Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 117


__ADS_3

"Mas, nanti aku izin mau mampir ke mall sebentar, ya sebelum pulang. Ada barang yang mau aku beli soalnya." Ucap Hasna saat mengantarkan Rama yang akan berangkat ke kantor.


"Perlu aku temenin?" Tawar Rama.


"Nggak usah, aku nggak lama juga kok." Tolak Hasna.


"Kalau begitu minta antar Pak Mamat saja. Nanti aku jemput kamu di mall, sekalian kita ngedate." Ucap Rama dengan seulas senyuman.


"Ngedate? Kayak yang lagi pacaran saja pakai acara ngedate segala." Kekeh Hasna.


"Ya harus lah, sebelum kita tidak bisa pergi berdua lagi nantinya. Kita puas-puasin dulu waktu berdua, sebelum nanti anak-anak ngintilin kita kemana-mana." Ucapan Rama membuat tawa perempuan itu perlahan mereda.


Hasna baru menyadari sesuatu, tapi lebih baik ia memastikannya terlebih dahulu sebelum terlalu tinggi ia menaruh harapan.


"Ya sudah, aku berangkat dulu, ya. Assalamu'alaikum." Rama mengecup kening Hasna setelah perempuan itu mencium punggung tangannya.


"Wa'alaikumussalam, hati-hati ya, Mas." Ucap Hasna.


Hasna bergegas masuk ke dalam, membereskan sisa sarapan mereka. Tiba-tiba saja tangannya terulur menyentuh perutnya.


Segera ia membereskan semuanya dan bersiap untuk segera berangkat ke restoran.


***


Sesuai permintaan Rama, Hasna kembali di antarkan oleh Pak Mamat. Terdengar laki-laki berseragam keamanan itu sesekali bersenandung saat mengemudikan mobil.


"Pak, tolong berhenti di apotek depan, ya." Pinta Hasna.


"Siap, Mbak."


Mobil yang di kendarai Pak Mamat, berbelok ke arah apotek sesuai permintaan Hasna.


"Tunggu bentar, ya, Pak." Pak Mamat mengangguk mengiyakan.


Hasna segera turun dari mobil dan berlalu masuk ke dalam apotek. Tak lama perempuan itu kembali dan masuk ke dalam mobil.


"Udah, Mbak?" Tanya Pak Mamat setelah Hasna masuk ke dalam mobil.


"Udah, kita jalan, Pak." Ucap Hasna.


Mobil kembali melaju dengan kecepatan sedang menuju restoran. Di sepanjang perjalanan pikiran Hasna benar-benar tidak bisa fokus, seperti ada yang tengah ia pikirkan. Bahkan ia tidak sadar jika telah sampai di tujuan.


"Mbak? Mbak Hasna?" Panggil Pak Mamat. Namun sepertinya perempuan itu tidak mendengar panggilannya.


Pak Mamat sekilas memperhatikan Hasna dari center mirror. Perempuan itu nampak melamun, pandangannya seolah menerawang jauh. Entah apa yang perempuan itu pikirkan.


"Mbak Hasna? Mbak?" Ulang Pak Mamat dengan suara yang agak keras dari sebelumnya. Dan berhasil, Hasna menoleh ke arah sekuriti itu.


"Iya, Pak? Bapak manggil Hasna?" Tanya Hasna.

__ADS_1


"Nggak terima manggil aja loh saya. Udah mirip kayak radio yang lagi siaran ulang malahan." Gurau Pak Mamat, membuat Hasna tersenyum mendengarnya.


"Pak Mamat ada-ada saja."


"Lah beneran loh, Mbak. Emangnya Mbak Hasna tidak mendengar panggilan saya?" Tanya Pak Mamat, Hasna menggeleng.


"Astaghfirullahal'adzim... Padahal sampai berbusa loh, Mbak." Ujar Pak Mamat.


Apa benar demikian? Ucapan Rama tadi pagi benar-benar membuat pikirannya teralihkan.


"Mbak Hasna nggak papa, kan?" Tanya Pak Mamat.


"Nggak papa, Pak. Terima kasih ya, Pak, udah nganterin Hasna." Hasna bersiap untuk turun.


"Tapi beneran kan, Mbak? Mbak Hasna nggak kenapa-kenapa?" Pak Mamat masih berusaha memastikan keadaan Hasna. Apalagi tadi Hasna sempat memintanya untuk berhenti di apotek terlebih dahulu. Apakah Hasna sakit?


Laki-laki bertubuh gempal itu mengamati wajah perempuan berjilbab lavender itu. Memang terlihat baik-baik saja, tidak pucat, bahkan terlihat lebih segar. Tidak mungkin juga kalau bermasalah dengan Rama. Kedua majikan muda itu nampak mesra seperti biasanya.


"Nggak apa-apa, Pak Mamat. Hasna baik-baik saja. Hasna sehat wal afiat. Pak Mamat nggak perlu khawatir." Hasna menyunggingkan senyumannya.


"Ya sudah, Mbak. Mbak Hasna hati-hati, ya." Ucap Pak Mamat.


"Iya, Pak. Hasna pergi dulu. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam." Pak Mamat memilih untuk berdiam sejenak, memastikan hingga Hasna benar-benar masuk ke dalam restoran. Baru setelahnya melajukan mobil kembali dan meninggalkan restoran.


***


Drrrtt... drrrtt... drrrtt...


Ponsel yang ia letakkan di sebelah mesin kasir berkali-kali terdengar berbunyi. Banyaknya pelanggan membuat Hasna mengabaikan benda pipih itu.


Drrrtt... drrrtt... drrrtt...


Ponsel berbunyi kesekian kalinya. Sekilas Hasna melirik ID yang tertera di sana. Dari Rama.


"Mas Hamzah, bisa gantikan saya sebentar?" Ucap Hasna pada Hamzah yang kebelutan lewat setelah membantu rekannya menyiapkan pesanan.


"Baik, Mbak." Ucap menejer itu.


"Makasih ya, Mas." Hasna lantas pergi setelah menyerahkan pekerjaannya pada Hamzah.


Hasna memeriksa ponsel yang sedari tadi berbunyi. Dan benar saja sepuluh panggilan dan beberapa pesan rama kirimkan untuknya. Tanpa berpikir panjang, Hasna segera mendial nomer Rama. Tak menunggu lama, hanya dua kali deringan, panggilan sudah di angkat.


"Halo, assalamu'alaikum, Mas." Ucap Hasna.


"Wa'alaikumussalam, kemana saja? Aku sudah menelepon lebih dari sepuluh kali. Pesan juga tidak ada yang terbaca." Terdengar sebuah protes dari seberang sana.


"Restoran sangat ramai. Maaf aku jadi mengabaikan panggilan Mas Rama." Ucap Hasna lembut.

__ADS_1


Terdengar hembusan nafas kasar dari seberang sana. Sepertinya akan ada protes lagi setelah ini.


"Pegawai kamu kan banyak. Kenapa harus kamu sendiri yang turun tangan?" Benar kan, baru saja Hasna membatinnya.


"Alhamdulillah hari ini restoran ramai banget. Dan kebetulan harus kirim juga buat acara, jadi aku bagi menjadi dua kali pengiriman di jam makan siang. Makanya tim bagian pelayanan berkurang, karena membantu tim ekspedisi kami. Dan aku bantu mengisi bagian kasir." Hasna mencoba memberikan pengertian pada Rama.


"Mas Rama mau aku anterin makan siang?" Semoga saja penawarannya berlaku.


"Tidak perlu, aku sama Ivan ada meeting di luar." Rupanya Rama menolak.


"Oke." Ucap Hasna pelan.


"Kamu sudah makan siang?" Tanya Rama.


"Belum, sebentar lagi." Jawab Hasna.


"Jam makan siang hampir selesai, tapi kamu belum juga makan. Jangan abai dengan kesehatan. Makanlah dulu." Ucap Rama.


"Iya, sebentar." Ucap Hasna.


"Kalau begitu, mulai besok kamu kerja sampai jam makan siang. Setelahnya kamu langsung pulang." Kode keras sudah keluar rupanya.


"Loh, kok gitu?"


"Makanlah dulu, setelah itu bekerjalah kembali. Atau langsung pulang. Aku jemput sekarang." Sepertinya memang tidak ingin di bantah.


"Baiklah, aku akan makan sekalian sholat. Mas Rama sudah sholat?" Ucap Hasna pada akhirnya. Mendebat Rama tidaklah baik. Bisa-bisa ia akan terkurung di rumah. Dan berujung kerja dari rumah.


"Belum, sebentar lagi." Jawabnya datar.


"Aku tutup dulu, cepatlah makan. Oh iya, nanti aku jemput kamu di restoran jam lima." Lanjut Rama.


"Sebaiknya kita bertemu di mall saja, biar mas Rama tidak berputar arah." Ucap Hasna, mengingat Rama akan memutar arah jika harus menjemputnya terlebih dahulu.


"Baiklah. Aku merindukanmu, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Hasna langsung ke dapur, untuk mengambil makan siang. Tidak mungkin di saat sibuk seperti ini ia akan merepotkan mereka. Selagi bisa melakukannya sendiri, kenapa harus merepotkan orang lain?


Hasna kembali ke ruangannya dengan membawa nampan berisikan makanan juga segelas minuman. Sejak tadi ia hanya melihat makanan itu tanpa ingin menyentuhnya sama sekali. Hanya melihatnya saja sudah membuatnya merasa kenyang.


"Sebaiknya sholat dulu." Gumamnya.


Perempuan itu lalu beranjak ke kamar mandi yang ada di ruangannya. Namun belum sampai lima menit, ia keluar lagi. Hasna mengambil tas kecil yang biasa ia pakai dan mengambil bungkusan yang tadi ia beli dari apotek. Lantas kembali ke dalam kamar mandi.


Cukup lama Hasna berada di dalam sana. Kedua netranya nampak basah dengan bibir bergetar mengucapkan kalimat pujian. Pandangannya nampak mengabur kerena genangan air mata.


"Allah... Alhamdulillah..." Sangat sulit ia mengungkapkan dengan kata, sehingga hanya kalimat itu yang terucap.

__ADS_1


Tangannya bergetar memegang benda pipih seperti stik itu. Dua garis nampak muncul di sana, dengan satu garis samar di bagian bawah.


***


__ADS_2