Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 80


__ADS_3

Tomi mengusap layar ponsel yang menampakkan gambar Marissa yang tengah tersenyum lebar. Perempuan itu begitu cantik. Setitik bulir bening menerobos paksa manakala netranya melihat foto USG calon bayinya.


"Anakku." Lirihnya. Ibu jarinya mengusap lembut gambar itu.


"Anak Papa." Air mata itu kembali jatuh diiringi dengan senyuman.


"Maafkan Papa, Nak. Karena kesalahan Papa, kamu berada di posisi sulit."


"Mungkin Papa bukan lah laki-laki yang Mama kamu cintai, tapi percayalah jika kamu adalah anak yang sangat Papa cintai dan sayangi."


"Papa selalu berdo'a, semoga kelak kita dipersatukan. Walaupun bukan dalam ikatan keluarga yang sempurna, tanpa Mama. Kamu dan Papa. Papa akan memperjuangkan kamu, Sayang." Tomi mengusap matanya yang basah. Senyuman tidak surut dari bibirnya.


"Bantu Papa, Sayang. Bantu Papa meyakinkan Mama kamu, jika Papa layak menjadi Papa kamu. Bukan laki-laki lain."


Tomi meletakkan kembali benda pipih itu. Laki-laki itu beranjak untuk ke kamar mandi, namun deringan ponsel mengurungkan niatnya.


"Siska?" Gumamnya.


Segera ia menerima panggilan dari sahabat semasa kuliahnya itu. Firasatnya mengatakan jika apa yang akan disampaikan Siska ada hubungannya dengan Marissa, ibu dari anaknya.


"Halo."


"Tomi, gue ada kabar mengejutkan." Tomi menautkan kedua alisnya, saat mendengarkan perkataan Siska tanpa basa-basi, bahkan tidak menjawab sapaannya.


"Kabar mengejutkan? Apa?" Tanya Tomi penasaran.


"Marissa ternyata udah resign dari kantor." Ucap Siska.


"Resign?" Ulang Tomi memastikan.


"Iya, tadi dia sempat cerita, kalau dia udah resign sekitar dua minggu yang lalu." Ungkap Siska.


"Lalu, alasannya kenapa? Apa dia mengatakan sesuatu?" Tomi merasa aneh, sebab alasan Marissa mempertahankan kandungannya adalah untuk mendapatkan Rama. Tapi justru sekarang Marissa resign dari perusahaan milik Rama.


Terdengar hembusan nafas kasar dari seberang sana.


"Marissa bilang, kalau dia ingin menghindari Rama."


"Menghindari, maksudnya gimana? Bukannya dia cinta sama atasannya itu?"


"Ya, lo emang bener. Marissa cinta sama Rama. Tapi yang gue pahami disini, menghindarinya Marissa, bukan menghindar untuk menjauhi, tapi lebih untuk membuat Rama merasa bersalah atas apa yang pernah ia lakukan pada Marissa." Ucap Siska.


Siska menceritakan apa yang ia dengar langsung dari Marissa tadi. Tentang apa yang telah dilakukannya bersama Rama.


"Gue takut banget, Tom. Gue takut jika nantinya rencana Marissa gagal, dia akan berbuat jauh lebih nekat lagi." Terdengar suara Siska yang mulai bergetar.


"Lo tau sendiri gimana nekatnya Marissa. Gue takut jika dia akan mencelakai salah satu dari mereka. Entah itu Rama, anak dalam kandungannya, atau bahkan dirinya sendiri." Siska mengatakan apa yang tengah ia khawatirkan.


Tomi mengusap kasar wajahnya. Membenarkan apa yang Siska ucapkan barusan. Jangan sampai itu terjadi.


"Lalu, gimana sekarang? Apa lo ada ide?" Pikiran Tomi benar-benar kacau, hingga tak mampu untuk diajak berpikir jernih.


"Untuk saat ini, kita ikutin aja alurnya. Kita harus memastikan keadaan Marissa. Kita pantau terus pergerakannya. Menurut gue kali ini lebih mudah, karena Marissa lebih banyak berada di rumah. Jika seandainya ia berada di kantor, gue nggak bisa lagi ngebayangin senekat apa dia. Interaksi antara dirinya dan Rama akan lebih intens lagi, dan kita sulit untuk mengawasinya." Tomi rasa ide Siska bukanlah ide yang buruk.


"Oke, kita lakukan itu dulu." Ucap Tomi menyetujui.


"Oh iya, Sis. Gue boleh minta tolong sama lo?"


"Apa?"


"Tolong lo beliin kebutuhan Marissa selama hamil, gue yang akan penuhi semua. Anak dalam kandungan Marissa tanggung jawab gue. Gue nggak mau Sampai anak gue kekurangan." Ucap Tomi serius. Ia hanya tidak mau jika calon anaknya hidup kekurangan, mengingat Marissa sekarang tidak lagi bekerja.


"Gue nggak mungkin memberikan uang untuk keperluannya, Marissa pasti menolak. Lo tau sendiri gimana bencinya dia sama gue. Anggap saja ini sebagai bentuk kepedulian lo pada sahabat. Selalu bawakan keperluannya saat berkunjung. Mungkin nominalnya tidaklah banyak, tapi gue sangat berharap, ini adalah salah satu jalan bagi gue untuk bersatu dengan darah daging gue." Ucap Tomi sungguh-sungguh.


Siska sangat mengenal bagaimana Tomi. Lelaki itu, lelaki yang begitu baik, tulus, sangat peduli, dan bertanggung jawab. Selama dia berpacaran dengan Marissa, Tomi selalu memperlakukan Marissa seperti seorang putri. Tak pernah ia berlaku kasar. Ia akan selalu mengingatkan dengan cara yang baik. Bahkan keduanya mengakhiri hubungan mereka dengan cara baik-baik pula.


"Oke, baiklah." Jawab Siska akhirnya.

__ADS_1


"Makasih banget Siska, makasih." Ucap Tomi tulus.


***


Toko kue Hasna sudah menambah cabang baru. Dan restoran sudah mulai tahap pembangunan. Rencananya dua bulan lagi akan diresmikan.


Rama berusaha menyelesaikan pekerjaannya. Jangan sampai ia meninggalkan pekerjaan yang menumpuk saat cuti nanti. Alhasil, dalam seminggu ini, ia selalu pulang terlambat.


"Assalamu'alaikum." Ucap Rama saat memasuki rumah.


"Wa'alaikumussalam." Hasna menyambut kedatangan suaminya dengan senyuman di wajahnya.


Hasna meraih tangan Rama untuk diciumnya. Laki-laki itu duduk bersandar di sofa ruang tengah, untuk sekedar menghilangkan penat.


"Di minum dulu, Mas." Hasna meletakkan secangkir minuman hangat dihadapan Rama.


Laki-laki itu mengambil dan menyesapnya perlahan. Rasa hangat menjalari kerongkongan dan perut saat meminumnya. Rama sedikit merasakan rileks.


"Capek ya?" Hasna memijit lembut lengan suaminya.


"Banget, nggak masalah, demi kamu." Rama mencolek hidung istrinya.


"Mau mandi dulu, apa makan dulu?" Tanya Hasna di sela pijatannya.


"Seminggu ini, aku makan terlalu malam. Pasti sebentar lagi perutku mulai membuncit." Keluh Rama. Hasna tersenyum mendengarnya.


"Emang kenapa?" Tanya Hasna.


"Ckk...malah kelihatan tua aku." Gerutu Rama.


"Trus mas Rama maunya gimana? Mau puasa? Tapi masa iya, puasanya malem?" Canda Hasna.


"Paling tidak, perlu pembakaran kalori sebelum tidur, biar tidak menumpuk menjadi lemak."


Hasna mengangguk. Benar juga, pasca cidera, ia tak pernah lagi melihat Rama berolah raga. Hampir dua bulan lamanya.


Jam masih menunjukkan angka sembilan, setidaknya masih ada sedikit waktu untuk sedikit membakar kalori. Lantas perempuan itu beranjak. Namun dengan cepat Rama menariknya ke atas pangkuan.


"Mas Rama, ini udah jam sembilan loh." Peringat Hasna.


"Memangnya kenapa?" Rama menghirup dalam-dalam aroma khas istrinya.


"Katanya mau bakar kalori dulu sebelum tidur?" Ucap Hasna mengingatkan.


"Hmmm."


"Kalau begitu cepetan, ntar nggak keburu loh." Hasna berusaha melepaskan diri dari pelukan Rama, namun sia-sia. Rama memeluknya terlalu erat.


"Maaasss..." Rengek Hasna.


"Hmmm..."


"Ayo, cepetan."


"Ntar kamu bantu aku olah raga, ya?" Bisiknya lembut.


Kenapa tiba-tiba perasaan Hasna tidak enak. Seperti ada sesuatu yang mengharuskannya waspada.


"Karena aku pengennya olah raga bareng kamu. Kita bakar kalori sama-sama." Kini bisikan rama membuat bulu-bulu halus Hasna meremang.


"Olah raga apa?" Tanya Hasna polos.


"Olah raga ranjang." Bisikan Rama kali ini disertai dengan kecupan basah di leher, yang membuat Hasna membolakan matanya sempurna.


Nah, kan? Benar dugaannya. Sepertinya Rama ingin mengulang bulan madunya bersama Hasna seperti waktu itu.


***

__ADS_1


Rama menatap wajah cantik yang terlelap dalam dekapannya. Ini kedua kalinya mereka melewati malam panjang bersama. Sejujurnya Rama ingin selalu mengulangnya, namun di saat mengingat wajah istrinya yang menahan rasa sakit, ia jadi tidak tega untuk memintanya.


Tapi sekarang, sepertinya akan terulang kembali. Hasna sudah terlihat lebih rileks, tidak setegang di awal mereka melakukannya.


Hasna sedikit menggeliat, mungkin merasa tidak nyaman dalam tidurnya. Rama sedikit merenggangkan pelukannya, dan benar saja istrinya itu kembali tidur dengan nyaman.


Tiba-tiba Rama teringat percakapannya dengan Mama tempo hari. Mama mewanti-wanti dirinya agar tidak membuat Hasna terlalu lelah. Salah satunya membuat Hasna lelah di atas ranjang.


Andaikan saja Mama tau, jika hari ini baru kedua kalinya ia melakukan bersama Hasna, entah tanggapan apa yang akan mamanya berikan.


Hasna kembali menggeliat, dan perlahan kedua matanya terbuka. Wajah tampan sang suami, yang pertama kali ia lihat.


"Mas Rama belum tidur?" Tanya Hasna dengan suara khas bangun tidurnya.


Hasna melihat jam dinding yang telah menunjukkan pukul satu dini hari.


"Kenapa bangun?" Rama mengusap lembut punggung polos dibalik selimut itu.


"Aku pengen ke kamar mandi." Hasna sudah bersiap turun dari ranjang, tapi terhenti.


"Kenapa?"


"Baju aku..." Lirihnya. Rama tersenyum mendengarnya.


Laki-laki itu terduduk dan mengambilkan pakaian sang istri yang tergeletak di pojok ranjang. Perlahan ia membantu Hasna mengenakan kembali pakaiannya, membuat perempuan itu tersipu. Dan Rama menyukai itu.


"Mau aku bantu?" Tanya Rama saat perempuan itu hendak ke kamar mandi. Hasna menggeleng dengan senyuman tertahan.


"Baiklah, jangan lama-lama, aku akan menunggumu dengan penuh rindu." Hasna menoleh pada Rama seketika. Apa-apaan, ditinggal ke kamar mandi saja bisa membuat rindu? Lebay sekali.


Rama terkekeh melihat ekspresi istrinya. Memang terkadang ia merasa lebay jika berhadapan dengan Hasna. Tapi dengan begitu ia bisa mengekspresikan rasa cintanya kepada sang istri.


***


Selepas sholat shubuh berjamaah, Hasna membaca beberapa lembar mushaf seperti biasa. Dan Rama mendapatkan posisi nyaman, tidur di pangkuan sang istri. Kedua matanya terpejam, namun kedua telinganya dengan setia menyimak setiap lantunan yang keluar dari lisan istrinya.


Hatinya begitu damai. Hidupnya terasa lengkap saat Hasna berada di sisinya. Perempuan itu selalu membuatnya merasa nyaman.


Rama merasakan usapan lembut di wajahnya. Laki-laki sedikit menggeliat dan memaksa untuk membuka kedua mata yang masih nyaman untuk terpejam.


"Mas..." Hasna kembali mengusap wajah tampan suaminya.


"Mas Rama tidak ke kantor?" Tanya Hasna yang masih setia mengusap lembut wajah Rama.


"Jam berapa?"


"Sudah jam setengah tujuh."


Mata Rama sedikit memicing melihat jam dinding di kamarnya. Perasaan baru saja ia memejamkan mata, tapi sudah jam segini saja.


Rama berpindah dari bantal kembali ke pangkuan sang istri. Membenamkan wajahnya tepat di perut Hasna. Membuat perempuan itu merasakan geli.


"Mas, geli."


"Selamat pagi, Sayang." Ucap Rama.


"Anak Papa lagi apa?" Hasna menautkan kedua alisnya.


"Apa dia sudah berada di dalam sini?" Rama menengadahkan wajahnya menatap Hasna. Tangan kanannya mengusap lembut perut sang istri.


Hasna tak menjawab, hanya tersenyum mendengarnya. Di usapnya lembut surai hitam suaminya. Perempuan itu menatap manik pekat sang suami.


"Apa dia sudah berada di dalam sini?" Ulangnya. Kini ia memberi kecupan lembut tepat di perut sang istri.


"Kau tau, aku baru saja bermimpi menimang bayi di pangkuanku. Mata jernihnya melihat tepat ke arahku. Apa itu pertanda jika dia sudah ada di dalam sini?" Ucap Rama penuh harap.


Apakah memang benar Rama sudah menginginkan keturunan darinya. Jika benar, semoga saja Allah segera memberikan rezeki berupa keturunan sebagai pelengkap kebahagiaan rumah tangganya bersama Rama.

__ADS_1


***


__ADS_2