menahan ledakan amarah.
Rama mengusap kasar wajahnya. Tidak mungkin ia melakukan hal yang menyimpang dengan norma dan hukum agama. Rama yakin itu. Tapi pada kenyataannya, ia sendiri berada di situasi yang membuatnya merasa jika ia melakukan kesalahan fatal.
"Bapak tenang saja. Anggap saja kejadian ini tidak pernah terjadi. Pak Rama bisa lupakan kejadian hari ini. Dan saya tidak akan mengungkitnya." Ucap Marissa.
Rama menautkan kedua alisnya tajam. Semudah itu Marissa mengatakannya. Sesuatu yang menyangkut kehormatan dan harga dirinya ia anggap sebagai hal yang remeh.
Perempuan itu merapikan dress-nya dan memakai kembali sepatunya.
"Maafkan saya, Pak. Anggap ini tidak pernah terjadi." Perempuan itu mengusap kasar air mata di wajahnya.
Rama memperhatikan gerak-gerik Marissa yang berjalan perlahan, seolah sedang menahan sesuatu yang membuatnya tidak nyaman. Perempuan itu mengambil tas yang tergeletak di sembarang tempat. Tak lama kemudian Marissa pergi meninggalkan Rama yang terdiam seorang diri di dalam kamar hotel.
Laki-laki itu menyugar surai hitamnya. Mencoba mengingat kembali kejadian sebelum ia berada di kamar ini. Kepalanya kembali berdenyut.
"Hasna." Lirihnya.
Rama segera meninggalkan kamar hotel. Menyusuri lorong hingga sampai di depan lift yang tertutup rapat.
"Hasna, maafkan aku." Lirihnya.
Rama menghubungi sopir kantor sesampainya di lobi. Cukup lama hingga jemputan itu akhirnya datang. Di sepanjang perjalanan, ia masih memikirkan kejadian yang baru saja menimpa dirinya juga Marissa. Tapi tidak menemukan petunjuk apapun. Hingga mobil memasuki area kantor.
***
Rama mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia masih belum bisa berpikir dengan jernih. Tiba-tiba saja perkataan Hasna kembali berputar memenuhi pendengarannya.
"Cukuplah mencari aku untuk melampiaskan rasa, saat hati Mas Rama mulai tergoda. Cukup lihat aku, saat Mas Rama menemukan yang jauh lebih indah. Pulanglah, jika hati Mas Rama mulai goyah. Kembali dan cari aku, karena aku rumah untuk mas Rama pulang."
Hasna, hanya perempuan itu tujuannya kali ini. Rama merasakan keresahan di hatinya. Berkali-kali ia menyakinkan hatinya, jika ia tidak melakukan hal yang melampaui batas.
Mobil Rama memasuki kediaman Suryanata. Gagas ia turun dari mobil dan mencari istrinya.
"Hasna." Rama sedikit berteriak memanggil istrinya. Ia langkahkan kakinya lebar-lebar.
Mama yang berada di dapur gegas menghampiri putranya. Penampilan laki-laki itu sedikit berantakan. Dan kini memanggil istrinya dengan tidak sabar.
"Hasna." Panggil Rama lagi.
"Rama ada apa?" Tanya Mama heran.
__ADS_1
"Tau nih, Kak Rama. Ngagetin orang aja." Ganti Nayla yang melayangkan protesnya.
"Hasna mana, Ma?" Tanya Rama dengan tidak sabar.
"Hasna." Kembali ia meneriakkan nama istrinya.
"Rama, ini bukan hutan. Pelankan suara kamu." Peringat Mama.
Hasna turun saat mendengar keributan di bawah. Ia mendengar Rama memanggil namanya berulang.
"Mas Rama." Panggilnya.
"Hasna."
Rama menaiki anak tangga dengan tergesa dan memeluk tubuh istrinya denga erat. Di kecupnya berkali-kali puncak kepala perempuan berjilbab itu. Hasna merasa aneh dengan kelakuan Rama. Tiba-tiba saja ia mencarinya dan memeluknya seperti ini. Membuat semua yang berada di sana menyaksikan aksi ajaib tuan muda Suryanata itu dengan mata yang tak berkedip.
"Mas Rama, ada apa?" Tanya Hasna yang berada dalam pelukan Rama.
"Aku merindukanmu." Rama mendaratkan ciumannya di bibir Hasna tanpa permisi, membuat perempuan itu gelagapan dengan aksi suaminya.
Rama sedikit kasar ******* bibir ceri itu, seolah tengah meluapkan emosi yang sedari tadi ia tahan. Hasna memukul pelan punggung suaminya, berharap laki-laki itu akan melepaskan ciumannya.
"Astaga Rama, kelakuan kamu. Sungguh tidak tau tempat." Omel Mama.
"Ya ampun Kak, aku masih di bawah umur lho. Di sensor dikit napa." Protes Nayla.
Rama reflek melepaskan ciumannya. Bahkan bibir Hasna terlihat basah. Perempuan itu sedikit merasa kesal dengan Rama. Sungguh tidak tau situasi sama sekali.
Rama menoleh ke bawah, dan benar saja, Mama, Nayla juga beberapa ART menyaksikan adegan 21+nya bersama Hasna. Jujur saja di pun malu, tapi lebih baik bersikap biasa saja, seolah tidak ada hal aneh yang terjadi.
"Mas Rama kenapa sih?" Protes Hasna.
"Aku merindukanmu."
Rama mendekatkan wajahnya kembali, namun Hasna mendorongnya pelan.
"Mas Rama." Ucap Hasna sedikit membolakan matanya.
Belum lagi suara teriakan dari bawah sana.
"Rama, tolong di kondisikan sedikit." Teriak Mama.
"Kak Rama, aku laporin KPAI ntar. Ngasih contoh nggak baik sama anak di bawah umur."
Rama mendengus pelan dan menggamit tangan istrinya. Tanpa ia pedulikan teriakan mereka. Rama mengajak Hasna kembali ke kamar. Dan mengunci pintunya rapat-rapat.
Rama tak menjawab, justru menghimpit Hasna hingga ke dinding kamar, membuat Hasna terlonjak dengan aksi liar Rama.
"Aku merindukanmu." Bisik Rama.
Tangan laki-laki itu melepaskan simpul kerudung di kepala istrinya, kemudian melepaskan kain penutup kepala itu. Cantik. Hasna selalu cantik di matanya.
Rama menangkup kedua pipi Hasna. Wajahnya kian mendekat. Ke dua mata mereka terpejam tatkala kedua bibir mereka saling bertautan. Sebelah tangan Rama turun hingga ke pinggang Hasna. Dan sebelahnya lagi menahan tengkuk perempuan itu untuk memperdalam ciumannya.
Wajah Hasna menghangat manakala ciuman itu terlepas. Bibirnya terasa kebas karena ciuman Rama sedikit terasa kasar.
"Aku merindukanmu, Hasna. Aku merindukanmu." Lirihnya. Kedua kening mereka beradu merasai hangat nafas masing-masing.
Rama mencoba mengalihkan pikiran buruknya akan kejadian siang tadi dengan mencumbu istrinya. Hasna adalah rumah untuknya pulang. Hanya Hasna yang berhak atas dirinya, bukan perempuan seperti Marissa. Andaikan ia bisa memilih, ia tidak ingin ada hari ini. Hari yang bagaikan mimpi buruk baginya.
"Aku merindukanmu." Sekali lagi kata itu terdengar di telinga Hasna. Serindu itukah rama padanya?
"Aku juga merindukan Mas Rama." Ucap Hasna. Perempuan itu tersenyum manis. Membuat Rama ikut tersenyum dibuatnya.
"Mau membantuku?" Hasna mengerutkan keningnya.
"Membantu?" Hasna mengangkat sebelah alisnya.
"Mandi." Bisik Rama tepat di telinga Hasna. Membuat bulu-bulu halus perempuan cantik itu meremang.
"Ayo." Tanpa menunggu jawaban Hasna, Rama menarik tangan istrinya sampai ke dalam kamar mandi.
***
Pipi perempuan itu kembali bersemu merah saat mengingat kejadian yang baru saja mereka lakukan. Rama sungguh keterlaluan, hingga membuatnya kembali mengulang ritual mandinya.
Hasna terduduk di tepi ranjang dengan melilitkan selimut di seluruh tubuhnya. Ia hanya memakai kemeja milik Rama, karena di sini tidak ada pakaian ganti miliknya. Rama, laki-laki itu dengan sengaja memeluk Hasna hingga ikut tercebur di bathtub. Alhasil seluruh pakaiannya basah.
"Kamu sudah seperti kepompong saja." Kekeh Rama.
"Mas Rama keterlaluan, udah tau aku tidak membawa ganti, malah ngajakin main basah-basahan." Bibir perempuan itu terlihat mengerucut saat melayangkan protesnya. Rama dengan gemas menyambar bibir ceri itu kembali.
"Mas Rama..." Rengeknya.
"Ini udah sedikit bengkak, masih saja."
"Masih apa? Masih mau lagi?" Goda Rama.
"Iiihhh...nyebelin banget, dasar mesum." Hasna menutup seluruh tubuhnya hingga kepala dengan selimut.
__ADS_1
"Ingat, saya pria dewasa." Goda Rama.
"Iya, aku masih di bawah umur." Sahut Hasna dari balik selimut.
Rama menarik selimut itu hingga sebatas dada karena ditahan oleh Hasna. Rupanya perempuan itu dalam mode siaga satu.
"Mendekatlah." Pinta Rama.
"Mas Rama mau apa?" Hasna benar-benar waspada dengan suaminya.
"Aku cuma ingin memeluk kamu."
"Jangan." Hasna sedikit mundur saat Rama berusaha meraih tubuhnya.
"Kenapa?"
"Aku cuma pakai kemeja loh." Cicitnya pelan.
Rama tergelak mendengarnya. Ia hampir melupakan penampilan istrinya itu. Hasna hanya mengenakan kemeja miliknya yang sudah dapat dipastikan over size di tubuh mungilnya. Makanya perempuan itu membalut dirinya dengan selimut.
"Mas Rama nyebelin." Rama kembali tergelak.
"Aku hanya ingin memeluk, tidak akan macam-macam." Kekeh Rama.
Rama mendekat dan memeluk Hasna dari balik selimut. Perempuan itu merasa lebih hangat dan nyaman dalam dekapan Rama.
"Hasna?"
"Ya?"
"Berjanjilah satu hal padaku." Hasna mengerutkan keningnya.
"Berjanjilah jangan pernah meninggalkan aku, bagaimanapun keadaanku nantinya. Tetaplah percaya padaku, apapun yang terjadi."
Hasna merasa sedikit aneh dengan ucapan Rama, terlebih tingkah laki-laki itu sepulang dari kantor tadi. Terkesan lebih manja dan lebih intim dari biasanya.
"Hasna?" Panggil Rama, karena istrinya itu tak kunjung menjawabnya.
"Iya, aku janji." Ucap Hasna pada akhirnya.
Tok, tok, tok.
"Mas ada yang ngetuk pintu."
"Menganggu saja." Rama mendengus kesal.
"Bukain dulu sana, barangkali Mama." Ucap Hasna.
"Ah...Mama seperti tidak pernah muda saja." Gerutu Rama.
Laki-laki itu terpaksa mengurai pelukannya dan beranjak untuk membukakan pintu. Seorang ART berdiri tepat di hadapannya.
"Maaf, Den, ditunggu Bapak sama Ibu untuk makan malam." Ucap ART.
"Baiklah, saya segera turun."
Rama kembali menutup pintu kamarnya dan menghampiri Hasna.
"Siapa?"
"Bibi, ayo turun. Udah ditungguin sama Mama." Ajak Rama.
"Mas Rama saja yang turun."
"Kamu juga kan belum makan, ayo makan malam bareng." Rama mengulurkan tangannya.
Hasna tidak menyambut uluran tangan Rama, hanya menatapnya. Yang benar saja ia turun dengan keadaan seperti ini.
"Kenapa?"
Huft
Hasna membuang kasar nafasnya.
"Emang Mas Rama ngizinin aku, kalau turun dengan pakaian seperti ini?"
Wajah Rama berubah menjadi mode serius, tak nampak ketengilan yang sedari tadi ia tunjukkan.
"Kamu cukup berdiam di sini, jangan kemana-mana. Kunci pintu, jangan sampai ada yang masuk ke dalam kamar. Saya akan segera kembali." Suaranya juga terdengar tidak selembut tadi.
"Kalau Nayla yang ketuk pintu?"
"Terutama Nayla, jangan bukakan pintu." Tegasnya. Bahkan telunjuknya mengarah di wajah Hasna.
"Oh...oke." Hasna mengangguk patuh.
Rama segera keluar dari kamar, membuat Hasna sedikit bernafas lega. Akhirnya Hasna bisa bergerak bebas. Sesuai arahan, Hasna mengunci pintu kamar, agar saat Rama masuk, ia sudah bisa mempersiapkan dirinya.
***
__ADS_1