Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 161


__ADS_3

Entah ini sebuah kebetulan atau sebuah jawaban yang bahkan pertanyaannya hanya mampu Hasna simpan dalam benaknya. Atau bahkan sudah saatnya ia mengetahui masalah yang hampir tujuh bulan Rama rahasiakan darinya.


"Baiklah, saya akan datang di persidangan Marissa besok lusa. Tolong kirimkan saja jadwalnya." Dua penggal kalimat yang cukup mewakili rasa penasarannya atas nasib Marissa pasca kecelakaan.


Hasna semakin mendekat dan berusaha memastikan jika pendengarannya tidaklah salah.


"Baiklah, Pak Darma, pastikan saja supaya_"


"Mas?" Panggil Hasna.


Rama menoleh ke belakang sebelum meneruskan ucapannya. Betapa terkejutnya saat mendapati sang istri tengah berdiri tepat di belakangnya.


"Ee...Pak Darma, nanti saya hubungi lagi." Rama memutuskan sambungan teleponnya dan tersenyum kepada sang istri.


"Vitaminnya, sudah?" Tanya Rama dengan senyuman yang tersemat di bibirnya.


"Persidangan Marissa besok lusa. Apa maksudnya, Mas?" Bahkan Hasna tak berniat menjawab pertanyaan yang Rama ajukan.


Rama menghirup nafas panjang mendengar ucapan Hasna. Rupanya istrinya itu mendengarkan percakapannya dengan Pak Darmawan. Laki-laki itu kembali mengulas senyuman, berusaha tetap tenang di hadapan sang istri.


"Sebaiknya kita pulang." Rama berusaha mengalihkan fokus istrinya.


"Jawab aku, Mas. Apa maksud dari persidangan Marissa?" Hasna menekan semua perkataannya, seolah menuntut jawaban dari Rama.


Rama melihat kantong plastik berisikan botol vitamin di dekat kaki Hasna. Pasti itu milik istrinya yang tak sengaja terjatuh saat perempuan itu mendengarkan ucapannya melalui sambungan telepon. Rama pun mengambilnya.


"Sebaiknya kita pulang, kamu butuh istirahat." Rama mengusap lembut pipi Hasna. Namun pemilik mata teduh itu tak sedikitpun mengalihkan pandangannya.


"Mas, jawab aku." Ucap Hasna penuh penekanan dengan suara tertahan.


Rama membuang pandangannya ke sembarang arah. Sepertinya Hasna tidak akan bisa dialihkan pikirannya.


"Sebaiknya kita bicarakan ini di rumah." Ucap Rama selembut mungkin. Berharap ia pun bisa mengendalikan dirinya.


Hasna pun pasrah saat Rama menggamit tangannya. Sebaiknya ia pun menahan diri, apalagi di tempat umum seperti ini. Rama benar, sebaiknya hal ini mereka bicarakan di rumah.


***


Di sepanjang perjalanan pulang dari rumah sakit, tak sepatah kata pun Hasna ucapkan. Bahkan saat Rama menawarkan sesuatu yang mungkin ia inginkan seperti sebelum-sebelumnya, ia tetap bungkam. Perempuan itu bergeming dan fokus pada jalanan yang ia lihat dari jendela di sampingnya. Hingga mobil masuk ke pekarangan rumah pun, ia tetap membisu.


Rama membuang nafasnya kasar saat Hasna lebih dulu keluar dari mobil tanpa menunggunya membukakan pintu seperti biasa. Istrinya benar-benar marah kali ini.


"Assalamu'alaikum." Ucap Hasna saat masuk ke dalam rumah. Perempuan itu berjalan lebih cepat dari biasanya, dan berlalu masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam." Lirih Mbak Marni.


Asisten rumah tangga itu nampak heran dengan kedatangan Hasna dan Rama yang tak seperti biasanya. Hasna bahkan lebih dulu masuk ke kamar, dan menutup pintunya rapat-rapat. Lalu ekspresi yang rama tunjukkan pun tak seperti biasa, saat mereka pulang dari jalan berdua.


"Mbak, tolong nanti vitaminnya kasih kan ke Hasna, ya. Saya ada kerjaan." Rama menyerahkan kantong plastik berisikan vitamin milik istrinya kepada Mbak Marni.


"Baik, Mas."


Pandangan Mbak Marni mengikuti langkah Rama. Rupanya laki-laki itu langsung naik ke atas menuju ruang kerjanya. Mbak Marni menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir pikiran negatifnya pada kedua majikannya itu.


***


Tok... tok... tok...


"Mbak, makan siangnya sudah siap." Ucap Mbak Marni dari balik pintu kamar Hasna. Bahkan ini sudah kedua kalinya asisten rumah tangga itu memanggil Hasna.


"Apa mau Mbak Marni antar ke dalam?" Tetap saja tidak ada sahutan.


Mbak marni nampak terdiam di depan pintu kamar, namun beberapa detik kemudian pintu pun terbuka. Nampak Hasna masih mengenakan mukena, rupanya perempuan itu baru saja melaksanakan sholat dhuhur. Pantas saja di panggil berkali-kali tidak menyahut, justru membuat Mbak Marni kembali berpikiran yang tidak-tidak.


"Makan siangnya sudah siap, Mbak." Ucap Mbak Marni.


"Iya, Mbak, sebentar. Mau beresin mukenah dulu." Mbak Marni bersiap untuk kembali ke belakang.


Mbak Marni kembali menghadap Hasna, dan menggelengkan kepalanya.


"Belum, Mbak. Sejak pulang dari rumah sakit tadi, Mas Rama masih ada ruang kerjanya." Jawab Mbak Marni.


"Ya sudah, saya ganti dulu." Ucap Hasna dan kembali masuk ke dalam kamarnya.


Hasna dengan langkah perlahan dan berhati-hati menaiki anak tangga. Berusaha menjaga keseimbangan saat ia berjalan menitinya. Dengan nafas yang masih terengah, ia berdiri tepat di depan ruang kerja Rama.


Cklek


Hasna membuka pintu dan mendorongnya pelan. Meja kerjanya kosong, dan nampak masih terlihat rapi. Mbak marni bilang, suaminya menyelesaikan pekerjaannya. Tapi sekarang, ruangannya kosong.


Hasna hendak menutup kembali pintu yang baru saja ia buka. Namun netranya tak sengaja melihat Rama yang tengah terlelap di sofa yang ada di dekat pintu.


"Mas." Hasna mengusap lembut surai hitam milik suaminya. Berharap laki-laki itu akan terbangun.


"Mas, ayo bangun. Sudah waktunya makan siang." Kini Hasna beralih mengguncangkan lengan sang suami, agar Rama segera terbangun.


"Eengghh..." Rama hanya melenguh dan menggeliat.

__ADS_1


"Mas Rama." Hasna mengguncang lengan Rama sedikit lebih keras dari yang sebelumnya, dan berhasil. Laki-laki itu pun membuka matanya.


"Sayang?" Rama memicingkan kedua netranya, menyesuaikan cahaya.


"Sudah waktunya makan siang." Ucap Hasna. Rama pun terduduk dan menghadap ke arah sang istri.


"Kenapa kamu ke atas?" Tanya Rama, karena semenjak kecelakaan, Rama tak sekalipun mengizinkan Hasna naik turun tangga. Apalagi setelah kandungannya semakin besar.


"Kenapa memangnya?" Justru Hasna memberinya pertanyaan. Dan mulai sedikit sensi.


"Takut ada yang tidak sengaja aku dengar lagi?" Ucap Hasna sedikit ketus. Mood perempuan ini benar-benar tidak stabil sepulang dari rumah sakit. Padahal bukan masalah itu yang Rama maksudkan.


"Bukan begitu, Mas hanya khawatir jika kamu naik turun tangga dengan perut sebesar ini, Sayang." Ucap Rama selembut mungkin. Jangan sampai ia salah memilih kata, hingga membuat pikiran Hasna semakin keruh.


"Aku pikir, ada rahasia lagi yang Mas Rama sembunyikan dari aku. Selain tentang Mbak Marissa." Kini ucapan istrinya terdengar seperti sebuah sindiran. Rama hanya menghembuskan nafasnya perlahan, dan menarik kedua sudut bibirnya.


"Ya udah, ayo kita turun. Mas juga belum sholat soalnya." Ucap Rama dengan seulas senyuman. Hasna hanya mengangguk sebagai jawaban.


Keduanya menuruni akan tangga sendiri-sendiri, tanpa Rama yang membantu Hasna. Rama hanya menjaganya dari belakang, karena ia pun tidak berani melakukan sesuatu di saat Hasna tengah merajuk seperti sekarang. Nanti malah membuat mood istrinya hancur dan membuat suasana semakin tidak terkendali.


Di meja makan pun Hasna tetap melayani kebutuhan Rama seperti biasa, namun mulutnya ia kunci rapat-rapat. Seakan tidak ingin membicarakan sesuatu dengan Rama.


Hening. Tidak sepatah kata pun keluar dari mulut keduanya, hingga makan siang selesai.


"Mbak?" Panggil Rama pada Mbak Marni.


"Iya, Mas?" Sahut Mbak Marni dari arah dapur.


"Vitaminnya tadi mana?"


"Sebentar, saya ambilkan." Ucap Mbak Marni.


Mbak Marni kembali dengan membawa sebotol vitamin yang Rama berikan tadi.


"Ini, Mas." Mbak Marni mengangsurkan botol vitamin milik Hasna pada Rama.


"Makasih ya, Mbak." Ucap Rama. Mbak Marni pun segera kembali ke belakang.


"Vitaminnya, Sayang." Rama memberikan satu tablet vitamin pada Hasna.


Hasna mengambil vitamin dari tangan Rama dan meminumnya. Rama memperhatikan sang istri yang masih betah merajuk. Selama menikah, baru kali ini Hasna bersikap demikian. Dan itupun di pengaruhi oleh hormon kehamilannya. Mood Hasna benar-benar naik turun, dan mengharuskan Rama ekstra sabar.


***

__ADS_1


__ADS_2