
Hampir dua minggu Rama merasakan hal yang aneh pada dirinya. Nafsu makannya semakin meningkat, tapi tubuhnya gampang merasakan letih. Moodnya pun gampang berubah. Seperti saat ini, laki-laki itu berhasil membuat Ivan merasakan pusing luar biasa.
"Sebenarnya apa yang kamu kerjakan seharian ini, Ivan? Kenapa harus butuh banyak revisi seperti ini?" Ucap Rama dengan penuh kekesalan, membuat Ivan mengerutkan keningnya dalam.
Jam kantor hampir usai, tapi pekerjaan tidak ada yang beres. Ivan memeriksa kembali laporan yang baru saja ia kerjakan dan di periksa oleh Rama. Sepertinya tidak ada kesalahan. Apa yang ia kerjakan sesuai dengan materi meeting dengan rekan bisnis mereka tempo hari.
"Panggil Tania." Perintah Rama.
Tanpa mengatakan apapun, Ivan segera memanggil sekretaris sekaligus sepupunya itu.
"Iya, Pak? Bapak memanggil saya?" Tanya Tania dengan sopan.
"Tolong kamu bacakan poin-poin penting hasil meeting dengan perusahaan xx kemarin."
Tania melakukan apa yang Rama minta, dan apa yang di sampaikan sekretarisnya itu sesuai dengan apa yang Ivan kerjakan. Lalu kenapa asisten itu di minta untuk merevisi laporan?
Rama terdiam sejenak dan meraih kembali berkas yang sempat ia campakkan di atas meja kerjanya dengan kesal. Sekilas ia membacanya, ternyata sesuai dengan apa yang sekretarisnya sampaikan. Lalu apa yang ia permasalahkan, dan meminta Ivan merevisinya?
"Bagaimana, Pak? Apa perlu saya merevisi ulang?" Tanya Ivan.
Rama tidak menjawab pertanyaan asistennya, hanya menghela nafas dalam. Menatap berkas di tangannya dan Ivan serta Tania secara bergantian. Kedua bawahannya itu saling pandang. Tania yang tidak mengetahui permasalahan yang terjadi, mencoba bertanya pada Ivan dengan isyarat. Dan Ivan hanya menggedikkan bahunya sebagai jawaban.
"Buat apa harus di revisi?" Menyebalkan sekali.
Ivan menggaruk keningnya dengan jari telunjuk, yang pastinya tidaklah gatal. Sungguh ia harus menyiapkan stok kesabaran yang ekstra untuk menghadapi Rama.
"Kalian boleh keluar." Keduanya pun keluar dari ruangan Rama.
Ivan baru saja menutup pintu ruangan Rama, tapi Tania dengan tidak sabar menarik sepupunya itu sedikit menjauh dari ruangan Rama.
"Ada apa sih?" Tanya Tania penuh keingintahuan.
"Ckk...tau tuh, akhir-akhir ini kerjaannya uring-uringan melulu. Persis kayak perempuan lagi PMS. Sensi bener." Jawab Ivan sekenanya. Tania mengerutkan keningnya. Benar juga sih, akhir-akhir ini Rama memang sedikit aneh.
"Sepertinya, Pak Rama deh yang kena sindrom kehamilannya Bu Hasna. Mudah marah, uring-uringan tidak jelas, sensi, mood swing."
"Nah, bener itu. Tapi...masa iya Pak Rama ikutan hamil?" Polos sekali pertanyaan laki-laki itu.
Plakk
Tepukan keras mendarat dengan sempurna di lengan laki-laki berkemeja biru itu.
"Bisa nggak, kasih pertanyaan yang berbobot sedikit?" Sewot Tania pada laki-laki yang masih setia mengusap belas pukulan yang meninggalkan rasa panas di lengannya.
"Lah tadi kamu bilang...."
"Ya, nggak gitu juga, Ivan. Masa iya, Pak Rama hamil? Dapat pikiran dari mana kamu sampai bertanya seperti itu?" Gemas sekali rasanya Tania dengan sepupu laki-lakinya itu.
"Maksudnya _"
__ADS_1
"Bentar, ada telepon." Potong Ivan.
"Iya, Pak?"
"Mau sampai kapan kamu tetap berdiri di situ? Mau, kamu saya pindahkan ruangan?" Ivan langsung teringat CCTV yang berada di depan ruangan Rama. Pasti atasannya itu melihat tingkah mereka dari kamera itu.
Ivan menoleh dan tersenyum ke arah kamera CCTV di depan ruangan Rama, dengan mengacungkan dua jarinya. Tania yang melihat tingkah Ivan semakin dibuat bingung. Perempuan itu mengikuti arah pandangan Ivan. CCTV. Saat menyadarinya, Tania membuka matanya lebar-lebar dengan mulut yang terbuka.
"Van?" Lirih Tania seraya menepuk pundak laki-laki di sampingnya.
"Baik, Pak." Ivan kembali memasukkan ponsel ke dalam saku jasnya.
"Cintailah gajimu, Tania." Setelah mengatakan itu, Ivan segera berlalu masuk ke dalam ruangannya.
***
Ivan kembali mengantarkan Rama pulang, alasannya karena laki-laki itu merasa tidak bertenaga saat menyetir mobil. Bukankah menyetir hanya berada di balik kemudi dan fokus dengan jalanan? Beda lagi jika Rama mendorong mobilnya, mungkin alasan tidak bertenaga masih bisa di terima akal. Tapi ya sudahlah, lebih baik Ivan menurutinya, dari pada ada hal-hal buruk yang tidak terduga setelah ini.
"Pak, kita sudah sampai." Ucap Ivan seraya menoleh ke arah samping kirinya, dimana Rama berada.
Atasannya itu tidak menyahut, segera Ivan menyalakan lampu mobilnya. Melihat kondisi Rama saat ini membuat Ivan mengelus dada. Bisa-bisanya Rama tidur saat perjalanan pulang dari kantor. Senyaman itukah mobilnya?
"Dibangunkan pasti marah, tidak dibangunkan juga masalah." Gerutu Ivan.
Ivan membuka seatbelt dan segera keluar dari mobil. Menghirup nafas dan membuangnya berulang kali, Ivan lakukan sebelum membuka pintu mobil sebelah kiri. Terkesan lebay memang, tapi pada kenyataannya menghadapi Rama akhir-akhir ini benar-benar menguras tenaga dan emosinya.
"Pak Rama?" Ivan sedikit mengguncang bahu laki-laki itu. Hanya terdengar lenguhan kecil, namun matanya tidak menunjukkan tanda-tanda akan terbuka.
"Huft...sabar...sabar." Gerutu Ivan sambil mengelus dadanya.
"Semoga kali ini berhasil. Bismillah."
"Pak...Pak Rama? Bangun, Pak. Kita sudah sampai. Kasihan Bu Hasna kalau menunggu Bapak terlalu lama. Mana malam ini dingin sekali. Kan sayang jika Bu Hasna sendirian di dalam sana. Nanti saya temani, baru tahu rasa, Bapak." Entah dari mana kalimat sepanjang itu berasal, tiba-tiba saja meluncur dengan mulusnya saat Ivan mengatakannya. Andaikan saja Rama terbangun karenanya, bisa di pastikan asisten itu akan tergantung di jemuran keesokan paginya.
"Ckkk... Ini tidur apa pingsan sih? Susah bener bangunnya. Kalau bukan atasan, udah aku sembur pakek air mineral." Gerutu Ivan kesal, saat Rama tidak membuka matanya sama sekali. Minimal melakukan pergerakan, tanda akan bangun.
Sepertinya ada satu cara terakhir yang bisa Ivan lakukan untuk membangunkan Rama. Gegas ia berjalan menuju ke pintu utama, dan memencet bel. Tak berselang lama, pintu di buka oleh Mbak Marni, asisten rumah tangga Rama.
"Mas Ivan?" Mbak Marni memindai sekeliling, hanya ada Ivan di sana.
"Bu Hasna, ada?"
"Ada, Mas."
"Bisa minta tolong panggilin, Mbak?"
"Iya, sebentar."
Mbak Marni segera masuk, meninggalkan Ivan di ambang pintu. Tak berselang lama, asisten rumah tangga itu kembali bersama Hasna.
__ADS_1
"Pak Ivan?"
"Malam, Bu. Assalamu'alaikum." Ivan menganggukkan kepalanya sopan ke arah Hasna.
"Wa'alaikumussalam. Pak Ivan mencari saya?"
"Iya, Bu. Saya mau minta bantuan ibu." Hasna mengernyitkan keningnya, saling pandang dengan mbak Marni yang ada di sampingnya.
"Bantuan apa?"
"Itu, Bu, Pak Rama ketiduran di mobil. Sudah saya bangunkan berkali-kali, tapi tetap saja tidak bangun-bangun." Ucap Ivan.
Hasna segera menuju mobil Ivan yang terparkir di pekarangan rumah. Gegas perempuan itu membuka pintu mobil untuk membangunkan suaminya.
"Mas, bangun yuk. Kalau mau tidur, lanjut di dalam." Ucap Hasna dengan lembut.
Dan sungguh ajaib. Kata-kata yang Hasna ucapkan hanya beberapa detik itu sukses membuat Rama terjaga seketika.
"Sayang?" Sepertinya Rama terlalu lelap tertidur di dalam mobil Ivan. Terdengar dari suaranya yang serak. Ingin sekali Ivan meneriaki Rama saat itu juga.
"Kenapa kamu disini?" Rama baru menyadari jika dirinya masih berada di dalam mobil Ivan.
"Buat bangunin Mas Rama. Kasihan Pak Ivan, hampir setengah jam bangunin, tapi kamu nggak bangun-bangun." Rama melihat ke arah Ivan yang berdiri di belakang istrinya.
"Kamu bangunin saya?" Ivan mengangguk.
"Saya tidak merasakan jika ada seseorang membangunkan saya kecuali istri saya." Sungguh menyebalkan sekali ucapan Rama. Ingin sekali Ivan meraup bibir menyebalkan itu, tapi urung ia lakukan. Ivan masih cukup waras, ia tidak mau menjadi pengangguran di usia muda. Terlebih ia belum menikah.
Hasna menghembuskan nafasnya kasar mendengar ucapan Rama. Padahal tadi Ivan sudah mengatakan kepadanya jika sudah membangunkan Rama beberapa kali, bahkan hampir setengah jam lamanya. Tapi suaminya itu tak kunjung terbangun. Dan sekarang, Rama mengatakan jika ia tidak merasa di bangunkan oleh Ivan?
Rama melepaskan seatbelt yang melingkari tubuhnya dan turun dari mobil. Ivan berdecak kesal, manakala Rama mengecup kening Hasna. Hal yang wajar bagi suami istri memang, tapi kenapa sangat menyebalkan sekali ketika Rama mencium Hasna di hadapannya, setelah apa yang laki-laki itu ucapkan tentangnya barusan.
"Sebaiknya kamu segera pulang. Sudah terlalu larut untuk bertamu." Ivan membolakan matanya mendengar ucapan Rama. Apa-apaan, setelah mengantarkan atasannya itu hingga selamat sampai tempat tujuan, ia diminta untuk segera pulang? Tanpa mempersilahkan dirinya untuk mampir terlebih dahulu? Sungguh terlalu.
"Mas." Tegur Hasna. Perempuan itu merasa tidak enak sendiri dengan sikap Rama terhadap Ivan. Bagaimanapun Ivan tetaplah tamu di rumahnya.
"Sebaiknya Pak Ivan ke dalam dulu. Ikutlah makan malam bersama kami." Ucap Hasna.
"Emmm... sepertinya saya langsung pulang saja, Bu." Tatapan itu membuat Ivan menjadi salah tingkah.
Hasna menoleh pada Rama yang berada di sampingnya. Dan benar saja, tatapan maut itu Rama layangkan untuk Ivan. Pantas saja asisten itu menjadi serba salah dibuatnya.
Hasna mengusap lembut lengan Rama yang masih berbalut setelan kerja.
"Pak Ivan tamu kita, Mas. Boleh, kan?" Lembut sekali saat ia mengucapkannya.
Kalau sudah begini, Rama pasti tidak akan sanggup untuk menolak permintaan Hasna. Ia terlalu lemah jika harus berhadapan dengan istrinya. Apalagi setelah Hasna mengeluarkan rayuannya. Lebih baik kibarkan bendera, sebelum permaisuri merajuk. Bisa gawat nanti.
***
__ADS_1