
Tok, tok, tok.
"Assalamu'alaikum." Salam Hasna, namun belum ada jawaban dari dalam sana.
Tok, tok, tok.
"Assalamu'alaikum." Hasna kembali mengetuk pintu.
"Wa'alaikumussalam." Akhirnya terdengar juga sahutan dari dalam.
Seseorang yang baru saja membukakan pintu, menatap lekat penampilan Hasna dari ujung kepala hingga ujung kaki. Hasna mengikuti pandangan seseorang dihadapannya, yang seolah menilai bagaimana penampilannya. Dan itu membuat Hasna, sedikit merasa risih.
"Hasna, ya?" Ucapnya dengan jari telunjuk yang mengarah tepat di hadapan Hasna. Perempuan itu mengangguk, lantas tersenyum.
"Masya Allah, aku sampai nggak ngenalin. Masuk, masuk." Dibukanya pintu lebar-lebar, agar perempuan cantik itu bisa masuk.
"Duduk, Na." Hasna duduk di kursi dekat pintu.
"Masya Allah, lama nggak ketemu, makin cantik kamu, Na." Pujinya.
Dimas, teman sebaya Hasna sejak kecil. Mereka selalu bersekolah di tempat yang sama hingga SMA. Hanya saja nasib mereka yang berbeda. Selepas SMA Hasna lebih memilih melanjutkan pendidikannya dan memulai kembali usaha yang pernah orang tuanya jalankan. Sedangkan Dimas, laki-laki itu lebih memilih untuk merantau di kota lain, demi bisa menghidupi keluarganya, karena dialah tulang punggung keluarga. Pak Hamid beserta istri sudah sangat sepuh, dan ia memiliki seorang adik yang kini telah duduk di bangku kelas sembilan.
Hampir tiga tahun tidak bertemu, banyak perubahan pada pemuda itu. Terakhir kali mereka bertemu saat lebaran tiga tahun lalu. Saat itu Dimas masih terlihat seperti pemuda kebanyakan. Postur tubuhnya yang tinggi namun bentuk tubuhnya biasa saja.
Tapi sekarang, Dimas seolah menjelma seperti laki-laki dewasa dengan bentuk tubuh yang lebih berisi. Bahkan otot di lengannya tercetak dengan jelas. Ditambah warna kulit khas Indonesianya, menambah kesan maskulin.
"Bisa aja kamu Dimas." Hasna hanya tersenyum menanggapinya.
Senyuman itu, senyuman yang selalu Dimas rindukan. Perempuan dihadapannya kini semakin cantik. Dulu, Dimas sempat memiliki rasa pada Hasna. Namun pemuda itu tidak memiliki cukup nyali untuk mengatakannya. Apalagi ia sangat mengenal bagaimana Hasna dan keluarganya. Cukup bagi Dimas mengagumi Hasna dalam diam.
Dimas pernah bertekad, saat ia sukses nanti, ia akan menjadikan teman masa kecilnya itu sebagai pendamping hidupnya. Bukan karena rupa perempuan itu yang cantik, tapi karena sifat dan kepribadian Hasna lah yang membuatnya jatuh hati. Namun, takdir tidak berpihak kepadanya. Perempuan itu kini telah dimiliki laki-laki lain. Mungkin Hasna memanglah bukan jodoh untuknya.
"Aku dengar dari Kakek, kamu sudah nikah, ya?" Tanya Dimas.
"Alhamdulillah, sudah. Kamu kapan?" Jawab Hasna.
Dimas tersenyum lebar mendengar pertanyaan Hasna, hingga menampakkan lesung di kedua pipinya.
"Insyaallah secepatnya." Jawab Dimas.
"Alhamdulillah, kabarin aku, ya." Hasna turut senang mendengarnya.
"Insyaallah, kalau jodohnya sudah ketemu." Kekeh Dimas.
Hasna geleng-geleng kepala dengan menahan tawa. Dimas masih pemuda yang sama. Sama seperti dua puluh tahun mereka berteman.
Hasna mengeluarkan sebuah undangan dari dalam tasnya. Ia letakkan di atas meja dan sedikit mendorongnya ke hadapan Dimas.
"Kalau ada waktu, datang, ya. Ajak Pak Hamid, Bu Midah, dan Rian sekalian." Ucap Hasna.
Dimas mengambil undangan di hadapannya dan membacanya sekilas. Tercetak nama Hasna juga seorang laki-laki di sana.
"Ini?" Dimas mengangkat undangan di tangannya.
"Kami baru ada kesempatan untuk melakukan resepsi. Dulu kami menikah sesaat sebelum Kakek wafat." Jawab Hasna. Dimas tau itu dari penurunan sang Kakek.
"Kehadiran kalian, sangat berarti buat aku. Kalian sudah seperti keluarga bagiku." Dimas tersenyum mendengarnya.
Keluarga Hasna memang keluarga yang baik. Kedua orang tua Hasna selalu memperlakukan dirinya juga Rian dengan baik. Bahkan saat kedua orang tua Hasna meninggal, Dimas pun merasa kehilangan. Begitu juga dengan Kakek Rusdi, beliau menganggap dirinya sama seperti cucunya sendiri. Keluarga Hasna Memang menempati tempat istimewa di hatinya.
"Di usahain ya, Dimas." Ucap Hasna penuh harap.
"Insyaallah, Hasna. Insyaallah aku usahakan." Ucap Dimas.
Bagi Hasna, Dimas sama seperti seorang Kakak. Ia selalu merasa terlindungi saat bersama Dimas. Terlebih saat duduk di bangku SMA. Pergaulan teman-temannya begitu bebas antara laki-laki dan perempuan. Namun, jika Dimas berada di sampingnya, sudah di pastikan teman-teman lelakinya akan menjauh dengan sendirinya. Karena Dimas cukup berpengaruh di sekolah mereka dulu.
Masih sangat jelas di ingatan, setiap kali mereka berangkat sekolah, Kakek selalu berpesan pada Dimas untuk menjagakan cucu kesayangannya.
"Ya udah Dimas, aku pamit dulu ya." Hasna beranjak dari duduknya.
__ADS_1
"Astaghfirullah, Hasna. Aku sampai lupa menyuguhkan sesuatu buat kamu." Dimas menepuk pelan keningnya. Kenapa ia melupakan hal penting untuk menjamu tamunya?
"Nggak apa-apa, Dimas. Udah kayak sama siapa aja." Ucap Hasna.
Hasna mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan menyerahkannya kepada Dimas.
"Apa ini?" Tanya Dimas dengan amplop di tangannya.
"Nitip buat Rian. Nggak banyak, tapi semoga berkah, ya." Ucap Hasna tulus.
"Aku bener-bener nggak enak sama kamu, Na. Aku udah bisa mencukupi kebutuhan keluarga aku, termasuk Rian. Kamu nggak perlu repot-repot kayak gini." Tolak Dimas. Laki-laki itu menyodorkan kembali amplop di hadapan Hasna.
"Rian itu udah kayak adik aku sendiri. Nggak apa-apa dong, kalau ngasih jajan buat dia." Ucap Hasna tanpa berniat mengambil kembali apa yang sudah diberikannya.
"Gimana sama suami kamu? Apa dia tau?" Hasna sedikit mengernyit.
"Perempuan yang sudah menikah, jika membelanjakan hartanya, sebaiknya suami juga tau. Biar tidak menjadi masalah di kemudian hari. Termasuk kemana uang ini nantinya." Ucap Dimas mengingatkan. Laki-laki itu hanya tidak mau jika suami Hasna salah paham nantinya.
"Kamu tenang aja. Ini uang pribadi aku. Dan Mas Rama sudah tau sebelumnya. Jadi aku pastikan, dia pasti ridho jika aku memberikannya pada Rian." Lantas perempuan itu tersenyum.
Dimas mengangguk kecil. Tidak ada lagi alasan untuk menolak pemberian Hasna.
"Baiklah kalau begitu, aku terima. Aku pastikan uang ini akan dipakai untuk kebaikan." Ucap Dimas.
"Ya udah kalau gitu, aku permisi. Assalamu'alaikum." Hasna menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Dan Dimas melakukan hal yang sama.
"Wa'alaikumussalam."
Dimas mengekor di belakang Hasna. Memperhatikan perempuan itu hingga menghilang di balik pagar rumah Mbak Marni.
***
"Kita mau kemana lagi, Non?" Tanya pak Yanto dari balik kemudi.
"Ke restoran dulu, Pak. Sekalian bawain mas Rama makan siang." Jawab Hasna.
"Pak Yanto makan dulu ya." Ucap Hasna sebelum turun dari mobil.
"Nggak usah, Non." Tolak pak Yanto.
"Udah waktunya makan siang, Pak. Nanti rencananya, saya dan Mas Rama bakal ajakin Pak Yanto keliling kota buat sebarin undangan. Makanya sekarang tenaga diisi dulu." Canda Hasna, yang membuat sopir keluarga Suryanata itu tersenyum.
Pak Yanto akhirnya setuju dan berjalan mengekori Hasna. Hasna meminta salah satu pegawainya untuk melayani Pak Yanto. Dan dia sendiri langsung ke ruangan menejer.
Tok, tok, tok.
"Masuk." Terdengar sahutan dari dalam.
Hasna segera membuka pintu. Terlihat Hamzah, sedang sibuk dengan layar pipih di hadapannya. Laki-laki itu reflek berdiri saat mengetahui Hasna lah yang mengetuk ruangannya.
"Mak Hasna?"
"Assalamu'alaikum, Mas Hamzah." Hasna menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
"Wa'alaikumussalam, silahkan duduk, Mbak." Hamzah mempersilahkan perempuan itu untuk duduk.
"Terima kasih." Ucap Hasna dengan seulas senyuman.
"Mbak Hasna jangan seperti itu, saya jadi tidak enak. Yang bos di sini itu Mbak Hasna, bukan saya." Ucap Hamzah sungkan.
Hasna hanya tersenyum, dan meletakkan satu boks undangan yang sedari tadi dibawanya.
"Mas Hamzah, Hasna minta tolong, ya. Tolong nanti bagiin sama temen-temen yang lain." Ucap Hasna.
"Apa ini, Mbak?" Tunjuk Hamzah.
"Undangan. Mas bisa buka."
Hamzah membuka kotak berisikan undangan, lalu mengambilnya satu. Laki-laki itu terlihat kaget saat membaca nama mempelainya.
__ADS_1
"Ini Mbak Hasna yang nikah?" Tanya hamzah tak percaya. Bahkan laki-laki itu berkali-kali membaca nama yang tertulis di undangan.
"Tolong ya, Mas." Ucap Hasna.
"Mbak, ini seriusan, Mbak Hasna yang nikah?" Sepertinya Hamzah masih tidak percaya.
Bagaimana tidak, selama mengenal Hasna, tak sekalipun ia melihat perempuan cantik itu dekat dengan laki-laki. Dan sekarang, tiba-tiba saja datang kabar pernikahan. Sungguh mengejutkan.
Tapi beberapa minggu yang lalu, ia sempat mendengar teman-teman perempuan yang bertugas di dapur, jika Hasna memasak sendiri makanan untuk disajikan pada seorang laki-laki. Apa mungkin itu calon suaminya?
"Iya, Mas Hamzah." Ucap Hasna membenarkan.
"Jadi yang pernah teman-teman katakan itu bener dong. Mbak Hasna pernah masak sendiri hidangan untuk laki-laki. Jadi laki-laki itu calonnya Mbak Hasna?" Laki-laki itu masih berusaha memastikan.
"Bukan, dia suami saya. Bukan calon suami." Ralat Hasna.
"Eh, maksudnya gimana?" Hamzah terlihat bingung. Disaat Hasna mengantarkan undangan pernikahan, tapi perempuan itu mengatakan jika laki-laki yang teman-temannya lihat di restoran adalah suaminya.
"Kami sudah menikah hampir tiga bulan."
"Astaghfirullah, kenapa saya sampai tidak tau, ya?" Hamzah menepuk pelan keningnya.
"Ya, karena pernikahan kami mendadak, sebelum Kakek wafat."
"Bentar, bentar. Apa jangan-jangan laki-laki yang bantuin mengantar jenazah Pak Rusdi ke liang lahat waktu pemakaman?" Hasna mengangguk, lantas tersenyum.
Hamzah memang sempat melihat kehadiran laki-laki asing di pemakaman kakek Hasna. Tapi tidak menyangka jika itu adalah suami Hasna.
"Waaahhh...patah hati berjamaah kita, Mbak." Gurau Hamzah dengan meletakkan kedua tangannya di dada kiri.
"Mas Hamzah, paling bisa deh." Kekeh Hasna.
"Mohon bantuannya ya, Mas."
"Siap, laksanakan." Ucap Hamzah sembari memberikan hormat ala prajurit pada Hasna.
***
Dan kini, tujuan Hasna adalah kantor Rama. Perempuan itu nampak bersemangat melangkahkan kakinya. Di tangannya ada sebuah paperbag berisikan makan siang khusus untuk suaminya.
Hasna langsung menuju lantai tujuh di mana ruangan Rama berada. Seorang perempuan, kira-kira berusia tiga puluhan tengah sibuk mengetikkan sesuatu di atas keyboard laptop. Perempuan asing, Hasna tidak pernah melihat perempuan itu sebelumnya. Biasanya Marissa yang duduk di meja itu. Apa mungkin sekretaris baru?
"Maaf, Pak Rama ada di ruangan?" Tanya Hasna sopan.
"Maaf, Mbak. Apa sudah ada janji temu sebelumnya?" Tanya perempuan berpakaian formal itu tak kalah sopan. Hasna menggeleng.
"Maaf, kalau begitu Mbak tidak bisa bertemu dengan Pak Rama." Perempuan itu menolak kedatangan Hasna dengan halus.
"Emmm...apa saya bisa tunggu di sini?" Hasna menunjuk kursi panjang di depan ruangan Rama. Perempuan itu nampak ragu.
"Saya ada perlu penting, sama Pak Rama." Ucap Hasna sedikit mendesak. Ia bisa saja langsung masuk, tapi ia masih memiliki etika. Tidak akan masuk tanpa persetujuan pemilik ruangan, walaupun itu suaminya.
"Tapi, Pak Rama masih ada tamu." Ucap perempuan itu pada Hasna.
"Nggak apa, saya akan tunggu."
Akhirnya sekretaris baru Rama pun membiarkan Hasna duduk di kursi tunggu yang berhadapan dengan meja kerjanya.
***
Sedikit senam jantung yok, biar sehat.
attention :
Mohon bersabar, mboten pareng emosi. Biarkan Mas Rama yang beraksi 🤭
Tunggu di episode selanjutnya ya...
Semoga terhibur😘
__ADS_1